“50 tahun G30S dalam sorotan pers Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain tindjauan pers ini telah nongol di madjalah Historia No 25, halaman 17-19.

Lima puluh tahun G30S ternjata djuga mendjadi pemberitaan media massa Belanda, negeri bekas pendjadjah. Bukan tjuma koran, mingguan atau media tjetak lain jang memberitakannja, tapi djuga radio dan televisi serta tak ketinggalan situs web. Menariknja, ketika mingsih adaaa sadja media massa Indonesia jang gak bosen2nja meng-ulang2 sudut pemberitaan seperti 50 tahun silam (keminggrisnja gak bisa move on) jaitu G30S terus2an dipandang sebagai bentrokan ideologis antara PKI dan mungsuh2nja (seperti maunja orde bau), maka media massa Londo si bekas pendjadjah sudah sama sekali meninggalkan sudut pandang kuno ini. Sekarang mereka menekuni G30S melulu dari sudut pelanggaran berat hak2 asasi manusia, bahkan bagi mereka G30S merupaken kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pertentangan sudut pandang lama dengan sudut pandang baru terhadap G30S ini merupakan inti pemberitaan harian NRC Handelsblad. Pada edisi 1 Oktober 2015, dengan djelas koran sore terbitan Amsterdam ini menguraikan perbedaan pandangan antara chalajak umum (jang dibesarkan tiap tahun menonton film Pengchianatan G30S/PKI) dengan kalangan jang disebutnja “jonge intellectuelen” alias tjendekiawan muda. Dalam berita itu, tjendekiawan muda diwakili orang tiga orang, masing2 dua novelis jaitu Laksmi Pamuntjak dan Eka Kurniawan, serta peneliti Andreas Harsono.

Berita NRC Handelsblad tentang Laksmi Pamuntjak, Eka Kurniawan dan Andreas Harsono

Berita NRC Handelsblad tentang Laksmi Pamuntjak, Eka Kurniawan dan Andreas Harsono

Bagi Laksmi Pamuntjak film indoktrinasi orde bau itu mengadjarkan bahwa PKI adalah kalangan batil sedjati jang atheis dan karena itu harus dibasmi. Inilah jang menjebalkan dan mendjengkelkannja. Karena itu Laksmi melakukan sesuatu jang tidak pernah diterima di Indonesia: menulis novel —berdjudul Amba— tentang pembunuhan massal 50 tahun silam. Diterdjemahkan sebagai Amba of de kleur van rood, novel ini sekarang djuga hadir untuk publik pembatja Belanda.

Laksmi tidak sendirian. Novelis Eka Kurniawan —dengan roman Tjantik itu luka jang terbit dalam bahasa Inggris— djuga tidak segan2 menulis tentang pembantaian 1965. Dalam bukunja, demikian NRC Handelsbald, Eka menggambarkan majat2 jang berserakan di mana2, di djalan, di sungai, di atas djembatan, bahkan di semak2. Mereka dibunuh tatkala berupaja melarikan diri, tulis Eka — sesuatu jang, demikian NRC Handelsblad, berlawanan dengan pesan film propaganda orde bau.

Di balik minat besar intelektual muda itu, masalah 1965 tetap sadja tidak dibitjarakan setjara terbuka oleh chalajak ramai Indonesia. Kenapa? Untuk ini NRC Handelsblad menghubungi Andreas Harsono, peneliti pada organisasi hak2 asasi manusia Human Rights Watch. Menurut Andreas banjak orang terlibat. “Politisi pada tingkat tertinggi, gubernur, bupati, kepala desa. Masih banjak orang2 berkuasa karena terlibat setjara pribadi, sehingga mereka tidak berminat berbitjara tentang hal ini.”

Bukan hanja tentara dan preman jang terlibat dalam pembunuhan, demikian NRC Handelsblad berlandjut. Nahdlatul Ulama dan Muhammadijah, dua organisasi muslim terbesar Indonesia, djuga ikut serta. Para pemimpin agama melihat perburuan kalangan komunis ini sebagai sematjam perang sahid.

NU dan Muhammadijah merupakan fundamen masjarakat. Keduanja mengendalikan sekolah, rumah sakit dan pelbagai upaja pengentasan kemiskinan. Bahwa dua organisasi, dengan 70 djuta anggota dari 245 djuta penduduk Indonesia, terlibat dalem pembunuhan massal itu merupakan kenjataan jang oleh banjak orang Indonesia ingin dilupakan sadja.

Koran pagi de Volkskrant, pada edisi 30 September 2015, menampilkan wawantjara dengan dokter Ribka Tjiptaning Proletarijati, anggota DPR jang selalu membanggakan diri sebagai anak PKI. Sebagai anak djudul berita ini tertera “50 tahun silam tentara Indonesia membunuhi sedjuta orang komunis. Sedjak itu mereka merupakan pariah, demikian satu2nja anak komunis jang bisa mendjadi anggota DPR”.

Berita ini bernada suram. Walaupun Tjiptaning sudah bisa sampai pada kursi DPR, nasib orang komunis dan korban peristiwa 65 lain tidaklah membaik. Mereka tetap dianggap antjaman. Tjiptaning djelas perketjualian, seperti bisa dibatja pada alinea berikut.

Ribka Tjiptaning diwawantjarai de Volkskrant

Ribka Tjiptaning diwawantjarai de Volkskrant

Sepeninggal Gus Dur situasi Indonesia kembali mundur. Pada 2004, buku2 sedjarah jang memberi gambaran lebih bernuansa tentang peristiwa 1965 dilarangi dan dibakari. Tjiptaning: “Tidak ada jang protes. Siapa sadja berkata, ‘sudahlah biarkan sadja’. Tapi aku tak mau tutup mulut. Siapa sadja harus tahu bahwa anggota PKI bukan pembunuh, bukan pemerkosa dan bukan perampok, tapi orang jang menganut ideologi dengan tudjuan2 luhur. Orang tuaku itu baik2. Mereka tidak pernah bertengkar dan keluarga kami selalu diliputi harmoni. Kalian tidak boleh menganggap mereka tidak pernah ada”.

Pada edisi achir pekan 26-27 September 2015, rubrik ilmu pengetahuan harian NRC Handelsblad menurunkan laporan pandjang tentang pelbagai teori G30S jang selama ini sudah berkembang. Djudulnja “Bloedbad dat de wereld niet kon schelen” artinja “Bandjir darah jang tak dipedulikan dunia”. Menariknja teori2 ini berkembang di luar negeri, tidak di Indonesia sendiri. Maklum ilmuwan dan sedjarawan Indonesia belum djuga bisa benar2 membebaskan diri dari kungkungan orde bau, seperti bisa dibatja pada dua alinea berikut.

Pembunuhan massal kalangan sajap kiri Indonesia tidak pernah diakui dunia internasional sebagai genosida. Sedjarawan Australia Robert Cribb, sedjarawan Belanda Gerry van Klinken dan ilmuwan lain djustru mengakuinja, mereka berseru bahwa ada upaja2 sengadja untuk membasmi kelompok politik tertentu. PBB hanja mengakui genosida djika terdjadi kekerasan sistematis terhadap “kelompok2 nasional, etnis, rasial dan penganu agama tertentu”.

Bandjir darah jang tak dipedulikan dunia

Bandjir darah jang tak dipedulikan dunia

Sedjarawan2 John Roosa, Robert Cribb dan Gerry van Klinken, adalah ilmuwan luar negeri jang melakukan penelitian kritis terhadap episode berdarah ini. Sebagian besar ilmuwan Indonesia tetap berpegang teguh pada pentjirian jang pernah dikemukakan oleh sedjarawan senior Taufik Abdullah. Bandjir darah itu adalah “konflik horisontal”, amukan spontan massa terhadap kalangan komunis jang memang dibentji. Walaupun pemerintahan Indonesia jang muntjul setelah djatuhnja harto sudah tidak lagi menerapkan pembatasan2 ketat terhadap keluarga PKI, tapi setjara luas orang masih berpendapat bahwa PKI itu adalah pihak djahat jang sebenarnja. Demikian harian sore NRC Handelsblad.

Lembaga penjiaran KRO-NRCV djuga tak mau ketinggalan. Melalui kanal dua (NPO2) gabungan organisasi penjiaran katolik dan kristen-protestan ini menurunkan laporan chusus tentang G30S, pada hari Djumat 1 Oktober 2015. Sebagai organisasi penjiaran agama mereka tertarik pada Joop Beek, rohaniwan katolik jang pegang peran besar pada zaman awal orde bau.

Dokumenter sepandjang 50 menit ini berisi tajangan dari masa lampau maupun masa kini. Maklum, waktu itu wartawan KRO, Aad van den Heuvel, datang ke Djakarta untuk melaporkan situasi Indonesia menjusul G30S. Ketika berangkat, dia mengantongi nama Joop Beek dan melalui rohaniwan Ordo Jesuit ini Van den Heuvel bisa mewawantjarai banjak orang, termasuk harto jang mulai naik daun dan Bung Karno jang waktu itu mulai memudar kekuasaannja.

