“Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

Mohon perhatian: Siapa sadja boleh merudjuk tulisanku ini. Tapi tolong ditulis bahwa Anda merudjuknja. Kalangan mahasiswa/akademis sudah berbuwat demikian, menjebut eseiku ini pada referensi atow rudjukannja. Tapi tidaklah demikian dengan kalangan wartawan atau dunia pers, karena memang tidak umum bagi sebuwah laporan jurnalistik untuk djuga mentjantumken referensi. Walau begitu, supaja tak ditjap melakuken pendjiplakan atow plagiat, saja mendesak tulisan ini tetap disebut sebagai rudjukan djika Anda memang mengutipnja. Trims.

Catatan awal: versi lain tulisan ini diumumkan oleh harian Kompas pada edisi Ahad 13 Maret 2011, di halaman 20, yang kemudian diambil alih oleh beberapa blog, antara lain blog ini. Untuk ini versi, digunakan ejaan Suwandi (berlaku 1947-1972). Salah satu alasannya adalah untuk menghindari pengambilalihan tanpa izin. Kalau tak terbiasa dengan ejaan Suwandi, ya silahkan membaca versi Kompas Minggu. Tapi versi berikut ini lebih lengkap dan lebih masuk akal. Juga bisa diklik contoh-contoh karya musik yang disebut atau sumber yang dirujuk, karena kata atau frasa yang mengandung tautan berwarna lain.

Pada abad XXI ini tidaklah berlebihan kalau ditjatat bahwa gamelan sudah merupakan ketjenderungan musik dunia. Gamelan dimainkan di mana2, djadi bukan tjuma di tempat asalnja: Sunda, Djawa atau Bali. Di mana2 djuga bermuntjulan komponis2 jang mentjiptakan karja musik untuk gamelan. Kalau tak mau ditjap ketinggalan zaman, seorang komponis modern pasti akan memasukkan unsur2 gamelan ke dalam karjanja.

Claude Debussy, sekitar 1908

Selain itu, djuga muntjul upaja menulis kembali sedjarah pengaruh gamelan pada musik Barat. Hasilnja lebih dari sekedar pendalaman bagaimana dulu Claude Debussy [1862-1918], komponis pertama jang dianggap kena pengaruh gamelan, berkenalan dengan gamelan Sunda.

Dari sini terungkap beberapa komponis lain jang djuga terpengaruh gamelan, tapi melalui tjara jang berbeda dari Debussy. Kalau Debussy menonton pameran di Paris jang mempagelarkan gamelan, maka kelompok komponis lain ini tidaklah perlu melawat keluar negeri.

Mereka lahir dan dibesarkan di Hindia Belanda, tjikal bakal Indonesia. Untuk mendalami musik mereka memang perlu ke Eropa, tapi tetap ada jang mati di bumi kelahirannja. Mereka tidak lain adalah para komponis Indisch jang berlatar belakang Indonesia.

Selama ini peran dan karja2 mereka tidak terungkap karena orang lebih tertarik pada Debussy. Komponis Prantjis ini, berkat pengaruh gamelan, memang membawa pembaruan besar dalam musik Eropa. Tapi, untuk kita orang Indonesia, djelas komponis2 Indisch lebih bermakna.

Sebelum diuraikan peran komponis Indisch, sebagai pidjakan, akan diungkapkan dulu peran Claude Debussy. Djuga beberapa komponis lain jang terpengaruh gamelan tanpa perlu ke Indonesia. Tak boleh dilupakan: kolonialisme Belanda tetap berperan besar, baik untuk komponis seperti Debussy maupun komponis Indisch.

Debussy bertandang ke Desa Djawa

Pada tahun 1903 terbit Estampes, kumpulan tiga komposisi piano karja Claude Debussy. Nomer pertama, berdjudul Pagodes, merupakan pembaruan penting. Kalau musik aliran romantis begitu bergedjolak dan ber-api2, maka musik Debussy, disebut musik aliran impresionis, lebih lamat2 dan lebih mementingkan nuansa. Itu ditjapainja dengan menggubah paduan nada (akord) jang mengambang dan tidak pernah mentjapai penjelesaian. Tjaranja, antara lain, dengan menggunakan musik pentatonis lima nada, nada gamelan.

