“Rumah tusuk sate di Amsterdam selatan” fiksi Joss Wibisono

Tjatetan awal: Ini upaja pertamaku menuliskan gagasan jang sudah lama gentajangan di kepala, soal peran orang (kebanjakan mahasiswa) Indonesia (tepatnja Hindia Belanda) dalam verzet jaitu perlawanan terhadap Nazi di Belanda selama Perang Dunia II. Itu wektu Londo didudukin sama Nazi tapi mahasiswa Indonesia jang menuntut ilmu di negeri pendjadjah tidak mau tinggal diem. Semula sibuk memperdjuwangkan Indonesia merdeka, mereka terpaksa menghentikan perdjuangan itu, untuk terlebih dahulu ikutan dalem verzet melawan Nazi. Tjuman, lantaran udah bosen terus2an nulis sedjarah jang non-fiksi, kali ini aku pengin njoba fiksi. Mudah2an tidak mengurangi minat dan niat membatja salah satu tjerpen awalku ini. Oh ja, versi lain ini tjerpen jang dalem EYD nongolnja di Lembar Kebudayaan Indoprogress. Setelah pelbagai kritik terhadep versi pertama itu (terutama pada bagian achirnja), bisa dibilang ini versi revisi jang, deo volente, udah agak baekan deh.

Pasukan Djerman di djantung Amsterdam
Pasukan Djerman di djantung Amsterdam

MENELUSURI KOTAKU dengan katjamata orang lain: itulah jang hari ini kulakukan bersama Irwan. Aneh rasanja. Seolah ini bukan kota kelahiranku, bukan pula kotaku dibesarkan. Irwan punja tjara sendiri untuk mendjeladjahi Amsterdam jang pasti takkan kutempuh kalau aku sendirian. Tapi, besar kemungkinan sekarang aku djuga tidak akan bisa melewati djalan2 kesukaanku. Setahun setelah Rotterdam lantak, Amsterdam jang sebenarnja tidak sebegitu parah, ternjata tjuma bisa tampil sebagai kota mati. Di balik warna warni musim rontok, hawa jang makin dingin seolah menghalangi warganja untuk keluar. Sepi terasa mentjekam, Belanda makin tak berkutik dalam tjengkeraman Nazi.

Dari pertemuan di Roeterstraat, pada sebuah gedung jang ber-hadap2an dengan salah satu bangunan Universiteit van Amsterdam, sore ini kami melangkah ke Euterpestraat. Tapi Irwan tidak mau naik sepeda. Katanja sepeda akan menjulitkan upaja melarikan diri dan tjari selamat kalau mendadak ada razzia. Alasan razzia itu djuga menjebabkannja tidak mau naik tram. Sedjak pemogokan umum Februari silam, penguasa pendudukan tak henti2nja mengadakan patroli dan razzia, terutama di tempat2 umum. Untuk menghindari itu semua, kami djalan kaki sadja menelusuri pelbagai steegjes, lorong2 ketjil jang tak umum dilalui orang.

Pasukan Djerman berkeliaran di pinggir2 kanal Amsterdam
Pasukan Djerman berkeliaran di pinggir2 kanal Amsterdam

Aku tahu: arah ini sudah ditentukan oleh teman2 Amsterdam. Bagiku betapa djalan itu ber-belit2, sebenarnja kami bisa melewati djalan jang lebih sederhana lagi. Dan bukan hanja arah, saatnjapun sudah mereka pastikan. Tapi aku djuga tahu ini semua berkaitan dengan Amsterdam sebagai ibukota jang diduduki Nazi. Bersama Irwan, sore ini aku serasa menantang hawa dingin jang membungkus Amsterdam dan lebih dari itu djuga menantang para moffen, makian kasar orang Belanda terhadap kalangan Nazi jang kini menguasai negeri ini. Karena itu aku tak akan protes atau mengandjurkannja ganti rute.

Alhasil, walaupun kesabaranku sebagai orang Amsterdam terasa diudji, tapi aku sudah berdjandji pada diri sendiri: apapun jang terdjadi tak akan kubantah pilihan Irwan. Seperti djuga tak pernah kubantah apapun jang dimintanja dariku. Djangankan membantah, mempertanjakan arah jang dipilihnja sadja tak djua kulakukan. Dan betapa senang hatiku karena itu ternjata berhasil. Tapi harus kuakui tabiat chususku ini memang mengandung tudjuan sendiri. Ada udang di balik batu, kalau kugunakan istilah Irwan. Di balik sikap menurut ini aku berharap akan digandjar pahala jang selama ini selalu kupinta: diterima dalam kelompoknja. Dengan begitu aku akan bisa bergabung bersama orang2 jang selalu kurasa sebagai kaumku sendiri.