Suatu sore kepada Beek, Van den Heuvel bertanja benerkah harto akan berpidato pada malam harinja. Itu dibenarkan, dan ketika ditanja apa isi pidato harto, Beek mendjawab belum tahu, karena pidato itu masih harus ditulisnja. Semula djawaban ini dikira gurauan belaka, tapi ketika Van den Heuvel mendapati bahwa harto bener2 membatjakan pidato jang ditulis Joop Beek, dia segera sadar betapa besar pengaruh rohaniwan Belanda ini. Daftar pertanjaan untuk mewawantjarai harto diserahkan kepada Beek, dan dalam wawantjara harto membatjakan djawaban jang ditulis sang pastur Jesuit.

harto batja djawaban Joop Beek ketika diwawantjarai Aad van den Heuvel

harto batja djawaban Joop Beek ketika diwawantjarai Aad van den Heuvel

Dalam dokumenter itu diperintji apa sadja pengaruh besar Joop Beek di Indonesia pada hari2 achir Presiden Sukarno. Beek menggalang demonstrasi besar2an para mahasiswa menuntut pengunduran diri sang Pemimpin Besar Revolusi. Sebelum berdemonrasi para pemimpin mahasiswa menemui Beek, untuk mendengar instruksinja. Ketika achirnja Sukarno mundur dan orde bau tegak, Joop Beeklah jang memikirkan pembentukan Golongan Karja. Setelah menjusun struktur partai, ditemuinja Harry Tjan Silalahi supaja mendekati harto. Sang orang kuwat setudju, maka lahirlah Golkar jang djelas merupakan anak rohani Joop Beek, rohaniwan katolik asal Belanda jang begitu berpengaruh.

Pengaruh itu baru berkurang ketika pembesar Ordo Jesuit di Roma turun tangan. Maklum tidak semua rohaniwan Jesuit setudju dengan pastor berpengaruh politik begitu besar. Salah satunja bernama Adolf Heuken, seorang pastur asal Djerman jang djuga bertugas di Djakarta. Baginja Beek sudah terlalu dekat dengen kekuasaan, kekuasaan orde bau jang ber-darah2 lagi! Menurut peraturan geredja katolik seorang pastur tidak boleh berpolitik praktis. Karena itu Adolf Heuken per-tama2 menghubungi Uskup Agung Djakarta untuk melaporkan peran Beek. Ketika Beek tidak memperdulikan atasan, Heuken menulis surat kepada pembesar Jesuit di Roma, minta supaja Beek diperingatkan. Pembesar Jesuit turun tangan, maka Joop Beek pindah rumah dan mendjauhkan diri dari orang kuwat orde bau.

Selain dokumenter ini, organisasi penjiaran VPRO menajangkan dua dokumenter karja Joshua Oppenheimer tentang peran para algodjo pada pembantaian 1965. Dua malam ber-turut2, tanggal 30 September dan 1 Oktober 2015, chalajak Belanda berkesempatan menonton The Act of Killing (Djagal) dan The Look of Silence (Senjap). Mendjelang siaran, berkala panduan atjara jang dikeluarkan VPRO mewawantjarai Saskia Wieringa, gurubesar antropologi Universiteit van Amsterdam jang meneliti pemusnahan Gerwani, organisasi perempuan onderbouw PKI. Pasalnja, Wieringa memimpin apa jang disebut IPT65, singkatan International People’s Tribunal jang, November mendatang di Den Haag, akan mengadili kedjahatan terhadap kemanusiaan Indonesia itu.

Buku panduan atjara VPRO

Buku panduan atjara VPRO

Radio 1, pada pembukaan siaran pagi 1 Oktober, mewawantjarai Martijn Eickhoff, peneliti Belanda tentang 50 tahun G30S. Eickhoff per-tama2 mendjelaskan kenapa Indonesia tidak djuga berandjak dari versi orde bau terhadap G30S. Kemudian, sebagai penjelenggara, Eickhoff djuga membeberkan seminar jang pada hari itu diselenggarakan di Amsterdam. Seminar ini antara lain bertudjuan untuk menempatkan pembunuhan massal di Indonesia dalam kerangka genosida jang selama ini sudah dikenal orang. Bagaimanakah bandjir darah di Indonesia bisa tjotjok dalam kerangka penelitian genosida internasional?

Tak pelak lagi, pers Belanda (dan djuga pers internasional lain) punja sudut pandang lain mengenai bandjir darah 50 tahun lalu. Sudut pandang itu berpangkal dari pendirian bahwa pembunuhan anggota PKI dan orang2 jang diduga simpatisannja merupakan pelanggaran hak2 asasi manusia besar2an. Ketika Tembok Berlin sudah runtuh dan di Eropa Timur serta Uni Soviet komunisme sudah gulung tikar djelas akan djadi bahan ketawaan kalau sudut pandang perang dingin, jaitu perbenturkan ideologi, diulang2 lagi.

Dapatkah chalajak ramai Indonesia berandjak dari adjaran orde bau jang sudah begitu lama mereka anut? Kapan Indonesia menjeruak tempurung jang mengungkunginja untuk setjara djudjur dan terbuka mengakui bahwa peristiwa 50 tahun silam itu adalah pelanggaran hak2 asasi fantastis besar2an jang tidak pernah dikenal dalam sedjarahnja sendiri?

“Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem EYDnja orde bau telah nongol di harian Suara Merdeka, edisi 10 djanuari 2016, halaman 18 bawah.

Novel Sang Djuragan Teh karja Hella Haasse hanja menampilkan bumiputra Hindia Belanda sebagai figuran.

Hella Haasse [1918-2011]

Hella Haasse [1918-2011]

DI BUMI KELAHIRANNJA, INDONESIA, NAMA HELLA Haasse hanja dikenal oleh kalangan terbatas, misalnja mereka jang beladjar dan mendalami sastra Belanda, seperti mahasiswa dan staf pengadjar AKABA 17 Semarang. Dan memang Ibu Dr. Inge Widjajanti Dharmowijono, salah seorang pengadjar AKABA 17, adalah penerdjemah Sleuteloog (mendjadi Mata Kuntji), novel terachir Hella Haasse dengan latar belakang Hindia Belanda, Indonesia pada zaman kolonial. Tapi di Belanda, negeri bekas pendjadjah itu, Hella Haasse adalah nama terkenal, hampir setiap rumah tangga Belanda memiliki salah satu dari sekitar 30an bukunja, fiksi maupun non-fiksi. Sudah tutup usia lima tahun silam, chalajak pembatja Belanda masih ber-debar2 menanti biografinja jang didjadwalkan terbit dua tahun mendatang, pada 2018, tatkala berlangsung peringatan 100 tahun kelahiran mevrouw (ibu) Haasse.

Achir tahun lalu tebit Sang Djuragan Teh, terdjemahan bahasa Indonesia De heren van de thee, novel kedua Hella Haasse dengan thema Indonesia zaman kolonial. Selama hidupnja Hella Haasse menulis tiga novel jang disebut De Indische romans alias roman Hindia. Pertama adalah Oeroeg jang terbit pada 1948, kemudian De heren van de thee jang terbit pada 1992 dan terachir Sleuteloog, terbit 2002. Oeroeg sudah diterdjemahkan pada 2009, maka dengan terbitnja Sang Djuragan Teh, ketiga novel Hindia Haasse sekarang sudah terbit versi Indonesianja.

Roman Hindia dalam bahasa Indonesia

Roman Hindia dalam bahasa Indonesia

Selain tiga fiksi Hindia tadi, Haasse djuga masih menulis paling sedikit dua buku non-fiksi tentang negeri kelahirannja. Buku2 itu adalah Krassen op een rots: Notities bij een reis op Java (Goresan di atas batu, tjatatan perlawatan ke Djawa) terbit 1970 dan Een handvol achtergrond, Parang Sawat, autobiografische teksten (Segenggam latar belakang, Parang Sawat, teks otobiografis) terbit 1993. Siapa sebenarnja Hella Haasse?

Dua buku non-fiksi tentang Hindia Belanda

Dua buku non-fiksi tentang Hindia Belanda

Dia dilahirkan sebagai Hélène Serafia Haasse di Batavia (sekarang Djakarta) tanggal 2 februari 1918 dan meninggal dunia di Amsterdam tanggal 29 september 2011, pada umur 93 tahun. Ajahnja, Willem Hendrik Haasse, adalah pedjabat kolonial, dengan djabatan terachir inspektur keuangan. Ibunja, Käthe Diehm Winzenhöler, adalah seorang pianis. Komponis Paul Seelig (1876-1945) mentjiptakan sebuah konser piano dengan tema gamelan Sunda chusus untuknja. Ketika dipentaskan untuk pertama kalinja, Käthe Diehm tampil sebagai solis.