Sedjatinja Debussy sudah lama ingin menggunakan lima nada itu. Ia baru jakin setelah menonton pagelaran gamelan pada l’Exposition Universelle (pameran semesta) jang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prantjis.

Pada pameran itu, inilah wudjud kolonialisme, paviljun Belanda disebut le village javanais (desa Djawa) atau le kampong javanais. Di situ pentas gamelan Sunda Sari Oneng dari desa Parakan Salak, dekat Sukabumi, antara lain untuk djuga mengiringi empat gadis penari kraton Mangkunegaran, Solo. Sekali berkundjung, Debussy sampai ber-djam2 menekuni bunji Sari Oneng.

Penari Mangkunegaran pada Pameran Semesta, Paris 1889

Besar kemungkinan Debussy djuga hadir pada pameran tahun 1900. Tapi untuk memastikannja dan mengetahui gamelan mana jang waktu itu pentas masih perlu diadakan penelitian lebih landjut. Jang djelas Debussy sangat terpesona pada gamelan. Meresensi Sari Oneng, komponis Prantjis ini menulis: “berguru pada irama abadi ombak lautan, desik daun terhembus angin, dan banjak bunji2an lain, musik Djawa memiliki kontrapun jang menjebabkan kontrapun Palestrina seperti mainan anak ketjil”. “Harus diakui,” tulisnja lagi, “instrumen perkusi orkestra Barat hanja memperdengarkan bunji2an primitif seperti jang terdengar di pasar malam”.

Walau begitu djudul Pagodes menjentilkan keraguan: benarkah Debussy terpengaruh gamelan? Bukankah pagoda lebih banjak didjumpai di Asia Timur ketimbang Asia Tenggara?

L’exposition universelle djuga memamerkan desa2 lain, bukan desa Djawa sadja. Di sana bisa dilihat pula desa Asia lain dan desa Afrika. Apalagi karena waktu itu tuan rumah Prantjis masih “punja” Indochine jang terdiri dari Vietnam (disebut Cochinchine), Kambodja dan Laos. Itulah asal mula istilah pagoda, seperti pada Pagode d’Angkor atau Pagode Villenour. Warung di desa Djawa konon dibangun seperti model pagodes javanaises. Pagodes, dengan kata lain, merupakan sebutan umum dalam bahasa Prantjis untuk tjandi.

Restoran dibangun dengan model Pagoda Djawa

Lenggak-Lenggok Bali untuk Mozart

Sedjak itu makin banjak sadja komponis jang menggunakan motif gamelan. Misalnja Francis Poulenc [1899-1963]. Menonton pagelaran gamelan Bali dari desa Peliatan pada l’Exposition Coloniale Internationale, Paris 1931, Poulenc paling sedikit mentjipta tiga karja jang terdengar djelas thema Balinja.

Francis Poulenc pada usia 20 tahunan

Karja utama Poulenc jang sangat bernafaskan gamelan adalah konser untuk dua piano dalam D minor, tjiptaan tahun 1932. Konser ini terdiri dari tiga bagian, Allegro ma non troppo, Larghetto dan achirnja Allegro molto. Dua kali hentakan pada pembukaan langsung diikuti hembusan nafas Bali, baru sesudah itu terdengar kelintjahan dan kedjenakaan Mozart. Kadang2 masih diselingi musik Afrika. Gaja Mozart ini begitu kentara di bagian kedua jang lambat, Larghetto. Tapi warna Afrika, jazz dan Bali kembali terdengar di bagian tiga. Tentu sadja nafas utamanja tetap Mozart. Tak pelak lagi, dalam konser untuk dua piano ini Poulenc mendandani Mozart dengan lenggak-lenggok Bali.

Thema Bali dalam dua karja Poulenc lain tidak sedjelas konser untuk dua piano itu. Dua2nja adalah opera. Pertama opera pendek surealis Les Mamelles de Tirésias (Pajudara Tirésias), ditjipta tahun 1947. Bagian pembukaan opera kamar ini, sekitar menit keenam, diachiri dengan thema gamelan Bali.

