“Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono

Catatan awal: versi EYD tulisan ini sudah diumumkan pada situs Radio Nederland. Jadi kalau lebih terbiasa dengan ejaan orde baru itu, ya silahkan mengklik situs tersebut. Terus kalau ogah baca, juga silahkan mengklik situs Radio Nederland untuk mendengarkan versi audio resensi ini.

Opera Java digelar di Amsterdam awal September 2010 untuk memperingati 100 tahun Tropenmuseum. Maka penonton disuguhi pertundjukan teater Djawa jang terus memperbaharui diri dan tanpa segan2 menampilkan hal2 jang bisa dinilai saru.

Sepintas, terbesit kesan puritanisme telah kokoh mentjokoli masjarakat kita. Tengok sadja ketjaman massal terhadap video pornonja artis2 terkenal atau berlakunja UU Pornografi. Belum lagi ormas2 jang giat menindak kalangan jang dinilai tidak mentaati tata susila. Kemudian masih ditambah pedjabat jang tidak henti2nja berupaja memblokir situs internet porno. Melihat semua ini orang tjenderung menahan napas: djangan2 puritanisme memang telah bersimaharadja lela.

Tapi menonton Opera Java arahan sutradara kelas wahid Garin Nugroho, orang segera sadar: kesan puritanisme itu tjuma tampak luar jang menjesatkan. Tata susila masjarakat kita tetap hidup dan berdenjut, bahkan bergojang nakal meningkahi irama zaman jang terus bergerak madju. Tata susila itu djelas menolak mundur.

Mentjampakkan dongeng

Opera Java bisa dibilang plèsètannja Ramajana. Artinja bukan hanja Ramajana jang diperani oleh watak2 nakal, tapi, mungkin jang terpenting, oleh watak2 jang kita djumpai dan kita kenal dalam kehidupan se-hari2. Selain itu, dengan hanja tiga tokoh jaitu Rama, Sinta dan Rahwana, djelas Opera Java telah dimampatkan. Hanoman, Hanggada, Sugriwa dan kera2 lain tidak ditampilkan. Dan memang settingnja djuga sudah bukan Alengka atau Kosala, melainkan sebuah desa. Rama, Sinta dan Rahwana tampil sebagai orang biasa, warga desa itu.

Artinja, kalau mengikuti tradisi opera Italia, Opera Java telah mendjadi verismo. Inilah aliran jang muntjul pada achir abad 19 dan awal abad 20 jang mengangkat kehidupan se-hari2 sebagai plot opera. Berbeda dengan aliran romantisme pendahulunja, verismo menolak pangeran dan putri atau radja dan ratu, pendek kata mentjampakkan dongeng dari negeri antah berantah. Verismo berkisar tentang kehidupan se-hari2 orang biasa dan itulah jang tampil dalam Opera Java.

Pada awalnja Rama tampil sebagai perwudjudan kemurnian dan nilai2 agamawi, tapi dia djuga tidak segan2 menggunakan kekerasan untuk mempertahankan itu semua. Rahwana di lain pihak adalah tokoh jang kaja raja, dengan kekuasaan dan kebebasan tanpa batas untuk menggunakan kekuasaan itu. Sedangkan Sinta, lambang alam dan bumi jang harus dilestarikan, ternjata mendjadi korban dua pria dari dua kutub tadi. Dalam perdjalanan tjerita, ketiganja mendjalin tjinta segitiga jang menurut kaum puritan pasti sudah melanggar tata susila. Tapi hanja dengan hubungan itulah ketiganja mengalami perubahan watak dan tjerita mengalur dengan dramatisnja.

Terpana dan terkesima

Untuk publik Amsterdam (dan publik barat pada umumnja), istilah opera sebenarnja terlalu ketjil bagi Ramajana versi baru ini. Di tempat asalnja, jaitu di Barat, opera dikenal sebagai sandiwara jang pertjakapan2nja dilagukan dengan iringan orkestra. Dari pemain opera dituntut dua hal: berperan dan bernjanji. Tetapi selain dua tjabang seni itu, Opera Java masih menampilkan satu tjabang seni lagi, itulah seni tari. Ini membuat publik Amsterdam terpana. Mereka kaget karena seperti disuguhi opera dan ballet sekaligus. Maklum, mereka terbiasa dengan ballet jang hanja menampilkan seni tari; sedangkan kalau menonton opera para penjanjinja tidak menari.

Maka dalam Opera Java, bisa disaksikan bagaimana dengan tjerdas, tjerdik, dan taktis sutradara Garin Nugroho memadukan unsur2 panggung jang di Barat sebenarnja tidak pernah tampil serempak: seni peran, seni tari dan seni suara. Ketiganja ditampilkan bersama unsur2 dramatis, romantis serta tidak ketinggalan humor.