Haasse menempuh pendidikan rendah dan menengah di Batavia, Buitenzorg (nama kolonial Bogor), Bandoeng, dan Soerabaia; kemudian pendidikan tinggi (sastra Skandinavia tak selesai, tapi selesai sekolah tonil) di Belanda. Dengan pelbagai anugerah sastra dalam negeri dan jang tertinggi adalah Prijs der Nederlandse Letteren (hadiah sastra Belanda jang diterimanja langsung dari tangan Ratu Beatrix pada tanggal 17 november 2004) Haasse dikenal sebagai grande dame (sematjam njonja besar) sastra Belanda. Sekitar 30 bukunja sudah diterdjemahken ke dalam 20an bahasa, termasuk bahasa2 Asia; seperti Vietnam, Djepang dan bahasa Indonesia.

Setjara umum, dalam soal fiksi kolonial karja para penulis Belanda, bisa kita tegaskan bahwa sedjak Eduard Douwes Dekker menulis riwajat Saïdjah dan Adinda dalam Max Havelaar pada 1860, 155 tahun silam, makin sulit menemukan penulis Belanda jang menampilkan kalangan inlanders sebagai karakter utuh dalam karja2 mereka. Paling banter bumiputra Hindia hanja tampil sebagai figuran jang tidak penting. Padahal sebaliknja penulis2 Indonesia selalu berhasil menampilkan karakter Belanda jang utuh dan terus berkembang sepandjang djalan tjerita karja penulis Indonesia itu.

Grande dame sastra Belanda Hella Haasse memang sudah menulis Oeroeg, tapi anak mandur perkebunan teh di Djawa Barat ini melulu ditampilkan sebagai bajangan anak madjikannja jang Belanda tulen. Oeroeg jang berteman akrab dengan anak madjikan ajahnja tidak tampil sebagai karakter utuh jang berkembang sepandjang alur tjerita roman itu.

Ketika Sleuteloog, roman Hindia terachir Haasse, terbit pada 2002, orang mengira ia akan mendjawab pelbagai kritik soal masa lampau kolonial Belanda. Tapi ternjata Haasse tidak (berhasil?) menampilkan seorang inlander sebagai karakter utuh. Kalaupun dalam novel ini ada seorang jang bernama Ibu Sjarifa, maka dia sebenarnja adalah seorang Indo berdarah tjampuran jang suka mistik dan memilih djadi pribumi. Ibu Sjarifa, dengan kata lain, bukanlah seorang inlander asli.

Indische Romans (Roman Hindia) karja Hella Haasse

Indische Romans (Roman Hindia) karja Hella Haasse

Sesuai djudulnja, Sang Djuragan Teh berkisah tentang para djuragan, tanpa satupun tokoh inlander (batja: buruh teh) jang penting dan berarti. Memang kalangan pribumi tjuma ditampilkan sebagai figuran, bukan karakter utuh jang ikut berkembang sepandjang djalan tjerita. Beda sekali dengan Pramoedya jang punja Robert Mellema, Robert Suurhof, Jean Marais atau Magda Peters. Tokoh2 Eropa itu adalah karakter2 utuh dalam Tetralogi Pramoedya, bukan deretan figuran semata. Kalau Pram berhasil mentjiptakan karakter2 Eropa kulit putih, mengapa Hella Haasse tidak (berhasil) mentjiptakan karakter2 bumiputra jang utuh? Kenapa karakter inlandersnja tjuma figuran jang tidak berarti, jang tidak menentukan alur tjerita novel2nja? Inilah kritik jang tak terelakkan terhadap tiga novel Hindia karja Hella Haasse.

Untung Pramoedya tidak sendirian. Penulis Indonesia lain, jaitu Iksaka Banu (generasi lain jang djauh lebih muda dari Pramoedya) djuga berhasil mentjiptakan karakter Belanda utuh dalam kumpulan tjerpennja Semua untuk Hindia. Bahkan dalam pelbagai tjerita pendeknja Banu menampilkan protagonis Belanda dengan peran chusus mereka bagi kemerdekaan Indonesia. Beda benar dengen Hella Haasse jang hanja bisa memperlakukan inlanders sebagai figuran, persis seperti djongos dan babu pada zaman kolonial dulu jang pasti djuga tidak sedikit dalam rumah keluarga Haasse, apakah itu di Batavia, Buitenzorg, Bandoeng maupun Soerabaia.

Di Belanda, beberapa penggemarnja jang tjukup kritis menilai bahwa penggambaran pribumi itu memang sesuai dengan kenjataan jang dialami oleh Hella Haasse sendiri pada zaman Belanda dulu. Mereka mungkin benar. Tapi bukankah sebagai penulis Haasse harus lebih bisa mendjaga djarak dengan masa lampau jang tidak dibenarkan oleh sedjarah itu? Bukankah lebih pantas mengharapkan novelnja berisi tokoh2 bumiputra jang mandiri dalam menentukan masa depan dan tidak se-mata2 bergantung pada para toewan bessar koewasa Belanda?

Kalau Multatuli jang berkarja pada abad 19 sadja bisa mentjiptakan Saïdjah dan Adinda mengapa Hella Haasse tidak (bisa?) mentjiptakan karakter bumiputra jang berarti? Bukankah pada abad 19 itu belum terlihat aspirasi kemerdekaan di kalangan para inlanders? Sedangkan Haasse jang terberkati dengan dua zaman (zaman Belanda dan zaman kemerdekaan), seharusnja lebih merasa terbekali untuk djuga menulis tentang aspirasi kemerdekaan orang Indonesia dengan, misalnja, menampilkan paling sedikit satu tokoh untuk mewakili aspirasi jang achirnja memperoleh pembenaran sedjarah itu. Memang pada awal abad 20 tidak banjak penulis Belanda jang mengikuti djedjak Multatuli dengan menampilkan karakter bumiputra, maklum di Hindia kebanjakan orang Belanda hidup dalam dunia mereka sendiri. Tetapi setelah djelas2 aspirasi kemerdekaan itu tak terbendung lagi dan Indonesia achirnja benar2 merdeka, maka tidak ada alasan bagi seorang penulis Belandapun (tidak djuga bagi Hella Haasse) untuk tidak menampilkan seorang karakter Indonesia jang berarti dalam karja2 mereka.

versi pendekan tulisan ini ketika nongol di Suara Merdeka

versi pendekan tulisan ini ketika nongol di Suara Merdeka

Bisa djadi ada jang berpendapat bahwa tidak mungkin mentjiptakan tokoh pribumi dalam djalinan tjerita kebun teh Gamboeng, karena memang waktu itu tidak ada tokoh pribumi jang berarti untuk bisa menandingi Rudolf Kerkhoven, protagonis (tokoh utama) Sang Juragan Teh. Di sinilah esensi karja fiksi jang benar2 membedakannja dengan tulisan non-fiksi sedjarah. Sebagai pengarang fiksi Hella Haasse djelas lebih bebas bahkan bebas sepenuhnja dalam mentjiptakan tokoh sendiri di luar jang sudah benar2 ada, kalau dia memang memperhatikan aspirasi kemerdekaan orang Indonesia. Sastrawan Djerman Friedrich Schiller (1759-1805) misalnja dalam drama Don Karlos, Infant von Spanien mentjiptakan tokoh fiktif Rodrigo Marquis Posa sebagai wakil hasrat kemerdekaan Vlaanderen di hadapan intrik2 istana Radja Felipe II jang bertahta di Spanjol antara 1556 dan 1558. Walaupun achirnja Rodrigo Posa tewas terbunuh, tapi Schiller tidak pernah ditjap telah memalsukan sedjarah. Sebagai penulis fiksi dia hanja menjesuaikan alur dramanja supaja tidak terlalu melentjeng dari kenjataan sedjarah bahwa Vlaanderen atau persisnja Belanda achirnja benar2 merdeka dari pendjadjahan Spanjol.

Di Indonesia penggemar Hella Haasse djuga ada. Di antara mereka terdapat beberapa orang Sunda jang merasa senang karena seorang penulis Belanda telah mengangkat bumi Pasundan ke dalam novelnja. Bahkan mereka bangga membatja Sang Djuragan Teh jang dengan tjukup rintji telah menguraikan keindahan alam Pasundan. Demikian pula beberapa kata Sunda sempat terselip masuk ke dalamnja. Tapi bukankah kebanggaan seperti ini sulit dimengerti, terutama karena orang Sunda tidak ditampilkan sebagai tokoh jang menentukan djalan tjerita?

De heren van de thee dan Sang Juragan Teh

De heren van de thee dan Sang Juragan Teh

Alam Pasundan nan permai itu sudah berpenghuni, begitu pula bahasa Sunda jang merupakan sumber bertutur kata orang Sunda. Pantaskah menganggap orang Sunda tidak ada, tidak berperan dalam menentukan alam dan bahasa mereka? Sulit dibantah Haasse hanja mentjari keuntungan dari bumi Pasundan dan bahasa Sunda, ia djelas tak begitu perduli dengan orang Sunda. Kalau ia benar2 tjinta Pasundan maka bukan sadja keindahan alam dan bahasanja jang digambarkan setjara sastrawi, tapi djuga orang Sunda harus diangkat sebagai protagonis novelnja, paling sedikit tokoh jang ikut menentukan djalan tjerita dan bukan tjuma figuran belaka.