Jang agak istimewa adalah opera besar Dialogues de Carmélites (Tjeloteh Biarawati Karmel), tjiptaan tahun 1957. Opera ini berkisah tentang pemantjungan (dengan guillotine) biarawati Ordo Karmel pada saat Revolusi Prantjis, 1789. Geredja Katolik dan semua rohaniwannja dianggap bagian ancien régime, penguasa lama, jang harus dibasmi. Di bagian depan, sekitar menit ketiga, untuk menggambarkan kerunjaman revolusi, Poulenc menggunakan thema gamelan Bali.

Colin McPhee

L’Exposition Coloniale Internationale djuga disaksikan oleh komponis Kanada Colin McPhee [1900-1964] jang pada tahun 1930an sempat tinggal di Bali. Di Bali McPhee berdjumpa dengan komponis/seniman Djerman Walter Spies jang sudah lama menetap di Hindia Belanda. Tjiptaan terkenal McPhee adalah Tabuh-Tabuhan, toccata untuk orkestra dan dua piano. Mendengar karja ini, kita akan langsung mengenalinja sebagai gamelan Bali jang dimainkan oleh orkestra Barat.

Sementara itu muntjul nama2 seperti Leopold Godowsky [1870-1938], Maurice Ravel [1875-1937], Olivier Messiaen [1908-1992], Sir Michael Tippett [1905-1998], Lou Harisson [1917-2003], John Cage [1912-1992], Steve Reich [1936] dan Philip Glass [1937]. Mereka tidak lain adalah komponis2 Barat jang terpengaruh gamelan.

Gamelan Bali Melajat Kematian Venezia

Dari Francis Poulenc lewat Colin McPhee kita akan sampai pada Benjamin Britten [1913-1976]. McPhee memperkenalkan musik Bali pada Britten ketika mereka bertemu di New York pada tahun 1940an, semasa Britten hidup dalam pengasingan karena, sebagai penganut pasifisme jang anti perang, dia menolak mobilisasi. Waktu itu mereka berdua djuga sempat merekam transkripsi piano McPhee atas beberapa thema gamelan Bali. Setelah perang Britten bertemu Poulenc dan keduanja tampil sebagai solis pada pementasan konser untuk dua piano di Albert Hall, London, pada tanggal 16 Djanuari 1955. Setahun kemudian, pada bulan Djanuari 1956, Britten dan Pears, penjanji tenor pasangan hidupnja, bertandang ke Bali untuk beberapa minggu. Seperti McPhee, Britten masuk dalam kelompok komponis jang datang ke Indonesia.

Benjamin Britten

Paling sedikit terdapat tiga karja Britten jang langsung kedengaran bunji Balinja. (Belum lagi karja2 jang menggunakan djiwa musik Bali). Ketiga karja itu adalah musik balet Prince of the Pagodas, opera Owen Wingrave dan opera terachir Britten Death in Venice.

Belakangan pelbagai gedung opera Eropa makin sering mementaskan Death in Venice, mungkin sedjalan dengan makin memasjarakatnnja bunji2an gamelan di Eropa. Opera ini didasarkan pada novella Thomas Mann Der Tod in Venedig, terbitan tahun 1911. Britten bekerdja sama dengan Myfanwy Piper sebagai penulis libretto atau sjairnja.

»Death in Venice« dipentaskan oleh English National Opera, ENO, London, Djuni 2007
»Death in Venice« dipentaskan oleh English National Opera, ENO, London, Djuni 2007

Opera ini lebih bersifat ke dalam, sematjam perenungan Gustav von Aschenbach terhadap perdjalanan hidupnja. Dia adalah pengarang terkenal, sudah sukses, tapi sekarang ternjata tidak bisa lagi menggoreskan satu katapun pada tjatatannja. Ia mengalami writer’s block. Baru ketika bertemu pemuda Polandia Tadzio di Venezia Von Aschenbach djadi sadar akan keindahan dan mengalirlah berbagai ungkapan keindahan dalam benaknja.

Pada saat itu Von Aschenbach djuga kaget. Lho aku ini (pernah) punja istri (tapi sudah meninggal) dan punja anak perempuan. Kenapa sekarang aku tertarik pada (anak) laki2? Ini digambarkan dengan bagus oleh Britten. (Ada jang usil dan bilang, abis Britten sendiri suka sama sesama djenis sech). Musiknja tiba2 berubah, diganti musik Bali itu.

