“Operación Yakarta: bagaimana Cile beladjar pada Indonesia” oleh Joss Wibisono

Tjatetan pengantar: Sekitar minggu kedua Oktober 2010, SBY terus2an didesek supaja beladjar pada presiden Cile Sebastián Piñera jang begitu tjekatan bertindak menjelamatkan 33 orang buruh tambang ketika mereka terdjebak dalam reruntuhan tambang tembaga dan emas di Copiapó. Menangkis desekan ini, menurut Jafar Hapsah, ketua Fraksi Demokrat di DPR, djustru pemerintah Cilelah jang beladjar dari SBY, karena ketika terdjadi gempa di Djocja, SBY sudah menginap di wilajah bentjana sambil bermain gitar. Di balik silang pendapat ini, sedjatinja Cile memang sudah beladjar pada Indonesia. Tapi bukan soal tolong menolong korban bentjana. Jang dipeladjari Santiago dari Djakarta adalah tjara2 menimbulkan bentjana dan malapetaka, sehingga banjak orang, terutama kalangan komunis dan kiri, mati terbunuh. Berikut seorang mahasiswa mewawantjarai dosen favoritnja.

Pada tanggal 11 September 1973, presiden Cile Salvador Allende, jang terpilih setjara demokratis, digulingkan dari kekuasaannja oleh kaum militer. Pada dekade 1960an dan 1970an Cile adalah negara jang paling demokratis di Amerika Latin. Djauh lebih madju ketimbang tetangga2nja, seperti Argentina dan Brasil. Sebagai lajaknja negara demokratis, angkatan bersenjatanjapun adalah alat negara jang hanja bertugas mendjaga negara dari serbuan tentara asing, dan tidak punja wewenang politik. Salvador Allende, tjalon partai kiri Unidad Popular, berhasil menang pemilihan presiden jang berlangsung djurdil. Ia mengalahkan tjalon partai kristen demokrat. Allende dengan terbuka menjatakan diri berhaluan Kiri-Marxis. Begitu terpilih, Salvador Allende langsung mendjalankan pemikirannja. Maka berlangsunglah apa jang disebut transisi demokrasi ke arah sosialisme, melalui Djalan Cile, jang terkenal sebagai Via Chilena. Tapi semua itu kandas pada tanggal 11 September 1973, seperti berikut dituturkan oleh Prof. Arief Budiman jang menulis disertasi doktor tentang Cile semasa Allende:

Sampul depan disertasi Arief Budiman
Sampul depan disertasi Arief Budiman

Arief Budiman [AB] : Djadi itu semuanja berdjalan dengan baik sekali dan djuga Allende tidak pernah melanggar hukum. Dia mulai melakukan nasionalisasi perusahaan2 besar dan lalu melakukan pemberian aset pada ekonomi kerakjatan. Djadi itu jang dipekuat: ekonomi kerakjatan. Tapi Amerika tidak seneng, karena takut nanti Cile mendjadi tjontoh bagi Amerika Latin, Kuba sadja sudah merupakan masalah bagi Amerika. Dan Amerika djuga kuwatir Cile ini mendjadi tjontoh buat negara lain jang setjara demokratis mengalahkan kekuatan2 kanan.

Karena itu kemudian Amerika kerdjasama dengan kalangan militer di bawah pimpinan Djenderal Augusto Pinochet. Pada tanggal 11 September 1973 militer melakukan kudeta, membunuh Presiden Salvador Allende. Sehingga itu mendjadi peristiwa berdarah jang sangat tragis di Amerika dan mendjadi peristiwa sedjarah jang penting. Allende adalah presiden pertama berhaluan Marxis jang dipilih setjara demokratis dan matinja sangat tragis. Sesudah itu langsung Cile dikuasai militer. Semua orang kiri ditangkap dan kemudian ditaroh di sebuah stadion, mereka jang dianggap tokoh2nja banjak jang dieksekusi, sehingga korbannja sangat besar. Dalam hal prosentase mungkin sampai 20% dari penduduk Cile sendiri jang djumlahnja waktu itu 10 djuta.

Laksana gangster: Pinochet dikelilingi pasukannja
Laksana gangster: Pinochet dikelilingi pasukannja

Tanya: Bagi kita di Indonesia ini jelas bukan sesuatu jang asing: tentara jang berkuasa dengan tjara menjingkirkan kalangan kiri?

AB: Memang ini diakui oleh militernja Cile, bahwa model jang dilakukan itu adalah model Indonesia. Mereka djuga menamakan operasinja itu Operación Yakarta. Karena militer Cile ini dilatih di Pentagon Amerika dan di dalam kurikulumnja dikatakan bahwa Indonesia adalah negara jang sukses menghantjurkan diktator kiri, dalam hal ini Soekarno oleh militer pada tahun 1965. Karena itu, waktu Pinochet mau melakukan kudeta itu namanja Operación Yakarta, ja operasi Djakarta. Dan itu memang sudah kedengeran, sehingga sebelum 11 September 1973 itu di tembok2 di Santiago, dan itu masih ada foto2nja, mereka menuliskan sebuah slogan besar jang namanja Operación Yakarta sedang mendatang. Dikatakan awas Operación Yakarta. Ternjata bentuk dan memang dalam hal ini ada hubungan dekat ja dalam hal ide, hubungan intelektual antara Operación Yakarta dengan tragedi tahun 1965. Ada kudeta, tapi kudeta di Cile lebih berdarah, sedang Soekarno kudetanja lebih evolusioner.

