“Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

Ini resensi fiksi keduwa jang pernah kubikin, sekaligus ini adalah versi keduwa resensi keduwa ini. Versi pertama nongolnja di Tempo. Lantaran buku Iksaka Banu ini begitu menarik dan mingsih ada azha gagasan jang bernongolan, maka aku nulis versi kedua jang nongolnja di Majalah Loka. Berikut ini versi jang sedikit lain, lantaran tida dalem EYD.

Sedjarah Indonesia sebagai fiksi: selain Pramoedya Ananta Toer, tidak banjak jang bernjali melakukannja. Salah satu penulis jang sedikit itu adalah Iksaka Banu. Dalam buku pertamanja, kumpulan tjerita pendek berdjudul Semua untuk Hindia Banu menggubah fiksi jang berisi kisah2 mulai dari kedatangan Cornelis de Houtman di kepulauan Nusantara pada achir Abad XVI sampai periode vakum kekuasaan Agustus 1945 (ketika Djepun kalah tapi Republik muda masih harus menegakkan wibawa). Himpunan 13 tjerpen molek rupawan ini adalah bentangan sedjarah kelahiran Indonesia merdeka.

Iksaka Banu dan sampul depan bukunjaIksaka Banu dan sampul depan bukunja

Iksaka Banu dan sampul depan bukunja

Harus diakui Semua untuk Hindia tidak berisi peristiwa2 besar jang sudah diketahui umum. Penulisnja djuga tidak menampilkan tokoh2 historis terkenal. Pilihannja adalah kedjadian jang tak terlalu kita ketahui, sementara tokoh2nja djuga sama sekali tak terduga.

Djuga perlu ditegaskan, Iksaka Banu membalik urut2an tjerpennja. Tjerita pembuka “Selamat Tinggal Hindia” berisi kekatjauan ibukota begitu Djepun kalah dan orang2 Belanda keluar interniran. Tjerita terachir jang berdjudul “Penabur Benih” berkisar tentang orang2 Belanda pada zaman pra-VOC jang berlajar ke Nusantara dan tiba di Pulau Enggano. Di antara keduanja bisa ditekuni tjerita2 lain tentang pelbagai peristiwa penting dalam sedjarah Indonesia.

Lebih dari itu, hampir semua pelaku utama 13 tjerita ini (sebagai tokoh penutur “aku”) adalah orang2 Belanda. Dengan begitu Banu mengadjak pembatjanja untuk menggunakan sudut lain dalam menekuni sedjarah Indonesia: sudut orang Belanda. Itu masuk akal belaka, karena bukankah Belanda djuga terlibat dalam sedjarah kita? Tentu sadja mereka “bukan jenis Belanda sontoloyo” (halaman 20), melainkan orang Belanda jang bersimpati pada kita, orang Belanda jang sanggup bersikap kritis terhadap kolonialisme mereka sendiri.

Dengan rangkaian keistimewaan ini, bisalah dimaklumi kalau ada pembatja jang mengernjitkan dahi ketika menjimak Semua untuk Hindia. Besar kemungkinan kita djuga akan pangling, tidak mengenali lagi sedjarah kita sendiri. Maklum tjerita2 itu dituturkan bukan oleh orang kita, melainkan oleh Belanda si pendjadjah. Inilah keunikan buku pertama Iksaka Banu: sarat dengan hal2 jang menggugah bahkan menggelitik indra batja kita.

Lepas dari raut sedjarah jang memadati tjerpen2 Banu, seseorang sebenarnja sudah akan terpana membatja kalimat2nja. Kalimat2 itu bukan hanja molek2 dan pendek2, tapi djuga sederhana, tidak rumit tapi hidup, dalam arti mudah dibajangkan makna dan dampaknja. Tak perlu diragukan lagi, Banu adalah seorang penutur jang sastrawi karena tidak sedikit kalimat2nja mendorong kita untuk berpikir dan merenung. Sebagai pembatja kita tidak hanja terhibur seraja ditambahi pengetahuan, kita djuga didorong untuk mendalami banjak persoalan kehidupan. Karja2 Banu ini djelas memperkaja batin pembatjanja.

Ambil tjontoh dua kalimat ini: “Kurasa Tuhan pun enggan mendengarkan doa kami. Sudah lama pula kami tak bisa menghormati kedaulatan orang lain” (halaman 64). Tuhan enggan mendengarkan doa umatnja? Bagaimana mungkin? Bukankah Tuhan maha rahim? Adakah ini ketjaman terhadap Tuhan? Ternjata di sini Banu menulis tentang seorang Belanda jang mengkritik nafsu kolonialisme negaranja.

Selama ini buku sedjarah, media massa maupun film selalu menampilkan Belanda sebagai pendjadjah jang litjik dan tjulas, tidak lebih dari angkara murka pemeras dan penindas. Banu tidak begitu suka pada semua klise itu, ia jakin ada Belanda baik jang memihak kita, korban pendjadjahan. Tak pelak lagi, Semua untuk Hindia adalah ungkapan ketidaksetudjuan penulisnja terhadap segala matjam klise tentang Belanda pendjadjah.

Resensiku wektu nongol di Tempo

Resensiku wektu nongol di Tempo

Paling menondjol adalah tjerpen keenam jang berdjudul “Semua untuk Hindia”. Bukan hanja karena tjerita jang begitu dramatis sekaligus heroik dan mengharukan, tapi juga karena di dalamnja Iksaka Banu menampilkan pengetahuan sedjarahnja jang sangat djempolan.

Tjerpen ini berkisah tentang penaklukan Bali, dibuka dengan surat seorang putri Puri Kesiman (keradjaan Badung), kepada seorang wartawan harian De Locomotief (terbitan Semarang). Pada awal abad lalu, tatkala kolonialisme Belanda bertjorak Politik Etis, De Locomotief termasuk koran progresif jang mendukung balas budi berupa peningkatan martabat inlanders (bumiputra) melalui pendidikan.

Sedjatinja, Politik Etis punja sisi lain jang tidak banjak diketahui orang. Pada zaman itu Batavia djuga menaklukkan wilajah luar Djawa (disebut buitengewesten). Maka Atjeh ditjaplok, begitu pula Tapanuli, Bone dan Bali pada 1906. Untunglah fotografi sudah ada, sehingga ekspedisi militer itu (dihaluskan sebagai pacificatie) terabadikan, dan jang paling terkenal adalah foto2 kedji Atjeh.

Itu artinja Politik Etis jang namanja terbatja mulia ini ternjata djuga punja wadjah bengis. Artinja lagi pada periode itu Belanda bukan tjuma mendidik (kaum elit) pribumi tapi djuga melebarkan sajap imperialismenja. Dengan sinis Banu menuturkan semua ini lewat wartawan Bastiaan de Wit, diselingi edjekan njinjir terhadap kalangan militer jang maunja tjuman pendekatan keamanan.

Di sini bisa dibatja betapa djeli Iksaka Banu mengamati sedjarah. Ketika Atjeh, Tapanuli, Bone dan Bali baru ditaklukkan pada awal Abad XX, apakah itu berarti Indonesia benar2 didjadjah Belanda selama 350 tahun? Bukankah sampai Abad XIX wilajah2 itu masih merupakan keradjaan2 berdaulat? Pada halaman 61 tertera salah satu larik surat putri Kesiman itu: “Adakah kehidupan bila kemerdekaan terampas?” Djadi sebelum 1906 itu Bali adalah negara merdeka. Inilah klise lain jang dibidik oleh Semua untuk Hindia. Kalimat itu sendiri mendorong kita untuk merenungi makna kehidupan di alam merdeka.

Sajangnja tjerpen ini mengandung satu keterlandjuran jang tidak perlu. Pena Banu terpeleset ketika menulis bahwa Gubernur Djenderal Van Heutsz “fasis tulen” karena begitu bernafsu mengumbar hasrat ekspansionisnja. Padahal di Italia, Benito Mussolini baru mendirikan partai fasisnja tahun 1919. Djadi pada 1906 itu masih terlalu dini untuk mentjap Van Heutsz seorang fasis, lantaran “fasis tulen” jang sebenarnja masih belum lahir.

Kegandjilan lain menjangkut sebuah kata Belanda jaitu “heer” jang ber-kali2 digunakan oleh Banu di sekudjur bukunja, sepertinja untuk mengganti sebutan “pak” atau “bapak”. Dan ini muntjul pada tjerpen2 lain, bukan tjuman tjerpen keenam.

“Heer” sebenarnja bukan padanan “pak”. Padanan jang lebih tepat adalah “mijnheer” untuk zaman dulu dan “meneer” untuk zaman sekarang. “Heer” bisa djadi dipakai pada zaman VOC, misalnja pada “de heren zeventien”, penguasa harian VOC. Tapi sesudah itu tidak digunakan lagi, orang Belanda menggunakan “mijnheer” dan pada zaman sekarang “meneer”. Kalaupun masih menggunakan “heer” maka biasanja disambung dengan nama orangnja, seperti pada pembukaan surat, misalnja Heer De Wit, artinja Pak De Wit. “Heer” jang tanpa apa2 lagi berarti tuhan. Djelas bukan “heer” ini jang dimaksudkan Banu.