Razzia tram di Amsterdam
Razzia tram di Amsterdam

Sebenarnja apalah jang bisa dibantah pada Irwan? Begitu aku sering ber-tanja2 pada diriku sendiri, setelah setahun lebih mengenalnja. Aku ingat betul, tahun baru 1940, hari itu aku menjapanja di Rapenburg, kanal terbesar Leiden. Kami baru selesai menghadiri diskusi tentang antjaman Nazi, diadakan oleh para mahasiswa sosialis, tapi hadirin kebanjakan kelompok Irwan. Dalam undangan tertera pertemuan itu hendak merajakan tahun baru — dekade baru: 1 Djanuari 1940. Tapi njatanja hadirin hanja omong politik. Apalagi ketika Irwan angkat bitjara. Itu kedua kalinja aku dengar pendapatnja. Irwan sudah memperhitungkan, setelah Polandia, Nazi akan bergerak ke selatan, tidak ke timur seperti diramalkan orang. Karena itu Belanda, Luxemburg, Belgia dan Prantjis akan kena giliran, persis seperti Polandia. Nazi, begitu katanja, butuh pantai untuk menghadjar Inggris. Itulah wadjah asli Hitler jang mengachiri optimisme bahwa Nazisme adalah resep paling mudjarab bagi depresi selama dekade jang baru berlalu itu.

Diskusi sematjam itu kurasa perlu sekali, maklum koran2 Belanda tidak terlalu bergairah memberitakan antjaman Nazi. Entah mengapa. Paling banter tjuma diberitakan serbuan Nazi terhadap Polandia. Itu memang tak bisa dihindari, tapi antjaman Nazi terhadap Belanda? Tak satu katapun mereka luangkan untuk itu. Nada pemberitaan mereka djelas2 menguntungkan Nazi, apalagi koran kuning jang satu itu, sorot mataku ternanar pada seorang loper ketika ia sedang memasukkan koran jang bersembojan “Belanda bangun” pada sebuah kotak pos rumah di Beethovenstraat. Terlambat sekali dia, koran pagi baru diantar sore hari.

Kami berdua sudah sampai di bilangan Amsterdam selatan, daerah elit ibukota Belanda ini. Berarti tudjuan pertama sudah dekat, tapi akankah Irwan belok ke Euterpestraat, langsung ke rumah jang akan kami datangi? Sebenarnja rumah itu nomer berapa? Harus belok ke mana ini? Kiri atau kanan? Belum lagi rangkaian pertanjaan itu sempat kuadjukan, Irwan sudah menggumamkan omelan.

“Masih ada sadja pembatja koran chianat itu!” Rupanja Irwan memaki koran kuning jang sekarang memihak penguasa pendudukan dan mengingkari wangsa Oranje karena Sri Baginda Ratu sudah menjingkir ke seberang laut. Begitu Nazi berkuasa, koran2 Belanda kena sensor: tidak punja kesempatan lagi memberitakan masalah pendudukan ini. Dan memang hanja dengan begitu koran kuning ini bisa hidup terus, beda dengan koran satunja lagi, Irwan sering kulihat membatja koran jang sekarang sudah tidak terbit lagi itu.

Tapi sekarang melangkah ke mana? Euterpestraat tinggal sekitar 200 meter lagi, persisnja pada perempatan kedua, setelah perempatan Jan van Eijckstraat dan perempatan Apollolaan ini. Aku lebih ingin tahu soal tudjuan kami, “Langsung ke sana?”

“Djangan, tunggu dulu saat jang tepat!” Irwan berbisik seraja melambatkan langkahnja. Kulakukan hal serupa, walaupun larangan dan suaranja jang melemah membuatku tidak ingin bertanja lebih landjut.

Bukan sadja tudjuan pertama sudah dekat, di Euterpestraat itu djuga bermarkas SD, Sicherheitsdienst, djaringan intel para moffen. Di sekitar pertengahan djalan sepandjang satu kilometer jang menjandang nama dewi musik Junani purbakala itu, terletak gedung paling besar. Sebenarnja itu bangunan sekolah menengah putri, tapi dirampas SD untuk didjadikan markas besarnja. Djelas itulah jang menjebabkan Irwan mengubah langkah dan nada bitjaranja. Baru aku paham pendjelasannja sebelum kami berangkat tadi. Selain dua tudjuan jaitu Euterpestraat dan Willemsparkweg, Irwan menegaskan ada dua perkara penting jang perlu diperhatikan kalau sudah dekat tudjuan pertama. Patroli SD dan tanda boleh masuk. Patroli para tjetjunguk SD itu berlangsung setiap setengah djam. Itu bisa diperhitungkan, tapi bagaimana dengan tanda boleh masuk rumah tudjuan? Tanda seperti apakah gerangan itu? Pertanjaan itu meliputi benakku, tapi aku tak berdaja, tak berani kutanjakan ketika Irwan djuga bersikap awas dan mulai me-longok2, mentjari tahu patroli para tjetjunguk SD.

