“‘Tjino’ di Indonesia” oleh Benedict Anderson

Pengantar: berikut ini tjuplikan ‘tjerita’ Ben Anderson seperti dikisahkannja sendiri pada tanggal 27 desember 1995 di Ithaca (kemudian tersebar melalui internet lewat surel apakabar). Itu wektu orde bau mingsih tegak berkuwasa, sehingga Oom Ben mingsih dilarang masuk ke negeri jang sanget dia tjintrongin, dalem ini tulisan disebut sebagai Tanah Air. Membandingken pulitik pendjadjah Spanjol di Filipina dan pendjadjah Londo di Indonesia maka Oom Ben dengen djelas, djitu dan tjiamiknja menundjukken pigimanah perbedaan kedudukan keturunan Tionghwa di keduwa negeri Asia Tenggara ini. Bisa dibilang ini tulisan merupakan langkah awal Oom Ben jang waktu itu mulai mempeladjarin dan mengadaken penelitian di Filipina, … Lanjutkan membaca “‘Tjino’ di Indonesia” oleh Benedict Anderson

“Bagaimana para djenderal gugur” oleh Benedict R. O’G. Anderson

Diterdjemahkan dari versi asli (bahasa Inggris), ke dalam edjaan Suwandi, edjaan jang paling disukai oleh Oom Ben, penulis analisa ini. Kedjutan sering muntjul tatkala seseorang mem-bongkar2 gudang jang penuh sesak dan berdebu. Ketika membolak-balik ribuan halaman hasil fotokopi laporan stenografi pengadilan Letnan Kolonel Penerbangan Heru Atmodjo di depan Mahkamah Militer Luar Biasa, saja menemukan beberapa dokumen jang merupakan lampiran berkas2 pengadilan. Ini adalah laporan jang disusun oleh sekelompok ahli forensik medis, beranggotakan lima orang, jang telah memeriksa djenazah enam orang djenderal (Yani, Suprapto, Parman, Sutojo, Harjono dan Pandjaitan) dan seorang letnan muda (Tendean) jang dibunuh pada dinihari 1 oktober 1965. … Lanjutkan membaca “Bagaimana para djenderal gugur” oleh Benedict R. O’G. Anderson

“Irawan Soejono: roh pembebasan” oleh Joss Wibisono

• Versi EYD alias edjaannja orde bau bisa dibatja dengen mengklik ini: • Djangan lupa untuk djuga membatja artikel terdahulu jang merupakan bagian pertama. Pingin batja? Silahken ngeklik ini. Di pemakaman bersaldju jang lengang berdiri sekelompok orang mengelilingi salah satu liang lahatnja. Sebagian besar perempuan dan pria di atas 40 tahun, hanja beberapa orang jang belum mentjapai usia itu berani menantang amarah nazi. Sebenarnja masih banjak sahabat almarhum jang ingin memberi penghormatan terachir, tapi mereka harus tinggal di rumah menahan duka. Hari jang sedih, pemakaman jang sedih. Begitulah alinea pertama berita duka berdjudul “Irawan Soejono” buah pena R. M. Soeripno … Lanjutkan membaca “Irawan Soejono: roh pembebasan” oleh Joss Wibisono

“Irawan Soejono dan pengakuan setelah 71 tahun” oleh Joss Wibisono

Versi lain, dalem EYD alias edjaannja orde bau, bisa dibatja dengen mengklik ini. Djedjak2 Belanda di Indonesia sudah banjak diketahui orang, jang sedikit diketahui adalah djedjak2 orang Indonesia di Belanda. Lebih dari 70 tahun silam, semasa Perang Dunia Kedua, para pemuda Indonesia ikut berperan dalam verzet, perlawanan terhadap nazi jang saat itu menduduki negeri pendjadjah. Peran jang tidak ketjil, tapi tak banjak diketahui orang. Salah seorang mahasiswa Indonesia itu adalah Irawan Soejono. Dengan heroik, dia melawan pendudukan nazi lewat tulisan dan gerilja bawah tanah, hingga kematian menghentikan langkahnja. Pada tanggal 4 mei lalu, atas kegigihan perdjuangan dan pengorbanannja, Leiden setjara … Lanjutkan membaca “Irawan Soejono dan pengakuan setelah 71 tahun” oleh Joss Wibisono

“Seorang pahlawan telah tiada: Evy Siantoeri-Poetiray: Soerabaja 3 djuli 1918 – Jakarta 27 agustus 2016” oleh Herman Keppy

Versi asli (dalem bahasa Belanda) bisa dibatja dengen mengklik ini. “Rakjat Nederland, bersediakah kalian sepenuhnja mengakui hak rakjat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri?” Demikian pertanjaan Evy Poetiray, anggota pengurus Perhimpoenan Indonesia, pada tanggal 2 februari 1946 di Markthallen, Amsterdam. Dengan lantang tanpa keraguan hadirin memperdengarkan djawaban “ja”. Sajang kenjataannja lain lagi. Evy Poetiray datang ke Amsterdam untuk studi landjut, tapi Perang Dunia Kedua berkobar. Seperti semua mahasiswa Indonesia jang menempuh pendidikan tinggi di Belanda, dia anti fasisme dan melantjarkan perlawanan terhadap Djerman jang waktu itu menduduki negeri pendjadjah, Belanda. Setjara ilegal ia bekerja sebagai kurir untuk menjebarkan harian2 de Waarheid … Lanjutkan membaca “Seorang pahlawan telah tiada: Evy Siantoeri-Poetiray: Soerabaja 3 djuli 1918 – Jakarta 27 agustus 2016” oleh Herman Keppy

“Menembak tjelana dalam logam bukanlah djalan keluar” oleh Toef Jaeger

Berikut terdjemahan resensi jang dimuat oleh harian sore NRC Handelsblad pada edisi 15 djuli 2016, halaman C6 [Sebelum ini Schoonheid is een vloek (terdjemahan bahasa Belanda Tjantik itu luka), karja Eka Kurniawan sudah diresensi oleh harian pagi de Volkskrant dan harian pagi Trouw.] Apa jang harus diperbuat kalau anda punja tiga putri molek djelita dan jang keempat segera lahir? Berdoa supaja jang lahir itu djelek, demikian bisa dibatja dalam Schoonheid is een vloek — sebuah roman karja Eka Kurniawan jang terbit tahun 2002 dan sekarang diterdjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Kalau kalimat pembuka sebuah roman berbunji: “Suatu sore di achir … Lanjutkan membaca “Menembak tjelana dalam logam bukanlah djalan keluar” oleh Toef Jaeger

“Mikul dhuwur mendhem djero à la Londo” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja edjaan harto ode bau silahken ngeklik ini. Piet de Jong telah tutup usia hari rebo 27 djuli 2016, demikian diumumkan oleh CDA, senin siang 1 agustus 2016 pada situs web partai kristen demokrat Belanda ini. Kelahiran 3 april 1915, De Jong mentjapai usia 101 tahun. Dia adalah perdana menteri Belanda dari 1967 sampai 1971, djabatan penuh pertama selama empat tahun jang dipegang oleh seorang perdana menteri Belanda setelah berachirnja Perang Dunia Kedua. De Jong dikenal sebagai seorang politikus jang tidak begitu suka berpolitik. Dia memang menempuh karier sebagai militer pada angkatan laut Belanda. Pada 1959 dia … Lanjutkan membaca “Mikul dhuwur mendhem djero à la Londo” oleh Joss Wibisono