“Pers Eropa: tiada berita positip buwat tjapres nomer 1″ oleh Joss Wibisono

Hari2 tenang ini enaknja digunaken untuk tjari2 berita pers asing tentang pilpres jang bakalan digelar Rebo 9 Djuli mendateng di seantero tanah air. Setelah lihat2 di internet, betapa kagetnja diriku begitu mendapatin bahwa ternjata bener2 engga ada berita positif tentang tjapres nomer 1. Lebih dari itu pers Eropa djuga selalu nulis tentang masa lamponja. Padahal para pendukungnja (dan tamtunja jang bersangkutan sendiri) kan mau melupaken azha masa lampo itu. Pigimanah nech? Masak timses tjapres nomer 1 tida bisa berkampanje supaja pers asing djuga bikin berita positif tentang tjalon mereka?

Berikut tjontoh tiga media Eropa jang bikin berita tentang tjapres satu. Bukan tjuman berita dalem bahasa Inggris hlo jach (seperti jang selama ini dibikin orang), tapi djuga berita dalem bahasa Djerman. Bahkan ada duwa media berbahasa Djerman jang aku tampilken di sini.

Pertama koran Austria Tiroler Tageszeitung terbit di Innsbruck jang mendasarken beritanja pada kantor berita Djerman DPA (Deutsche Presse Agentur). Klow mau tahu tautannja silahken klik di sini. Ini kutipan negatif tentang tjapres nomer 1:

“Prabowo, bekannt für seine Wutausbrüche, befehligte unter Suharto eine berüchtigte Sondereinsatztruppe. Er wehrt sich seit Jahren gegen Vorwürfe schwerer Menschenrechtsverletzungen. Er ging nach dem Suharto-Ende ins Exil nach Jordanien, startete nach der Rückkehr aber im Windschatten seines schwerreichen Bruders eine erfolgreiche Geschäftskarriere. Er gründete 2008 seine eigene „Partei der Bewegung großes Indonesien“ (Gerinda) mit einem Ziel: Präsident zu werden.”

“Wie viele ausländische Beobachter fürchtet Bourchier unter einem Präsidenten Prabowo eine Abkehr von der Demokratie: „Wenn er gewinnt müssen wir mit einer autoritäreren Regierung rechnen, politische Freiheiten dürften eingeschränkt werden und die Toleranz gegenüber religiösen und anderen Minderheiten sinken“, schreibt er.”

Berita harian Tiroler Tageszeitung terbitan Innsbruck

Berita harian Tiroler Tageszeitung terbitan Innsbruck

Kira2 artinja begini:

“Prabowo jang dikenal sering naik pitam itu, semasa Suharto mempimpin Kopassus jang punja tjitra buruk. Sudah ber-tahun2 dia dituduh melakukan pelanggaran hak2 asasi manusia jang berat. Pada achir kekuwasaan Suharto dia mengasingken diri ke Jordania, tapi begitu balik dia mendjadi pengusaha, di balik bajang2 adiknja jang kaja raja. Tahun 2008 dia mendiriken Gerindra dengan satu tudjuwan: djadi presiden.”

“Seperti pengamat asing lain, David Bourchier djuga chawatir di bawah Presiden Prabowo akan terdjadi penolakan terhadap demokrasi. ‘Kalau dia menang maka harus diperhitungkan muntjulnja pemerintahan otoriter, kebebasan politik akan dibatasi dan toleransi terhadap kalangan minoritas agama atau minoritas lainnja akan berkurang’. Demikian tulis David Bourchier.”

Keduwa, misih koran Austria, berikut harian Die Presse jang terbit di ibukota Wina. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini.

Berita jang terbit hari Sabtu tanggal 5 Djuli itu menampilken djudul jang sengak alias tidak enak terhadap tjapres nomer satu: »Indonesien: Wie die alte Elite der Diktatur nach der Macht greift« artinja kira2 »Indonesia: bagaimana elite lama zaman diktator menggapai kekuwasaan« Dengen djudul berita kajak gitu maka bisa dipastiken berita tentang tjapres nomer 1 djuga tidaklah positip. Berikut tjonto2nja:

Im Kern von Prabowos Wahlkampf steht seine Vision von einem starken Indonesien. In seinen Reden schäumt er häufig, das Land werde von ausländischen Konzernen seiner Ressourcen beraubt. Ob Indonesien, das sich seit dem Ende der Suharto-Diktatur zu einer lebhaften Demokratie entwickelt hat, auch unter Prabowo völlig demokratisch bleiben würde, ist die Frage. Prabowo hat mehrfach erklärt, er würde gerne die Originalfassung der Verfassung von 1945 in Kraft setzen, was dem Präsidenten eine wesentlich größere Machtfülle einräumen würde. In der älteren Version ist im Übrigen auch festgeschrieben, dass der Präsident vom Parlament gewählt wird und nicht vom Volk.

…..

Auch Prabowos Vergangenheit lässt nichts Gutes für ein Indonesien unter seiner Führung ahnen. Er soll Ende der 90er-Jahre, als er als General einer zweifelhaften Militär-Sondereinheit vorstand, die Entführung und Folterung – und unter Umständen sogar Ermordung – von Demokratieaktivisten angeordnet haben. In dieser Zeit soll er auch an der Anstiftung zu schweren ethnischen Unruhen beteiligt gewesen sein, mit denen das Militär einen Vorwand dafür schaffen wollte, sich weiter an der Macht zu halten. Damals sind tausende Menschen ermordet worden. Fragen zu seiner Vergangenheit geht Prabowo meist aus dem Weg. Bei einem Fernsehduell sagte er lediglich, er habe als Soldat seine Pflicht getan.

Berita harian Die Presse terbit di Wina

Berita harian Die Presse terbit di Wina

Kira2 artinja kajak gini:

“Pada intinja kampanje pemilu Prabowo berisi visi sebuah Indonesia jang kuwat. Dalam pidatonja dia selalu ber-tereak2 bahwa sumber daja alam negerinja sudah dikuras oleh perusahaan2 asing. Akankah Indonesia jang sudah mengembangkan demokrasi jang hidup sedjak berachirnja kediktatoran Suharto, tetap sepenuhnja demokratis di bawah Prabowo? Itulah pertanjaannja. Prabowo ber-kali2 menjatakan ia akan memulihkan versi asli UUD 45, karena presiden benar2 pigang kekuwasaan jang lebih besar. Dalam konstitusi versi asli itu presiden djuga dipilih oleh MPR, bukan langsung oleh rakjat.”

…..

“Masa lampau Prabowo djuga tidak mendjandjikan hal2 jang baik bagi Indonesia di bawah pimpinannja. Pada achir 1990an, sebagai komandan satuan chusus, dia djuga punja peran dalam memerintahkan pentjulikan, penjiksaan dan bisa2 djuga pembunuhan para aktivis demokrasi. Pada waktu itu dia konon djuga bertanggung djawab atas muntjulnja kerusuhan etnis jang dipakai sebagai dalih oleh kalangan militer untuk memperbesar kekuwasaan. Waktu itu ribuan orang dibunuh. Pertanjaan tentang masa lamponja ini selalu ditepis oleh Prabowo. Dalam sebuwah debat televisi dengen entengnja dia menjataken pradjurit itu hanja mendjalanken daripada perintah atasan.”

 

Itu tadi media massa berbahasa Djerman. Sekarang sebuah medium berbahasa Inggris. Itulah madjalah The Economist terbitan London. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini.

Berita mingguan The Economist terbitan London

Berita mingguan The Economist terbitan London

Kutipan jang paling mentjolok ini:

Mr Prabowo has seized his chance, making the race too close to call. His rallies are far livelier than those of the uncharismatic Jokowi. But the man who was once Suharto’s son-in-law is a throwback to a darker past. As a former commander of Indonesia’s notorious special forces, Mr Prabowo has a tainted record on human rights, first in East Timor and then during the anti-Suharto protests. He is a master of money politics and has benefited from having friends who own television stations and newspapers. He bashes foreign investors. And he appears to want to turn back the clock on Indonesia’s democratisation.

Kira2 artinja kajak gini:

“Prabowo memanfaatkan kesempatannja, membuwat persaingan ini sulit ditentuken pemenangnja. Pidato2nja djuwauh lebih hidup ketimbang pidato Jokowi jang tidak karismatis itu. Tetapi bekas menantu Suharto ini adalah langkah mundur ke masa lampau jang gelap. Sebagai bekas dandjen Kopassus, pasukan elit jang punja reputasi buruk, Prabowo punja rekam djedjak tertjela di bidang hak2 asasi manusia. Semula di Timor Timur kemudian berlandjut ke periode protes anti Suharto. Dia adalah pakar politik duwit dan diuntungken lantaran temen2nja punja pemantjar televisi dan koran. Dia meletjehken investor asing. Dan dia ingin memutar balik demokratisasi Indonesia.”