Mabes Sicherheitsdienst di Euterpestraat
Mabes Sicherheitsdienst di Euterpestraat

Kulihat Irwan menjingkap pergelangan tangannja untuk melihat djam. Belum lagi djam lima, tapi matahari sudah tenggelam, seperti biasa di musim rontok. Ia memandangi djalanan jang makin sepi, tram djuga tidak meluntjur lagi di Beethovenstraat. Masih seperempat djam sebelum SD kembali berpatroli. Tapi, sudah selesaikah patroli sebelumnja? Sulit memastikan, apalagi terhalang kabut jang mulai turun di remang sendja ini.

Tiba2 terlihat sorot lampu sepeda dari arah Euterpestraat. Tiga lampu itu makin mendekat. Belum sempat kuisjaratkan kedatangan mereka, Irwan sudah belok kanan, menjeberang djalan masuk Jan van Eijckstraat, perempatan berikut setelah Apollolaan tadi. Sedjenak aliran darahku terasa berhenti. Aku tjuma bisa tegak berdiri, tak bisa berbuat apa2. Mungkin lantaran refleks Irwan jang tak ter-duga2 itu, mungkin pula lantaran tiga pria bersepeda jang sekarang makin mendekat.

“Hati2 razzia, sebentar lagi,” salah satunja mendesis ketika berpapasan denganku. Itulah jang membangunkanku, darahku terasa kembali mengalir. Kelegaan ini kembali meluweskan ototku. Begitu mereka berlalu, segera aku bergegas menjusul Irwan. Sebenarnja dari awal sudah djelas mereka bukan intel SD jang sedang berpatroli: mereka tidak menjalakan lampu senter atau membawa andjing. Djam malam, dimulai djam delapan, djelas belum tiba, djadi, kalaupun intel, mereka tidak punja alasan menangkap orang. Begitulah tjaraku menenangkan diri sambil berupaja mengusir gemetaran ini.

Potret diri Jan van Eijck [1390-1441]
Potret diri Jan van Eijck [1390-1441]
Irwan ternjata menungguku di balik salah satu pagar rumah susun di Jan van Eijckstraat. Aku hanja geleng kepala mendjawab rasa ingin tahunja, dan memang sudah disepakati kalau sampai ada razzia kami akan tidak saling mengenal. Selain menegaskan mereka bukan tjetjunguk SD, aku sebenarnja djuga ingin bertanja arah langkah kami berikutnja. Tapi belum lagi itu sempat kulakukan, dari bibir Irwan kembali terdengar “ssttt” jang hari ini sudah ber-kali2 dilakukannja.

“Sebaiknja kita tidak langsung ke Euterpestraat,” udjarnja setengah berbisik. Kutjoba menenangkannja dengan menjatakan djam malam djuga masih lama. Mungkin baru pertama kali ini aku terdengar tidak terlalu setudju dengannja. Tapi pendapatku tak didengarnja. “Ada alamat lain, Minervalaan,” ia menjebut tudjuan baru dengan rahang beradu sehingga terdengar germertjik giginja. Aku tahu, Minervalaan tidak djauh lagi dari Jan van Eijckstraat ini. Itu daerah baru, dibangun untuk Olimpiade 1928, rumahnja besar2, milik kalangan berada. Tak berani bertanja mengapa, aku hanja mendjawab dengan anggukan, tak berani pula kutanjakan nomer berapa atau itu alamat siapa. Pasti dia mendapatkannja dari teman2 Amsterdam. Setahun lebih pendudukan Nazi membuat orang seperti Irwan siap dengan segala kemungkinan. Sementara itu ia tampak makin resah dan kedinginan ketika meneruskan langkah dalam kegelapan dengan suhu jang terus turun, djangan2 sudah lewat titik beku. Dugaanku, karena itulah dia ingin tjepat2 bernaung. Soal ini tidak djarang dia njinjir terhadap orang Belanda kolonialis jang sekarang berada di Hindia. Hanja untuk menghindari dingin, katanja. Kami melangkah ke Minervalaan jang tidak djauh lagi. Di luar dugaan Irwan menjebut nomer rumahnja, pasti nomer gandjil itu berada di sebelah kiri djalan raja jang memakai nama dewi kearifan Romawi purba ini. Berbeda dengan Beethovenstraat atau Jan van Eijckstraat, Minervalaan adalah sebuah boulevard, sebuah djalan raja dengan ladjur hidjau di tengahnja jang memisahkan deretan nomer gandjil dari deretan nomor genap.