Sebagai penutup berikut sekelumit pengalaman pribadiku dengan Hella Haasse, karena terus terang awak ini pernah sedikit berurusan dengannja. Pada sebuah atjara penandatanganan buku di sekitar pentas Uitmarkt, di Museumplein, Amsterdam, tanggal 29 agustus 1993, aku bertemu Hella Haasse. Dia bertanja, apakah diriku mau jang ini (dia menundjuk De heren van de thee) atau jang ini (dia menundjuk Parang Sawat kumpulan esai terbarunja, waktu itu).

Parang Sawat dan tanda tangan Hella Hasse

Parang Sawat dan tanda tangan Hella Hasse

Kutegaskan ingin Parang Sawat. Sang grande dame bertanja kenapa bukan ini (dia menundjuk De heren van de thee). Kudjawab, “Ah itu bukan buku untukku mevrouw. Aku ini tjuma keturunan het volk van de thee (rakjat atau buruh teh), bukan djuragan teh”. “Ah ja sudah,” kata mevrouw Haasse sedikit keras (sepertinja disertai rasa kesal). Maka Hella Haasse langsung menandatangani Parang Sawat, tanpa bertanja untuk siapa. Padahal kepada orang lain jang sore itu antri tanda tangannja, dia selalu bertanja, “Ini untuk siapa?” Lalu jang bersangkutan menjebut atau menulis namanja.

Mungkin karena aku njeletuk bukan keturunan djuragan teh, mevrouw Haasse tidak ingin tahu lagi siapa namaku. Alhasil pada bukunja jang kubeli itu tak tertera namaku, hanja ada tandatangannja. Ja sudahlah, tak apa2. Jang penting pesanku sudah didengarnja.

“Lamat2 gamelan Bali dalam musik klasik barat” Oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain dan dalem edjaan orde bau nongolnja di Bali Post edisi 20 desember 2015, di sekudjur halaman 4.

BULAN NOVEMBER 2015, het Muziektheater jaitu gedung opera Amsterdam, ibukota Belanda, mementaskan dua opera karja komponis Prantjis Francis Poulenc (1899-1963). Opera pertama berdjudul Dialogues des Carmélites (Tjeloteh biarawati Karmelites) sedangkan opera kedua, lebih pendek dan surealistis, berdjudul Les mamelles de Tirésias artinja pajudara Tirésias.

Salah satu adegan »Dialogues des Carmélites«

Salah satu adegan »Dialogues des Carmélites«

Sepintas bagi kita orang Indonesia tak ada jang istimewa pada kedua pertundjukan. Apa sich istimewanja sebuah pertundjukan opera di ibukota negeri bekas pendjadjah? Bukankah itu kegiatan rutin belaka? Keistimewaan baru terdengar kalau kita mengamati kedua opera dengan seksama. Terutama bagi masjarakat Bali musik Poulenc punja arti sendiri.

Le Marquis de la Force (duduk) akan bertjerita tentang pemberontakan rakjat

Le Marquis de la Force (duduk) akan bertjerita tentang pemberontakan rakjat

Dua setengah menit setelah dimulai, orkestra jang mengiringi Dialogues des Carmélites memperdengarkan musik gamelan Bali. Pada bagian awal opera jang berlatar belakang Revolusi Prantjis ini, bangsawan Le Marquis de la Force, salah satu tokohnja, bertjerita tentang pemberontakan rakjat jang sempat dialaminja. Massa mengamuk dan wadjah2 berkerut menahan takut, begitu tuturnja dalam bentuk njanjian. Francis Poulenc menggubah musik jang djelas sekali bernafaskan gamelan Bali untuk menggambarkan kerunjaman revolusi.

Thema Bali djuga muntjul pada bagian achir prolog, musik pembuka Les mamelles de Tirésias, opera kedua Poulenc. Berbeda dengan opera pertama, musik pembuka Les mamelles lebih tenang dan warna gamelan Bali jang terdengar pada menit keenam dimainkan oleh beberapa instrumen tiup dan piano.

Bagaimana seorang komponis Prantjis seperti Francis Poulenc bisa terpengaruh gamelan Bali?

Lenggak2 Bali untuk Mozart

Pada tahun 1931 Poulenc hadir pada l’Exposition coloniale internationale (pameran kolonial internasional) jang selama enam bulan (mei sampai november 1931) digelar di Paris. Di sini sang komponis berkenalan dengan gamelan Gong Gebyar jang didatangkan dari desa Peliatan di Bali selatan. Inilah untuk pertama kalinja gamelan Bali tampil di pentas internasional. Waktu itu salah seorang tokoh masjarakat Peliatan adalah Tjokorda Gde Raka Soekawati jang djuga anggota Volksraad (DPR zaman kolonial jang anggotanja tidak dipilih, tapi ditundjuk). Dia dibantu oleh seniman Djerman Walter Spies jang sudah menetap di pulau dewata dalam memilih penabuh gamelan dan penari jang dikirim ke Paris.

Pintu gerbang paviljun Belanda

Pintu gerbang paviljun Belanda

Tahun 1931 itu Indonesia masih belum lahir, maka di Paris rombongan Bali menginduk pada paviljun Belanda jang dalam bahasa Prantjis disebut Pavillon de Pays-Bas (foto 68 sampai 74) dan pada peta tertera Indes Néerlandaises (Hindia Belanda). Mengkombinasikan unsur2 bangunan Kalimantan dan Minangkabau, gapura masuk paviljun ini bergaja Bali. Ini merupakan karja arsitek Surabaja W. J. G. Zweedijk, bekerdjasama dengan arsitek P.A.J. Moojen, penanggung djawab kehadiran Belanda di Paris. Sedjarawati Belanda Marieke Bloembergen (dalam bukunja De koloniale vertoning alias pameran kolonial) mentjatat bahwa paviljun Belanda termasuk disukai oleh 33 djuta pengundjung jang membandjiri pameran selama enam bulan ini. Tentu sadja ini djuga berkat gamelan Gong Gebyar dan penari Legong sebanjak 50 orang jang didatangkan langsung dari Bali. Sebelum itu, penampilan Hindia Belanda dalam pameran lain di Paris djuga sudah dibandjiri pengundjung.

Taris Legong di Paris, 1931

Taris Legong di Paris, 1931

Francis Poulenc Francis Poulenc [1899-1963]

Francis Poulenc [1899-1963]

Pada 1889, ketika digelar L’Exposition universelle (pameran semesta) dalam rangka seabad revolusi Prantjis, pengundjung sangat menjukai Village javanais (Desa Djawa), nama paviljun Belanda. Salah satunja adalah komponis Claude Debussy (1862-1918); dia sangat terpesona pada gamelan Sunda Sari Onéng jang pentas di situ. 42 tahun kemudian, pada 1931 itu, giliran Poulenc jang ter-mehek2 oleh gamelan Bali. Dalam rekaman piringan hitam jang dibuat pada waktu itu, tertera tiga nomor gamelan Bali, nomor kedua adalah ketjak. Karena ketiganja, paling sedikit terdapat empat karja Poulenc jang terpengaruh Bali. Selain dua opera di atas, masih ada karja orkestra berdjudul l’Histoire de Babar (pada 17:25) dan jang paling utama adalah konser untuk dua piano dalam d-minor, tjiptaan tahun 1932.

Konser tiga bagian ini diawali dengan dua hentakan pembuka jang langsung diikuti hembusan nafas Bali, dan berlandjut dengan kelintjahan à la Mozart (komponis abad 18 asal Austria) jang djenaka. Terkadang muntjul musik Afrika. Melankolis Mozart djuga kentara pada bagian kedua jang lambat, Larghetto. Tapi warna Afrika, jazz dan Bali kembali terdengar di bagian ketiga. Tentu sadja nafas utamanja tetap Mozart, karena memang pada konser dua piano ini Poulenc mendadani Mozart dengan lenggak lenggok Bali.

Colin McPhee [1900-1964]

Colin McPhee [1900-1964]

Exposition coloniale internationale djuga dihadiri oleh Colin McPhee (1900-1964), komponis Kanada jang sebelumnja, di Amerika, sudah mendengar rekaman gamelan Bali. Djatuh tjinta pada gamelan Gong Gebyar jang ditemuinja di Paris, McPhee bergegas ke Bali. Ia ingin mendengar gamelan Bali di tempat asalnja, dan mempeladjari serta merekam sebanjak mungkin. Dua kali pulang kampung, McPhee praktis menghabiskan dekade 1930an di pulau dewata.

Pada 1936, ketika kembali sebentar ke Amerika dan Meksiko, McPhee mentjipta karjanja jang paling terkenal Tabuh-Tabuhan, toccata untuk orkestra dan dua piano. Gubahan ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama Ostinato – Animato, bagian kedua Nocturne – Tranquilo dan bagian ketiga, Finale – Quieto e misterioso.

