“Ketika Marx ketemu thujul” oleh Joss Wibisono

Pertama kali diumumkan oleh Gita Kampus XIII/1985, Koran Kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Ketemu Onghokham dan bitjara soal thujul, asjik bukan? “Thujul memang asli Djawa,” Ong memulai. Maksudnja djelas, hanja orang Djawa jang punja thujul. Sajang, ketika tulisan ini diturunkan ke percetakan, Willi Toisuta masih di Djakarta, sehingga nggak sempat ditanjakan apakah di Ambon dan Kupang djuga ada thujul.

“Tapi”, Ong berlandjut sambil geleng kepala, “Orang Djawa djangan keburu tepuk dada. Di Barat, di dunia bulé, djuga ada thujul!” Lho? Bener nih Pak Botak? Doktor sedjarah ini mulai memperoleh gugatan. “Ija!” Tegas Ong dalam djawatimuran jang medhok (dia kan arèk Surobojo). “Tjuma dia punja nama lain”, Ong menetralisir. “Ah…” desah para hadirin. “Siapa dong namanja?” Teman2 makin meradjuk.

“Marx!” tegas Ong sembari njengir. Kontan kami jang mengerumuninja langsung ketawa. Sampai ada jang merelakan air mata bertjutjuran, saking gelaknja. Tiba2 Ong berandjak, rupanja mau ngelojor, serta merta orang2 berteriak mentjegahnja. Lalu dengan gaja kebapakan Ong menenangkan, “Ja sudah, ja sudah… Gini lho tjeritanja.” Segera doktor jang masih IIIA ini bertjerita.

Komunalitas orang Djawa itu gedhé banget. Ingat kan pada ungkapan mangan ora mangan anggeré kumpul? Ini tjotjok dengan Arief Budiman jang demen sosialisme itu. Ah ja, itu kan sosialisme à la Djawa. Nah, lantas kalau ada orang Djawa djadi kaja, masyarakat di sekitarnja langsung bikin kasak kusuk, “Dia pasti punja thujul”. Thujul senang duit, terutama duit bukan milik madjikannja (jang orang Djawa deles itu). Dia tjuri duit buat madjikannja, maka si madjikan hidup bermandi uang, kaja raja! Ini berarti dia keluar dari komunalnja. Dalam djargon Arief dia sudah nggak sosialis lagi. Dia kapitalis (punja milik pribadi: uang hasil tjurian thujul peliharaannja).

Kalau dikaitkan dengan Marx maka kita musti omong bahwa thujul itu bikin apa jang oleh saudaranja jang bulé ini disebut polarisasi kelas. Jang kaja terus meledjit dengan kekajaannja, jang miskin makin tenggelam dalam kemelaratannja. Djadi, gagasan (anti) thujul dalam masjarakat Djawa bisa dibilang pas dengan pikiran2 marxis jang anti bordjuasi, anti kelas orang kaja.

Bisa azhaaaa Pak Ong! Orang2 mulai tersenjum karena merasa dijakinkan. Tapi staf UI jang mengaku nggak bisa pakai sepatu ini terus berlandjut, “thujulisme adalah prototipe marxisme di Barat. Dan orang Djawa makin djelas exentriknja. Pokoknja kita nggak perlu djauh2 mikir teori muluk2 hasil impor, di sini sadja sudah kelewat banjak jang bisa digali.”

Onghokham berhenti omong. Dia minta rokok terus ngelojor. Sibuk berpikir memahami gagasan briljannja, kami nggak sempat lagi menahan Ong. Djangan2 ini memang tjaranja supaja bisa kabur ketika kami sudah dianggapnja tidak menarik lagi.

3 pemikiran pada ““Ketika Marx ketemu thujul” oleh Joss Wibisono

  1. Pak Ong bisa ketawa batja komentar kamu Bet. Soalnja kaboter itu kan aslinja kabouter jang adalah bahasa Belanda. Itu bisa thujul tapi bisa djuga mahluk jang selalu ketjil, walopun umurnja udah banjak.

  2. jij yakin kalo kaboter sulawesi asalnya dr kabouter londo dan bukan sebaliknya? soalnya kalo dari konstruksi katanya awalan “ka” banyak dlm bhs melayu lokal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s