Terus terang saja tidak terlalu suka mengkritik upaja orang Indonesia berbahasa Belanda. Kenapa? Karena memang orang Belanda dulu tidak mewadjibkan nenek mojang kita berbahasa mereka. Bahasa Belanda tidak pernah diwadjibkan di Hindia Belanda, berbeda misalnja dengan di Suriname. Djuga berbeda dengan pendjadjah2 Eropa lain (Inggris di Malaysia atau Birma; Prantjis di Indochine, sekarang Vietnam, Laos dan Kambodja; serta Portugal di Timor Leste) Belanda tidak pernah memaksa kita bitjara bahasanja. (Nenek mojang kita hanja dipaksa menanam kopi, nila, tebu dan sedjenisnja pada zaman cultuurstelsel). Belanda bahkan tidak ingin bahasanja djadi bahasa nasonal kedua di Hindia seperti bahasa Prantjis di Maroko atau Aldjazair jang sudah punja bahasa Arab. Kalau berkundjung ke dua negara itu, sekarang turis Prantjis akan ber-tjakap2 dalam bahasa Prantjis dan isi pembitjaraan tidak djarang hal2 jang serius, artinja kedua pihak berada pada taraf kefasihan bahasa jang sama. Sebaliknja, wisatawan Belanda di Indonesia sudah akan senang kalau ketemu kata “handuk” atau “asbak”. Dengan orang Indonesia mereka harus menggunakan bahasa lain jang umumnja tidak begitu dikuasai oleh kedua pihak. Djadi ketidakmampuan orang Indonesia zaman sekarang untuk berbahasa Belanda djuga merupakan kesalahan kolonialisme Belanda.

Dengan mahir Iksaka Banu menggunakan nama orang Belanda untuk meng-olok2 mereka. Kita misalnja diadjak berkenalan dengan Sersan Sterk (sterk artinja kuat). Tapi Banu segera menimpali: “setiap menyebut namanya aku selalu geli, karena sangat berlawanan dengan keadaan tubuhnya” (halaman 93). Lalu masih ada Jan Schurck jang “pandai membahayakan diri” (halaman 2). Sajang Banu tidak mendjelaskan lebih landjut makna kata schurck (sekarang diedja schurk) jang tidak lain adalah badjingan. Orang Belanda lain dengan nama istimewa adalah Kapten Jan Twijfels. Pada usia 18 tahun dia sudah memperoleh bintang penghargaan karena “tetap bertahan di pos meski luka parah dalam perang Sepanjang, melawan laskar gabungan Surabaya dan Bali” (halaman 105). Prestasi ini tidak didukung oleh namanja, karena twijfel sebenarnja berarti ragu. Hal2 djenaka ini adalah kenikmatan lain membatja Semua untuk Hindia.

Dalam 13 tjerpennja ini djuga terlihat betapa Iksaka Banu belum pernah menetap agak lama di Belanda. Itu terasa sekali, karena ketika bitjara soal verlof (tjuti di Belanda) tjerpen “Racun untuk Tuan” sama sekali tidak menjinggung musim, padahal musim dan tjuatja adalah topik pembitjaraan nomer satu orang Belanda. Dengan lihai dan rintji Banu menulis perdjalanan tokohnja di pusat kota Rotterdam, sebelum kota pelabuhan itu luluh lantah diserbu Nazi pada Perang Dunia II. Tapi sajang tidak djelas pada musim apa peristiwa itu berlangsung. Pada musim panaskah? Musim rontokkah? Musim dinginkah? Atau musim semikah? Rotterdam (dan Belanda/Eropa pada umumnja) punja wadjah sendiri2 pada masing2 musim.

Jang agak aneh adalah lamanja verlof atau tjuti itu. Sebelum ada pesawat terbang, perdjalanan ke Eropa selalu dilakukan dengan kapal laut dan itu berlangsung paling sedikit selama sebulan. Djadi pulang balik Belanda Hindia butuh waktu dua bulan. Dengan perdjalanan selama itu, mungkinkah tjuti di Belanda hanja sebulan? Djelas tidak mungkin. Tjuti itu biasanja setahun dan paling sedikit tiga bulan.

Di balik kesalahan2 ketjil tak berarti ini, Iksaka Banu tetap tidak tersaingi oleh penulis2 Belanda zaman sekarang. Sedjak Eduard Douwes Dekker menulis riwajat Saïdjah dan Adinda dalam Max Havelaar 154 tahun silam, makin sulit menemukan penulis Belanda jang menampilkan seorang inlander sebagai karakter utuh dalam karja mereka.

Grande dame sastra Belanda Hella Haasse (1918-2011) memang menulis Oeroeg, tapi anak mandur perkebunan teh di Djawa Barat ini melulu ditampilkan sebagai bajangan anak madjikannja jang Belanda tulen. Oeroeg tidak tampil sebagai karakter sendiri. Dalam Heren van de thee, Haasse malah menulis tentang para djuragan teh, tanpa satupun tokoh inlander (batja: buruh teh) jang berarti.

Sampul depan Sleuteloog karja Hella HaasseSampul depan Sleuteloog karja Hella Haasse

Sampul depan Sleuteloog karja Hella Haasse

Pada tahun 2002 Hella Haasse menerbitkan Sleuteloog, roman terachirnja tentang Hindia jang tampaknja ditulis untuk mendjawab pelbagai kritik terhadapnja soal masa lampau kolonial Belanda. Lagi2 Haasse jang kelahiran Batavia ini tidak menampilkan seorang inlander sebagai karakter utuh. Kalaupun ada seorang jang bernama Ibu Sjarifa, maka dia sebenarnja adalah seorang Indo berdarah tjampuran jang suka mistik dan memilih djadi pribumi. Ibu Sjarifa, dengan kata lain, bukanlah seorang inlander asli.

Tak pelak lagi, sebagai bangsa terdjadjah kita memang tjuma figuran dalam karja sastra Belanda. Inilah kelebihan Iksaka Banu dengan tokoh2 Belandanja. Tokoh2 Banu tampil utuh, bahkan merupakan karakter utama tjerita2nja. Mereka adalah seorang perempuan Belanda berambut pirang jang mendjadi mata2 Republik, seorang asisten administratur perkebunan tembakau Belanda atau seorang wartawan jang menentang penaklukan Bali, seorang pelaut Belgia jang negaranja baru sadja merdeka dari Belanda, begitu seterusnja.

Tentu sadja Banu bukan pengarang Indonesia pertama jang menampilkan karakter Belanda dalam karjanja. Sebelum itu Pramoedya sudah punja tokoh2 seperti Herman Mellema, Jean Marais, Magda Peters atau Jacques Pangemanann, si Belanda staatsblad alias Indo jang memperoleh persamaan hak dengan orang Eropa. Tokoh2 inilah jang menjebabkan beberapa kritisi sastra Belanda mengetjam Hella Haasse, lantaran absennja inlanders sebagai karakter utuh dan penuh dalam segenap œuvre-nja. Kalau Pramoedya punja tokoh Belanda, mengapa sang grande dame tidak punja tokoh inlander?

Memfiksikan sedjarah adalah menulis sedjarah tingkat landjutan, bahkan, kalau berhasil, tingkat tinggi. Pengarang fiksi matjam ini tidak hanja dituntut paham sedjarah tapi djuga harus bisa mentjiptakan tokoh2 jang pas untuk tjerita sedjarahnja. Lebih dari itu ia djuga harus pandai2 menerdjemahkan sedjarah dalam kehidupan tokoh2nja. Djelas masalahnja bukan di mana letak sedjarah dalam fiksi melainkan bagaimana tokoh2 fiktif itu bisa tampil mejakinkan dalam setting sedjarah jang dipilih.

Di sini Iksaka Banu sudah berhasil. Selajaknja keberhasilan itu dilandjutkan dengan novel sedjarah.

Amsterdam, Kampung Jordaan, awal musim rontok 2014

“Menelusur Djedjak Adinda” Oleh Henk Mak van Dijk

Ini esai aku jang bikin terdjemahannja. Klow gak betah batja tulisan dalem edjaan Soewandi, silahken klik di sini untuk versi edjaan orde baunja, alias EYD.

Eduard Douwes Dekker dan naskah novelnja »Max Havelaar«

Eduard Douwes Dekker dan naskah novelnja »Max Havelaar«

Eduard Douwes Dekker baru berusia 18 tahun tatkala dia, pada tahun 1839, tiba di Batavia bersama ajah dan kakaknja. Berkat djaminan sang ajah, dia bisa bekerdja sebagai amtenar tak bergadji tetap pada Algemeene Rekenkamer, lembaga keuangan penguasa kolonial jang antara lain menghitung batig slot, jaitu keuntungan kolonial jang dibawa “pulang” ke Belanda. Prestasi kerdjanja baik, sehingga ia tjepat naik pangkat. Tetapi dalam posisi tweede commies, dengan tugas melakukan penghitungan itu, Eduard sering bosan jang sebenarnja timbul lantaran masalah lain. Kehidupan hura2 para sinjo Belanda di Batavia jang berkisar pada dansa dansi, main kartu dan biljar semalam suntuk termasuk banjak patjar, melatarbelakangi kebosanannja. Tidaklah mengherankan kalau kantong Eduard selalu kosong. Atas permintaan sendiri dia dipindah ke Sumatra Barat. Sebenarnja pemindahan djuga merupakan tjara gubermen menangani klerek jang dianggap mendjengkelkan.

Achir 1842 Eduard pindah ke Padang. Pada usia 22 tahun itu dia diangkat sebagai controleur tweede klasse (kontrolir kelas dua) di Sumatra Barat. Dalam djabatan itu ia merupakan orang Belanda tertinggi di Natal, sebuah daerah terpentjil di sebelah utara Padang, jang sebenarnja masih belum begitu aman. Maklum, baru setahun sebelumnja penguasa kolonial memadamkan pemberontakan Padri. Pada suatu hari ia bertemu Si Oepi Keteh, seorang gadis Atjeh berusia 13 tahun jang kelak dalam roman Max Havelaar dilukiskannja sebagai “tjinta pertamaku jang paling dalam.” Dalam novel bersedjarah itu Si Oepi tampil sebagai figuran jang mendengarkan tjerita tentang seorang pemahat Djepang. Bisa djadi adegan ini melukiskan Eduard sendiri jang menuturkan sebuah tjerita kepada Si Oepi. Tjerita itu karja W. R. Van Hoëvell, diumumkan oleh berkala Tijdschrift voor Nederlands-Indië.