Kami melangkah tjepat, untuk mengusir dingin ditambah keengganan berpapasan dengan kalangan jang bisa membawa tjelaka. Belok kanan menembus Rubenstraat, kembali di Apollolaan lalu belokan kiri pertama. Aku hanja menundjuk pada sisi djalan itulah terletak deretan nomer gandjil. Irwan mengangkat ibu djarinja. Dan memang nomer jang ditudju tidak djauh dari belokan itu, halamannja rapi, tak terlihat selembarpun daun di musim rontok ini. Dua pohon jang tumbuh di situ terlihat menampilkan daun warna2 kuning dan merah, sesuai musimnja. Kulihat ada bel, tapi Irwan mengetuk pintu rumah tingkat bawah itu enam kali, masing2 dua ketukan. Tak ada djawaban. Ketukan jang sama diulanginja lagi. Baru kemudian terdengar suara orang bertanja, siapa, dalam bahasa Belanda. Irwan memberi isjarat supaja aku djuga mendengar apa jang akan diutjapkannja. “Tjenthini,” katanja menjebut istilah jang baru pertama kali ini kudengar dengan t jang terdengar aneh pada telingaku.

Rupanja itulah kata sandi jang segera disambut dengan pintu terbuka. Tampak seorang perempuan jang wajahnja tidak terlalu asing bagiku. Ja, aku ingat: perempuan Belanda setengah baja ini sempat kulihat siang tadi pada pertemuan di Roeterstraat. Dia tidak banjak bitjara, jang dilontarkannja hanja soal2 praktis seperti penjediaan bahan pangan dan pakaian musim dingin. Dalam bahasa Belanda Irwan mendjelaskan mengapa kami harus mampir, sambil memperkenalkanku. Seraja memastikan perdjumpaan tadi siang, didjabatnja tanganku, dan ketika namaku kusebut dia bertanja, “Anda djuga dari Hindia?” Aku hanja bisa mengeluarkan bunji salah satu huruf hidup, tapi Irwan menjelamatkanku, “Dia orang kita djuga.” Dia sebut namanja, Dieuwertje, sambil mempersilahkan kami masuk. Sudah setahun lebih ini orang Belanda punja kebiasaan baru, berkenalan hanja dengan nama depan. Itupun belum tentu nama asli.

Kami memasuki ruang jang besar, terang benderang dan hangat. Sebenarnja itu baru ruang penghubung ke kamar2 lain. Dieuwertje mempersilahkan kami membuka djas musim dingin jang setelah njaris dua djam di luar terasa begitu kaku. Begitu djas2 kami disimpan pada garderobe, sematjam lemari penggantungan djas, Irwan menjebut satu nama lain, dan keinginannja untuk bertemu orang itu. “Tentu sadja. Saja beri tahu dulu, sebentar ja,” kata Dieuwertje sambil mempersilahkan kami duduk pada dua kursi jang mengapit garderobe itu. Kulihat Irwan menarik wadjah lega, raut mukanja seperti bersinar. Tuan rumah melangkah ke dapur di udjung ruangan. Terdengar sematjam derit pintu berat jang dibuka, lalu seperti anak tangga jang dilangkahi, entah ke bawah atau ke atas.

Tak lama kemudian Dieuwertje muntjul kembali untuk memastikan bahwa kami bisa bertemu nama jang disebut Irwan tadi. Kami ikuti dia ke dapur, di sana terlihat lemari perabot dapur berwarna kuning itu sudah tergeser dan di baliknja terlihat pintu, djelas menudju ruang persembunjian. Tangga jang ada di situ membawa kami ke kelder, sebutan ruangan bawah tanah rumah2 Belanda. Tapi Dieuwertje tidak ikut, katanja, “Saja siapkan kopi dulu”.

Kalangan verzet (perlawanan) menjembunjiken sendjata
Kalangan verzet (perlawanan) menjembunjiken sendjata

Rupanja dua orang sudah menanti kami di udjung tangga, jang satu djelas orang Belanda berambut pirang dengan muka dipenuhi djenggot dan tjambang. Jang lainnja? Ah, dia pasti jang ingin ditemui Irwan. Belum lagi kami benar2 lepas dari tangga, kudengar orang Belandanja sudah dua kali menjebut nama Tuhan. Telingaku menangkap suara njaring jang tak asing lagi. Astaga, benarkah itu dia? Djantungku serasa berhenti ketika berhadapan dengannja. Dan belum lagi kukatakan sesuatu dia sudah memelukku. Kulihat Irwan dan temannja berpandangan hampa, mereka djelas ter-heran2.