Mungkin humor jang paling berhasil adalah ketika Endah Laras, pemeran Limbuk, dengan petikan ukulélénja, menjanjikan Stambul Badju Biru dan, sesudah refrein, berduet bersama Dwi Nurul Hidayah jang memerankan Sinta. Humor hadir bukan sadja melalui perawakan Endah jang memang tjotjok sebagai Limbuk, tetapi djuga gerak geriknja dan, jang tidak kalah penting, dengan stambul hadirin diadjak sedjenak meninggalkan gamelan Djawa. Penonton jang terkesima menggandjar duet Endah dan Ida dengan tepukan tangan meriah.

Tjemburu terlalu besar

Gamelannja sendiri memperdengarkan gendhing2 karja komponis Rahayu Supanggah jang sebagai penabuh gendèr, djuga memimpin ansambelnja. Supanggah berhasil menjaring esensi gamelan Djawa, sehingga dalam Opera Java ini musik jang terdengar adalah djiwa Djawa jang paling dalam.

Tapi Supanggah djuga memberi peluang bagi pembaruan, misalnja dengan serempak membunjikan tangga nada pélog dan sléndro. Atau dengan mengawali serta mengachiri pagelaran malam itu dengan penuturan seorang dalang Bali, kemudian dengan memasukkan tembang Sunda (sajang lafalnja lebih terdengar Djawa), gaja Banjumasan, gaja Banjuwangian, bahkan bunji2an jang bernuansa Atjeh.

Walau begitu, bagi Supanggah musiknja harus tetap berada di balik alur tjerita dan, jang penting lagi, musik itu harus bisa mentjerminkan perkembangan karakter tokoh2nja.

“Jang penting bukan tjeritanja Ramajana, tapi siapa Rama, siapa Sinta dan orang itu adalah manusia jang bagaimana. Perdjalanan seorang manusia dalam abad sekarang,” Supanggah bertutur. Ada penafsiran kembali bagaimana Rama, bagaimana Sinta. Adakah Rama itu seperti Rama jang dibajangkan orang Djawa. Ternjata Rama pemarah djuga. Artinja bukan Rama jang sempurna, tapi Rama jang sangat manusiawi. Dia tjemburu dan karena tjemburunja terlalu besar, maka berubah menjadi katastrofa, malapetaka. Kemudian istrinja dibunuh, semuanja dibunuh. “Itu karena estrimis jang sekarang banjak terjadi di mana2, termasuk di Indonesia,” tambah Supanggah. Ditegaskannja pula, musik karjanja bertugas menerdjemahkan karakterk2 atau kedjadian2 dalam Ramajana versi Garin Nugroho.

Salah satu adegan jang ditampilkan adalah Sinta jang digoda dan dibudjuk untuk berselingkuh. Di situ terlihat adegan2 erotis Djawa. Bagaimana merantjang musik untuk adegan erotis ini?

Gamelan saru

Etnomusikolog senior ini tergelak, “Mudah2an saja belum pernah selingkuh.” Dia mengakui ini agak susah djuga. Tapi untungnja dia tidak bekerdja sendirian. “Misalnja ada penjanji jang bagus,” katanja sambil menunjuk Peni Candra Rini, pesindhènnja. Dengan penjanji jang bagus, karjanja djuga akan disesuaikan dengan siapa jang membantu pentjiptaan. Dengan karja sematjam itu pentjiptanja akan senang, jang membawakannja djuga senang. Pendengarnja diharapkan djuga bisa senang. Itulah tjara komponis gamelan Rahayu Supanggah berkarja.

Dengan Ramajana versi moderen ini, terkesan sutradara Garin Nugroho berusaha membangun sebuah Tjandi Sukuh bagi dunia teater Djawa. Banjak obyek di Tjandi Sukuh dinilai saru karena erotikanja blak2an. Tapi bagi tjerita jang saru, maka musiknja djuga harus ikut saru. Bagaimana menggubah gendhing jang bernuansa saru?

Kembali Rahayu Supanggah tergelak untuk kemudian sedikit mengelak. “Sebenarnja bukan sarunja itu,” katanja. Menurutnja ini adalah selera. Garin sendiri, demikian landjut Supanggah, kalau membuat karja selalu ada bumbunja itu. Dari segi musik dia mengaku tidak bermaksud menggubah sesuatu jang saru. “Tapi mungkin karena musiknja melekat pada satu adegan jang saru, maka kedengarannja bisa saru djuga,” katanja sambil tergelak lagi. Menurutnja, kalau musik gamelannja dipisah dari adegannja, mungkin orang tidak akan mendengar itu saru.