Dari penuturan Mimi, istri kedua Eduard Douwes Dekker, bisa disimpulkan bahwa Si Oepi memang istri pertamanja. Si Oepi adalah anak seorang pemuka masjarakat Atjeh, pemilik perkebunan lada. Hubungan asmara Eduard dengan Si Oepi memang meluangkan beberapa penafsiran. Jang djelas, pada zamannja, usia Si Oepi jang 13 tahun tidak merupakan masalah. Tetapi dengan memilih putri seorang pemuka masjarakat Atjeh, Eduard tidak bisa berdiri di atas semua pihak, demikian anggapan pemerintah kolonial. Si Oepi punja arti penting bagi Eduard. Ia memanggilnja “Clio”, “pudjaan penulisan sedjarah” atau “nama harum” atau djuga “epos” (kisah kepahlawanan). Eduard djuga menjimpan segenggam rambut Si Oepi. Maka djelaslah, selama menetap di Natal, Si Oepi merupakan njai Eduard. (Ketika masih di Belanda, Eduard pernah djatuh tjinta pada Caroline Versteegh. Tapi ajah Caroline tidak mengizinkan anak gadisnja kawin, bagi Eduard djelas tjinta pertama itu telah tak terdjangkau lagi).

Pada bulan September 1843 Eduard Douwes Dekker diminta menghadap Gubernur Sumatra Barat Andreas Victor Michiels. Dikiranja bakal dapat promosi, tapi Eduard salah duga. Dia ditegur karena dianggap telah menjebabkan membengkaknja pengeluaran pemerintah, dan Eduard dilarang meninggalkan Padang. Uang saku bulanannja dipotong, bahkan pada awal 1844 dia dinonaktifkan. Si Oepi ikut, mereka hidup bersama di Padang. Periode Padang ini merupakan awal masa konflik, kemiskinan dan antjaman pengadilan selama ber-bulan2. Tentang masa ini ia menulis surat permohonan kepada Gubernur Djenderal di Batavia, “Pada tanggal 10 Agustus saja sudah menjerah mati, mati kelaparan Jang Mulia. Selama tiga hari tiga malam saja tidak makan! Seorang Tionghoa jang pernah saja tolong menemukan saja dan memberi saja makan!” Walaupun memang seseorang tidak akan mati setelah tiga hari tiga malam tidak makan, Dik van der Meulen, penulis biografi Eduard Douwes Dekker beranggapan keadaan sebenarnja lebih gawat lagi ketimbang jang tertera dalam Max Havelaar.

Baru pada bulan September 1844 kehidupan sengsara ini berachir ketika keluar keputusan Raad van Justitie (Dewan Justisi) Padang jang menjidik kasus ini. Dewan menjatakan tidak berwenang menangani masalah ini, tapi itu bukan berarti Eduard dibebaskan. Untungnja, status non aktifnja ditjabut dan sampai achir tahun dia tetap digadji. Ia kemudian pindah ke Batavia, perpisahan dengan Si Oepi tak terhindari lagi. Eduard waktu itu berusia 24 tahun. Mulailah zaman baru baginja. Ia berkenalan dengan Barones Everdine van Wijnbergen, seorang perempuan bangsawan. Pada Agustus/September 1845 mereka bertunangan.

Ini semua tertera pada biografi istimewa Multatuli, karja Dik van der Meulen, berdjudul Multatuli: Leven en werk van Eduard Douwes Dekker (Multatuli: hidup dan karja Eduard Douwes Dekker). Buku ini antara lain menelusur kemungkinan kaitan antara fiksi dan kenjataan hidup Eduard Douwes Dekker. Hanja satu kisah jang oleh Van der Meulen dianggap murni fantasi, tidak berakar pada kehidupan Eduard dan tjerita itu sekarang sangat terkenal. Itulah kisah Saïdjah dan Adinda. Tapi benarkah demikian?

Saja punja pendapat lain, tentu sadja tetap berdasarkan kenjataan jang sudah diungkapkan oleh biograf Dik van der Meulen. Inilah kisah hidup seorang pria belia, seorang pemuda penuh gelora tjinta jang bertemu gadis berusia 13 tahun, mungkin sadja dia berhubungan intim untuk pertama kalinja dengan si gadis. Gadis jang disebutnja sebagai pudjaan hati, jang potongan rambutnja disimpan, djuga gadis jang ditjeritai isi madjalah Belanda, gadis jang mendampinginja ke kota besar, ketika Eduard mendjalani bulan2 sulit penuh tjobaan.

Thema kematian serasa menjeruak. Di Padang Eduard sudah “menjerah mati.” Ini sepertinja tidak begitu djauh dari utjapan Adinda “Entah di mana aku akan menemui adjal.” Saja tak bisa sampai pada kesimpulan lain ketjuali bahwa sosok Adinda sendiri sebenarnja djuga berakar pada gedjolak hidup Eduard Douwes Dekker, di Sumatra. Adinda tidak lain adalah Si Oepi sendiri, putri seorang pemuka Atjeh! Dan memang banjak gadis lain bernasib mirip Si Oepi, seperti dikisahkan sendiri oleh Multatuli. Di permukaan, sebagai figuran dalam Max Havelaar, Si Oepi tampil sebagai “pendengar jang setia”. Tapi sebenarnja dia memegang peran utama sebagai Adinda. Djelas peran jang fantastis bagi Si Oepi, gadis pribumi berusia 13 tahun.

—Djogjakarta 14 Agustus 2011 (alih bahasa Joss Wibisono)

 

Ini versi aslinja (bahasa Londo):

Adinda is Si Oepi

Eduard Douwes Dekker was achttien toen hij samen met zijn vader en broer in Batavia aankwam. Onder borgstelling van zijn vader kon hij dienst nemen als onbezoldigd ambtenaar bij de Rekenkamer. Dat deed hij goed en hij klom al snel op tot tweede commies. Toch verveelde het baantje hem, en daarbij speelden andere zaken. Het vrolijke leven van jonge mannen in Batavia met zijn dansfeesten, kaartavondjes, biljartspel en maîtresses eiste vaak zijn tol. Ook bij Dekker was er sprake van aanhoudend geldgebrek. Op eigen verzoek werd hij overgeplaatst naar Sumatra’s Westkust. Dergelijke overplaatsingen waren overigens een bij het Gouvernement gebruikelijke oplossing voor het verwijderen van lastige klerkjes.

Najaar 1842 vertrok Eduard naar Padang. Hij was toen tweeëntwintig jaar oud en aangesteld als controleur tweede klasse op West-Sumatra. Natal werd zijn basis, een ongunstig gelegen kustplaatsje ten noorden van Padang, waar hij de enige en hoogste gezagdrager werd. Daar ontmoette hij Si Oepi Keteh[i] , een dertienjarig meisje uit Atjeh, in de Max Havelaar een van zijn ‘menigvuldige eerste liefden’ genoemd. Het meisje figureert in het boek als luisteraar naar het verhaal van de Japanse steenhouwer. Dekker zou deze parabel heel goed mogelijk zelf aan haar verteld kunnen hebben na publicatie ervan in het Tijdschrift voor Nederlands-Indië door auteur W.R. van Hoëvell.

Uit verhalen van Dekkers tweede vrouw Mimi blijkt dat Si Oepi zijn eerste (inlandse) vrouw is geweest. Zij was een dochtertje van een Atjehs hoofd, eigenaar van een peperaanplant. De relatie gaf enige moeilijkheden: in die tijd was haar leeftijd niet zo’n bezwaar, maar door te kiezen voor een kind van een belangrijk hoofd leek Dekker niet meer boven de partijen te staan, meende het gouvernement. (Zijn eerste vlam uit Nederland was lange tijd Caroline Versteegh; haar vader gaf echter geen toestemming voor een huwelijk en zij bleef onbereikbaar voor hem). Si Oepi was belangrijk voor Eduard. Hij noemde haar Clio, muze van de geschiedschrijving, de roem en het heldendicht. Ook bewaarde hij een haarlok van haar. Kortom, gedurende zijn verblijf in Natal was Si Oepi zijn njai.

In september 1843 werd hij ontboden bij gouverneur Michiels. Dekker vermoedde een promotie, maar niets was minder waar. Het ging om een deels door hem veroorzaakt steeds hoger oplopend kastekort, en Dekker kreeg een verbod om Padang te verlaten. Zijn traktement werd ingehouden en hij werd begin 1844 geschorst. Si Oepi was met hem meegegaan en zij woonden samen. De periode in Padang werd het begin van een maandenlange geschiedenis van conflicten, armoede en dreigende vervolging. Hij schreef in een rekest aan de GG over deze periode: ‘den 10en Augustus heb ik mij neergelegd om te sterven, van honger te sterven, Uwe Excellentie. Ik had in drie etmalen niet gegeten! Een chinees wiens ik eens ene dienst bewezen had, vond mij, en bragt mij eten.’[ii] Hoewel men nog niet dood gaat na drie dagen zonder eten, veronderstelt de biograaf dat Dekkers werkelijkheid destijds erger was dan bijvoorbeeld beschreven in de Max Havelaar.