Demikian The Economist. Tiga kutipan berita di atas djelas berita jang buruk tentang tjapres 1. Bagaimana mereka bisa menulis berita begini buruk? Mungkinkah lantaran timnja tidak bekerdja dengen baik dengen pers Eropa? Kenapa mereka masih sadja memberitaken hal2 jang buruk2 itu? Harian Austria Die Presse misalnja sudah menulis tentang hal2 jang di-tjita2ken sama tjapres nomer 1, termasuk mendirikan partai segala. Tapi tenjata, demikian kesimpulan Die Presse, partai itu tjuman dipakai untuk mewudjudken tjita2nja: djadi presiden. Dan sesudah itu di-ungkit2nja masa lampau sang tjapres, seperti mengeluwarken majit2 jang oleh tjapres 1 sebenernja ingin disimpan dalem2 supaja tak terlihat di luwar, apalagi dunia luwar.

Dengan berita jang begitu negatip tentang tjapres 1 ini bisa dipastiken kalow terpilih dia akan menghadapin masalah internasional jang tida ketjil. Dia tetep ditjekal oleh Amerika (walaupun sang adik sudah ber-iba2 supaja sang abang diperbolehkan dateng ke Amrik). Dan ternjata pers Eropa djuga tidak terlalu menjambutnja. Atau mungkinkah ini andjuran terselubung buwat elektorat tanah aer supaja tidak memilih tjapres nomer 1?

Sebagai susulan, berikut dipasang sebuwah berita lutju sekaligus mentjengangken tentang tjapres nomer satu jang dipasang oleh koran Londo de Volkskrant. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini. Berikut potongan jang paling menarik:

Driftkikker
‘Dat verleden kleeft aan hem, hoe hard hij ook probeert het van zich af te schudden’, schrijft correspondent Michel Maas vandaag in de Volkskrant. ‘Prabowo wil het er niet meer over hebben.’ Hij heeft daarom gedurende de hele campagne de internationale media gemeden, uit angst lastig gevallen te worden over zijn verleden. Als dat dan toch ter sprake wordt gebracht, kan Prabowo weleens exploderen. Hij staat bekend als driftkikker.

‘Premier Mark Rutte heeft die passie ook mogen ervaren’, schrijft Maas. ‘Tijdens zijn bezoek aan Jakarta, eind vorig jaar, stormde Prabowo de eetzaal binnen waar de Nederlandse premier aanzat met vertegenwoordigers van het zakenleven. Niet zeker is of Prabowo met de vuist op tafel sloeg en weinigen herinneren zich precies wat hij zei, ‘maar het was duidelijk dat hij zeer ontstemd was’, aldus een van de aanwezigen.’

Prabowo vond kennelijk dat hij uitgenodigd had moeten zijn en dat hij naast Rutte had moeten zitten. Nadat hij wat gekalmeerd was vertrok hij ‘zonder mee te eten’.

Berita harian de Volkskrant terbitan Amsterdam

Berita harian de Volkskrant terbitan Amsterdam

Kira2 artinja kajak gini:

Masa lampownja selalu merepotkannja, walowpun dia mati2an berupaja melupakannja. Prabowo tidak pernah mau bitjara tentang itu. Karena itu selama kampanje dia terus2an menghindarin pers internasional: takut dirongrong tentang masa lampow itu. Klow toch itu tetep disinggung djuga Prabowo bisa meledak. Dia memang terkenal tjepet marah.

Perdana Menteri Mark Rutte pernah mengalamin gedjolak amarahnja ini. Wektu berkundjung ke Djakarta achir tahun lalu, tiba2 Prabowo menghambur masuk ruwang perdjamuan makan tempat Perdana Menteri Londo sedang didjamu makan malam oleh kalangan dunia usaha. Tida djelas apakah Prabowo sampé menggebrak medja, dan tida banjak pula orang tahu apa omongannja. “Tapi djelas dia tida seneng,” kata salah seorang jang hadir.

Tampaknja Prabowo menganggep dirinja perlu diundang dan dia harus duduk di sampingnja Rutte. Setelah tenang, dia kluwar, “tanpa ikut makan”.

Selamet ketawa atow merasa malu.

“Merasa Perkasa” oleh Joss Wibisono

Hari ini 5 Djuli 2014, saat berlangsung tjoblosan di KBRI Den Haag, diriku tiba2 merasa perkasa, perkasa sekali. Perkasa karena ternjata diriku diminta untuk menentukan nasib empat orang jang ber-tjita2 memimpin negeriku. Untuk tjita2 itu betapa mereka sekarang begitu tergantung pada suaraku. Memang bukan suaraku semata, tapi paling sedikit suaraku ikut menentukan berhasil tidaknja mereka mentjapai tjita2 itu. Kesadaran inilah jang membuwatku merasa perkasa.

Tak pernah aku punja perasaan seperti ini. Dan harus kuakui bahwa setelah orde bau bubaran baru pertama kali ini aku dengan sadar menentukan pilihanku. Selama orang kuwatnja berkuwasa tak pernah aku sudi ikut pemilu. Seingatku hanja pada pemilu 1999 aku memberikan suara. Waktu itu aku ikut pemilu lantaran tidak mau Golkar kembali berkuwasa. Djadi bukan lantaran aku benar2 mendukung PDIP, partai jang waktu itu kutjoblos.

Tapi sekarang beda sekali. Sekarang ini, tatkala aku memberikan swara untuk keduwa kalinja dalam hidupku, aku sadar sekali siapa pilihanku. Jang djelas aku tak mau mengchianati Fitri Nganthi Wani dan Mugiyanto Sipin jang Kamis 3 Djuli kutemui di Amsterdam. Tentu djuga Fajar Merah jang belum pernah kutemui dan ibu mereka Sipon.

Medjeng bareng Fitri Nganthi Wani di Nationaal Monument, Dam, Amsterdam

Medjeng bareng Fitri Nganthi Wani di Nationaal Monument, Dam, Amsterdam

Begitu pula diriku tak ingin mengchianati Nezar Patria, Raharja Waluya Jati, Faizol Riza, dan Aan Rusdianto jang pada hari itu djuga, di tanah air, mengumumkan surat terbuka kepada Jokowi dan Jusuf Kalla. Kepada keduwanja mereka menghimbau supaja membereskan masalah orang hilang kalau terpilih sebagai presiden dan wakil presiden.

Mendengar penuturan Wani tentang nasib keluwarganja ketika ajah tak ketahuan lagi rimbanja, betapa diriku merasa sangat tidak berdaja. Kubajangkan zaman di Salatiga, ketika sering gujonan dengan Wiji Thukul, bahkan dia ku-budjuk2 supaja ikut kuliah dosenku, sebagai pendengar. Sekarang ternjata ada orang jang menjatakan bahwa penjair Wiji Thukul sebenarnja masih hidup tjuma dia telah menggunakan djati diri lain. Apa jang bisa kuperbuwat menghadapi orang jang tidak punja hati ini? Belum lagi memikirkan 12 orang lain jang sampai sekarang belum djuga kembali, seperti Wiji Thukul, ajah Wani dan Fajar, suami Sipon. Betapa diri ini lunglai tak berdaja, tak bisa berbuwat apa2.

Tiba2 ketidakberdajaan itu hilang ketika tanganku menggenggam surat swara. Inilah saatnja kutentukan pilihanku. Dan djelaslah siapa jang kupilih. Aku memilih Ir H Joko Widodo dan Jusuf Kalla: bukan hanja karena aku tak mau mengchianati teman2 jang pernah ditjulik dan keluarga mereka. Aku memilih tjapres nomer duwa ini djuga karena aku berharap masalah teman2 ini akan dibereskan. Lebih dari itu, aku memilih mereka untuk membuktikan keperkasaanku terhadap tjapres pertama.

Sekarang aku tak sabar lagi menunggu Rabu 9 Djuli mendatang ketika hasil pemungutan suara akan diumumkan. Aku sangat berharap pilihanku adalah djuga pilihan sebagian besar elektorat tanah air. Dengan begitu aku akan bisa berkata pada diriku sendiri bahwa, kalau terpilih, tjapres keduwa ini adalah djuga pilihanku. Dia presiden pilihanku, presiden kebanggaanku.

“Bagi Mereka Sebaiknja Oranje Pulang Sadja” Oleh Marijn de Vries

Klik di sini untuk versi aslinja jang dalem bahasa Londo; berikut ini alih bahasa: Joss Wibisono

 

Suasana Nonton Sepak Bola di Londo

Suasana Nonton Sepak Bola di Londo

 

Air dalam ketel dikiranja sudah mendidih begitu terlihat busa tatkala dia memasukkan sebungkus teh tjelup ke dalamnja. Tapi dia lebih berniat beli mesin pendidih air sadja. Busa itu memang pertanda bahwa air sudah panas, tapi sebenarnja masih belum mendidih. Ia tak berani menggunakan ketel karena berisik begitu airnja mendidih. Pokoknja semua harus dilakukan supaja tidak mengganggu sang suami jang begitu keasjikan menonton sepak bola.

 

Tangannja gemetaran ketika mengangkat tjangkir teh di medja dapur. Dari ruang keluarga dia dengar televisi disetel begitu keras. Frank Snoeks komentator sepak bola terkenal Belanda, suara jang begitu dikenalnja. 10 menit lagi pertandingan akan berachir. Belanda unggul. Bukan lantaran dia merasa aman, tapi karena dia sudah jakin suasana akan tenang2 sadja. Tidak perlu panik, katanja pada diri sendiri, sementara mereguk teh.