Gamelan Bali bukan hanja merupakan thema Tadzio, melainkan djuga terdengar pada adegan lain, ketika berlangsung apa jang disebut The Games of Apollo. Di sini tampil Apollo, dewa musik Junani purba. Dia menjanji di sekeliling pemuda2 teman Tadzio jang sibuk bermain bola. Njanjian Apollo (bersuara countertenor jaitu suara pria falsetto) sangat mempesona, terutama karena melodinja pentatonis Bali. Gamelan Bali, berbeda dengan gamelan Djawa, tidak terlalu mengenal njanjian. Tapi dalam Death in Venice, opera terachir Britten ini, gamelan Bali malah digunakan bukan sadja dalam njanjian solo, tapi djuga njanjian paduan suara.

Steve Rikards (countertenor tengah) dalam peran Apollo
Steve Rikards (countertenor tengah) dalam peran Apollo

Britten tidak luput dari kritik. Langkah beraninja menggunakan gamelan Bali disebut sebagai exotisme. Ia dituding menggunakan gamelan sebagai deus ex machina, musik jang djatuh dari langit. Gamelan jang tidak ada pada kosanada Britten, tiba-tiba terdengar. Lebih parah lagi dia ditjap tidak berupaja terlebih dahulu memahami gamelan Bali.

Kalau pasang telinga lebih tadjam lagi, maka dalam opera pertama Britten sadja, jang berdjudul Peter Grimes sebenarnja sudah bisa didengar unsur2 gamelan Balinja, walaupun itu tidak djelas dan hanja lamat2 sadja. Di bagian achir opera, ketika Peter Grimes diburu warga desa karena anak asuhnja ditemukan tewas, djuga terdengar, sekali lagi lamat2 sadja, gamelan Bali. Djadi sebenarnja gamelan Bali sudah lama ada dalam karja2 Britten, dan baru pada Death in Venice, opera terachirnja, gamelan Bali itu tampil ke depan dengan djelasnja. Tapi harus pula ditjatat gamelan Bali itu hanja terdengar pada babak pertama. Pada babak kedua, ketika Von Aschenbach mati karena penjakit pes, gamelan Bali hanja terdengar lamat2.

Gamelan mendarah daging

Tapi bagaimana dengan gamelan Djawa dari Djocja atau Solo? Komponis Barat mana jang terpengaruh olehnja? Di sinilah makna penting komponis2 Indisch, komponis Eropa/Belanda jang berlatar belakang Indonesia.

Dan memang tidak semua komponis harus terlebih dahulu bertandang ke pameran atau pagelaran gamelan/wajang di luar negeri sebelum bisa menghasilkan karja jang bernuansa gamelan. Masih ada kelompok komponis lain jang lahir, dibesarkan, menetap atau tutup usia di Hindia Belanda.

Pianis dan pakar antropologi Belanda Henk Mak van Dijk menulis buku De oostenwind waait naar het westen (Angin timur berhembus ke barat) tentang komponis2 jang terlupakan ini. Empat komponis mendapat bab chusus, masing2 Constant van de Wall [1871-1945], Paul Seelig [1876-1945], Linda Bandara [1881-1960] dan Bernhard van den Sigtenhorst Meyer [1888-1953]. Kemudian masih ada Theo Smit Sibinga [1899-1958], Daniel Ruyneman [1886-1963], Frans Wiemans [1889-1935], Hector Marinus [1902-1952], Berta Tideman-Wijers [1887-1976] dan beberapa orang lagi.

Pernah dengar nama2 itu? Tak apa2 kalau tidak pernah, karena memang mereka tidak terkenal seperti Debussy. Patut diakui, lain dari Debussy, mereka memang bukan pembaharu. Karja2 mereka tidak benar2 berandjak dari periode romantis, jang djustru ditinggalkan Debussy sebagai pelopor impresionisme.