Djelas ini struktur komposisi barat, bukan gamelan Bali. Dan memang walaupun terdengar sebagai gubahan Bali, Tabuh-tabuhan tidak dimainkan oleh satupun instrumen Bali, hanja instrumen barat jang berperan, sepenuhnja. Struktur gamelan Bali hampir tidak ada pada karja ini, jang terdengar adalah warna suara atau tangga nada, larasnja. Beberapa karja McPhee jang ditulis sesudah itu, seperti Nocturne (musik malam) atau Simfoni Nomer Duwa dan Gabor Gong, tetap sadja bernafaskan Bali. Ini berbeda sekali dengan karja2 McPhee sebelum ia mengenal Bali. Dua karja berikut, masing2 konser untuk dua piano dan oktet tiup terbit tahun 1928 serta Shilhouette untuk piano tunggal jang terbit tahun 1916, sangat bernafaskan Barat, jang satu romantis dan jang lain modern.

Benjamin Britten [1913-1976]

Benjamin Britten [1913-1976]

Menetap di New York selama Perang Dunia II, McPhee berkenalan dengan Benjamin Britten (1913-1976), komponis Inggris jang mengungsi ke Amerika. Sebagai penganut pasifisme jang anti perang, Britten menolak mobilisasi dan wadjib militer, karena itu dia terpaksa hengkang ke negara Paman Sam.

Gamelan Bali melajat kematian di Venezia

McPhee segera memperkenalkan gamelan Bali kepada Britten. Maka berdjangkitlah “virus” Bali pada komponis Inggris ini jang sebenarnja sudah men-tjari2 alam suara dan tangga nada jang lain, seolah djenuh dengan tangga nada musik barat. Mereka berdua djuga sempat merekam transkripsi piano gamelan Bali, hasil garapan McPhee (Ini rekaman baru oleh duwa pianis lain).

Britten (di atas rumput) dan McPhee di Amerika

Britten (di atas rumput) dan McPhee di Amerika

Britten berbintjang dengan Poulenc 1956

Britten berbintjang dengan Poulenc 1956

Seusai perang Britten bertemu Poulenc di Paris dan pada 16 Djanuari 1955, keduanja tampil sebagai solis pada pementasan konser untuk dua piano dalam d-minor karja Poulenc di London. Setahun kemudian, pada Djanuari 1956, Benjamin Britten dan Peter Pears, penjanji tenor pasangan hidupnja, melawat ke Bali selama beberapa minggu. Rupanja, seperti McPhee, Britten djuga ingin melihat, merasakan dan mendengar sendiri Bali.

Paling sedikit ada tiga karja Britten jang terpengaruh gamelan Bali. Pertama musik balet Prince of the Pagodas, kemudian opera Owen Wingrave dan opera terahir Britten Death in Venice atau “Kematian di Venezia”.

Benjami Britten (kanan) dan Peter Pears (kiri) di Bali Djanuari 1956

Benjami Britten (kanan) dan Peter Pears (kiri) di Bali Djanuari 1956

Belakangan pelbagai gedung opera Eropa makin sering mementaskan Death in Venice, apalagi pada tahun 2013, untuk mengenang 100 tahun Britten. Opera ini didasarkan pada novella Thomas Mann Der Tod in Venedig, terbitan 1911. Britten bekerdja sama dengan Myfanwy Piper sebagai penulis libretto atau sjair opera.

Opera jang dipentaskan untuk pertama kali tahun 1973 ini sebenarnja bersifat perenungan perdjalanan hidup Gustav von Aschenbach, tokoh utamanja. Dia adalah seorang pengarang terkenal, beberapa novelnja sukses besar, tapi ternjata tidak bisa lagi menggoreskan satu katapun pada tjatatannja. Ia mengalami writer’s block, sematjam sindrom tak bisa menulis. Baru ketika bertemu pemuda Polandia jang bernama Tadzio (peran tari, bukan njanji) di Venezia, Von Aschenbach sadar akan keindahan maka inspirasi kembali mengalir ke dalam kalbunja.

Pada saat itu Von Aschenbach merasa kaget. Ia (pernah) punja istri (sudah meninggal) bahkan punja anak perempuan. Kenapa ia kemudian tertarik pada seorang (anak) laki2? Djati diri atau tepatnja sexualitas jang berubah ini digambarkan dengan bagus oleh Britten. Musiknja tiba2 berubah mendjadi gamelan Bali.

Death in Venice tak pelak lagi merupakan pengakuan Britten dan Pears kepada dunia luar bahwa selama 30 tahun mereka telah hidup bersama sebagai pasangan. Lebih persis lagi, melalui opera terachirnja ini Britten membuka diri bahwa dia adalah seorang komponis pria jang tertarik pada sesama djenis. Dan memang penjanji tenor pertama jang tampil sebagai Gustav von Aschenbach ketika opera ini dipentaskan untuk pertama kalinja adalah pasangan Britten sendiri, Peter Pears.

Gamelan Bali masih terdengar pada satu adegan lagi, ketika berlangsung apa jang disebut The Games of Apollo (mulai 7:00). Di sini tampil Apollo, dewa musik Junani purba, menjanji di sekeliling pemuda2 teman Tadzio jang sibuk bermain bola di pantai Venezia. Njanjian Apollo (bersuara countertenor jaitu suara pria falsetto) sangat mempesona, terutama karena melodinja pentatonis Bali. Gamelan Bali, berbeda dengan gamelan Djawa, tidak terlalu mengenal njanjian. Tapi dalam Death in Venice, gamelan Bali malah digunakan bukan sadja dalam njanjian tunggal, tapi djuga sebagai njanjian paduan suara.

Apollo di tengah

Apollo di tengah

Britten tidak luput dari kritik. Langkah beraninja menggunakan melodi gamelan Bali disebut sebagai eksotisme. Ia dituding menggunakan gamelan sebagai sesuatu jang djatuh dari langit. Gamelan jang tidak ada pada kosanadanja, tiba2 terdengar. Lebih parah lagi dia ditjap tidak berupaja terlebih dahulu memahami gamelan Bali.

Sebenarnja kalau kita dengar dengan seksama, maka dalam Peter Grimes, opera pertama Britten, sudah bisa didengar gamelan Bali, walaupun memang lamat2 belaka. Di bagian achir opera, ketika Peter Grimes diburu warga desa karena anak asuhnja ditemukan tewas, djuga lamat2 terdengar gamelan Bali. Djadi gamelan Bali sudah lama ada dalam karja2 Britten. Baru pada Death in Venice, opera terachirnja, gamelan Bali terdengar dengan djelasnja.

Maka Francis Poulenc, Colin McPhee dan Benjamin Britten adalah komponis2 barat utama jang terpengaruh gamelan Bali. Mereka menggunakan kosanada Bali dalam pelbagai karja mereka. Lebih penting lagi, Bali mereka pakai untuk menerobos tradisi romantisme jang sepandjang abad 19 begitu dominan di barat. Jang mungkin lebih menarik lagi, sebenarnja ketiga komponis itu adalah pria2 jang setjara erotis tertarik djuga pada sesama pria. Tapi djelas dibutuhkan kesempatan lain untuk membahasnja.

Njaris seabad pengaruh gamelan Bali

Selain ketiganja, masih ada beberapa nama jang tidak terlalu dikenal, seperti Theo Smit Sibinga (1899-1958) Paul Seelig (1876-1945), Walter Niemann (1876-1953) serta Alexandre Tansman (1897-1986). Belakangan orang djuga menjebut nama Walter Spies (1895-1942). Gamelan Bali ternjata djuga mengilhami mereka dalam berkarja. Tapi berlainan dengan tiga perintis di atas, pelbagai komponis ini masih berkutat pada tradisi romantik. Gamelan Bali tidak mereka gunakan untuk mendobrak aliran itu. Mungkin karena itulah, berbeda dengan tiga komponis di atas, karja mereka tidak banjak dimainkan lagi.

Di abad 21 ini Bali tetap menarik banjak komponis, bukan sadja komponis internasional tapi djuga komponis Indonesia sendiri. Jaya Suprana, Ananda Sukarlan (Rapsodi Nusantara nomer 10, dengan disonan jang memukau) dan Krisantini Markam adalah tjontoh para komponis jang terilhami oleh gamelan Bali. Gitaris I Wayan Balawan bisa disebut sebagai wakil blantika musik pop jang bahkan menggunakan instrumen gamelan Bali dalam lagu2 tjiptaannja.

artikel ini wektu nongol di Bali Post

artikel ini wektu nongol di Bali Post

Di luar negeri ada Sinta Wullur, seorang komponis Belanda keturunan Indonesia jang antara menggubah Bali in blue. Lalu komponis Amerika Wayne Vitale jang menggubah Jagul transkripsi untuk dua piano. Kemudian Gareth Farr, komponis Selandia Baru jang menggubah Jangan lupa untuk piano solo dalam rangka mengenang pemboman Bali 2002. Dan masih ada komponis Hongaria jang terkenal György Ligeti. Dia menggubah Galamb Barong, sebuah karja komplex walaupun hanja untuk piano tunggal.