 

Tiga menit lagi, kembali didengarnja suara Frank Snoeks, maka Oranje akan menang. Tapi dia tak bisa duduk tenang. Dia berdiri, dengan tenang dibukanja pintu lemari es. Delapan, dia menghitung botol bir di dalam. Pagi tadi ia meletakkan 20.

 

Waktu tambahan, kembali telinganja menangkap suara komentator. Detak djantungnja makin tjepat. Dengan tjepat pula ia memandang sekeliling. Sudahkah semuanja tertata rapi? Atau masih adakah berantakan jang tak disukai sang suami? Dapur itu sudah rapi djali. Kamar keluarga pasti lain lagi.

 

Didengarkan suara peluit. Kemudian sunji senjap. Suami memadamkan televisi. Dia mendengar sematjam dengungan di telinganja, menjambut djantungnja jang berdetak keras. Dan memang kesunjian itu petjah, “Sini!” suara suami dari sitje terdengar seperti badai.

 

Malam ini Oranje kembali turun ke lapangan. Malam ini djuga banjak perempuan akan ketakutan, persis seperti kisah di atas. Ajahku bekerdja pada het Steunpunt Huiselijk Geweld alias Lembaga Bantuan Kekerasan dalam Rumah Tangga di Groningen, Belanda utara. Padaku ia bertutur tentang meningkatnja kekerasan selama kedjuaraan Piala Dunia. Kalau Belanda kalah djumlah laporan kasus KDRT jang masuk pada lembaga resmi meningkat sampai hampir 40 persen. Bahkan kalau Oranje menang, kata ajah, KDRT tetap akan meningkat dengan lebih dari seperempat.

 

Aku njaris tak pertjaja. Kalau Belanda menang bukankah kita semua senang? Kenapa suami harus memukul istrinja? Atau istri memukul suami atau anaknja. Jang terachir ini djuga terdjadi. Gara2 minuman, kata ajah. Tegang selama pertandingan. Duduk terlalu dekat satu sama lain. Dan itu tidak hanja terdjadi pada saat berlangsungnja pertandingan, tambah ajah. Kalau Belanda kalah, keesokan harinja KDRT masih meningkat sebanjak 11 persen.

 

Dia banjak membatja proses verbal polisi tentang KDRT, ajahku. Kalau bahasa polisi disisihkan, jang tersisa adalah kisah perempuan di atas. Ada perbedaan ketjil di sana sini, tapi setjara garis besar gambarannja tetap sama. Sepak bola adalah perang, kata mereka. Di atas lapangan, mungkin. Setjara kiasan. Tapi ternjata djuga di dalam banjak rumah tangga. Setjara harafiah. Tidaklah mengherankan kalau tetap ada kalangan jang berharap Oranje sudah gugur di babak terdahulu.

“Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

Karena diwawantjarai Indonesiënu.nl aku tulis azha deh resensi ini.

Di atas pentas, keberhasilan seorang soprano lebih tergantung pada kerdjasamanja dengan pianis pengiring ketimbang hanja pada kualitas vokalnja sendiri. Ini dibuktikan oleh dua orang pemusik Asia jang menuntut ilmu di Belanda dan kini djuga mentjoba membangun karier di negeri kintjir angin. Pada penampilan di Tong Tong Fair, Den Haag, Sabtu malam 7 Djuni 2014 itu, soprano Indonesia Bernadeta Astari dan pianis Djepang Inoue Kanako membutikan diri berhasil meningkatkan mutu kebersamaan seni mereka. Keduanja tampil harmonis; tidak sadja dalam irama, tapi dalam gojangan dan lebih penting lagi dalam pendjiwaan. Semuanja laras dan merupakan perpaduan jang memukau. Kerdjasama jang berhasil, apalagi dalam bidang seni, djelas butuh waktu, tidak bisa instan atau langsung djadi.

Bernadeta Astari dan Inoue Kanako di Tong Tong Theater

Bernadeta Astari dan Inoue Kanako di Tong Tong Theater

Dan memang dalam lima tahun sebagai pasangan penjanji-pengiring, pada malam minggu itu terlihat Deta (panggilan Bernadeta Astari) dan Kanako telah sampai pada djendjang baru. Mereka tidak berhenti pada prestasi tahun 2012, ketika —bersama Kanako— Deta meraih anugerah Dutch Classical Talent: penghargaan tertinggi seorang pemusik jang mengawali karier di Belanda. Sabtu itu mereka berdua saling mengisi, saling mendukung dan saling memperkuat. Karena kerdjasama mereka teranjam rapi, maka tidak ada lagi pembagian kerdja ketinggalan zaman antara pengiring dengan penjanji, misalnja penjanji di depan dan pengiring di belakangnja. Berada persis pada satu garis, Deta dan Kanako menampilkan rangkaian nada dan kata jang elok terdjalin dan indah terdengar serta, lebih penting lagi, mempesona ditonton.

Paul Seelig

Paul Seelig

Keduanja membuka penampilan dengan Tembang Sunda, karja Paul Seelig (1876-1945), seorang komponis jang berkarja serta tutup usia di Bandoeng, Hindia Belanda, tjikal bakal Indonesia. Barang siapa sudah mengikuti Deta dan Kanako sedjak penampilan perdana tahun 2009, pasti tahu karja siklus ini sudah termasuk dalam chazanah repertoir awal mereka. Tapi begitu Deta mengalunkan suara soprannja, segera terasa ada sesuatu jang baru. Suara itu terdengar lebih matang, karena sekarang memiliki kedalaman. Register rendah, bagian suara jang memberi warna meruang dan lebih dalam, kini terdengar djelas. Alhasil, di Tong Tong Festival Deta telah memperbaharui diri dengan suara jang lebih berbobot.

Pada pelbagai penampilan terdahulu Deta memang sudah setia pada partitur Paul Seelig dengan fasihnja. Rangkaian appogiatura (nada2 hiasan singkat dan tjepat) jang mempertjantik tiga nomer Tembang Sunda, dibawakannja dengan santai dan mulus. Malam itu Deta masih menambahkan satu keindahan lagi: suaranja lebih dalam, maka baik Sinom, Kinanti maupun Dandang gula miring (tiga nomer Tembang Sunda) terdengar lebih njaring dan kokoh, karena didukung oleh register rendah jang mantap. Deta menjanji dengan segenap raganja, tidak hanja mulut atau kerongkongan atau dada belaka.

Inoue Kanako

Inoue Kanako

Pianis Inoue Kanako djuga tidak mau ketinggalan. Dia menundjukkan kepiawaian membawakan tiga nomer Tembang Sunda itu seperti lajaknja menabuh gamelan. Apalagi pada nomer Dandang gula miring, bilah2 tuts piano dimainkannja seperti memetik katjapi, instrumen chas Sunda. Inoue–san bisa sampai pada penafsiran seperti ini djelas karena dia achirnja paham gamelan Sunda.

Harmoni dan kelarasan jang paling njata terlibat pada dua nomer tjiptaan komponis Prantjis Francis Poulenc (1899-1963). Les chemins de l’amour (tapak2 asmara) adalah sebuah nomer sedih tentang upaja mentjari tjinta lama jang tidak kundjung ketemu. Menariknja lagu jang sjairnja ditulis oleh Jean Anouilh (1910–1987) ini djuga berisi walsa lambat, untuk melukiskan kenangan tjinta jang masih sadja berbekas. Di sinilah Deta maupun Kanako tampil optimal, walsa jang biasanja mengiringi tarian berpasangan mereka bawakan dengan tjukup lambat, tapi tanpa pretensi tjengeng. Bukan tjuman Deta jang bergojang meningkahi walsa, Kanakopun “menggojangkan” permainannja. Itu semua mereka lakukan pada takaran jang tepat, sesuai dengan sebuah walsa murung.

Meninggalkan suasana murung, Deta memilih karja Poulenc lain, Voyage à Paris (perdjalanan ke Paris), ditjuplik dari kumpulan chanson (lagu seriosa Prantjis) jang berdjudul Banalités, sjairnja merupakan buah pena Guillaume Apollinaire (1880-1918). Di sini dia tampil dengan coquette alias kenès, baik dalam perilaku maupun tjaranja membawakan nomer ini. Kanako memainkan piano dengan djenaka. Jang menarik, supaja tetap kenès, Deta memilih nada fals ketika mengachiri nomer ini. Ini djelas langkah berani jang rada riskan (karena nada achir jang dipilihnja tidak tertera di partitur), tapi dampaknja menarik dan memang disambut tepukan tangan meriah penonton.

Sampul depan "Banalités"

Sampul depan “Banalités”

Tantangan mereka berdua adalah membawakan Banalités selengkapnja, tidak hanja Voyage à Paris jang sebenarnja sudah terlalu sering dibawakan oleh musisi lain. Lima nomer dalam Banalités sangat bervariasi membutuhkan daja vokal serta pendjiwaan tersendiri. Bisakah Deta dan Kanako tampil sebagai orang bosan ketika membawakan Hôtel, nomer kedua Banalités, karena memang demikian tuntutannja?