Pas in september 1844 kwam aan dit grimmige bestaan een eind door een uitspraak van de Raad van Justitie die zich incompetent verklaarde, wat overigens Dekker niet vrijpleitte. Maar aan de schorsing kwam een einde en hem werd een wachtgeld toegekend op het eind van dat jaar. Batavia werd zijn nieuwe woonplaats. Een afscheid van Si Oepi was onvermijdelijk. Hij was toen vierentwintig. Een nieuwe tijd brak aan. Hij leerde baronesse Everdine van Wijnbergen kennen, met wie hij zich zou gaan verloven (augustus/september 1845).

Dit alles valt te lezen in de onvolprezen biografie over Multatuli van Dik van der Meulen, waarin hij onder meer nagaat hoe de verbanden zijn tussen verhaal en werkelijkheid in het leven van Eduard Douwes Dekker. Slechts een verhaal beschouwt hij echt als fantasie, zeker niet geworteld in het leven van Dekker, en wel het beroemde verhaal van Saïdjah en Adinda.

Ik denk daar anders over, gezien de bovenstaande gegevens van de biograaf zelf. Een jonge man, een zeer hartstochtelijke jongen die een meisje van dertien ontmoet met wie hij waarschijnlijk voor het eerst de liefde bedrijft. Een meisje dat hij zijn muze noemde, van wie hij een haarlok bewaarde, aan wie hij verhalen vertelde uit Nederlandse tijdschriften, een meisje dat hem vergezelde naar de grote stad, waar hij een ellendige periode zou doormaken. De thematiek van het doodgaan dringt zich op. Daar in Padang had Dekker zich ‘neergelegd om te sterven’. Of zullen we er met de woorden van Saïdjah van maken: ‘ik weet niet waar ik sterven zal’. Ik kan niet anders dan concluderen dat ook Adinda geworteld is in de bewogen werkelijkheid van Dekker uit die periode op Sumatra. Adinda is Si Oepi, een Atjehs meisje, kind van een Atjehs hoofd. En ja, er waren er velen zoals zij, zoals we weten van Multatuli. Aan de oppervlakte figureert ze in de Max Havelaar als ‘gedweeë luisterares’, maar in werkelijkheid speelt ze een hoofdrol als Adinda. Een fantastische rol voor Si Oepi, een inlands meisje van dertien.

Bron: Dik van der Meulen Multatuli; Leven en werk van Eduard Douwes Dekker, Amsterdam: Sun, 2003

Djocjakarta, 14 augustus 2011

 

[i] Si Oepi is een algemene naam die in Padang aan een dochtertje wordt gegeven. De laatste naam is merkwaardig. Keteh betekent aapje.

[ii] Van der Meulen: 189

“La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 16, Décembre 2013, pp. 187-191

Les Espagnols l’ont fait aux Philippines, les Portugais au Timor oriental, les Français en Indochine et, dans une certaine mesure, les Britanniques en Birmanie : les (ex)-colonisateurs ont forcé les (ex)-colonisés à parler leur langue. Mais les Néerlandais ne l’ont pas imposé aux Indes orientales. La population a continué à parler malais (bahasa Melajoe), het Maleis en néerlandais, la langue à la source de l’indonésien. Il est cependant intéressant de noter que les autres colonies néerlandaises comme le Surinam ou les Antilles néerlandaises ont, elles, été forcées de parler néerlandais, qui était même enseigné dans les écoles des Indes occidentales. Comment peut-on expliquer cette différence?

L’anglais, le français, le portugais et l’espagnol prédominent en Afrique, en Asie du Sud et en Amérique latine. Même après leur indépendance, les pays ont en fait continué à utiliser la langue de l’ancien colonisateur. L’anglais, le français, le portugais et l’espagnol ne sont pas seulement devenus les langues du gouvernement, mais on les a enseignées dans les écoles de ces anciennes colonies. Et même lorsque le pays possédait une langue officielle, par exemple l’arabe en Algérie ou au Maroc, le français est devenu la seconde langue officielle, ce qui fait que les pays du Maghreb peuvent facilement entretenir des relations à l’international. Pourquoi les Pays-Bas n’en ont-ils pas fait autant en Indonésie, pourquoi les Indonésiens ne parlent-ils pas néerlandais?

Les spécialistes, tels que Kees Groeneboer, directeur du Centre de langues (Taalcentrum) Erasmus à Jakarta, affirment qu’à la fin du XVIe siècle, les Néerlandais pensaient que le malais était déjà la lingua franca (langue véhiculaire) de la région nousantarienne. C’est pourquoi ils ont pensé qu’il serait plus simple qu’eux-mêmes apprennent cette langue, d’autant plus qu’elle ne semblait pas trop difficile. Ils ont aussi décidé qu’ils ne forceraient pas les habitants à parler néerlandais.

L’expérience des Espagnols aux Philippines a été différente, tout comme celle des Français en Indochine, devenue maintenant le Vietnam, le Laos et le Cambodge. Les colonisateurs ont considéré que ces régions ne possédaient pas de lingua franca et qu’il était nécessaire de faire de leur propre langue la langue véhiculaire du pays. Aux Indes orientales, les Néerlandais n’ont pas eu cette opportunité. En fait dans plusieurs régions, le néerlandais était en concurrence avec le malais et le portugais (qui est arrivé avant le néerlandais dans la région nousantarienne). Clairement, le grand perdant est le néerlandais.

Groeneboer affirme aussi que, lorsque les Néerlandais sont arrivés, ils ont découvert qu’une grande partie des Indes orientales était islamisée. Lorsqu’ils ont finalement colonisé cette région contrée, ils ont laissé la population utiliser le malais. La politique coloniale néerlandaise a considéré qu’il valait mieux ne pas ajouter une contrainte supplémentaire à cette région afin de ne pas alourdir le joug de la colonisation.

D’un autre côté, le néerlandais est devenu la langue de développement du christianisme, car le malais et les langues régionales ne semblaient pas adéquates. Mais ceci n’est arrivé qu’aux Moluques, dans la péninsule de Minahasa et dans le pays Batak, et seulement jusqu’à la moitié du XIXe siècle. Et aussi développé que le néerlandais ait pu l’être, les communautés autochtones chrétiennes sont revenues en majorité au malais ou aux langues régionales, par exemple en traduisant la Bible en javanais ou en malais. En fin de compte, la communauté chrétienne se sent indonésienne avant tout et elle a fait partie des cercles nationalistes.

Logo VOC

Logo VOC

Il faut bien sûr prendre en considération le fait que les Pays-Bas sont arrivés dans la région nousantarienne en tant que commerçants, avec la VOC (Compagnie néerlandaise des Indes orientales), une entreprise de commerce qui était considérée aux Pays-Bas et par les autres pays occidentaux comme la première multinationale mondiale. Cette impression a été mise en avant, entre autres, par un grand indonésianiste, Benedict Anderson (professeur émérite de l’Université Cornell à New York), dans son entretien à la télévision néerlandaise VPRO en avril 1994. Il est évident que la VOC ne cherchait que le profit et qu’elle a pu l’obtenir grâce à son monopole et sa puissance. En tant qu’entreprise de commerce, la VOC réduisait ses coûts au maximum. Pour elle, cela revenait moins cher que les Néerlandais apprennent le malais plutôt que d’enseigner le néerlandais aux locaux. Apparemment, l’opinion de la VOC a beaucoup compté et a porté ombrage à chaque politique de la langue mise en place par la puissance coloniale dans la région nousantarienne par la suite.

Mais ceci ne veut pas dire que la VOC n’a pas développé le néerlandais. À Ambon, au XVIIIe siècle, la VOC a ouvert une école de langue néerlandaise ainsi qu’une église dont les sermons étaient dispensés en néerlandais. Mais les étudiants ne progressaient guère en néerlandais, car il est clair qu’en dehors de l’école, ils revenaient spontanément au malais ou à la langue régionale et même au dialecte local. Quelle était donc l’utilité d’enseigner le néerlandais? C’est pour cette raison que l’école en néerlandais fut fermée.

Lorsqu’au milieu du XIXe siècle (après quatre années d’interrègne britannique), la VOC fit banqueroute et que la région nousantarienne se retrouva aux mains du gouvernement néerlandais (basé) à La Haye, Batavia lança une politique de la langue spéciale pour les Européens. Ils devaient parler néerlandais. Il y avait en fait deux objectifs. L’un était d’éradiquer le portugais qui était, à cette époque, la deuxième langue parlée à Batavia après le malais. Le second objectif était de purifier le néerlandais et de faire disparaître le créole formé d’un mélange de néerlandais et de malais ou de javanais. Les métis de sang indonésien et néerlandais avaient déjà inventé le petjook. La pureté de la langue ainsi que la politique de la race avaient toute leur importance pour la puissance coloniale, au point qu’elle ne pouvait pas se résoudre à reconnaître les métis (dorigine indo-néerlandaise) comme de sangs mêlé.

On n’a pas besoin de se poser plus de questions : tout comme la VOC, le gouvernement colonial des Indes néerlandaises n’a jamais vraiment eu l’intention de faire en sorte que sa colonie parle néerlandais, à la différence des Français qui, à l’époque, considéraient leur politique coloniale comme une mission salvatrice et voulaient civiliser la population en répandant la culture française (y compris le français). Les Néerlandais n’étaient pas enclins à mettre à disposition le budget nécessaire pour soutenir une telle politique. Leur excuse était qu’il existait déjà une lingua franca aux Indes néerlandaise, mais en fait ils pensaient : à quoi bon jeter l’argent par les fenêtres, ce qui est important est de pomper les richesses de la colonie, par exemple avec les cultures forcées (Tanam Paksa). Alors qu’avec leur énorme puissance coloniale, les Pays-Bas n’avaient qu’à forcer la population à parler néerlandais comme ils avaient forcé les paysans javanais à planter de l’indigo, de la canne à sucre, du thé et du café pendant la période des cultures forcées (cultuurstelsel).