Selama sekitar 85 tahun gamelan Bali terus menginspirasi komponis manapun. Esai ini hanja melatjak asal usul pengaruh gamelan Bali pada musik klasik barat. Zaman sekarang pasti lebih banjak lagi komponis jang terilhami gamelan Bali, di manapun dia berada. Apa lagi memperhatikan betapa gamelan Bali sekarang sudah mendunia, tersebar di mana2.

“In memoriam Benedict Richard O’Gorman Anderson: polyglot tulen pakar Asia Tenggara” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD (jang enggak didemenin Oom Ben) silahken ngeklik ini.

Aku kenal pribadi Ben Anderson, dikenalkan oleh Sidney Jones, wektu melawat ke Freeville tahun 1991. Dengannja aku biasa ngobrol tentang banjak hal: bahasa, politik, tentara, masak memasak (dia ternjata suka sajur kale bahasa Inggris atau boerenkool bahasa Belanda masak teri dan lombok, buwatanku) dan terutama musik klasik. Ben Anderson paling suka salah satu karja terachir Richard Strauss berdjudul Vier Letzte Lieder (empat lagu terachir) dibawakan oleh mendiang soprano Suisse Lisa della Casa, tapi paling bentji Beethoven. Berikut kenanganku tentang sobat jang satu ini.

Benedict Anderson waktu diwawantjarai televisi Belanda VPRO, april 1994

Benedict Anderson waktu diwawantjarai televisi Belanda VPRO, april 1994

Benedict Richard O’Gorman Anderson (1936-2015) kita kenal sebagai seorang Indonesianis, pakar Indonesia pertama jang —dalam apa jang disebut Cornell Paper— mempertanjakan versinja harto orde bau terhadap peristiwa G30S. Karena itu Ben sempat seperempat abad lebih ditjekal oleh rezim tangan besi ini, ia tidak boleh lagi masuk ke negeri jang ditjintainja. Lantaran, atau lebih tepat lagi berkat pentjekalan itu, Ben Anderson melebarkan sajap, dia beralih menekuni Thailand dan Filipina. Kepakarannja atas tiga negara Asia Tenggara ini terbukti dengan bukunja jang terbit tahun 1998, berdjudul The Spectre of Comparisons.

Dalam buku ini Ben membentangkan bukan sadja keahlian tapi terutama djuga kedjeliannja atas tiga negara Asia Tenggara, masing2 Indonesia, Thailand, dan Filipina. Bab2 dalam buku itu menguraikan hal2 jang belum pernah dipikirkan dengan matang oleh pakar Indonesia (tentang berachirnja pendudukan orde bau atas Timor Leste), pakar Filipina (tentang apa jang disebutnja cacique demoracy jang merupakan warisan kolonialisme Spanjol) dan pakar Thailand (tentang lemahnja bordjuasi negeri itu walaupun Thailand tidak pernah mengalami pendjadjahan).

Tidak ketinggalan dalam buku itu Ben Anderson tentunja djuga berkisah tentang nasionalisme, topik lain jang begitu digandrunginja. Dan memang dia mendjadi terkenal di seluruh dunia karena kadjian nasionalisme jang sangat berpengaruh. Bukunja Imagined Communities sudah diterdjemahkan ke dalam pelbagai bahasa, terachir pemimpin Kurdi Abdullah Öçalan konon sangat tertarik pada buku ini.

Kemudian Ben Anderson setjara chusus djuga menulis buku tentang tiga negara jang dipeladjarinja itu. Tentang Indonesia, kita tahu dia menulis Revoloesi Pemuda, buku pertamanja jang terbit pada tahun 1972 (terdjemahan Indonesia terbit 1988). Tentang Thailand dia menulis The Fate of Rural Hell (2012) dan tentang Filipina Anderson menulis Under Three Flags (terbitan 2005) jang tahun ini terbit terdjemahan bahasa Indonesianja berdjudul Di Bawah Tiga Bendera. Termasuk salah seorang jang men-desak2 Ben Anderson supaja menerbitkan buku itu, aku punja tjerita chusus jang mudah2an menarik untuk diungkapkan. Tetapi sebelum itu ada satu hal jang menurutku merupakan dasar penting bagi Ben Anderson untuk bisa benar2 mendjadi pakar Indonesia, Thailand dan Filipina setjara bersamaan. Apalagi karena di mana2 tak ada satupun ilmuwan jang bisa memiliki kepakaran dobel2 seperti itu.

Ben Anderson dengan handai tolan di Amerika

Ben Anderson dengan handai tolan di Amerika

Menurutku dasar kepakaran Ben Anderson jang tak tertandingi oleh siapapun ini adalah kefasihannja berbahasa Indonesia, Thai dan Tagalog. Dalam hal ini Ben memang seorang polyglot tulen, apalagi kalau mengingat bahwa selain tiga bahasa itu dia djuga masih fasih berbahasa Inggris (bahasa ibu), bahasa Belanda, bahasa Djerman, bahasa Prantjis dan terachir jang dipeladjarinja sendiri, bahasa Spanjol. Dia djuga mengaku pernah beladjar bahasa Rusia. Di Bangkok, kalau keluar makan berdua (atau bertiga tapi jang Asia tjuma aku), maka pelajan restoran selalu langsung mendekatiku, tanja mau pesan apa. Itu lantaran mereka menganggap di antara bule jang ada akulah jang bisa berbahasa Thai. Pada saat itu Ben akan njeletuk dalam bahasa Thai jang lutju bahwa pelajan rumah makan harus datang ke dia, karena aku jang didekati oleh sang pelajan, begitu katanja dalam bahasa Thai, adalah Thai gadungan. Tentu sadja si pelajan ter-pingkal2. Dari sini aku paham betapa fasih Ben berbahasa Thai.

Satu ketika aku pernah bertemu dengannja di Bangkok (kami tidak pernah bertemu di Indonesia) ketika dia baru tiba dari Manila. Pada saat itu dia berkata dirinja harus hati2 berbitjara bahasa Indonesia, karena banjak miripnja dengan bahasa Tagalog. Setelah beberapa saat di Manila tentu sadja dia lebih terbiasa dengan bahasa Tagalog. Tapi hanja sekali dia salah omong, dan segera dikoreksinja sendiri dengan berudjar “wrong language”, salah bahasa. Sedjak itu tak sekalipun dia salah dalam berbahasa Indonesia denganku.

Kami paling sedikit menggunakan tiga bahasa, selain bahasa2 Inggris dan Indonesia, dia selalu minta disegarkan bahasa Belandanja. Nah, kefasihan Ben akan bahasa2 Thai, Indonesia dan Tagalog itu merupakan dasar jang kokoh baginja untuk menekuni tiga negara itu lebih landjut. Dan selalu dalam penekunannja Ben Anderson menemukan topik2 baru jang belum pernah ditekuni oleh ilmuwan2 setempat.

Jang istimewa adalah bahasa Spanjol, ini tampaknja merupakan salah satu bahasa terachir jang ditekuninja. Istimewa karena dia beladjar sendiri, tanpa guru resmi dan kalaupun guru itu ada, maka itu tjuman teman bitjara, kebanjakan para penutur asli Spanjol, dari Eropa maupun Amerika Latin. Ben mengaku beladjar bahasa Spanjol untuk membatja dua novel karja José Rizal (1861-1896), jaitu Noli Me Tangere dan El Filibusterismo. Maklum Rizal menulis kedua novelnja dalam bahasa pendjadjah awal Filipina, jaitu Spanjol. Jang lebih penting lagi Ben tidak puas dengan terdjemahan bahasa Inggris kedua karja bapak bangsa Filipina itu.

Beberapa kali Ben mengirim artikel2nja tentang Filipina kepadaku sebelum artikel itu terbit di manapun. Aku hanja bisa membatjainja dan bertanja sana sini, bukan berkomentar karena apalah jang kuketahui tentang negara tetangga sebelah utara ini. Tapi diriku memberanikan diri untuk menulis kepadanja bahwa artikel2nja tentang Filipina itu lajak dihimpun djadi buku. Tentu sadja harus dipikirkan satu kerangka teori tertentu jang bisa merupakan pajung untuk mentjakupkan beberapa artikel itu dalam satu buku.

Sampul depan "Under Three Flags" terbitan 2005

Sampul depan “Under Three Flags” terbitan 2005

Aku memahami pokok pembahasan Ben Anderson dalam masalah Filipina itu sebagai bagaimana orang terdjadjah di Asia Tenggara beladjar teori kiri anti kolonialisme di negeri induk Eropa. Kalau mulai abad 16 orang Eropa sudah berdatangan ke Asia Tenggara (ketjuwali Thailand) untuk mendjadjahnja, maka pada abad 19 djustru sebaliknjalah jang terdjadi: orang Asia Tenggara (dalam hal ini Rizal) berangkat ke Eropa untuk beladjar teori2 anti kolonialisme jang kebanjakan adalah teori2 kiri, baik itu marxisme, anarchisme maupun lainnja. Tapi di sini ada perketjualian jang menarik, karena ternjata ada orang kiri Eropa jang ke Asia Tenggara pada abad 19 itu. Tokoh itu tidak lain adalah penjair Prantjis Arthur Rimbaud (1854-1891) jang sempat mendjadi penghuni komune Paris jang terkenal itu. Sebagai pradjurit bajaran jang harus menaklukkan Atjeh, Rimbaud pernah mendjalani latihan militer di Salatiga hanja untuk achirnja melakukan desersi.