Selain Seelig dan Poulenc, malam minggu itu kedua pemusik djuga menampilkan karja2 Claude Debussy (1862-1918) dan Xavier Montsalvatge (1912-2002). Djelas bukan tjuman dari zaman jang berbeda, karja2 itu djuga dalam pelbagai bahasa. Lengkapnja, Deta memperdengarkan nomer2 dalam bahasa2 Sunda, Prantjis dan Spanjol. Selain bahasa Italia sebagai imbuhan, menariknja, Deta ternjata tidak melupakan Indonesia.

Maka mengalunlah Bumi Hidjau, tjiptaan Mochtar Embut (1934-1973) atas puisi2 awal Rendra (1935-2009) jang pendek dan molek. Kembali Deta mengambil langkah riskan karena membawakan karja seorang komponis jang tidak terkenal, apalagi di Belanda. Tapi djelas bukan tanpa pertimbangan, karena Deta tahu persis dia berhadapan dengan publik TongTong Fair jang terbuka bagi karja2 jang tidak termasuk arus utama musik vokal.

Mochtar Embut (1934-1973)

Mochtar Embut (1934-1973)

Bumi Hidjau adalah sebuah karja djelita; sembilan nomer jang dimulai dengan sentuhan pentatonis singkat dan diachiri dengan pentatonis sepenuhnja. Antara awal dan achir tersebar pelbagai nomer pendek-pendek bak untaian mutiara jang bertangga nada chromatis.

Dalam chazanah Lieder (lagu seriosa berbahasa Djerman), orang mengenal Erlkönig tjiptaan Franz Schubert (1797-1828) atas sjair karja pudjangga Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832). Sadjak ini berkisah tentang upaja mati2an seorang ajah untuk menjelamatkan anaknja jang sakit, dan untuk itu harus menempuh badai. Badailah jang terdengar begitu karja ini dimainkan.

Gelora serupa djuga terdengar pada Angin Djahat, nomor terachir Bumi Hidjau. Tjuma Mochtar Embut menggubah sebuah karja jang benar2 Indonesia. Maklum semua melodi nomer jang berdjudul Angin Djahat itu dimainkan pada tuts hitam, sehingga bisa dikatakan bertangga nada sléndro. Tak pelak lagi, inilah djawaban seorang Indonesia terhadap karja Schubert itu.

Deta dan Kanako pasti tidak tahu bahwa Angin Djahat adalah djawaban Mochtar Embut (jang sebenarnja kelahiran Makassar) terhadap sebuah karja Barat. Terus terang, ini djuga tjuma rekaan saja belaka. Jang djelas mereka berdua membawakannja dengan prima dan penuh pesona. Nada2 rendah misalnja muntjul menggema dari raga Deta. Penonton jang memadati TongTong Theater menjambut nomer terachir ini dengan aplaus meriah serta siutan meriuh.

 

Bernadeta Astari di pentas TongTong Theater

Bernadeta Astari di pentas TongTong Theater

Alhasil langkah riskan mereka ternjata tidak meleset, bahkan tidaklah berlebihan kalau kita katakan di baliknja tersembunji kebanggaan pada tanah air. Nasionalisme djelas djuga bisa disampaikan lewat musik.

“Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 15 juin 2013, pp. 41-52

 

On a souvent ignoré le rôle du colonialisme dans le rapprochement de styles musicaux. Pourtant, dans le cas du gamelan (musique traditionnelle de Java et Bali), il existe des convergences avec la musique occidentale qui méritent l’attention. Son influence sur la composition de musiciens eurasiens provient de rencontres inattendues qui ont eu lieu pendant la période coloniale. Des compositeurs célèbres comme le Français Claude Debussy (1862-1918) ont pu voir et écouter à Paris du gamelan et c’est ce type d’influence qu’on retrouve dans certaines parties de son répertoire.

Claude Debussy ca1908, photograph by Félix Nadar

Claude Debussy ca1908, photograph by Félix Nadar

On connait bien la manière dont Debussy a été influencé par le gamelan, mais on ne sait pas grand-chose des nouveaux compositeurs eurasiens qui ont eu une rencontre plus « naturelle » avec le gamelan. Certains sont nés dans les Indes néerlandaises, y ont vécu et y sont morts. Néanmoins ces compositeurs, qui n’habitaient pas en Europe, ont aussi reçu une éducation en musique classique. L’un deux a même étudié au conservatoire de Leipzig. À l’époque du colonialisme, d’autres compositeurs et musiciens inconnus jusqu’à nos jours ont vécu dans le sillage de la rencontrede Debussy ; ces personnes ont intégré avec enthousiasme le gamelan dans leur musique. Mais ceci soulève une question: comment se fait-il que leur utilisation du son et de la structure du gamelan n’ait pas reçu la même attention que celle accordée à Debussy ? Autrement dit, comment faut-ilinterpréter ce manque de reconnaissance dans leur influence sur la musique classique occidentale ?

On sait parfaitement que Debussy a visité l’Exposition Universelle de 1889 à Paris qui avait été organisée pour célébrer le centenairede la Révolution française. Le pavillon hollandais de l’exposition, appelé Le village javanais, montrait un vrai village javanais regorgeant d’habitants même si ce pavillon n’avait pas été approuvé par le gouvernement, puisque la roi en tant que chef d’État des Pays-Bas, avait refusé de prendre part à une célébration de la destitution de la monarchie française.

Village Javanais

Village Javanais

Le résultat de ces efforts pourrait s’appeler un mélange innovant ou, pour ceux qui étaient attachés à la tradition, un mélange absurde. Si le village lui-même était le résultat de l’excellent travail d’artisans de Batavia, les musiciens de gamelan n’étaient pas des professionnels. Ces derniers ne pouvaient être contactés que par des voies officielles. Les musiciens de Sari Oneng étaient en fait des travailleurs de la plantation de thé Parakan Salak de Sukabumi à Java Ouest. Il estintéressant de noter qu’à Paris, ils ont accompagné des danseurs professionnels du palais de Mangkunegaran, une des cours de Solo à Java Centre. Un homme d’affaires néerlandais qui avait des relations étroites avec le palais a réussià convaincre les autorités d’envoyer quatre danseuses adolescentes. On peut sedemander s’il avait indiqué aux autorités du palais toute la vérité – que les danseuses allaient accompagner un gamelan soundanais dirigé par le propriétaire de la plantation, un néerlandais du nom de Adriaan Holle. Il faudrait aussi essayer de comprendre le rôle de ces danseuses qui étaient présentées comme des tandhak (danseuses de rue). On pourrait penser qu’elles n’étaient pasvraiment des danseuses du palais. De plus, pour faire une comparaison sommaire, associer un gamelan soundanais à de la danse javanaise revient au même qu’associer un groupe de rock à des danseurs de salon. Les Indonésiens d’aujourd’hui verraient encore d’un mauvais œil une association entre un gamelan soundanais et des danseuses d’un palais de Solo.

On a abondamment montré que Debussy avait été envouté par le gamelan javanais (Fauser 2005 ; Bloembergen 2004). Il était fasciné par le contrepoint du gamelan : « La musique javanaise observe un contrepoint auprès du quel celui de Palestrina n’est qu’un jeud’enfant ». Mais la musique qu’il avait entendue n’était pas jouée par un gamelan de première classe et l’association avec une danse du palais de Solo était loin de la réalité. On peut donc se demander comment Debussy aurait été influencé s’il avait pu assister à la première représentation professionnelle de gamelan en Europe. Dix ans plus tôt, en 1879, le premier gamelan professionnel avait joué en Europe, à Arnhem aux Pays-Bas. C’était un gamelan composé de 13 musiciens du palais de Mangkunegaran de Solo (Cohen 2010 :10 ; Terwen 2009 : 73-112).

Gamelan performing in Arnhem 1879

Gamelan performing in Arnhem 1879

Est-ce que Debussy aurait été impressionné par le seul contrepoint et rien d’autre ? Et bien que Debussy fût imprégné de son propre langage musical, ses œuvres, après avoir écouté le gamelan, ont évolué en incorporant ces influences impressionnistes que l’onpeut clairement distinguer dans la première de ses trois Estampes : Pagodes. Dans ce morceau pour piano solo publié en 1903, les accords de Debussy flottent dans l’air sans prendre fin. Il obtient ce résultat enutilisant une gamme pentatonique qui s’avère être celle du gamelan.

Francis Poulenc (1919)

Francis Poulenc (1919)

Dans les années qui suivirent, Paris allait abriter des expositions similaires à l’Exposition universelle de 1889 et la musique de Debussy allait continuer d’être influencée par ce mélange de musiques qui parvenaient à Paris. Cependant, il n’y a pas que Debussy qui a été attiré par le gamelan en visitant une ou plusieurs de ces expositions ; la forte influence de ces expositions organisées à Paris transparaît chez d’autres compositeurs. Francis Poulenc (1899-1963) est un autre grand compositeur qui avisité l’Exposition coloniale internationale de 1931 à Paris, qui a duré six mois et où un gamelan balinais de Peliatan a joué. C’était la première représentation d’un gamelan balinais à l’étranger et il est impossible de ne pas remarquer l’influence balinaise dans le Concerto en ré mineur pour deux pianos de Poulenc.