Le colonialisme néerlandais apparaît donc comme un colonialisme d’exploitation qu’on peut comparer au colonialisme industriel appliqué par les Britanniques en Inde. L’Inde est devenue le marché de l’industrie de la Grande-Bretagne en pleine révolution industrielle au XIXe siècle. Pour qu’ils puissent acheter les produits de l’industrie britannique, les Indiens devaient avoir des revenus, être riches et avoir des désirs. Il n’est donc pas étonnant que l’Inde ait une classe moyenne plus développée que l’Indonésie.

Au XXe siècle sont apparus des changements lorsque les Néerlandais ont mis en place la politique éthique et ont ouvert, entre autres, des écoles pour les autochtones (pribumi) ainsi que pour les communautés étrangères (chinoises, arabes et indiennes). Ils ont ouvert l’école néerlandaise pour les autochtones HIS (Hollandsch Inlandsche School) et l’école néerlandaise pour les Chinois HCS (Hollandsch Chinese School). Ce n’est pas pour autant que le néerlandais y était largement enseigné.

E.L.S di Batavia

E.L.S di Batavia

D’abord, ceux qui pouvaient prétendre à la HIS ou à la HCS faisaient partie de l’aristocratie, des nantis et des notables. En d’autres termes, il n’y avait pas d’écoles pour les gens simples. De plus, il semble que le néerlandais enseigné comme langue étrangère (dans les HIS et HCS) était encore différent du néerlandais en tant que langue maternelle dans les ELS (Europesche Lagere School) qui étaient, bien sûr, destinées aux Européens blancs.

Les Néerlandais avaient peur que les élèves autochtones ou chinois, qui ne parlaient pas néerlandais, détériorent la qualité de l’enseignement dans les ELS sans pour autant améliorer leur éloquence en néerlandais. C’est pour cette raison qu’ils ouvrirent des écoles pour les autochtones et pour les Chionois. Mais la capacité de parler en néerlandais des élèves de ces écoles (HIS et HCS) resta bien inférieure à celle des élèves des écoles réservées aux Européens (ELS). Il leur était impossible de se mesurer à une personne de langue maternelle néerlandaise. De plus, l’enseignement du néerlandais comme langue étrangère n’était dispensé qu’à la demande d’un groupe d’élèves autochtones. La puissance coloniale répondait à ces demandes, car Batavia envisageait d’ouvrir des cours de néerlandais qui auraient été organisés par des entreprises privées. Ces cours se sont avérés de qualité médiocre.

H.I.S. di Djember

H.I.S. di Djember

On retrouve de nouveau la mentalité de la VOC : la puissance coloniale s’est engagée dans une politique de la langue qui n’avait pas du tout l’intention de répandre l’usage du néerlandais. Elle était même inquiète que de plus en plus de locaux parlent néerlandais, en particulier les intellectuels qui aspiraient à l’autonomie, la liberté et finalement l’indépendance de la colonie. Elle s’inquiétait que ces jeunes puissent devenir la proie des révolutionnaires nationalistes.

Malgré tout, le nombre d’autochtones qui maîtrisaient le néerlandais fut multiplié par dix jusqu’au début des années 1920. Cela semble beaucoup, mais en fait, lorsque la colonisation néerlandaise prit fin dans les années 1940, le nombre d’autochtones qui parlaient néerlandais n’était que de 1,4 million, cest-a-dire moins de deux pour cent de la population totale des Indes néerlandaises.

À l’inverse, la politique de la langue appliquée par les Néerlandais dans les Indes Occidentales, c’est-à-dire à Surinam et dans les Antilles néerlandaises, était basée sur le nombre d’habitants. Ainsi, selon Kees Groeneboer, au début du XXe siècle, il n’y avait pas beaucoup d’habitants dans ces colonies, moins de 200 000 personnes. Cela n’était pas trop difficile pour la puissance coloniale d’offrir une éducation en néerlandais. Mais cela signifie aussi qu’un si faible nombre de personnes parlant néerlandais n’allait pas transformer le néerlandais en langue internationale.

Il est évident que, dans le cas des Indes néerlandaises, la puissance coloniale n’a pas dévié de la ligne directrice de la VOC qui n’avait que le profit comme objectif. C’est pour cela que l’image de pingres que les Indonésiens ont des Néerlandais n’a jamais disparu. Dans le cas du problème de la langue, ils n’ont pas eu de vision à long terme. Si l’Indonésie parlait le néerlandais, cette langue serait utilisée aujourd’hui par plus de 270 millions de locuteurs alors qu’ils ne sont pas même 30 millions de nos jours dans le monde. En Indonésie, seules 150 000 personnes environ parlent le néerlandais. Ceci est le résultat de la mentalité de la VOC qui n’avait pas de vision du futur. C’est aussi la raison pour laquelle le néerlandais est une langue qui ne compte pas dans le monde. Ce comportement a rendu la tâche facile aux Indonésiens au moment de l’indépendance : ils ont choisi l’indonésien comme langue nationale et non le néerlandais.

Il est important de replacer la fierté des Indonésiens envers leur langue nationale dans ce contexte. Les Indonésiens s’enorgueillissent du fait de posséder une langue nationale alors qu’ils s’aperçoivent que d’autres pays d’Asie ne semblent pas en avoir. Avoir une langue nationale devient ainsi un signe de supériorité. Or historiquement, il existe une langue nationale parce que la puissance coloniale n’a pas imposé l’utilisation du néerlandais aux Indes néerlandaises. Ainsi, le malais, en tant que lingua franca, n’a jamais eˆu de concurrence puisque les habitants de l’archipel n’étaient pas obligés de parler néerlandais. D’une certaine façon, les Indonésiens manquent de finesse d’analyse lorsqu’ils se moquent des Philippins ou des Indiens parce qu’ils ne possèdent pas de langue nationale. Ce qu’ils ne comprennent pas, c’est que les politiques coloniales espagnole et britannique ont fait que les Philippins et les Indiens étaient obligés de parler la langue du colonisateur.

D’un autre côté, on peut replacer dans un contexte similaire la fierté que ressentent les Néerlandais envers leur politique coloniale. Pendant la période de colonisation, les Pays-Bas étaient fiers de laisser les colonisés parler leur propre langue et garder leur tradition. Ils considéraient même, à la fin du XIXe siècle et au début du XXe siècle, que leur politique qui laissait les autochtones utiliser leur tradition (y compris leur langue) était un modèle de colonialisme que d’autres pays colonisateurs européens voulaient imiter. Il semble que la France et la Grande-Bretagne aient envié cette manière de faire. Mais en fait, ce qui se passait, c’est que les Pays-Bas ne voulaient pas payer pour leur colonie. Ils n’étaient pas disposés à dégager le budget nécessaire à l’enseignement du néerlandais dans l’archipel, car ils considéraient que cela leur aurait coûté trop cher.

Il est intéressant de noter que le ministre-président des Pays-Bas de 2002 à 2010, Jan Peter Balkenende, a eu l’occasion de pousser ses compatriotes à se comporter comme l’avait fait la VOC auparavant en cherchant des opportunités commerciales partout. Ce type de comportement tendrait à prouver que, bien que Balkenende soit professeur d’histoire, il est aussi fondamentalement d’accord avec la politique coloniale des Pays-Bas, reflet de la mentalité de la VOC. Ses propos montrent clairement que les Pays-Bas, en tant que colonisateur, ont préféré piller leur colonie plutôt que d’éduquer la nation colonisée ou au moins lui apprendre à parler couramment leur langue.

Balkenende di depan parlemen Belanda

Balkenende di depan parlemen Belanda

Une telle politique coloniale a eu pour effet que les Indonésiens ne parlent pas néerlandais alors que l’archipel représente la colonie la plus importante que les Pays-Bas aient jamais possédée.

Références:
1. Kees Groeneboer [1993]: Weg tot het Westen: het Nederlands voor Indië 1600-1950. Leiden: KITLV Uitgeverijen 1993 ISBN 90 6718 0637

2. Anil Ramdas [1994]: “Benedict Anderson: je kunt in een dag om Nederland heen fietsen, niet?’” publié dans l’hebdomadaire De Groene Amsterdammer 20 Avril.

Traduit de l’indonésien par Pascale Sztajnbok.

“Pers Eropa: tiada berita positip buwat tjapres nomer 1″ oleh Joss Wibisono

Hari2 tenang ini enaknja digunaken untuk tjari2 berita pers asing tentang pilpres jang bakalan digelar Rebo 9 Djuli mendateng di seantero tanah air. Setelah lihat2 di internet, betapa kagetnja diriku begitu mendapatin bahwa ternjata bener2 engga ada berita positif tentang tjapres nomer 1. Lebih dari itu pers Eropa djuga selalu nulis tentang masa lamponja. Padahal para pendukungnja (dan tamtunja jang bersangkutan sendiri) kan mau melupaken azha masa lampo itu. Pigimanah nech? Masak timses tjapres nomer 1 tida bisa berkampanje supaja pers asing djuga bikin berita positif tentang tjalon mereka?

Berikut tjontoh tiga media Eropa jang bikin berita tentang tjapres satu. Bukan tjuman berita dalem bahasa Inggris hlo jach (seperti jang selama ini dibikin orang), tapi djuga berita dalem bahasa Djerman. Bahkan ada duwa media berbahasa Djerman jang aku tampilken di sini.