Sampul depan Trois danses javanaises

Tapi bagi kita di Indonesia para komponis Indisch ini lebih berarti. Merekalah peletak dasar musik klasik di Nusantara, pendahulu komponis Indonesia, seperti Cornel Simandjuntak [1921-1946] atau Amir Pasaribu [1915-2010] dan Tri Sutji Kamal [1936]. Lagu2 seriosa kita djelas tidak djatuh dari langit, tapi didahului oleh Maleische liederen (Lagu2 Melaju) misalnja, tjiptaan Constant van de Wall atau Krontjong Pandan karja Paul Seelig. Trois danses javanaises (Tiga tarian Djawa) untuk piano solo tjiptaan Paul Seelig djelas merupakan pendahulu Srikandi karja Yazeed Djamin [1952-2001].

Para komponis Indisch ini bisa dibagi dalam dua kelompok. Pertama komponis jang mementingkan pentjiptaan, dengan eksponen Constant van de Wall. Baginja gamelan merupakan sumber inspirasi untuk diolah lebih landjut. Sedangkan bagi kelompok kedua jang terpenting adalah sumbernja. Komponis seperti ini, dipelopori oleh Paul Seelig, lebih mementingkan dan karena itu djuga lebih setia pada sumbernja. Tidaklah mengherankan kalau karja2 Seelig lebih terdengar sebagai lagu asli Malaysia, tembang Sunda atau Djawa.

Constant van de Wall

Berlainan dengan Debussy, Djawa bagi Constant van de Wall bukan lagi le village, melainkan, paling sedikit, dua kota. Itulah Soerabaia, edjaan 1871, tahun kelahirannja, dan Semarang, tempat dia dibesarkan. Bisa dipastikan di Semarang hampir tiap hari Constant ketjil mendengar gamelan. Masuk akal sadja kalau ditulisnja bahwa bunji2an Djawa sudah merasuk dalam darahnja, sehingga karja2nja selalu bernafaskan gamelan Djawa.

Dan memang dalam Schimmenspel, (pertundjukan wajang) untuk vokal dan piano, Van de Wall dengan eloknja berhasil melagukan pertundjukan wajang kulit. Mungkin inilah satu2nja lagu seriosa tentang wajang kulit. Opera tjiptaannja, Attima, tentang kehidupan seorang penari Djawa, djuga sarat motif gamelan Djawa. Pengetahuannja jang mendalam tentang gamelan Djawa djuga terdengar pada Rhapsodie javanaises II, karena karja untuk piano tunggal ini menggunakan dua tangga nada gamelan Djawa: Sléndro dan Pélog. Ketika menetap di Prantjis Selatan pada achir hidupnja Van de Wall dikenal sebagai compositeur javanais, komponis Djawa.

Paul Seelig

Paul Seelig memang tidak dilahirkan di Hindia Belanda, tetapi ia lebih banjak menghabiskan hidupnja di Bandung. Tamatan konservatorium Leipzig jang terkenal itu, Seelig berkarier di beberapa istana Asia. Selain Bangkok dan Djohor, ia terutama djuga aktif di Solo.

Dalam djabatan kapelmeester (pemimpin) di kraton Soesoehoenan Pakoe Boewono X, pada tahun 1899, Paul Seelig mendirikan orkestra, melatih pemusiknja. Setahun kemudian orkestra beranggotakan 20an orang kawula kraton ini tampil untuk pertama kalinja. Hadirin antusias, Paul Seeligpun puas. Para pemain itu tampil dengan tepat dan mengagumkan, tulisnja. Pada masa djaja2nja di awal abad lalu, orkestra kraton Solo ini beranggotakan sampai 90 orang pemain, instrumen2 gèsèk, tiup dan perkusi. Selama bekerdja di kraton Solo Paul Seelig sempat menghimpun 200 thema gamelan Djawa jang kemudian diterbitkannja sebagai Gending Djawi.

Ia achirnja memilih tinggal di Bandung dan mendirikan penerbit musik Matatani di Bragaweg 19. Di sinilah terbit banjak karja Seelig. Ada lagu2 dengan iringan piano (misalnja Tembang Sunda: Sinom, Kinanti dan Dandang gula miring, kemudian Tembang Sekar Tjitro Kusomo, Djalak Idjo, Hastaka Kuswala dst), ada pula karja untuk piano solo (Danse de masque javanaise, Pentul Tembem), kemudian musik drama Dewi Anggraeni serta konser piano dalam Fis minor, dan masih banjak lagi.