L’œuvre majeure de Poulenc qui exprime le plus le gamelan est le Concerto en ré mineur pour deux pianos de 1932. Ce concerto est composé de trois parties, Allegro ma non troppo, Larghetto et Allegro molto. La première partie, l’Allegro ma non troppo, s’ouvre avec deux accords suivis immédiatement par un timbre balinais. Ce n’est qu’ensuite qu’on entend la légèreté badine de Mozart. Parfois, la musique africaine se fait aussi ressentir. Le style de Mozart revient en force dans la seconde partie qui est lente, Larghetto. Mais les teintes africaines, le jazz et Bali reprennent le dessus dans la troisième partie, Allegro molto. Bien sûr, l’inspiration principale reste celle de Mozart. Mais il n’en restepas moins que, dans ce concerto, Poulenc accommode Mozart avec des tonalités balinaises.

Poulenc a composé deux autres œuvres dans lesquelles l’influence balinaise se fait sentir même si elle se ressent moins que dans le Concerto pour deux pianos. Les deux œuvres sont des opéras. Le premier est l’opéra-bouffe surréaliste Les Mamelles de Tirésias, créé en 1944. Dans cet opéra, le Prologue se conclut vers la sixième minute sur un mouvement de gamelan balinais.

Ce qui est plutôt extraordinaire est l’opéra Dialogues des carmélites, créé en 1957. Cet opéra raconte l’histoire de la condamnation à mort par décapitation des religieuses carmélites de Compiègne pendant la Révolution française. L’Église catholique et tous ses dirigeants sont alors considérés comme l’Ancien Régime qu’il faut abolir. Dans l’acte I, après deux minutes et demie, Poulenc utilise le gamelan balinais pour décrire la complexité de la révolution.

Colin McPhee (1920)

Colin McPhee (1920)

Colin McPhee (1900-1964) est un autre compositeurde transition qui mérite d’être mentionné. Non seulement, il a pu voir legamelan de Peliatan à Paris, mais il a aussi visité Bali dans les années 1930 et est resté sur l’île pendant plusieurs années. McPhee appartient à un second groupe de compositeurs – ceux influencés par la musique indigène indonésienne et qui ont eu la possibilité de visiter les Indes néerlandaises. On peut retrouver facilement une influence balinaise dans la plupart de ses œuvres musicales : Balinese Ceremonial Music for Two Piano : Lagu delem (Musique cérémonielle balinaise pour deux pianos). Par exemple, Tabuh-tabuhan (1936) résonne comme un concerto de gamelan balinais alors qu’en fait, il est interprété par un orchestre occidental sans la présence du moindre instrument de gamelan.

Benjamin Britten (1950s)

Benjamin Britten (1950s)

Le second groupe inclut aussi le compositeur britannique Benjamin Britten (1913-1976). Britten habitait dans la même maison que McPhee avec son compagnon Peter Pears qui était aussi un pacifiste, lorsqu’il s’exila volontairement à New York pendant la Seconde Guerre mondiale. Il découvrit le gamelan balinais grâce à McPhee et ils enregistrèrent des transcriptions pour piano réalisées par McPhee. Après la guerre, Britten rencontra Poulenc et les deux compositeurs devinrent les artistes solos du Concerto pour deux pianos de Poulenc dans une représentation au Albert Hall de Londres le 16 janvier 1955. Un an plus tard, Britten et Pears partirent pour Bali où ils restèrent quelques semaines.

L’influence balinaise n’était pas décelable dans le premier opéra de Britten, Peter Grimes, qu’il a écrit à son retourdes États-Unis, mais un soupçon de musique balinaise se dessine dans la musique qu’il créa pour le ballet Prince of the Pagodas en 1956, l’année où ilest allé à Bali. On peut surtout entendre sans ambigüité des sons parfaitement balinais dans son dernier opéra Death in Venice (« Mort à Venise ») basé sur la nouvelle de Thomas Mann (Der Tod in Venedig, 1912).

Death in Venice, production of Hamburg Opera

Death in Venice, production of Hamburg Opera

Mort à Venise est différent des autres opéras de Britten etdes autres opéras en général. Bien qu’on n’y puisse distinguer aucune aria particulière, cet opéra est une réflexion du personnage sur sa propre vie. Enfait, l’opéra est une longue aria sur le personnage principal, Gustav von Aschenbach, un écrivain célèbre atteint du syndrome de la page blanche. Au bout d’une demi-heure, une scène montre la rencontre de von Aschenbach avec le jeune polonais Tadzio. C’est à cet endroit que Britten utilise la gamme du gamelan qu’il va développer dans le reste de l’opéra. C’est le motif de Tadzio, la manifestation musicale du rôle muet de l’opéra. Mais il y a plus. Le dieu grec de la musique, Apollon, apparaît à Tadzio et à ses amis alors qu’ils sont entrain de jouer, dans une scène qui s’appelle « Les jeux d’Apollon ». Apollon, un rôle pour un ténor haute-contre, chante des mélodies enchanteresses qui emploient la gamme pentatonique balinaise. C’est une des inventions les plus habiles de Britten puisque, contrairement au gamelan javanais, le gamelan balinais n’inclut pas beaucoup de parties chantées. Ainsi Mort à Venise quimet l’accent sur le chant, solo ou avec le chœur, se distingue de l’utilisation habituelle du gamelan à Bali.

Apollo in the center

Apollo in the center

 

La liste des compositeurs influencés par le gamelan ne s’arrête pas là. Elle inclut des personnalités comme Leopold Godowsky (1870-1938), Maurice Ravel (1875-1937), Olivier Messiaen (1908-92), Michael Tippett (1905-98), Lou Harrison (1917-2003), John Cage (1912-92), Steve Reich (1936-) et Philip Glass (1937-). Tous ces compositeurs ont introduit dessons, des motifs ou des structures du gamelan dans leur œuvre.

Nous avons vu comment les gamelans de Sunda, à Java Ouest, et de Bali ont influencé divers compositeurs occidentaux, cependant on peut trouver des variations de la musique de gamelan dans d’autres régions de Java et Bali. Qu’en est-il donc de la musique des cours de Yogyakarta et Solo à Java central où les rois de Mataram règnent encore aujourd’hui ? C’est là que nous allons rencontrer les compositeurs eurasiens, car ils ont été principalement influencés par le gamelan javanais. Ils semblent se séparer en deux écoles : celle qui souligne l’importance de la créativité sans entrave et celle qui attache de l’importance aux sources enracinées dans la tradition. Constant Van de Wall (1871-1945) appartient à la première école. Il voyait dans le gamelan une simple source d’inspiration qui venait enrichir sa propre créativité. Paul Seelig (1876-1945) fut le fer de lance de la seconde qui voyait dans le gamelan bien plus qu’une source d’inspiration. Ils étaient fidèles à la tradition du gamelan et leurs œuvres ressemblaient à de véritables chants malais, soundanais et javanais.

Constant van de Wall3Pour Debussy, le gamelan l’a convaincu d’utiliserla gamme pentatonique ; il était à la recherche de quelque chose de différent et avait peut-être même été tenté de l’utiliser avant de venir en contact avec le gamelan à l’Exposition de Paris. Constant Van de Wall n’avait pas besoin d’être convaincu. Pour lui, Java n’était pas simplement la description d’un village ou d’un kampong, c’était aussi deux grandes villes, Surabaya où il avait vu le jour en 1871 et Semarang où il avait grandi. À Semarang, la capitale de Java central, nous pouvons être sûrs que Van de Wall entendait du gamelan quotidiennement. Il n’est pas surprenant qu’il se considérât comme un de ces compositeurs qui « avaient l’exotisme dans le sang au point qu’ils n’avaient pas besoin d’emprunter des mélodies ou des motifs indigènes » (Van de Wall, 1928). Presque toutes ses compositions exposaient des éléments musicaux javanais et il considérait qu’il connaissaitle gamelan javanais mieux que quiconque venant de l’extérieur. Dans une certaine mesure, il avait raison. Dans sa Rhapsodie javanaise I (1904), Van de Wall révéla sa compréhension sans égal du gamelan.

Sa composition pour piano seul commence dans un sléndro pour se poursuivre dans un pélog, les deux gammes du gamelan javanais. On peut considérer qu’elles sont équivalentes aux deux gammes majeure et mineure de la musique occidentale. Le thème, en pélog, résonne demanière si différente que personne ne peut le confondre avec de la musique purement occidentale. Debussy ne savait pas qu’il y avait deux gammes dans le gamelan javanais, car le gamelan soundanais du XIXe siècle, tel que Sari Oneng, ne faisait pas de différence entre les deux gammes. Van de Wall a aussi composé Jeu d’ombres (1918), un chant en français et néerlandais sur le théâtre d’ombres javanais qui est probablement le seul chant sur cette tradition du théâtre javanais. Les motifs du gamelan javanais se retrouvent partout dans cette composition pour voix médianes et piano et on trouve aussi des accords similaires à ceux de Debussy.

