“Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono

Agustus 21, 2015

0

Kalow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Tudjuh puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda si bekas pendjadjah masih sadja dihantui oleh masa lampau kolonial itu. Lalu apa jang harus dilakukan Indonesia? Diam dan mengamati sadja setiap ada ribut2 di bekas negeri induk? Jakinkah orang Indonesia bahwa dia tidak membebek Belanda: melakukan […]

Posted in: Londo, Politik, Sedjarah

“Perbudakan di Hindia dan surat terbuka Reggie Baay”

Juli 15, 2015

0

Klow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Pengantar: Setiap tanggal 1 Djuli setjara nasional Belanda mengenang penghapusan perbudakan di wilajah koloninja. Sedjak 2002 peringatan itu berlangsung di Oosterpark Amsterdam, persisnja di Nationaal monument slavernijverleden (Monumen nasional masa lampau perbudakan). Walau begitu, menurut Reggie Baay pada surat terbukanja berikut, pada tanggal itu sebenarnja […]

Posted in: Londo, Politik, Sedjarah

“Victim’s Plight, Perpetrator’s Absence” by Joss Wibisono

Juni 6, 2015

0

Other version of this review has appeared on Social Transformation Vol 3, No. 1 (pp 86-8) Fifteen years after the fall of Soeharto, the age of Reformasi, as it is popularly known, has finally reached the Indonesian literary scene. Not only is a novel published with its complete original content (which was omitted during Soeharto’s […]

Posted in: Bahasa, Politik, Sedjarah

“Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono

Mei 20, 2015

0

Untuk tahun 2013 (tatkala artikel ini ditulis) hadiah Nobel Kesusastraan diraih oleh tjerpenis Kanada Alice Munro. Lagi2 bukan penulis Asia Tenggara, seperti telah tak tulis di Tempo edisi 7-13 Oktober 2013 (halaman 74). Ini hlo versi usil kolomku itu. Sebagai pembuka, berikut dua dalil. Pertama, hadiah Nobel Kesusastraan sesungguhnja djuga erat berkaitan dengan bahasa, djadi […]

Posted in: Bahasa, Politik, Sedjarah

“Djilbab handuk saat makan malem di Kyoto” oleh Joss Wibisono

April 2, 2015

0

Di Djepun ternjata orang bisa makan beberapa gangen (hidangan) pada beberapa restoran. Djadi voorafje (hidangan pembuka) di restoran A, hoofdgerecht (hidangan utama) restoran B, dan toetje (hidangan penutup) di restoran C. Kajaknja di Belanda enggak ada deh jang berbuwat gitu. Paling banter mungkin tjuman mendjeladjah bar jang artinja minum dari satu bar ke bar jang […]

Posted in: Bahasa, Politik, Sedjarah

“Retour: sebuah novel djawaban” oleh Joss Wibisono

Maret 1, 2015

0

Versi EYD terbitnja di Suara Merdeka edisi 11 Djanuari halaman 23 Pulang karja Leila Chudori diterdjemahkan ke dalam bahasa Prantjis. Maka inilah djawaban seorang novelis Indonesia kepada seorang penulis Prantjis jang pernah menulis novel tentang Djawa. PADA TAHUN 1832 terbit sebuah novel berdjudul Voyage de Paris à Java (Perdjalanan dari Paris ke Djawa) karja penulis […]

Posted in: Bahasa, Politik, Sedjarah

“Makanan Djawa kuno: tanpa lombok dan kuning” oleh Joss Wibisono

Februari 1, 2015

5

Zaman sekarang tjabé sudah tidak terpisahkan lagi dari menu se-hari2 kita. Begitu besar perannja sampai sangat sulit membajangkan ada djamuan makan Nusantara jang sepenuhnja bebas dari lombok. Tidaklah mengherankan klow terdengar keluhan begitu harga tjabé melondjak. Tapi tahukah anda bahwa sebenernja hidangan makanan Nusantara tidak selalu mengandung lombok? Nusantara pernah mengenal zaman tak bertjabé. Bahkan […]

Posted in: Londo, Politik, Sedjarah
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.