Pertama koran Austria Tiroler Tageszeitung terbit di Innsbruck jang mendasarken beritanja pada kantor berita Djerman DPA (Deutsche Presse Agentur). Klow mau tahu tautannja silahken klik di sini. Ini kutipan negatif tentang tjapres nomer 1:

“Prabowo, bekannt für seine Wutausbrüche, befehligte unter Suharto eine berüchtigte Sondereinsatztruppe. Er wehrt sich seit Jahren gegen Vorwürfe schwerer Menschenrechtsverletzungen. Er ging nach dem Suharto-Ende ins Exil nach Jordanien, startete nach der Rückkehr aber im Windschatten seines schwerreichen Bruders eine erfolgreiche Geschäftskarriere. Er gründete 2008 seine eigene „Partei der Bewegung großes Indonesien“ (Gerinda) mit einem Ziel: Präsident zu werden.”

“Wie viele ausländische Beobachter fürchtet Bourchier unter einem Präsidenten Prabowo eine Abkehr von der Demokratie: „Wenn er gewinnt müssen wir mit einer autoritäreren Regierung rechnen, politische Freiheiten dürften eingeschränkt werden und die Toleranz gegenüber religiösen und anderen Minderheiten sinken“, schreibt er.”

Berita harian Tiroler Tageszeitung terbitan Innsbruck

Berita harian Tiroler Tageszeitung terbitan Innsbruck

Kira2 artinja begini:

“Prabowo jang dikenal sering naik pitam itu, semasa Suharto mempimpin Kopassus jang punja tjitra buruk. Sudah ber-tahun2 dia dituduh melakukan pelanggaran hak2 asasi manusia jang berat. Pada achir kekuwasaan Suharto dia mengasingken diri ke Jordania, tapi begitu balik dia mendjadi pengusaha, di balik bajang2 adiknja jang kaja raja. Tahun 2008 dia mendiriken Gerindra dengan satu tudjuwan: djadi presiden.”

“Seperti pengamat asing lain, David Bourchier djuga chawatir di bawah Presiden Prabowo akan terdjadi penolakan terhadap demokrasi. ‘Kalau dia menang maka harus diperhitungkan muntjulnja pemerintahan otoriter, kebebasan politik akan dibatasi dan toleransi terhadap kalangan minoritas agama atau minoritas lainnja akan berkurang’. Demikian tulis David Bourchier.”

Keduwa, misih koran Austria, berikut harian Die Presse jang terbit di ibukota Wina. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini.

Berita jang terbit hari Sabtu tanggal 5 Djuli itu menampilken djudul jang sengak alias tidak enak terhadap tjapres nomer satu: »Indonesien: Wie die alte Elite der Diktatur nach der Macht greift« artinja kira2 »Indonesia: bagaimana elite lama zaman diktator menggapai kekuwasaan« Dengen djudul berita kajak gitu maka bisa dipastiken berita tentang tjapres nomer 1 djuga tidaklah positip. Berikut tjonto2nja:

Im Kern von Prabowos Wahlkampf steht seine Vision von einem starken Indonesien. In seinen Reden schäumt er häufig, das Land werde von ausländischen Konzernen seiner Ressourcen beraubt. Ob Indonesien, das sich seit dem Ende der Suharto-Diktatur zu einer lebhaften Demokratie entwickelt hat, auch unter Prabowo völlig demokratisch bleiben würde, ist die Frage. Prabowo hat mehrfach erklärt, er würde gerne die Originalfassung der Verfassung von 1945 in Kraft setzen, was dem Präsidenten eine wesentlich größere Machtfülle einräumen würde. In der älteren Version ist im Übrigen auch festgeschrieben, dass der Präsident vom Parlament gewählt wird und nicht vom Volk.

…..

Auch Prabowos Vergangenheit lässt nichts Gutes für ein Indonesien unter seiner Führung ahnen. Er soll Ende der 90er-Jahre, als er als General einer zweifelhaften Militär-Sondereinheit vorstand, die Entführung und Folterung – und unter Umständen sogar Ermordung – von Demokratieaktivisten angeordnet haben. In dieser Zeit soll er auch an der Anstiftung zu schweren ethnischen Unruhen beteiligt gewesen sein, mit denen das Militär einen Vorwand dafür schaffen wollte, sich weiter an der Macht zu halten. Damals sind tausende Menschen ermordet worden. Fragen zu seiner Vergangenheit geht Prabowo meist aus dem Weg. Bei einem Fernsehduell sagte er lediglich, er habe als Soldat seine Pflicht getan.

Berita harian Die Presse terbit di Wina

Berita harian Die Presse terbit di Wina

Kira2 artinja kajak gini:

“Pada intinja kampanje pemilu Prabowo berisi visi sebuah Indonesia jang kuwat. Dalam pidatonja dia selalu ber-tereak2 bahwa sumber daja alam negerinja sudah dikuras oleh perusahaan2 asing. Akankah Indonesia jang sudah mengembangkan demokrasi jang hidup sedjak berachirnja kediktatoran Suharto, tetap sepenuhnja demokratis di bawah Prabowo? Itulah pertanjaannja. Prabowo ber-kali2 menjatakan ia akan memulihkan versi asli UUD 45, karena presiden benar2 pigang kekuwasaan jang lebih besar. Dalam konstitusi versi asli itu presiden djuga dipilih oleh MPR, bukan langsung oleh rakjat.”

…..

“Masa lampau Prabowo djuga tidak mendjandjikan hal2 jang baik bagi Indonesia di bawah pimpinannja. Pada achir 1990an, sebagai komandan satuan chusus, dia djuga punja peran dalam memerintahkan pentjulikan, penjiksaan dan bisa2 djuga pembunuhan para aktivis demokrasi. Pada waktu itu dia konon djuga bertanggung djawab atas muntjulnja kerusuhan etnis jang dipakai sebagai dalih oleh kalangan militer untuk memperbesar kekuwasaan. Waktu itu ribuan orang dibunuh. Pertanjaan tentang masa lamponja ini selalu ditepis oleh Prabowo. Dalam sebuwah debat televisi dengen entengnja dia menjataken pradjurit itu hanja mendjalanken daripada perintah atasan.”

 

Itu tadi media massa berbahasa Djerman. Sekarang sebuah medium berbahasa Inggris. Itulah madjalah The Economist terbitan London. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini.

Berita mingguan The Economist terbitan London

Berita mingguan The Economist terbitan London

Kutipan jang paling mentjolok ini:

Mr Prabowo has seized his chance, making the race too close to call. His rallies are far livelier than those of the uncharismatic Jokowi. But the man who was once Suharto’s son-in-law is a throwback to a darker past. As a former commander of Indonesia’s notorious special forces, Mr Prabowo has a tainted record on human rights, first in East Timor and then during the anti-Suharto protests. He is a master of money politics and has benefited from having friends who own television stations and newspapers. He bashes foreign investors. And he appears to want to turn back the clock on Indonesia’s democratisation.

Kira2 artinja kajak gini:

“Prabowo memanfaatkan kesempatannja, membuwat persaingan ini sulit ditentuken pemenangnja. Pidato2nja djuwauh lebih hidup ketimbang pidato Jokowi jang tidak karismatis itu. Tetapi bekas menantu Suharto ini adalah langkah mundur ke masa lampau jang gelap. Sebagai bekas dandjen Kopassus, pasukan elit jang punja reputasi buruk, Prabowo punja rekam djedjak tertjela di bidang hak2 asasi manusia. Semula di Timor Timur kemudian berlandjut ke periode protes anti Suharto. Dia adalah pakar politik duwit dan diuntungken lantaran temen2nja punja pemantjar televisi dan koran. Dia meletjehken investor asing. Dan dia ingin memutar balik demokratisasi Indonesia.”

Demikian The Economist. Tiga kutipan berita di atas djelas berita jang buruk tentang tjapres 1. Bagaimana mereka bisa menulis berita begini buruk? Mungkinkah lantaran timnja tidak bekerdja dengen baik dengen pers Eropa? Kenapa mereka masih sadja memberitaken hal2 jang buruk2 itu? Harian Austria Die Presse misalnja sudah menulis tentang hal2 jang di-tjita2ken sama tjapres nomer 1, termasuk mendirikan partai segala. Tapi tenjata, demikian kesimpulan Die Presse, partai itu tjuman dipakai untuk mewudjudken tjita2nja: djadi presiden. Dan sesudah itu di-ungkit2nja masa lampau sang tjapres, seperti mengeluwarken majit2 jang oleh tjapres 1 sebenernja ingin disimpan dalem2 supaja tak terlihat di luwar, apalagi dunia luwar.

Dengan berita jang begitu negatip tentang tjapres 1 ini bisa dipastiken kalow terpilih dia akan menghadapin masalah internasional jang tida ketjil. Dia tetep ditjekal oleh Amerika (walaupun sang adik sudah ber-iba2 supaja sang abang diperbolehkan dateng ke Amrik). Dan ternjata pers Eropa djuga tidak terlalu menjambutnja. Atau mungkinkah ini andjuran terselubung buwat elektorat tanah aer supaja tidak memilih tjapres nomer 1?

Sebagai susulan, berikut dipasang sebuwah berita lutju sekaligus mentjengangken tentang tjapres nomer satu jang dipasang oleh koran Londo de Volkskrant. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini. Berikut potongan jang paling menarik:

Driftkikker
‘Dat verleden kleeft aan hem, hoe hard hij ook probeert het van zich af te schudden’, schrijft correspondent Michel Maas vandaag in de Volkskrant. ‘Prabowo wil het er niet meer over hebben.’ Hij heeft daarom gedurende de hele campagne de internationale media gemeden, uit angst lastig gevallen te worden over zijn verleden. Als dat dan toch ter sprake wordt gebracht, kan Prabowo weleens exploderen. Hij staat bekend als driftkikker.