Di sinilah terdjadi adu pendapat jang tjukup seru antara diriku dengan Ben Anderson. Pertama karena dia tidak pertjaja Rimbaud pernah ke Hindia Belanda. Djadi aku harus terlebih dahulu membuktikan kepadanja bahwa memang ada tulisan tentang Rimbaud ke Salatiga. Waktu itu aku tak punja tulisan apapun tentang ini, perlawatan Rimbaud ke Djawa aku ketahui dari sebuah siaran Radio Nederland seksi bahasa Prantjis. Dokumenter radio itu dengan teliti bertutur bagaimana Rimbaud sampai mau djadi pradjurit bajaran ke Hindia Belanda dan melakukan perdjalanan ke Batavia terus ke Semarang sampai achirnja ke Salatiga. Waktu itu hampir sadja aku merasa harus merekam dalam kaset siaran itu untuk dikirim kepada Ben Anderson, kalau seorang teman Belanda tidak menundjukkan biografi Arthur Rimbaud dalam bahasa Inggris, karja Graham Robb. Untung di situ ada satu bab chusus jang membahas perlawatan Rimbaud ke Salatiga. Segera bab itu kufotokopi dan kukirim melalui fax kepada Ben jang waktu itu ada di Bangkok.

Sedjak itu pembitjaraan kami tentang rentjana bukunja makin asjik. Jang djelas kalau Revoloesi Pemoeda ditudjukan kepada pembatja Indonesia, maka Di Bawah Tiga Bendera ditulis chusus untuk pembatja Filipina. Dan bisa dibilang Di Bawah Tiga Bendera itu dimulai dari artikel2 Ben Anderson tentang Filipina dan Rizal jang sudah ada, bukan dari gagasan besar awal, seperti Imagined Communities, buku klasiknja jang sampai sekarang, 30 tahun lebih sesudah terbit, masih tetap dibatja orang terus. Maka sempurnalah kepakaran Ben Anderson, paling sedikit tiga buku sudah ditulisnja untuk chalajak pembatja Indonesia, Filipina dan Thailand.

Sajang perlawatan Arthur Rimbaud ke Salatiga tidak begitu tjotjok dengan kerangka umum Di Bawah Tiga Bendera. Karena itu artikel tentang perbandingan kolonialisme Prantjis dan Spanjol tidak bisa diikutkan. Tapi Ben menjediakan satu tjatatan kaki tentangnja dan di situ dengan murah hati dia berterima kasih padaku. Dan aku boleh berbangga ketika mendapati bahwa di antara puluhan nama pada utjapan terima kasih di halaman depan, hanja punjaku jang satu2nja nama Indonesia. Terima kasih jang abadi karena tertera di dalam buku, apalagi karena Ben sekarang sudah menghadap sang chalik.

Terima kasih Ben Anderson, aku benar2 telah menerima kasihmu. Djuga terima kasih atas semuanja, mulai dari perkenalan di Freeville pada musim panas 1991 sampai persahabatan selama hampir seperempat abad ini.

“Enaknja jang mana: pilkada atau pemilukada?” oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain dan dalem EYD alias edjaan orde bau bisa dibatja klow mengklik ini

Dulu —tatkala DPR meloloskan UU pemilihan kepala daerah tak langsung— orang sudah memperbintjangkannja. Sekarang —mendjelang serempak berlangsungnja pemilihan kepala daerah— lagi2 perbintjangan itu kembali terdengar. Dulu itu orang tidak hanja membahas apakah pemilihan kepala daerah sebaiknja dilakukan langsung oleh warga daerah atau pemilihan tidak langsung jang, atas nama rakjat daerah, didjalankan oleh dewan perwakilan rakjat daerah tertentu. Sekarang orang tidak hanja membitjarakan pelbagai politisi jang mentjalonkan diri pada pemilihan kepala daerah jang akan digelar serempak pada beberapa daerah. Bersamaan dengan itu baik sekarang maupun dulu djuga tetap dibahas istilah mana jang lebih tepat: pemilihan kepala daerah disingkat “pilkada” atau pemilihan umum kepala daerah disingkat “pemilukada”.

Pemilukada jang hanja terdjadi di Madjalengka

Pemilukada jang hanja terdjadi di Madjalengka

Pendukung istilah pemilukada berargumen: karena rakjat langsung memilih kepala daerah mereka maka istilah itulah jang harus digunakan. Pilkada dianggap menjesatkan dan kurang tegas, karena masih mungkin pemilihan seperti itu tidak dilakukan langsung oleh rakjat, melainkan oleh dewan perwakilan daerah. Djadi kata “umum” dianggap perlu untuk menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah itu dilakukan langsung oleh warga daerahnja.

Pertama2 perlu ditegaskan di sini kita berurusan dengan pemilihan jang berlangsung di daerah tertentu, bukan di seantero negeri. Maka segera terlihat makna kata “umum” jang sebenarnja. Umum berarti siapa sadja, karena itu berlangsung di seluruh negeri. Pemilihan umum berarti pemilihan jang berlangsung di seantero negeri, dan djelas tidak hanja di daerah tertentu.

Kalau digunakan istilah pemilukada, kepandjangan pemilihan umum kepala daerah, maka kita akan terdjebak dalam apa jang disebut contradictio in terminis jaitu gabungan beberapa kata jang maknanja saling bertentangan satu sama lain. Di satu pihak pemilihan umum menundjuk pada pemilihan jang berlangsung di seantero negeri, tetapi di lain pihak pemilukada merudjuk pada pemilihan jang hanja berlangsung di daerah tertentu. Dengan kata lain pilihan kata “umum” tidak tepat kalau digunakan untuk menundjuk pada pemilihan langsung kepala daerah. Kalau pilkada dimaksudkan sebagai pemilihan langsung kepala daerah, maka paling tepat menggunakan istilah pilkada langsung, bukan pemilukada.

pemilukada tak djelas di mana

pemilukada tak djelas di mana

Pemilukada sedjatinja sederadjat dengan istilah “lingkaran segi empat” jang djelas tidak mungkin karena memang tidak masuk akal. Lingkaran pasti bundar, tidak mungkin ada lingkaran segi empat. Maka dari itu, bagaimana mungkin kita bisa bitjara tentang pemilihan jang umum kalau ternjata hanja diikuti oleh pemilih daerah tertentu? Keterlibatan rakjat pemilih sebaiknja dipertegas dengan kata “langsung” itu dan bukan dengan kata “umum”, karena “umum” djustru mengkaburkan lokasi pemilihan. Sekali lagi, pemilihan jang bersifat umum adalah pemilihan jang berlangsung di seluruh negeri. Selain itu, kalau ingin memberi ketegasan pada istilah tertentu (dalam hal ini pilkada), bukankah sebaiknja tidak menimbulkan kekaburan lain?

Bahasa Inggris mengenal istilah general elections (pemilihan umum) sebagai lawan local elections (pemilihan daerah). Begitu djuga bahasa Belanda jang mengenal istilah algemene verkiezingen versus locale verkiezingen. Tidak mungkin bahasa Inggris menggunakan general local elections atau bahasa Belanda algemene locale verkiezingen. Itu djelas istilah rantju jang djustru membingungkan, karena tidak djelas lagi mana jang dimaksud: pemilihan daerah atau pemilihan umum.

Pemilu(kada) kok tjuman di Bandjarbaru?

Pemilu(kada) kok tjuman di Bandjarbaru?

Pemilihan jang benar2 bermakna rakjat memilih memang baru ada setelah orde bau tersingkir. Itu terdjadi baik di pusat dengan presiden jang dipilih langsung maupun di daerah dengan pemilihan langsung kepala daerah. Pada kedua pemilihan rakjat berperan aktif, mereka langsung memilih. Untuk membedakan keduanja, muntjul istilah “pilpres” dan “pilkada”. Dan sesuai urut2an sedjarahnja, pilpres langsung baru terdjadi setelah terlebih dahulu berlangsung pilkada. Selain keduanja djuga masih ada pemilihan legislatif jang berarti pemilihan anggota dewan, pusat maupun daerah.

Ketika sempat berketjamuk perdebatan pilkada, apakah langsung jang berarti dilakukan oleh warga daerah atau tidak langsung karena jang memilih kepada daerah adalah dewan perwakilan daerah, maka sebenarnja inti perdebatannja bukan pada istilah pilkada itu sendiri. Perdebatan itu berkisar pada peran rakjat dalam memilih kepala daerahnja: langsung atau tidak. Dalam keadaan seperti ini istilah pilkada sebaiknja tidak diganggu gugat, tapi diberi tambahan sadja agar tidak menimbulkan tafsir lain. Pilkada itu harus tetap langsung, seperti jang sudah2. Kalau toh istilahnja mau diganti, maka djangan sampai membuat istilah baru jang djustru tidak masuk akal karena menjalahi logika. Nalar harus didjaga tetap lurus, djangan di-bengkok2kan lagi, karena itu bisa2 kembali mundur ke zaman orde bau.