Annemarie Kremer as Attima

Annemarie Kremer as Attima

Dans son œuvre majeure, l’opéra Attima dont la première eut lieu de 8 janvier 1917 à La Haye, Van de Wall montre sa parfaite connaissance de la culture javanaise. En particulier, comme cet opéra fait intervenir un groupe de danseurs javanais, Van de Wall transcende la stricte distinction entre opéra et ballet. L’opéra est habituellement reconnu comme un art chanté tandis que le ballet est plus tourné vers la danse. Mais Van de Wall surpasse les différences entre ces deux formes d’art en utilisant une forme d’art javanais le wayang wong (théâtre dansé) dans un opéra « occidental ». Non seulement, les acteurs de wayang wong sont supposés jouer et chanter, mais ils doivent aussi maîtriser le bekso (danse javanaise). En composant un drame musical ayant pour thème des danseurs javanais, Van de Wall intègre parfaitement deux formes d’art distinctes, l’opéra et le ballet. Alors qu’il vivait à Nice, Van de Wall était connu comme un « compositeur javanais » et bien qu’il portât un nom typiquement néerlandais, ce titre illustre parfaitement sa connaissance et sa compréhension intime de la culture javanaise.

Paul Seelig

Paul Seelig

Paul Seelig n’est pas né aux Indes néerlandaises, mais il a passé la majeure partie de sa vie à Java et est mort d’épuisement après sa libération d’un camp de prisonniers japonais à Batavia en juin 1945. Il a fait ses études à Leipzig en Allemagne, mais est passé d’un palais à un autre en Asie du Sud-est. Il a commencé à Solo puis a déménagé à Bangkok et Johor avant de s’installer définitivement à Bandung.

Paku Buwono X de Solo a chargé Paul Seelig en 1899 de mettre en place un orchestre symphonique pour le palais. Ce dernier partit pratiquement de rien et dut former chaque musicien. L’orchestre de 20 musiciens joua pour la première fois un an plus tard. Seelig fut satisfait dela réponse enthousiaste du public et nota à l’époque que « les musiciens avaient admirablement bien joué » (Mak Van Dijk 2007 : 157). À son apogée, l’orchestre comptait 90 musiciens et pendant tout le temps où Seelig était au palais, il put rassembler 200 thèmes de gamelan qu’il publia en 1922 sous le titre Gending Djawi.

Il est fort probable que Seelig a été présenté au roi Rama V du Siam lorsque celui-ci rendit visite à son homologue le roi Paku Buwono X en juin 1901. Il est possible aussi que Seelig ait été présenté aufils du roi, le prince Paribatra, qui fut plus tard connu comme le père de la musique classique occidentale en Thaïlande. C’est un fait que Seelig est allé vivre en Thaïlande pendant la seconde moitié de 1910 faisant suite à l’invitation du roi. Après cette première visite, il retourna à Bangkok plusieurs fois et y restait plusieurs mois à chaque fois. Seelig a étudié la musique siamoise dont il publia une collection plus tard ainsi que sa Rhapsodie siamoise (1932). Il composa aussi Maha Chay, l’hymne royal de la Thaïlande pour un orchestre complet. Bien qu’on ait besoin d’en savoir plus surses connexions avec Johor, Seelig a écrit cinq lieder (chant allemand) et son Opus 7, intitulé Fünf Lieder (Malayische Lieder) et publié vers 1902, était dédié à Son Altesse Royale la Sultane Khatijah de Johor.

Il finit par s’installer à Bandung et établit une maison d’édition musicale Matatani, qui distribua beaucoup de ses œuvres qui comptaient des chants avec accompagnement au piano (Tembang Sunda, Tembang Tjitro Kusomo Sekar, Djalak Idjo, Hastaka Kuswala), des morceaux pour piano seul (Danse de masque javanaise, Pentul Tembem), un drame musical (Dewi Anggraeni), un concerto pour piano en fa dièse mineur et bien d’autres encore.

Cover of Trois danses javanaises

Cover of Trois danses javanaises

Dans son livre novateur, le pianiste et anthropologue néerlandais Henk Mak van Dijk (2007) consacre plusieurs chapitres non seulement à Seelig et Van de Wall, mais aussi à Linda Bandara (1881-1960) et Bernhard Van den Sigtenhorst Meyer (1888-1953). Il mentionne aussi Theo Smit Sibinga (1899-1958), Daniel Ruyneman (1886-1963), Frans Wiemans (1889-1935), Hector Marinus (1902-52), Berta Tideman-Wijers (1887-1976) et quelques autres compositeurs inconnus jusqu’à présent, mais qui ont tous vécu dans le sillage des influences de Debussy.

Historiquement, on ne peut pas remettre enquestion le rôle de Debussy comme pionnier de la musique impressionniste, ce qui est en partie dû à sa rencontre avec le gamelan javanais et soundanais qui a été joué à Paris. Mais pour l’histoire de la musique indonésienne, des compositeurs eurasiens ont, de loin, joué un rôle bien plus important. Sans conteste, ils ont été les premiers à avoir composé une musique qui unifie l’Orient et l’Occident et à avoir réussi à créer un style unique de musique fusion. Reste toutefois la question de savoir pourquoi ces compositeurs n’ont jamais atteint le niveau de reconnaissance qu’ont connu Debussy et d’autres compositeurs qui ont été exposés au gamelan en Europe.

Le fait que les critiques musicaux néerlandais, focalisés sur l’Europe, n’appréciaient pas du tout ou pas autant ces compositeurs que ceux qui avaient été élevés dans la mère patrie, constitue un premier élément de réponse. De fait, la citation de Van de Wall indiquée précédemment est extraite de son essai intitulé « Een Causerie over Indische Muziek en Indische componisten » (discussion sur la musique des Indes néerlandaises et des compositeurs eurasiens), publié en 1928 dans le quotidien néerlandais Het Vaderland (La Patrie) dans lequel il essayait de justifier la raison pour laquelle il utilisait les gammes et les motifs du gamelan.

Un autre élément de réponse se trouve dans le rôle qu’ont joué les Pays-Bas dans les luttes d’influences européennes. Cet élément, qui semble éloigné du monde de la musique, a eu un impact important sur ces compositeurs dans la mesure où leurs œuvres sont restées inconnues parce que, entre autres choses, les Pays-Bas avaient peu et ont toujours peu d’influence en Europe. Et cet état de fait n’était pas véritablement différentdans leurs colonies quelle que soit leur taille. Sans rien retirer à la qualité artistique de Debussy, sa réussite était surtout due au fait que la France était et est toujours très influente dans le monde. Si nous considérons l’impact de l’Exposition universelle de Paris, malgré le fait que seul un gamelan de second rang y a joué, l’opinion publique se souvient plus, 200 ans plus tard, de cette exposition que de l’Exposition nationale de l’industrie néerlandaise et coloniale à Arnhem de 1879 où le premier gamelan professionnel de Java avait joué en Europe.

Le colonialisme peut jouer le rôle de catalyseur dans le mélange de différents genres musicaux, comme ce qui est arrivé entre le gamelan et musique classique occidentale. Malheureusement, le colonialisme néerlandais, bien qu’il ait été créateur de ce type de mélanges, n’a pas réussi à sensibiliser le public et à susciter son intérêt pour ce nouveau genre de musique et a conduit à oublier ce vaste univers d’influences musicales. Il est nécessaire d’étudier en détail les convergences musicales suscitées par les rencontres coloniales. C’est ainsi que nous pourrons approfondir notre connaissance des différents échanges qui ont eu lieu dans les colonies européennes d’Asie du Sud-est.

Références

Bloembergen, Marieke. Koloniale Inspiratie, Frankrijk, Nederland, Indië en de wereldtentoonstellingen 1883-1931. Leiden, KITLV Uitgeverij, 2004.

Cohen, Matthew Isaac. Performing Otherness Java and Bali on International Stages, 1905-1952. Basingstoke : Palgrave Macmillan, 2010.

Cooke, Mervyn. Britten and the Far East, Asian Influences in the Music of Benjamin Britten. Suffolk : The Boydell Press, 1998.

Fauser, Annegret. Musical Encounters at the 1889 Paris World’s Fair. Rochester : University of Rochester Press, 2005.

Lombard, Denys. Le Kampong Javanais à l’Exposition Universelle de Paris en 1889. Archipel, 1992, Vol. 43 : 115–130. doi:10.3406/arch. 1992. 2810 (consulté le 10 novembre 2011).

Mak Van Dijk, Henk. De oostenwind waait naar het westen: Indische componisten, Indische composities, 1898-1945. Leiden: KITLV Uitgeverij, 2007.

Terwen, Jan Willem. Gamelan in the 19th Century Netherland, An Encounter Between East and West. Utrecht : KVNM, 2009.

Van de Wall, Constant. « Een causerie overIndische muziek en Indische componisten. » Publié dans le quotidien Het Vaderland, 26 avril 1928.

Traduction : Pascale Sztajnbok.

“‘Mendengar’ Surga Sungsang” oleh Joss Wibisono

Inilah resensi pertama sebuwah novel jang pernah kutulis. Tentu sadja ini djuga novel pertama penulisnja. Versi lain resensi ini nongol di koran Suara Merdeka (dulu De Locomotief), edisi 30 Maret 2014, halaman 24 bawah. Klow mingsih ada azha kalangan jang gak betah batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, dia bisa ngeklik ini untuk batja versi EYD-nja.

