“Thanksgiving Day” oleh Joss Wibisono

Catatan awal: ini tulisan dari zaman baheula, diumumkan oleh majalah Dian Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga edisi 2/1987, halaman 16-17. Seperti biasa untuk blog diganti dalem ejaan yang belon disempurnaken oleh orde barunya engkong harto.

Suasana murung tampaknja meliputi peringatan thansgiving day di tengah2 the Reagans, di ranch mereka di Santa Barbara, California. Bajangkan: achirnja politik luar negeri Amerika berantakan, tanpa djuntrungan djelas. Setelah pengunduran diri John Poindexter dan Oliver North, orang2 masih menuntut supaja George Shultz dan Donald Regan djuga turun dari djabatan mereka. Bagaimana bisa melambungkan utjapan sjukur di tengah keruwetan ini? Bagaimana harus mensjukuri kesemerawutan ini?

Sebenarnja, kebijakan luar negeri Amerika sudah mulai tampak bentuknja ketika Reagan memasuki masa djabatan kedua, ketika Jeanne Kirkpatrick sudah tidak lagi berada dalam posisinja sebagai dubes Amerika untuk PBB. Urusan dengan Nikaragua, misalnja, semasa Kirkpatrick amatlah ruwet. Wanita ini datang dengan the Kirkpatrick Doctrine jang menjokong otoriterisme di mana sadja, di Dunia Ketiga, terutama, asal penguasa otoriter itu patuh kepada Amerika. Kirkpatrick mendjalankan politik ini dengan repotnja, bahkan ketika omong2 di hadapan mahasiswa Universitas California kampus Berkeley, ia sempat berang dan menghentikan tjeramahnja. Mahasiswa Berkeley sangat kurang adjar, mereka meneriaki sang dubes, meng-ata2inja sebagai pembohong dan banjak lagi utjapan2 tidak pantas lain. Memang, begitu ruwetnja, doktrin ini njaris mengulang pengalaman Vietnam dalam urusan Amerika di Nikaragua.

Kirkpatrick diganti oleh Vernnon Walters dan the Kirkpatrick Doctrine digeser dengan Doctrine of the Third Force. Walaupun pada dasarnja kedua doktrin sama2 menaruh kepentingan Amerika pada prioritas teratas, tetapi doktrin jang terachir ini tampak lebih fleksibel.

Begini doktrin terbaru ini. Kalau di negara lain, negara Dunia Ketiga terutama, ada diktator, maka dia harus digusur, tidak perduli seberapa besar kadar pro Amerikanja. Diktator, walaupun dia sanggup mendjilat pantat Paman Sam sampai kapanpun djuga, tidaklah baik, dia bisa membangkitkan perlawanan kaum merah. Karena itu, diktator mesti diusir. Dan Amerika harus bisa memanfaatkan pengaruhnja untuk memuntjulkan kekuatan ketiga yang lebih demokratis.

Sedjauh ini, di Filipina, kelintji pertjobaan pertama, Doctrine of the Third Force sudah terbukti begitu efektif. Di sana, komunis, paling sedikit untuk sementara, gagal tampil karena Corazón Aquino jang bukan komunis dan, ini jang paling penting, pro Amerika, lebih duluan berhasil menggulingkan Marcos (barang tentu seratus persen atas sokongan Paman Sam) dan tampil sebagai presiden. Maka, tentu sadja, kepentingan Amerika terselamatkan: dua pangkalan militer di teluk2 Clark dan Subic tetap tegak; bantuan jang tidak lebih dari modal Amerika (jang akan beroperasi untuk menjedot keuntungan) masih diperlukan Cory untuk “memulihkan” perekonomian Filipina, dst.

Untuk lebih memuluskan semuanja, baiklah diadakan penjegaran lebih landjut. Bob McFarlane, penasehat presiden urusan keamanan nasional, diminta istirahat sadja. Lalu John Poindexter ditundjuk sebagai pengganti McFarlane, orang satu ini punja tampang jang tjukup promising.

Tapi sekarang? Semuanja koq djadi berantakan? Malah ada jang bilang the President’s credibility is in disarray. Wah, pijé toh?

Reagan tak henti2nja menghapus keringan dingin jang deras mengutjur di dahinja. Wartawan2 ini sangat kurang adjar, mereka tidak mengerti tata krama. Masak orang sudah belepotan keringat dingin begini masih dihudjani pertanjaan terus. Lantas, konperensi pers itu berachir, sementara si presiden gaek dengan gemeteran dan dhredheq disko meninggalkan the Seal of the President. Wartawan2 itu masih djuga tjeriwis, bahkan ada jang njeletuk, “He keeps on contradicting himself.”

Dan karena keringat dingin terus mengutjur serta wartawan tak henti2nja tjeriwis, maka ada jang perlu dikerdjakan. Dua puluh lima menit setelah konperensi pers itu, kontradiksi diralat: memang ada pihak jang mendjadi perantara dalam djual beli sendjata dengan Iran. Dan pihak itu, siapa lagi kalau bukan, Israel. Wartawan mungkin tidak tjeriwis lagi, tapi siapa bilang? Kerdja mereka kan harus tetap tjeriwis dan tjeriwis terus!

Jang penting, untuk menghindari ketjeriwisan wartawan, Reagan harus tetap bersikap terbuka. Harus disetudjui pembentukan komisi penjelidik, jang akan tjari tahu perihal alfa-omeganja pendjualan sendjata ke Iran. (Dan mereka jang akan dikomisikan djuga penuh pengertian, nggak akan kerdja matjam2). Pokoknja kesimpulan mereka nanti akan berbunji: memang ada pendjualan sendjata ke Iran, bahkan benar bahwa keuntungannja disalurkan kepada para pemberontak Contra di Nikaragua. Tapi, ini jang terpenting, semua ini dikerdjakan setjara sembunji2, Presiden tidak tahu. The President’s credibility, dengan begitu, can be restored.

Maka orang2 akan terbuka mata. Eh, djebulnja jang bikin masalah ini para batur, gedibal dan pembantu, toh? Ah ja, pantas sang Presiden djadi bingung. Dia memang sudah terlalu tua untuk mengawasi para batur jang gemar mentjak sana, mentjak sini. Kasihan dia.

Alhasil, sampai kapanpun djuga pembantu memang the last resort. Pembantu penting bukan sadja sebagai pihak jang mengerdjakan semuanja, tapi djuga pihak terachir jang akan terbukti bersalah. Fungsi pembantu tampak2nja koq universal. Fungsi ini terdjadi di mana2 di seluruh dunia untuk kapanpun djuga. Dus, enggak usah kaget kalau atjara beginian djuga ada di sini.

Omong2, kemarin saja ketemu Pailul (jang biasa nampang di Kompas Minggu itu, lho!). Dia bilang sedang ada kesibukan gedhé. Soalnja dia menang tender. Saja pudji keuletannja sampai bisa memperoleh tender itu. Di zaman ekonomi sulit begini kan susah djuga untuk bisa dapat tender. Saja tanja lebih landjut, matjam apa tendernja itu, dan dia bilang, “Gampang sadja kok, menghapus kata ‘kepemimpinan’ dari semua kamus.” Saja terhenjak. Bukan lantaran kaget dengan djenis tender Pailul, tapi karena memperoleh bahan untuk mengachiri tulisan ini.

Kradjan, 2  Desember 1986.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s