“Budaja takut kembali mentjekam Indonesia” oleh koresponden Michel Maas

Ini terdjemahan wasweswos laporan Michel Maas jang pada hari senin 26 oktober 2015, terbit di harian de Volkskrant, halaman 15.

Pembunuhan massal orang2 komunis di Indonesia terdjadi 50 tahun silam. Tapi berbitjara dju2r tentang ‘1965’ te2p tidak mungkin. Lebih2 lagi: sensor sekarang kembali beroperasi sepenuhnja.

Mendadak sontak sensor kembali sepenuhnja hadir di Indonesia. Hanja menjebut tahun 1965 sadja orang sudah bakal kena masalah. “Sepertinja sensor kembali mendjadi mode dari hari ini ke besoknja,” keluh seorang direktur sebuah festival sastra jang begitu kaget lantaran kundjungan polisi.

Artikel de Volkskrant edisi 26 oktober 2015 halaman 15

Artikel de Volkskrant edisi 26 oktober 2015 halaman 15

Pada sebagian atjaranja, festival jang dibuka rebo mendateng ini sedianja djuga akan membahas pembunuhan massal orang komunis pada tahun 1965, tapi atas perintah polisi bagian itu dibatalkan. Di tempat lain sebuah madjalah jang menerbitkan edisi chusus tentang pembersihan 1965 harus menjerahken semua exemplarnja. Dan seorang exil gaek jang ingin menziarahi kuburan massal jang kemungkinan merupakan tempat istirahat terachir ajahnja jang dibunuh tahun 1965, ditangkep dan diusir ke luar negeri. Tentara, polisi, dinas imigrasi dan pemerintah daerah semuanja bekerdjasama dengen eratnja.

Itu mirip zaman gelap kediktatoran harto, demikian penulis Laksmi Pamuntjak. Pada laman Facebooknja, Laksmi memperingatken soal “kembali dimiliterkannja pemerintahan”. Indonesia terperosok “kembali ke dalam budaja takut”. Pamuntjak tidaklah sendirian. Djedjaring sosial berdengung oleh kechawatiran itu. Inikah awal berachirnja reformasi, pembaharuan demokratis?

Pamuntjak baru kembali dari Frankfurt, di sana Indonesia memamerkan bukunja “Amba of de kleur van rood” pada Buchmesse. Djelas ini ironis, karena Amba adalah roman jang sepenuhnja membahas pembunuhan kalangan komunis dan dampaknja. Di luar negeri, Indonesia memamerken sesuatu jang di kandang sendiri ternjata lebih seneng dibungkam sadja.

Lembaran hitam
“1965” adalah lembaran hitam sedjarah Indonesia, tapi jang sesudah itu terdjadi tetap gawat djuga: lima puluh tahun pemutarbalikan sedjarah dan pembungkaman sistematis. Akibatnja djutaan orang kehilangan hak mereka sebagai warga negara mereka dan sedjak ketjil anak2 Indonesia dididik bahwa itu semuwa tidaklah apa2.

Pembunuhan massal itu adalah pemusnahan kalangan komunis jang, berkat dukungan Presiden Sukarno, sebenarnja bakal mendjadi kekuatan terbesar. Sebuah kudeta jang gagal pada tanggal 30 September 1965 memberi carte blanche (kebebasan) kepada tentara untuk turun tangan. Para pelaku kudeta praktis membunuhi semua pimpinan tentara, karena itu, seorang djenderal jang tak berarti, namanja harto, bisa merebut kekuasaan.

Itu dilakukannja setelah menghabisi ratusan ribu orang komunis dan simpatisan mereka. Mereka jang berhasil selamet, anak2 mereka dan bahkan tju4 mereka, mendjadi pariah, sampai sekarang.

Dalam buku peladjaran sedjarah pembunuhan massal itu disebut sebagai keperluan untuk melakuken daripada pembersihan hama. Tiap tahun anak2 sekolah masih tetap dibuat takut dengan film jang mempertontonkan bagaimana monster2 komunis menjiksa dan merusak tubuh para pahlawan. Bahwa kebenaran itu sebenarnya lebih bernuansa sekarang mulai per-lahan2 diketahui orang, tapi terus2an dilawan oleh tentara, polisi dan penguasa daerah.

Tentara mengangkut anggota Pemuda Rakjat (onderbouw PKI) dalam prahoto, oktober 1965. Ratusan ribu dibunuh

Tentara mengangkut anggota Pemuda Rakjat (onderbouw PKI) dalam prahoto, oktober 1965. Ratusan ribu dibunuh

Tak berizin
Pekan ini, festival penulis dan pembatja internasional Ubud sedianja akan mentjurahken perhatian pada prahara ini melalui tiga panel penulis, peluntjuran sebuah buku dan pemutaran film dokumenter The Look of Silence (Senjap) arahan sineas Joshua Oppenheimer. Polisi, tentara dan pemerintah daerah menutut supaja topik ini dibatalkan azha. Kalau itu tidak dilakukan maka festival bergengsi ini tidak akan memperoleh izin sehingga bakalan batal total. Penjelenggara tunduk.

Tahun lalu, film pertama Oppenheimer, The Act of Killing (Djagal) masih sempat dipertundjukkan. Pada kesempatan lain sebenarnja “1965” sudah sempat dibahas, tanpa ada jang ribut2. Janet DeNeefe, direktris festival Ubud, kaget aparat sampai bertjampur tangan. “Sekarang kami berupaja tjari djalan tengah sadja menghadapi randjau darat ini, dan berharap bukan merupaken sesuatu jang permanen.”

Sutradara Oppenheimer melihat tjampur tangan ini sebagai tanda2 kembalinja pemerintahan jang “seperti harto”. “Menjedihkan, saja chawatir ini adalah kembalinja negara bajangan. Mudah2an sadja saja salah.” Oppenheimer sudah menghasilkan dua film dokumenter jang membelalakken mata tentang bandjir darah 1965. Keduanja memperoleh penghargaan dunia dan di Indonesia hanja boleh dipertontonken setjara klandestin. Apa jang disebutnja “negara bajangan” itu merupakan rekajasa tentara dan polisi. Di bawah harto keduanja memerintah dengen tangan besi dan intimidasi, dengen se-mena2 serta menghilangkan banjak orang.

Sepekan sebelum Festival Ubud dilarang membahas pembantaian 65, polisi sudah menjita dan memusnahken semua exemplar Lentera, madjalah universitas di Salatiga. Madjalah ini mengangkat thema 1965. Lentera punja tiras 500 exemplar, tapi djumlah jang begitu ketjil ini dilihat sebagai kemungkinan penjebab infeksi.

Edisi ini adalah upaja berani untuk menggambarkan apa jang bener2 terdjadi. Misalnja didjelaskan bagaimana militer memerintahkan para petani untuk menggali lubang besar, karena siang hari akan datang “kiriman baru”. Djuga bagaimana kiriman itu datang: prahoto penuh manusia jang dipaksa djongkok di hadapan lubang untuk kemudian dibabat habis.

Ajah dibunuh
Salah satu pria jang dibunuh seperti itu adalah ajah Tom Iljas. Tahun 1965 Iljas tugas beladjar di luar negeri, dan setelah kudeta dia tidak boleh kembali. Sedjak itu dia menetap di Swedia. Sekarang, dalam usia 77 tahun, dia berharap bisa sekali lagi pulang ke Salida, desa kelahirannja di Sumatra.

Pada tanggal 11 Oktober itu dia berziarah ke makam ibunja dan sesudah itu berupaja mentjari kuburan massal jang diduga merupaken tempat peristirahatan terachir ajahnja, Ilyas Raja Bungsu. Tapi upajanja ini tidak disukai. Dia dilaporkan oleh kepala desa, ditangkap dan dibawa ke kantor tentara, tempat dia lama diintrogasi oleh polisi, tentara dan petugas dinas imigrasi. Empat hari kemudian Iljas digiring masuk pesawat terbang dan namanja dipasang dalam datar hitam: dia tak boleh lagi masuk Indonesia.

Sebelum itu Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan akan minta maaf kepada korban pembersihan tahun 1965, serta anak2 mereka. Tak lama kemudian djandji ini ditjabut.

Novelis Laksmi Pamuntjak takut bahwa para pembela sensor mungkin telah mendesakkan aksi2 seperti ini. Kalau tak ada jang berbuwat sesuwatu, maka menurutnja Indonesia terantjem balik ke zaman militer jang akan “meneruskan apa jang pernah mereka kerdjakan pada zaman harto, serta budaja tak kena hukuman (kemlondonja straffeloosheid, keminggrisnja impunity, penerdjemah) akan tetep bisa dipertahanken jang memang sudah begitu mengakar di dalem masjarakat”.