Artikelku wektu nongol di Suara Merdeka

Artikelku wektu nongol di Suara Merdeka

Membatja Surga Sungsang, novel perdana Triyanto Triwikromo, laksana mendengar sebuah karja musik serius dan besar — dipentaskan bersama oleh orkestra Barat, seperangkat gamelan (sléndro maupun pélog) dan, tak ketinggalan, sekelompok paduan suara besar. Dua hal begitu menondjol dalam Surga Sungsang sehingga kita terdorong mengkaitkannja dengan karja musik.

Pertama, bahasa Triyanto jang begitu liris. Memadu prosa dengan puisi, bahasa seperti ini memiliki metrum atau irama: unsur penting musik. Pembatja akan mudah terbawa oleh irama jang begitu adjeg karena, seperti suluk atau zikir, bahasa puitis Triyanto djuga memiliki hitungan tertentu.

Misalnja larik ini “Angin gelap bau kematian memang berembus sedjak sendja”. Hitungannja tampak pada kelompok dua kata jang diulang empat kali (atau empat kata jang diulang dua kali); bagian awal dan bagian achir berisi empat suku kata sedangkan bagian tengah enam dan lima suku kata. Pola ini adalah hitungan birama musik bersjair.

Kedua, Triyanto menggunakan tema jaitu kalimat jang di-ulang2. Ada tema pendek (“Apa jang disembunjikan oleh bangau2 dan pohon bakau?”); ada pula tema agak pandjang (“Akan tetapi Oktober jang kian panas dan ganas tetap sadja tak memiliki tjara lembut untuk memperkenalkan kematian pada Siti”). Bahkan djuga ada variasi atas tema tertentu (“Allah tidak pernah mengirim bentjana pada Djumat penuh bangkai ikan” ketika diulang berubah sedikit mendjadi “Allah djuga tidak mengirimkan bentjana pada Djumat penuh bangkai ular”).

Tiga tjontoh tema dan variasinja itu tjuma diulang sekali pada bagian lain, tapi kehadiran mereka langsung mengingatkan kita pada karja musik —suita, simfoni, atau rapsodi— karena memang musiklah jang pertama kali menggunakan tema.IMG_0169 Tentu sadja tema dalam musik adalah melodi tertentu jang diulang atau kembali muntjul pada bagian lain.

Djangan salah duga: tema tidak hanja dikenal pada musik Barat. Gamelan Djawa djuga memilikinja. Ini bisa dalam bentuk tembang pokok jang dibawakan oleh sindhèn (penjanji solo perempuan), atau senggakan jang dinjanjikan oleh para penggérong, paduan suara pria. Tembang pokok selalu diulang pada bait baru sjair tertentu, demikian pula senggakan jang sering kedengaran sebagai penggoda. Dan memang Surga Sungsang menghembuskan nafas Djawa, bukan hanja setting-nja (di satu titik Pantura), tetapi djuga falsafah Djawa jang bertebaran di sana sini.

Ketika masih menggarapnja, Triyanto berkabar ia merantjang novel ini sebagai pameran lukisan. Tjuma lukisan2 itu tidak punja nomer urut, hadirin jang datang untuk menonton bisa mulai pada lukisan terachir, atau lukisan di tengah. Tidak harus dari awal. Begitu pula novel ini. Setiap babnja merupakan tjerita sendiri2, sedikit banjak mandiri dari bab2 lain. Djadi pembatja memang tidak perlu mulai dari awal.

Sebenarnja chazanah musik dunia djuga mengenal suita “Картинки с выставки” (lafal: kartinky s vystavki artinja “Lukisan pada sebuah pameran”) karja komponis Rusia Modest Mussorgsky (1839-1881). Pada 1874 dia mentjiptakan karja untuk piano tunggal ini, berdasarkan pameran 10 lukisan karja perupa kenalannja. Beberapa komponis lain kemudian menggubahnja untuk orkestra penuh, jang terkenal adalah orkestrasi komponis Prantjis Maurice Ravel (1875-1937).

Irama dan tema ini menjebabkan Surga Sungsang lebih tepat disedjadjarkan dengan karja musik ketimbang pameran lukisan. Asosiasi dengan musik itu pasti djuga akan muntjul kalau kita menilik pelbagai bunji2an jang begitu hidup dalam penggambaran Triyanto. Kita bisa mendengar dengung lebah, tjeritjit bangau, atau babi hutan jang meng-uik2. Tak ketinggalan suara alam, seperti amarah ombak, hempasan badai, gesekan daun2 bakau, serta, sesekali, petir. Semua itu berkisar pada bunji2an, dan dalam keindahan sastra bunji itu adalah musik.

Sesungguhnja Triyanto djuga berkisah tentang objek2 untuk indra lain, baik indra penglihat (“tubuh Kufah menjala”, “tjahaja hidjau”) maupun indra pentjiuman (“harum mawar putih” dan “wangi dedaun pandan”). Tapi indra pendengaran serasa dimandjakan dengan porsi jang lebih banjak. Alhasil kesan mendengar musik tampil menonjol dalam novel pertama Triyanto ini.

IMG_0170Lalu musik apa jang kita dengar? Djawabannja akan diperoleh kalau kita tahu isi novel jang pada awalnja sudah terbit sebagai 13 tjerita pendek ini. Kisahnja berkisar pada upaja warga sebuah tandjung untuk bertahan dari tjaplokan seorang berduit dan berkuasa. Kisah klasik Orde Baru ini djuga dilengkapi dengan banjir darah, tjiri chas zaman itu, mulai 1965 sampai 1983 ketika kalangan bertato bergelimpangan di mana2 kehilangan njawa. Penuturan berlandjut ke zaman sekarang, tatkala orang begitu kesulitan meninggalkan budaja kekerasan jang sudah dibina di zaman bersimbah darah dulu.

Susana seperti ini mungkin bisa didjadikan musik dengan banjak disonan: suara2 jang tidak harmonis. Pada gamelan ini bisa ditjapai dengan menabuh serempak titi nada sléndro dan pélog, sesuatu jang sudah dilakukan oleh komponis dan pakar gamelan Rahayu Supanggah.

Jang istimewa: dalam novel ini Triyanto djuga menulis tentang pelaku kekerasan. Setelah Orba bubaran, publik selalu disuguhi kisah korban. Masuk akal sadja: selama tiga dekade terus di-tutup2i, nasib mereka achirnja terungkap pula. Tapi setelah 15 tahun pengungkapan para korban, tibalah saatnja untuk djuga mengungkap sisi lain mata uang jang sama: para pelaku. Dipelopori oleh Joshua Oppenheimer (dengan film dokumenter The Act of Killing), kini sudah waktunja mengungkap mengapa pelaku sampai begitu tega berbuat begitu keji. Dalam alur sastrawi memukau, Triyanto bertutur tentang bagaimana pembunuh beroperasi; mulai dari perintah sampai tindakan membunuh, termasuk semua keraguan dan gejolak nafsu melakukan pembunuhan itu. Tak ketinggalan pula tipu muslihatnja.

Tentu sadja novel ini tidak se-mata2 berkisah tentang kekedjian. Sebagai penulis handal Triyanto djuga membuktikan diri mampu menjindir, menulis pasemon jang menggelikan. Bukan hanja sentilan nakal (“Apakah Sjech Muso terbang dengan Bouraq?”), tapi djuga satu bab jang benar2 ndjarag atau mengedjek. Dalam “Amenangi Zaman Tjeleng” selain memlesetkan karja Ranggawarsita, Triyanto djuga dengan djitu mengedjek keserakahan dan irasionalitas zaman sekarang. Kisahnja begitu kotjak membuat pembatja ter-pingkal2, melupakan nalar jang djelas tidak hadir pada bab ini tapi sebenarnja tidak penting djuga.

Karja musik Barat menempatkan hal2 djenaka ini pada bagian Scherzo. Novel perdana Triyanto Triwikromo memang lajak untuk digubah mendjadi sebuah karja musik, entah opera, entah karja musik lain. Selain Rahayu Supanggah tadi, mari kita adjukan gagasan ini kepada komponis2 seperti Tonny Prabowo, Franki Raden, atau Ananda Sukarlan. Tertarikkah mereka?

“Schetsen met Woorden (Kata2 sebagai Sketsa): Menjimak Esai2 Manunggal K. Wardaya” oleh Joss Wibisono

Ini kata pengantarku untuk buku Nada Tjerita karja Manunggal Kusuma Wardaya. Aku pasang di sini untuk sedikit mengiklanken buku menarik ini.

Nada Tjerita

Nada Tjerita

Membatja esai2 Manunggal Kusuma Wardaya serasa seperti mendengar seseorang mendongeng dalam tutur bahasa jang sederhana, baik, djelas, runtut dan kadang2 djuga berisi sentilan jang mengedjutken. Hanja karena itu sadja, saja sudah terpikat untuk membatja dan terus membatjanja.

