“Malacañang Lengang” oleh Joss Wibisono

Sekedar penghantar: ini tulisan dari zaman baheula, pernah diumumkan oleh Koran Kampus Satya Wacana, Salatiga, tahun 1986. Waktu itu kedjatuhan Marcos begitu mempesona. Siapa sadja terpana, termasuk aku. Lebih gawat lagi waktu itu aku begitu berambisi menulis dalem gaja sastra, gaja fiksilah. Itu djelas gagal, kerna djadinja tjuman gado2 matjam begini.

Pembitjaraan djarak djauh itu terhenti. Kemudian menjusul djeda jang amat lama. Tentu sadja si lawan bitjara djadi bingung. Ia lalu bertanja, “Mister President, Anda masih ada pada pesawat?” Djawaban jang didengar Senator Paul Laxalt amat lirih. “Ja, Senator. Tapi … saja amat, amat ketjewa”.

Reagan dengan Pasutri Marcos, ketika masih mesra
Reagan dengan Pasutri Marcos, ketika masih mesra

Itulah pertjakapan Ferdinand Marcos pada detik2 achir kekuasaannja. Lawan bitjaranja adalah Paul Laxalt, senator Partai Republik jang setjara pribadi diutus Presiden Ronald Reagan ke Filipina pada pemilu kilat 7 Februari itu. Mendjelang achir kekuasaannja Marcos tidak lagi seperti biasanja, berhubungan langsung dengan Reagan. Ia sering terlebih dahulu omong2 dengan Laxalt, senator ini seolah telah mendjadi djembatan antara Marcos dengan Reagan.

Sulit untuk membajangkan bagaimana situasi Marcos pada waktu itu. Tapi dari penuturan Laxalt dalam konperensi persnja, terlukis bagaimana keadaan seseorang penguasa mutlak ketika ia harus menghadapi kenjataan bahwa kekuasaannja telah berachir. Utjapan, “Saja amat, amat ketjewa,” mungkin bisa dipakai sebagai titik berangkat untuk memahami situasi Marcos pada waktu itu.

Jang djelas ia gentjar berupaja mentjari pidjakan di dalam negeri bagi kekuasaan jang mulai gojah itu. Marcos tampil di saluran IV, memaklumkan diri bahwa dia masih berkuasa dan tidak bermaksud turun. Ini djelas untuk membantah gosip bahwa ia telah hengkang dari Malacañang.

Istana Malacañang
Istana Malacañang

Di saat lain ia tampil kembali dalam situasi jang makin kalut dan kekuasaan jang makin tidak menentu, kali ini ia memaklumkan hukum darurat perang. Sajang, saluran IV djatuh ke tangan oposisi, tapi pengikut setia Marcos tidak kehabisan akal, mereka rebut saluran lain milik swasta, dan segera disiarkanlah upatjara pelantikan kembali Marcos di Malacañang. Siaran tak berlangsung lama, sebelum Marcos mengutjapkan sumpah djabatannja, oposisi lagi2 berhasil merebut saluran swasta itu.

Dukungan massa djelas tidak bisa lagi diandalkan. Itulah saat di mana Marcos harus menghadapi kenjataan bahwa di dalam negeri ia bukan lagi presiden jang berkuasa. Semua lambang formalitas kekuasaannja sudah djatuh ke tangan oposisi. Angkatan bersendjata, stasiun2 radio dan televisi, semua itu tidak terjangkau lagi. Tapi, ….tunggu dulu. Bukankah kekuasaannja tidak hanja datang dari dalam negeri? Sebagai presiden ia djuga mendapat dukungan penuh dari Amerika, ia sahabat Amerika, sahabat Reagan.

Pertjakapannja dengan Paul Laxalt adalah upaja Marcos mengkonfirmasikan dukungan jang satu lagi, jang datang dari luar negeri. Untuk itu Marcos ingin memperoleh djawaban tegas dan pasti atas arti penjataan2 Gedung Putih. “Apa maksud ‘Pengalihan kekuasaan setjara damai’ jang diutjapkan sang djubir Larry Speakes? Adakah itu berarti ia harus berbagi kuasa dengan Cory Aquino?” Begitu ia bertanja kepada Laxalt.

Paul Laxalt
Paul Laxalt

Laxalt berudjar hati2. Djawabannja tidak langsung, tapi “Mister President, djawaban saja berikut ini adalah djawaban pribadi jang tidak terikat pada djabatan apapun”. Ja, ia akan mendengar djawaban Laxalt sebagai djawaban seorang sahabat, bukan sebagai senator. Sahabat jang menemani seorang teman jang sedang dilanda kesulitan besar.

Laxalt berkata, “Menurut saja, sebaiknja memang, Anda mengundurkan diri.” Pembitjaraan telpon djarak djauh Manila Washington itu serta merta terhenti. Sebagai sahabat, omongan Laxalt memang kedengaran lebih bergaung, menembusi pedalaman jang terdalam. Dadanja terasa njeri, dan ketika tangan kirinja merabai rasa tidak enak itu, di sana pula masih teraba degub djantungnja. Djantung itupun ikut mendengar andjuran Laxalt.

Djeda lama menjusul. Kemudian dengan tergagap dan lirih ia mendjawab keraguan Laxalt apakah pesawat telpon masih menempel di telinganja. “Ja, Senator. Tapi… saja amat, amat ketjewa.” Entah kenapa ia menjapa Laxalt dalam sebutan resminja, senator, tidak lagi sebagai teman.

Marcos memutuskan pembitjaraan telpon itu, mengembalikan gagang telpon pada tempatnja. Ia lalu menjandarkan punggung dan kepalanja pada kursi kepresidenan. Konfirmasi, kepastian, walaupun tjuma dari pendapat pribadi seorang sahabat, sudah diperolehnja. Ia harus pergi. Djemarinja memegangi bagian kursi di mana lengannja menapak. Rasanja berat untuk bangkit.

Batasang Pambansa, parlemen Filipina
Batasang Pambansa, parlemen Filipina

Sudah 20 tahun kursi itu memberikan semua jang dibutuhkannja. Kekuasaan, pengaruh, apa sadja. Selama 20 tahun kursi itu terikat kuat ke atas (oleh Amerika) dan terpantjang tegak dari bawah (lewat Batasang Pambansa, walaupun harus dilakukan “penjesuaian” pada Konstitusi dan Undang-Undang Pemilu), hanja untuknja.

Kini? Baru sadja ia menerima kepastian bahwa “dari atas tidak ada lagi tali jang mengikat”. Sudah pula djelas bahwa “dari bawah tidak ada lagi dasar jang mengangkat”. Apa jang mesti diperbuat? Ke mana harus pergi? Marcos terus-menerus memutar otak. Dari keningnja menetes butir2an keringat sebidji djagung. Dua pertanjaan itu harus terdjawab. Ia berpikir keras.

Sementara itu dari kedjauhan terdengar gaung seruan Enrile, “Terlambat!” Dan tiba2 helikopter2 berdengung dalam bunji jang memekakkan telinga. Kursi jang didudukinja pun mendjadi amat panas. Bukan itu sadja jang membuat Marcos terhenjak dari permenungannja. Pintu kantornja tiba2 terbuka. Imelda menghambur masuk dalam gaun merah menjala. Dengan ter-engah2 ia mengadjaknja pergi. “Helikopter sudah siap!” katanja tanpa setetespun kesabaran. Entah mengapa ia menurut sadja, sementara dua pertanjaan itu belum lagi terdjawab. Ia bangkit dan kabur keluar. Dalam sekedjap helikopter2 itu mengudara.

Malacañang lengang, walaupun tidak lamang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s