Tapi jang penting adalah sesudah presiden kiri itu didjatuhkan, maka kemudian orang2 komunis ditangkapi dan dieksekusi djuga. Di Indonesia perkiraannja adalah 500 ribu sampai satu djuta orang mati. Di Cile djuga sekitar 200 ribu dalam djumlah penduduk jang lebih ketjil.

Salvador Allende di hadapan massa pendukung
Salvador Allende di hadapan massa pendukung

Tanja: Tampaknja sekarang Cile sedang mendjalani penjembuhan nasional jang mungkin hampir bisa dikatakan sama dengan Indonesia, karena tampaknja di sana orang2 kiri mulai pulang, di Indonesia djuga demikian. Bagaimana Pak Arief melihat perkembangan di Indonesia sebenarnja?

AB: Di Indonesia dan di Cile sekarang keadaan memang sudah lebih netral dan militer sudah dianggap sebagai suatu kekuasaan jang merusak tata kehidupan demokrasi. Sehingga militer sekarang dimarginalisasi, di Indonesia maupun di Cile. Djadi memang prosesnja rasanja hampir sama ja. Tapi di Indonesia baru mulai 1998, di Cile barangkali mulainja sudah agak duluan ketika Pinochet didjatuhkan. Proses rekonsiliasinja sudah lebih lama di Cile, djadi lebih lama dan madju di Cile barangkali. Kalau di Indonesia kan orang masih takut sama komunisme ja, PKI meskipun tidak di-uber2 lagi tapi masih dianggap tabu.

Tanja: Menurut Pak Arief, bagaimana sih sebenarnja Cile mengalami politik jang beraliran kanan sedjak tahun 1973 itu. Lalu Indonesia djuga sejak 1965 sampai 1998, bagaimana sebenarnja raut wadjah politik jang tanpa aliran kiri ini menurut pemikiran Pak Arief?

AB: Waktu dulu ada represi jang kuat sekali ja. Waktu kanan berkuasa, djadi Soeharto dan Pinochet sama sadja. Tapi waktu Soeharto berkuasa, dia sangat kuat sekali. Bukan sadja militer mendukung dia, tapi djuga kelompok2 agama banjak mendukung kekuasaan Soeharto dulu. Kalau di Cile, saja kira kekuatan2 kirinja itu lebih moderat, gitu. Sehingga sesudah Pinochet melakukan pembunuhan massal tahun 1973 dan seterusnja itu, saja kira kemudian tjepat berhenti karena kekuatan sosial demokrat meskipun anti komunis tapi djuga masih melihat perlunja hak2 asasi manusia dan sebagainja. Dan Pinochet djuga kemudian makin kehilangan kekuasaannja.

Potret terachir Allende sebelum achirnja tewas
Potret terachir Allende sebelum achirnja tewas

Djadi dalam hal membandingkan Pinochet dan Soeharto, Soeharto kedjamnja itu lebih lama. Pada permulaannja sama sadja tapi kemudian Pinochet dengan kekuatan2 demokratisnja lebih kuat, sehingga Pinochet kekuasaannja sangat terbatas. Kekuasaan kehakiman jang terpisah itu kuat sekali, djadi lembaga judisialnja sangat kuat, sehingga Pinochet djuga harus tunduk kepada hal tersebut. Dan djuga di Cile kalau lihat struktur sosialnja kelas menengahnja kuat dan pendidikannja lebih tinggi, pada umumnja. Di Indonesia kita tahu lapisan menengahnja ketjil sekali, sehingga sebagai kekuatan sosial demokratnja agak lemah di Indonesia.

Djadi semasa pemerintahan militer, orang Indonesia jang kiri ini lebih banjak ditindas ketimbang orang kiri jang ada di Cile. Orang kiri di Cile djauh lebih tjepat pulih keadaannja ketimbang Indonesia. Djadi di Cile setjara singkat pada umumnja adalah kekedjaman2 pelanggaran hak2 asasi manusia tjepat sekali berkurang akibat adanja kekuatan2 jang mengimbangi kekuatan militer, dalam hal ini Pinochet. Sedang di Indonesia, Soeharto bener2 sampai tahun 1998 masih sangat kuat.

Tanya: Di Amerika Latin terutama di Cile itu ada gerakan nunca mas, djangan berulang lagi, never again. Itu merupakan pentjerminan kesadaran publik bahwa pelanggaran hak2 asasi manusia tidak bisa ditolerir. Tapi apakah menurut Pak Arief, nunca mas itu bisa muntjul di Indonesia?

AB: Kelihatannja kesadarannja masih kurang. Rehabilitasi sadja masih djadi masalah di Indonesia sekarang. Orang2 bekas PKI atau jang dituduh komunis atau berhubungan dengan kiri itu masih men-djerit2 minta rehabilitasi. Kalau di Cile udah djauh lebih madju dalam soal itu. Djadi gerakan2 seperti nunca mas itu adalah konsolidasi, mereka sudah direhabilitasi satu step lagi adalah “oke kita direhabilitasi tapi djangan berulang lagi sedjarah ini.” Kalau di Indonesia orang masih menuntut rehabilitasi dan itu masing ngambang sekali dalam segala hal dan dalam banjak hal. Sesudah orang2 bisa mengatakan “Saja PKI” dan nggak apa2 gitu. Memang ditjoba oleh orang2 seperti dokter Ciptaning, dia kan menulis buku Aku Ini Anak PKI. Itu pun banjak sekali kritik terhadap dia. Kalau di Cile buku itu barangkali udah tidak mendjadi masalah lagi.

Demikian wawantjara dengan Prof. Arief Budiman jang berlangsung pada tanggal 11 September 2003, tepat 30 tahun kudeta militer Djenderal Augusto Pinochet terhadap Presiden Salvador Allende.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s