Menulis dengan baik, dengan kalimat2 sederhana jang tidak rumit dan djelas, apalagi masih disertai dengan tata penulisan jang tepat, sedjatinja merupakan ketrampilan chusus jang hanja dimiliki oleh kalangan tertentu. Padahal dengan bertambah populernja djedjaring sosial seperti twitter atau facebook, mengutarakan pendapat dalam bentuk tulisan sudah seperti bernafas sadja, zaman sekarang. Siapapun melakukannja, bukan tjuma aktivis, tapi djuga para artis jang djadi tjaleg dan TKI jang bekerdja di luwar negeri. Walau begitu tidak semua tulisan pada djedjaring sosial itu gampang dipahami, misalnja hanja karena penulisnja sering rantju dalam menggunakan “di”: sebagai awalan atau sebagai kata depan; “di” jang dipisah atau jang harus disambung dengan kata berikutnja. Tidak semua orang mampu membedakannja.

Kesalahan remeh jang mendjengkelkan seperti itu tak saja djumpai pada esai2 Manunggal jang terbit dalam buku ini. Dengan tepat dia membedakan “di” sebagai awalan dari “di” sebagai kata depan. Karena itu saja tetarik membatja tulisan2nja. Dan jang saja dapatkan adalah pelbagai sketsa, apakah itu tentang perlawatan, pertemuan, pergaulan atau tentang musik pop Indonesia. Kalau dalam melakukan perdjalanan seseorang banjak mengambil foto untuk kemudian, misalnja, menerbitkannja dalam djedjaring sosial, maka dalam melakukan perdjalanan keluar negeri, selain bikin foto, Manunggal djustru menulis esai2 singkat, berisi apa jang dilihat dan dialaminja selama melakukan perlawatan. Ia merekam kesan2nja djuga dalam tulisan. Alhasil tulisan2 itu laksana rangkaian foto jang lumajan menarik dan enak dibatja.

Dalam himpunan esai ini, Manunggal tampil sebagai seorang pelukis sketsa. Ia memang belum dan tidak berpretensi untuk menghasilkan lukisan jang lengkap, megah, besar atau ber-lapis2 dari segi skema, warna maupun komposisinja. Tapi itu tidak berarti bahwa Manunggal tak membawa bekal dalam melukiskan objek2 jang ditemuinja, tidak djuga berarti bahwa ia tidak berangkat dari titik pangkal jang djelas atau tidak melukis dengan gaja jang chas. Bekal dan titik pangkalnja kentara sekali: ia adalah orang Indonesia jang bertandang keluar negeri, entah itu Australia atau Eropa. Itu artinja ia melukiskan pelbagai tempat jang disinggahinja sebagai orang Indonesia, walaupun baginja Indonesia tidak harus berkiblat pada negara2 madju jang dikundjunginja. Inilah jang menarik, paling sedikit bagi saja, karena memang tidak lajak membandingkan Indonesia dengan Belanda, ketika kita tahu bahwa, besar atau ketjil, keterbelakangan Indonesia itu djuga akibat kolonialisme Belanda. Dalam membandingkan Indonesia dengan Belanda Manunggal tampil tegar, ia tidak mudah terpeleset dalam perbandingan dangkal jang achirnja tjuma mendesak Indonesia supaja meniru Belanda.

Dalam hal ini, sekali lagi, Manunggal tetap setia sebagai pelukis sketsa, ia tidak berpretensi membuat sebuah lukisan jang lengkap. Itu sudah bisa kita batja pada awal tulisannja ketika ia berkisah tentang kebiasaan orang Belanda naik sepeda. Manunggal tidak terdjerembab dengan andjuran supaja orang Indonesia meniru kebiasaan bersepeda orang Belanda. Tentang satu keluarga Belanda jang bersepeda ber-sama2 ke kota, dia tjuma menulis bahwa “di tanah air, pemandangan seperti itu tak pernah aku lihat.” Manunggal djustru meragukan orang Indonesia akan suka bersepeda, karena alam Indonesia lain dari Belanda. Betapa Manunggal benar belaka! Belanda adalah negeri rendah jang tak mengenal gunung. Djalan2 Belanda tidak naik turun, ini membuat bersepeda di Belanda djuga djauh lebih gampang ketimbang di Indonesia. Tradisi bersepeda jang sudah begitu mendarah daging djuga tertjermin pada djalur chusus sepeda jang selalu kita temui di mana2 di negeri kintjir angin ini.

Dalam menulis, ini jang djuga menondjol dari sketsa2nja, Manunggal tidak menghakimi. Ketika bertjerita tentang De Wallen, jaitu lokalisasi pekerdja sex di djantung Amsterdam, tak satupun makian atau sumpah serapah dilontarkannja, begitu pula kutukan atau ketjaman. Padahal terhadap hal2 sematjam itu orang zaman sekarang selalu tjenderung main hakim (walaupun masih dalam bentuk utjapan) apalagi kalau bertemu hal2 jang mereka nilai melanggar susila, terutama jang melanggar kaidah agama. Seolah tak perduli dengan apa jang disebut susila maupun agama, Manunggal terus sadja menulis dan menulis tentang Roze buurt (kawasan lampur merah Amstedam). Hasilnja? Sebuah esei jang informatif, terbatjanja djuga simpatik. Di sini terlihat betapa setia Manunggal pada kepenulisannja. Ia seorang penulis, bukan pengchotbah, bahkan djuga ketika menulis tentang gandja jang legal di Belanda!

Tentu sadja Manunggal tidak hanja menulis soal luar negeri, hal2 jang Indonesiawipun tak dilupakannja. Salah satu jang menondjol adalah hobinja mengumpulkan rekaman pelbagai grup band Indonesia. Di sini pembatja bisa mendapati segi lain tulisan Manunggal: segi kotjaknja. Silahkan menjimak bagaimana lutjunja ketika dia mendapati akal bulus di balik tjara orang mengkoleksi kaset, pita rekaman lagu2 pop Indonesia.

Dalam satu esainja Manunggal djuga mengungkap kesibukannja sebagai kolektor rekaman grup band Dara Puspita jang beranggota tjewek2 asal Surabaja. Dara Puspita populer pertengahan 1960an sampai awal 1970an. Kelompok ini bubaran pada 1972, sebelum Manunggal lahir. Djangankan menonton pertundjukan mereka, kelahiran 1975, saja hampir pasti Manunggal djuga tidak pernah mendengar Dara Puspita di radio. Tapi dia berhasil mendapatkan rekaman kelompok jang sempat melawat ke Eropa ini. Kisah ini dituturkannja dengan menarik. Selain itu ia djuga tampil sebagai penulis resensi anumerta bagi Dara Puspita. Antara lain tulisnja, “Walau memainkan lagu orang, mereka bisa mendapatkan ruh setiap lagu, dan membawakan dengan penuh semangat dan pendjiwaan a la mereka sendiri.” Lebih menarik lagi, di Belanda, Manunggal ternjata sempat bertemu dengan Titiek A.R. pemain gitar utama Dara Puspita. Djangan lewatkan kisahnja jang memukau ini!.

Radio jang selalu didengarnja, tak pelak lagi, adalah Radio Nederland Siaran Indonesia (RANESI) di Hilversum jang sekarang sudah mundur dari udara, akibat penghematan tanpa wawasan jang dilakukan pemerintah Belanda. Radio inilah jang mempertemukan Manunggal dengan saja, walaupun pertemuan itu pada mulanja bersifat sepihak. Sebagai penjiar RANESI saja memang tidak mungkin bisa bertemu dengan semua pendengar saja. Tapi achirnja ketika Manunggal studi landjut di Belanda, nasib mempertemukan kami, walaupun tidak di Hilversum. Ia sudah setia mendengarkan RANESI sedjak 1990an, waktu itu saja sudah siaran, karena saja diterima pada bulan November 1987. Kenapa Manunggal setia mendengar RANESI? Begini tulisnja: “Terutama waktu era Orde Baru, RANESI merupakan sumber informasi alternatif akan banjak hal sensitif di tanah air. Isu Timor Timur, Atjeh, wawantjara dengan para tokoh oposisi dan mereka jang bersuara kritis terhadap pemerintah adalah hal jang mendjadikannja menarik terlebih pada masa lalu, media dan pers Indonesia tidak bebas.” Bisa saja maklumi kalau ketika berkundjung ke studio RANESI Manunggal menulis: “Buatku ini adalah kesempatan jang sangat berarti, terlebih menengok ke belakang pada masa2 remadjaku, studio ini hanjalah mendjadi bagian dari angan2 belaka.” Sajang waktu itu saja tidak bertemunja. Pertemuan kami berlangsung di Den Haag, menjusul perkenalan di dunia maja.

Manunggal di Ranesi

Manunggal di Ranesi

Selesai membatja esai2 berikut orang pasti akan, seperti saja, mengharapkan lebih banjak lagi dari Manunggal. Setelah sketsa2 dalam buku ini, sebagai pembatja kita menantikan tulisan2 lain Manunggal. Bisa esai jang lebih mendalam, tapi bisa djuga fiksi. Kelihaian Manunggal dalam bergumul dan mengolah kata saja rasa merupakan bekal baginja untuk terus berkelana dalam rimba raja penulisan.