Para komponis Indisch ini terlupakan karena Debussy sebagai pembaharu lebih dipetingkan. Ini djuga berkaitan dengan posisi Belanda di Eropa jang walaupun “punja” Hindia Belanda, tetapi tetap tidak menentukan. Prantjis misalnja djauh lebih berpengaruh dan menentukan. Selain itu, dunia musik Belanda sendiri djuga banjak mentjibir komponis Indisch, karena karja mereka dianggap tidak begitu bermutu.

Belakangan, sedikit demi sedikit, karja2 jang terlupakan itu mulai diungkap. Sudah sedjak studi di Konservatorium Den Haag tahun 1990an, pianis Ananda Sukarlan memainkan karja2 Paul Seelig dan Constant van de Wall. Ketika tahun lalu tampil di Kleine Zaal (bangsal ketjil) Concertgebouw, Amsterdam, soprano Bernadeta Astari membawakan tiga Tembang Sundanja Paul Seelig. Selain tampil pada pelbagai kesempatan, pianis Belanda Henk Mak van Dijk sudah merekam dua CD musik karja komponis Indisch tadi, salah satunja bersama soprano Renate Arends.

Sudah hampir satu seperempat abad gamelan mempengaruhi musik Barat. Sedjarah pengaruh itu, termasuk peran komponis Indisch, sedikit banjak djuga merupakan sedjarah musik Indonesia.

Rudjukan:

Marieke Bloembergen [z.j] De Koloniale Vertoning, Nederland en Indië op de wereldtentoonstellingen, Amsterdam: Wereldbibliotheek. ISBN 90 284 1925 X

Marieke Bloembergen [2004] Koloniale Inspiratie, Frankrijk, Nederland, Indië en de wereldtentoonstellingen, Leiden: KITLV Uitgeverij. ISBN 90 6718 236 2

Mervyn Cooke [1998] Britten and the Far East, Asian Influences in the Music of Benjamin Britten, Suffolk: The Boydell Press ISBN 0 85115 830 7

Henk Mak van Dijk [2007] De oostenwind waait naar het westen: Indische componisten, Indische composities, 1898-1045, Leiden: KITLV Uitgeverij. ISBN 978 90 6718 303 1

Annegret Fauser [2005] Musical Encouters at the 1889 Paris World’s Fair, Rochester: University of Rochester Press ISBN: 978-1-58046-185-6

2 pemikiran pada ““Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

  1. Bung Joss Wibisono, saya cuma bisa nukil pendapat Denys Lombard (Nusa Jawa) kalau gamelan bersifat “politis”, milik keraton yg digunakan untuk mengatur irama kehidupan bersama dan kehidupan keagamaan. Abad 19 keraton faktualnya sudah tidak lagi menguasai kehidupan karena kolonialisme Londo, maka raja-raja lebih menyibukkan diri untuk “menguasai” kesenian. Menariknya raja2 Jawa mulai tertarik dengan musik militer tuan besar Londo seperti terompet dan genderang itu, sementara kekuatan militer kerajaan sudah dilucuti, dan cuma berfungsi dalam acara2 seremonial saja.

  2. Mas Joss , dalam commentnya di FB Mas Donny Danardono bertanya kenapa gamelan kurang bisa menyerap pengaruh musik barat (kecuali yg terjadi akhir2 ini dg campur sari) ? Menurut Savitri Scherer perbedaan yang mendasar antara musik barat dan gamelan terletak pada posisi conductornya. Pada orchestra musik barat sang Conductor berdiri didepan para pemain musik dengan mengambil jarak. Sedang “Conductor” gamelan yg disebut Pengrawit duduk bersama para penabuh. Akibat posisi demikian barangkali para conductor orchestra barat lebih leluasa bisa menangkap getaran irama sekelilingnya termasuk yg terekam dlm hati. Pangrawit terkungkung dlm kepekatan tradisi sekelilingnya hingga tidak pernah bisa berkutat. Apa budaya yg suka keluar dari lingkaran itu menyebabkan bangsa barat lebih bersifat experimentalis dari pada kita ? nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s