Sinta nakal

Dwi Nurul Hidayah, lebih dikenal sebagai Ida Lala, menjebut Sinta jang diperankannja sebagai “nakal”. Ia sempat risih memegang peran itu. Tapi Ida sadar ia tampil di Amsterdam, bukan di Djawa. “Djadi kalau orang2 sini kan kebanjakan melihat apa jang ditampilkan di atas pentas. Tjontohnja kalau membunuh ja harus kelihatan adegan pembunuhannja, padahal kalau di Djawa kan tidak harus selalu begitu. Terus soal bertjiuman. Kalau dalam tari Djawa tidak perlu harus terlihat bibir bertemu bibir. Ja, kalau di sini kita harus memperlihatkan se-olah2 seperti itu.”

Bagaimana Ida dalam peran Sinta jang lebih expresif itu? Adakah ia harus mengerahkan upaja chusus atau mungkin persiapan chusus? Ida Lala tertawa lirih. “Aduh,” katanja. “Ada adegan pertjintaan tiga orang, itu jang paling susah saja lakukan.” Kembali terdengar gelak lirihnja. “Karena, jah saja kan tidak pernah melakukan itu. Maksudnja enggak terbiasa. Kalau di Djawa hal2 seperti itu kan sangat saru sekali. Makanja tetep sadja risih.” Di sinilah alasan kenapa Ida menjebut tokoh Sinta itu nakal. Dia menerima tjinta Rama, tapi dia djuga menerima Rahwana.

Melihat perkembangan masjarakat, pertanjaan jang paling logis adalah bagaimana Ida Lala menafsirkan Sinta jang disebutnja nakal itu? Masjarakat sekarang sibuk ber-teriak2 mengetjam videonja artis2 terkenal, kemudian ada UU Pornografi. Kesannja Indonesia sekarang lebih konservatif, lebih puritan dalam soal moral. Sementara Ida djustru menampilkan sesuatu jang di luar itu semua, menentang arus itu. Apakah nakal itu berarti Sinta memberontak?

Ida Lala langsung setudju. “Memberontak sekali,” katanja. Tapi dia segera menambahkan, “kalau mau djudjur, masjarakat kita sekarang sebenarnja sudah tidak seperti jang dulu lagi. Banjak sekali muntjul kasus jang berkaitan dengan moral.” Menurut orang konvensional, demikian Ida, Opera Java ini akan sangat, sangat menentang arus. “Tapi bagi mereka jang berpikiran terbuka, mereka jang sudah tidak menganggap hal2 seperti itu tabu, ja akan berpendapat itu hal2 biasa.” Biasa? Apa maksud penari sekaligus penjanji ini? Adakah ia melihat perkembangan masjarakat itu mengandung unsur2 kemunafikan? “Menurut saja begitu. Ija, kan? Kebanjakan mereka memperlihatkan jang baik2 sadja, begitu. Padahal belum tentu.”

Ormas usil

Ketika kepada Garin Nugroho ditanjakan apakah dia berupaja membangun Tjandi Sukuh pada dunia teater Djawa, sutradara ini tjuma tertawa. Jang baginja penting adalah ekstrimisme, sesuatu jang dilihatnja sebagai antjaman, di mana2.

“Di seluruh dunia extrimitas itu muntjul dalam banjak hal,” demikian Garin. Ekonomi ekstrim dan pertahanan jang ekstrim, misalnja. Ketidakberdajaan extrim di satu pihak kemudian kekajaan jang ekstrim di pihak lain. Ketidakmampuan jang ekstrim berhadapan dengan kekuatan jang ekstrim. Djadi selalu pada paradoks itu. “Dari situ lahirlah posesif kegilaan,” demikian Garin. “Kegilaan untuk mengatakan ini lho kekuasaan saja, ini lho tjara pemetjahan saja, ini lho perlawanan saja.” Semuanja adalah extrimitas, sebetulnja. Achirnja melahirkan darah dan kematian di mana2.

Peringatan ini memang sesuai dengan perkembangan zaman. Di Amsterdam peringatan ini djuga ditampilkan dalam bentuk pembaruan seni, baik itu seni musik Djawa maupun seni tarinja. Di pembukaan sadja, para penari sudah tak henti2nja gojang pinggul, walaupun lembut dan halus. Tapi bagi pentas perdana Opera Java Amsterdam adalah djuga pilihan jang paling masuk akal, karena di ibukota Belanda ini tidak ada ormas2 usil jang mengusik kenikmatan penonton menjaksikan seni tradisional Djawa jang terus memperbaharui diri.

Akankah publik Djawa menjaksikan Opera Java? Siapa tahu ada kesempatan di masa depan. Tapi tampaknja ada sjaratnja. Djangan chawatir sjarat itu tidak banjak, tjuma satu sadja. Mereka harus terlebih dahulu menanggalkan kemunafikan dan merangkul kembali budaja tradisional Djawa, walaupun itu saru.

3 pemikiran pada ““Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s