‘Premier Mark Rutte heeft die passie ook mogen ervaren’, schrijft Maas. ‘Tijdens zijn bezoek aan Jakarta, eind vorig jaar, stormde Prabowo de eetzaal binnen waar de Nederlandse premier aanzat met vertegenwoordigers van het zakenleven. Niet zeker is of Prabowo met de vuist op tafel sloeg en weinigen herinneren zich precies wat hij zei, ‘maar het was duidelijk dat hij zeer ontstemd was’, aldus een van de aanwezigen.’

Prabowo vond kennelijk dat hij uitgenodigd had moeten zijn en dat hij naast Rutte had moeten zitten. Nadat hij wat gekalmeerd was vertrok hij ‘zonder mee te eten’.

Berita harian de Volkskrant terbitan Amsterdam

Berita harian de Volkskrant terbitan Amsterdam

Kira2 artinja kajak gini:

Masa lampownja selalu merepotkannja, walowpun dia mati2an berupaja melupakannja. Prabowo tidak pernah mau bitjara tentang itu. Karena itu selama kampanje dia terus2an menghindarin pers internasional: takut dirongrong tentang masa lampow itu. Klow toch itu tetep disinggung djuga Prabowo bisa meledak. Dia memang terkenal tjepet marah.

Perdana Menteri Mark Rutte pernah mengalamin gedjolak amarahnja ini. Wektu berkundjung ke Djakarta achir tahun lalu, tiba2 Prabowo menghambur masuk ruwang perdjamuan makan tempat Perdana Menteri Londo sedang didjamu makan malam oleh kalangan dunia usaha. Tida djelas apakah Prabowo sampé menggebrak medja, dan tida banjak pula orang tahu apa omongannja. “Tapi djelas dia tida seneng,” kata salah seorang jang hadir.

Tampaknja Prabowo menganggep dirinja perlu diundang dan dia harus duduk di sampingnja Rutte. Setelah tenang, dia kluwar, “tanpa ikut makan”.

Selamet ketawa atow merasa malu.

“Merasa Perkasa” oleh Joss Wibisono

Hari ini 5 Djuli 2014, saat berlangsung tjoblosan di KBRI Den Haag, diriku tiba2 merasa perkasa, perkasa sekali. Perkasa karena ternjata diriku diminta untuk menentukan nasib empat orang jang ber-tjita2 memimpin negeriku. Untuk tjita2 itu betapa mereka sekarang begitu tergantung pada suaraku. Memang bukan suaraku semata, tapi paling sedikit suaraku ikut menentukan berhasil tidaknja mereka mentjapai tjita2 itu. Kesadaran inilah jang membuwatku merasa perkasa.

Tak pernah aku punja perasaan seperti ini. Dan harus kuakui bahwa setelah orde bau bubaran baru pertama kali ini aku dengan sadar menentukan pilihanku. Selama orang kuwatnja berkuwasa tak pernah aku sudi ikut pemilu. Seingatku hanja pada pemilu 1999 aku memberikan suara. Waktu itu aku ikut pemilu lantaran tidak mau Golkar kembali berkuwasa. Djadi bukan lantaran aku benar2 mendukung PDIP, partai jang waktu itu kutjoblos.

Tapi sekarang beda sekali. Sekarang ini, tatkala aku memberikan swara untuk keduwa kalinja dalam hidupku, aku sadar sekali siapa pilihanku. Jang djelas aku tak mau mengchianati Fitri Nganthi Wani dan Mugiyanto Sipin jang Kamis 3 Djuli kutemui di Amsterdam. Tentu djuga Fajar Merah jang belum pernah kutemui dan ibu mereka Sipon.

Medjeng bareng Fitri Nganthi Wani di Nationaal Monument, Dam, Amsterdam

Medjeng bareng Fitri Nganthi Wani di Nationaal Monument, Dam, Amsterdam

Begitu pula diriku tak ingin mengchianati Nezar Patria, Raharja Waluya Jati, Faizol Riza, dan Aan Rusdianto jang pada hari itu djuga, di tanah air, mengumumkan surat terbuka kepada Jokowi dan Jusuf Kalla. Kepada keduwanja mereka menghimbau supaja membereskan masalah orang hilang kalau terpilih sebagai presiden dan wakil presiden.

Mendengar penuturan Wani tentang nasib keluwarganja ketika ajah tak ketahuan lagi rimbanja, betapa diriku merasa sangat tidak berdaja. Kubajangkan zaman di Salatiga, ketika sering gujonan dengan Wiji Thukul, bahkan dia ku-budjuk2 supaja ikut kuliah dosenku, sebagai pendengar. Sekarang ternjata ada orang jang menjatakan bahwa penjair Wiji Thukul sebenarnja masih hidup tjuma dia telah menggunakan djati diri lain. Apa jang bisa kuperbuwat menghadapi orang jang tidak punja hati ini? Belum lagi memikirkan 12 orang lain jang sampai sekarang belum djuga kembali, seperti Wiji Thukul, ajah Wani dan Fajar, suami Sipon. Betapa diri ini lunglai tak berdaja, tak bisa berbuwat apa2.

Tiba2 ketidakberdajaan itu hilang ketika tanganku menggenggam surat swara. Inilah saatnja kutentukan pilihanku. Dan djelaslah siapa jang kupilih. Aku memilih Ir H Joko Widodo dan Jusuf Kalla: bukan hanja karena aku tak mau mengchianati teman2 jang pernah ditjulik dan keluarga mereka. Aku memilih tjapres nomer duwa ini djuga karena aku berharap masalah teman2 ini akan dibereskan. Lebih dari itu, aku memilih mereka untuk membuktikan keperkasaanku terhadap tjapres pertama.

Sekarang aku tak sabar lagi menunggu Rabu 9 Djuli mendatang ketika hasil pemungutan suara akan diumumkan. Aku sangat berharap pilihanku adalah djuga pilihan sebagian besar elektorat tanah air. Dengan begitu aku akan bisa berkata pada diriku sendiri bahwa, kalau terpilih, tjapres keduwa ini adalah djuga pilihanku. Dia presiden pilihanku, presiden kebanggaanku.

“Bagi Mereka Sebaiknja Oranje Pulang Sadja” Oleh Marijn de Vries

Klik di sini untuk versi aslinja jang dalem bahasa Londo; berikut ini alih bahasa: Joss Wibisono

 

Suasana Nonton Sepak Bola di Londo

Suasana Nonton Sepak Bola di Londo

 

Air dalam ketel dikiranja sudah mendidih begitu terlihat busa tatkala dia memasukkan sebungkus teh tjelup ke dalamnja. Tapi dia lebih berniat beli mesin pendidih air sadja. Busa itu memang pertanda bahwa air sudah panas, tapi sebenarnja masih belum mendidih. Ia tak berani menggunakan ketel karena berisik begitu airnja mendidih. Pokoknja semua harus dilakukan supaja tidak mengganggu sang suami jang begitu keasjikan menonton sepak bola.

Tangannja gemetaran ketika mengangkat tjangkir teh di medja dapur. Dari ruang keluarga dia dengar televisi disetel begitu keras. Frank Snoeks komentator sepak bola terkenal Belanda, suara jang begitu dikenalnja. 10 menit lagi pertandingan akan berachir. Belanda unggul. Bukan lantaran dia merasa aman, tapi karena dia sudah jakin suasana akan tenang2 sadja. Tidak perlu panik, katanja pada diri sendiri, sementara mereguk teh.

Tiga menit lagi, kembali didengarnja suara Frank Snoeks, maka Oranje akan menang. Tapi dia tak bisa duduk tenang. Dia berdiri, dengan tenang dibukanja pintu lemari es. Delapan, dia menghitung botol bir di dalam. Pagi tadi ia meletakkan 20.

Waktu tambahan, kembali telinganja menangkap suara komentator. Detak djantungnja makin tjepat. Dengan tjepat pula ia memandang sekeliling. Sudahkah semuanja tertata rapi? Atau masih adakah berantakan jang tak disukai sang suami? Dapur itu sudah rapi djali. Kamar keluarga pasti lain lagi.

Didengarkan suara peluit. Kemudian sunji senjap. Suami memadamkan televisi. Dia mendengar sematjam dengungan di telinganja, menjambut djantungnja jang berdetak keras. Dan memang kesunjian itu petjah, “Sini!” suara suami dari sitje terdengar seperti badai.

Malam ini Oranje kembali turun ke lapangan. Malam ini djuga banjak perempuan akan ketakutan, persis seperti kisah di atas. Ajahku bekerdja pada het Steunpunt Huiselijk Geweld alias Lembaga Bantuan Kekerasan dalam Rumah Tangga di Groningen, Belanda utara. Padaku ia bertutur tentang meningkatnja kekerasan selama kedjuaraan Piala Dunia. Kalau Belanda kalah djumlah laporan kasus KDRT jang masuk pada lembaga resmi meningkat sampai hampir 40 persen. Bahkan kalau Oranje menang, kata ajah, KDRT tetap akan meningkat dengan lebih dari seperempat.

Aku njaris tak pertjaja. Kalau Belanda menang bukankah kita semua senang? Kenapa suami harus memukul istrinja? Atau istri memukul suami atau anaknja. Jang terachir ini djuga terdjadi. Gara2 minuman, kata ajah. Tegang selama pertandingan. Duduk terlalu dekat satu sama lain. Dan itu tidak hanja terdjadi pada saat berlangsungnja pertandingan, tambah ajah. Kalau Belanda kalah, keesokan harinja KDRT masih meningkat sebanjak 11 persen.

Dia banjak membatja proses verbal polisi tentang KDRT, ajahku. Kalau bahasa polisi disisihkan, jang tersisa adalah kisah perempuan di atas. Ada perbedaan ketjil di sana sini, tapi setjara garis besar gambarannja tetap sama. Sepak bola adalah perang, kata mereka. Di atas lapangan, mungkin. Setjara kiasan. Tapi ternjata djuga di dalam banjak rumah tangga. Setjara harafiah. Tidaklah mengherankan kalau tetap ada kalangan jang berharap Oranje sudah gugur di babak terdahulu.

“Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

Karena diwawantjarai Indonesiënu.nl aku tulis azha deh resensi ini.

Di atas pentas, keberhasilan seorang soprano lebih tergantung pada kerdjasamanja dengan pianis pengiring ketimbang hanja pada kualitas vokalnja sendiri. Ini dibuktikan oleh dua orang pemusik Asia jang menuntut ilmu di Belanda dan kini djuga mentjoba membangun karier di negeri kintjir angin. Pada penampilan di Tong Tong Fair, Den Haag, Sabtu malam 7 Djuni 2014 itu, soprano Indonesia Bernadeta Astari dan pianis Djepang Inoue Kanako membutikan diri berhasil meningkatkan mutu kebersamaan seni mereka. Keduanja tampil harmonis; tidak sadja dalam irama, tapi dalam gojangan dan lebih penting lagi dalam pendjiwaan. Semuanja laras dan merupakan perpaduan jang memukau. Kerdjasama jang berhasil, apalagi dalam bidang seni, djelas butuh waktu, tidak bisa instan atau langsung djadi.

Bernadeta Astari dan Inoue Kanako di Tong Tong Theater

Bernadeta Astari dan Inoue Kanako di Tong Tong Theater

Dan memang dalam lima tahun sebagai pasangan penjanji-pengiring, pada malam minggu itu terlihat Deta (panggilan Bernadeta Astari) dan Kanako telah sampai pada djendjang baru. Mereka tidak berhenti pada prestasi tahun 2012, ketika —bersama Kanako— Deta meraih anugerah Dutch Classical Talent: penghargaan tertinggi seorang pemusik jang mengawali karier di Belanda. Sabtu itu mereka berdua saling mengisi, saling mendukung dan saling memperkuat. Karena kerdjasama mereka teranjam rapi, maka tidak ada lagi pembagian kerdja ketinggalan zaman antara pengiring dengan penjanji, misalnja penjanji di depan dan pengiring di belakangnja. Berada persis pada satu garis, Deta dan Kanako menampilkan rangkaian nada dan kata jang elok terdjalin dan indah terdengar serta, lebih penting lagi, mempesona ditonton.

Paul Seelig

Paul Seelig

Keduanja membuka penampilan dengan Tembang Sunda, karja Paul Seelig (1876-1945), seorang komponis jang berkarja serta tutup usia di Bandoeng, Hindia Belanda, tjikal bakal Indonesia. Barang siapa sudah mengikuti Deta dan Kanako sedjak penampilan perdana tahun 2009, pasti tahu karja siklus ini sudah termasuk dalam chazanah repertoir awal mereka. Tapi begitu Deta mengalunkan suara soprannja, segera terasa ada sesuatu jang baru. Suara itu terdengar lebih matang, karena sekarang memiliki kedalaman. Register rendah, bagian suara jang memberi warna meruang dan lebih dalam, kini terdengar djelas. Alhasil, di Tong Tong Festival Deta telah memperbaharui diri dengan suara jang lebih berbobot.

Pada pelbagai penampilan terdahulu Deta memang sudah setia pada partitur Paul Seelig dengan fasihnja. Rangkaian appogiatura (nada2 hiasan singkat dan tjepat) jang mempertjantik tiga nomer Tembang Sunda, dibawakannja dengan santai dan mulus. Malam itu Deta masih menambahkan satu keindahan lagi: suaranja lebih dalam, maka baik Sinom, Kinanti maupun Dandang gula miring (tiga nomer Tembang Sunda) terdengar lebih njaring dan kokoh, karena didukung oleh register rendah jang mantap. Deta menjanji dengan segenap raganja, tidak hanja mulut atau kerongkongan atau dada belaka.

Inoue Kanako

Inoue Kanako

Pianis Inoue Kanako djuga tidak mau ketinggalan. Dia menundjukkan kepiawaian membawakan tiga nomer Tembang Sunda itu seperti lajaknja menabuh gamelan. Apalagi pada nomer Dandang gula miring, bilah2 tuts piano dimainkannja seperti memetik katjapi, instrumen chas Sunda. Inoue–san bisa sampai pada penafsiran seperti ini djelas karena dia achirnja paham gamelan Sunda.

Harmoni dan kelarasan jang paling njata terlibat pada dua nomer tjiptaan komponis Prantjis Francis Poulenc (1899-1963). Les chemins de l’amour (tapak2 asmara) adalah sebuah nomer sedih tentang upaja mentjari tjinta lama jang tidak kundjung ketemu. Menariknja lagu jang sjairnja ditulis oleh Jean Anouilh (1910–1987) ini djuga berisi walsa lambat, untuk melukiskan kenangan tjinta jang masih sadja berbekas. Di sinilah Deta maupun Kanako tampil optimal, walsa jang biasanja mengiringi tarian berpasangan mereka bawakan dengan tjukup lambat, tapi tanpa pretensi tjengeng. Bukan tjuman Deta jang bergojang meningkahi walsa, Kanakopun “menggojangkan” permainannja. Itu semua mereka lakukan pada takaran jang tepat, sesuai dengan sebuah walsa murung.

Meninggalkan suasana murung, Deta memilih karja Poulenc lain, Voyage à Paris (perdjalanan ke Paris), ditjuplik dari kumpulan chanson (lagu seriosa Prantjis) jang berdjudul Banalités, sjairnja merupakan buah pena Guillaume Apollinaire (1880-1918). Di sini dia tampil dengan coquette alias kenès, baik dalam perilaku maupun tjaranja membawakan nomer ini. Kanako memainkan piano dengan djenaka. Jang menarik, supaja tetap kenès, Deta memilih nada fals ketika mengachiri nomer ini. Ini djelas langkah berani jang rada riskan (karena nada achir jang dipilihnja tidak tertera di partitur), tapi dampaknja menarik dan memang disambut tepukan tangan meriah penonton.

Sampul depan "Banalités"

Sampul depan “Banalités”

Tantangan mereka berdua adalah membawakan Banalités selengkapnja, tidak hanja Voyage à Paris jang sebenarnja sudah terlalu sering dibawakan oleh musisi lain. Lima nomer dalam Banalités sangat bervariasi membutuhkan daja vokal serta pendjiwaan tersendiri. Bisakah Deta dan Kanako tampil sebagai orang bosan ketika membawakan Hôtel, nomer kedua Banalités, karena memang demikian tuntutannja?

Selain Seelig dan Poulenc, malam minggu itu kedua pemusik djuga menampilkan karja2 Claude Debussy (1862-1918) dan Xavier Montsalvatge (1912-2002). Djelas bukan tjuman dari zaman jang berbeda, karja2 itu djuga dalam pelbagai bahasa. Lengkapnja, Deta memperdengarkan nomer2 dalam bahasa2 Sunda, Prantjis dan Spanjol. Selain bahasa Italia sebagai imbuhan, menariknja, Deta ternjata tidak melupakan Indonesia.

Maka mengalunlah Bumi Hidjau, tjiptaan Mochtar Embut (1934-1973) atas puisi2 awal Rendra (1935-2009) jang pendek dan molek. Kembali Deta mengambil langkah riskan karena membawakan karja seorang komponis jang tidak terkenal, apalagi di Belanda. Tapi djelas bukan tanpa pertimbangan, karena Deta tahu persis dia berhadapan dengan publik TongTong Fair jang terbuka bagi karja2 jang tidak termasuk arus utama musik vokal.

Mochtar Embut (1934-1973)

Mochtar Embut (1934-1973)

Bumi Hidjau adalah sebuah karja djelita; sembilan nomer jang dimulai dengan sentuhan pentatonis singkat dan diachiri dengan pentatonis sepenuhnja. Antara awal dan achir tersebar pelbagai nomer pendek-pendek bak untaian mutiara jang bertangga nada chromatis.

Dalam chazanah Lieder (lagu seriosa berbahasa Djerman), orang mengenal Erlkönig tjiptaan Franz Schubert (1797-1828) atas sjair karja pudjangga Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832). Sadjak ini berkisah tentang upaja mati2an seorang ajah untuk menjelamatkan anaknja jang sakit, dan untuk itu harus menempuh badai. Badailah jang terdengar begitu karja ini dimainkan.

Gelora serupa djuga terdengar pada Angin Djahat, nomor terachir Bumi Hidjau. Tjuma Mochtar Embut menggubah sebuah karja jang benar2 Indonesia. Maklum semua melodi nomer jang berdjudul Angin Djahat itu dimainkan pada tuts hitam, sehingga bisa dikatakan bertangga nada sléndro. Tak pelak lagi, inilah djawaban seorang Indonesia terhadap karja Schubert itu.

Deta dan Kanako pasti tidak tahu bahwa Angin Djahat adalah djawaban Mochtar Embut (jang sebenarnja kelahiran Makassar) terhadap sebuah karja Barat. Terus terang, ini djuga tjuma rekaan saja belaka. Jang djelas mereka berdua membawakannja dengan prima dan penuh pesona. Nada2 rendah misalnja muntjul menggema dari raga Deta. Penonton jang memadati TongTong Theater menjambut nomer terachir ini dengan aplaus meriah serta siutan meriuh.

 

Bernadeta Astari di pentas TongTong Theater

Bernadeta Astari di pentas TongTong Theater

Alhasil langkah riskan mereka ternjata tidak meleset, bahkan tidaklah berlebihan kalau kita katakan di baliknja tersembunji kebanggaan pada tanah air. Nasionalisme djelas djuga bisa disampaikan lewat musik.