“Ini anakku,” pria Belanda itu, ajahku, memperkenalkanku pada Irwan dan temannja. Untung nama kelahiranku tak disebutnja. Dia tampak sudah terbiasa untuk tidak menjebut nama, apalagi kepada orang2 jang tidak dikenalnja. Lalu giliran dia mendjabat tangan Irwan dan kudjabat tangan teman Irwan. “Setiadji,” dia menjebut namanja dan kusebut namaku, “Menco,” sementara kudengar kepada Irwan ajah mengaku bernama Quirijn.

Tanpa ditanja ajah berkata masih tetap menunggu kepastian bisa berangkat ke Friesland, Belanda utara. Sudah dua bulan lebih dia menghilang, bersembunji menghindari Arbeiteinsatz, kerdjapaksa di Djerman. Dalam tempo itu ajah berubah sekali. Bukan sadja wajahnja jang terbungkus djenggot dan tjambang, tapi djuga sosoknja mendjadi lebih kurus. Dua bulan lebih tak kena udara luar dan sinar matahari menjebabkannja lebih tampak seperti seorang Florestan, tahanan politik dalam opera Fidelio tjiptaan Beethoven, jang memang sudah beberapa kali diperankannja di Stadsschouwburg Amsterdam, gedung kesenian ibukota. Peran terachirnja sebelum bersembunji adalah Lohengrin, opera Wagner jang bertokohkan satria pembela kaum lemah. Lohengrin djelas merupakan puntjak karier ajah sedjauh ini, walaupun dia sempat mengeluh karena di bawah Nazi hanja opera2 Wagner, Beethoven dan Mozart jang boleh dipentaskan, itupun harus dalam bahasa Djerman semua.

Lalu, seperti petir di langit tjerah, malapetaka itu menghantamnja, praktis ketika dia sedang di atas pentas. Nazi datang melakukan razzia. Ajah bukan anggota Kunstkamer, padahal peraturan penjanji opera harus anggota kamar seni keluar setelah ajah menandatangani kontrak berperan sebagai Lohengrin, Djanuari 1941. Rupanja Jajasan Opera Belanda tak berhasil membereskan keanggotaan ajah. Alhasil, dia harus turun panggung, pada puntjak kariernja, ketika baru dua kali tampil sebagai Lohengrin dari lima penampilan jang dijadwalkan. Pertundjukkan itu achirnja batal, karena tak diperoleh pengganti ajah sebagai pemeran utama Lohengrin. Pemetjatan ajah membuka mata kalangan elit Amsterdam, achirnja mereka merasakan djuga dampak pendudukan jang selama ini hanja dikira tertudju pada kalangan Jahudi semata.

Stadsschouwburg Amsterdam
Stadsschouwburg Amsterdam

Ajah sendiri terpaksa melamar mendjadi anggota kamar seni atas desakan Jajasan. Tapi sebenarnja dia sama sekali tidak berminat, karena sjarat diterima sebagai anggotanja sama sekali tidak berkaitan dengan prestasi seni seseorang. Tegasnja untuk bisa diterima berarti ajah harus bertjerai dari ibu. Tak terbajangkan padaku mereka akan bisa bertjerai. Keduanja terlalu rukun dan sebagai pemusik, kehidupan mereka begitu terdjalin erat satu sama lain. Mereka sama2 lulusan konservatorium Amsterdam dan sudah berpatjaran ketika masih belasan tahun, sebagai mahasiswa tahun pertama. Bedanja tjuma satu: ajah mendjadi penjanji opera sementara ibu memilih tetap setia pada Bach dan musik Barok, sedjak diterima sebagai pemain biola utama pada orkes Perhimpunan Bach, tak lama setelah tamat konservatorium. Tapi alasan terpenting mengapa ajah tak mungkin diterima dalam Kunstkamer adalah latar belakang ibu. Sebelum menikah ibu bernama Groenteman, nama Jahudi. Kaum Nazi menganggapnja sebagai noda jang mentjemarkan kearjaan ajah. Aku ingat betapa megah ajah jang bermata biru dan berambut pirang dalam peran Lohengrin. Dengan kata lain dari katjamata Nazi, karena mengawini ibu, ajah sudah tidak murni Arja lagi. Itu baru ajah, tahu sendirilah bagaimana Nazi melihat diriku jang beribukan seorang non-Arja.

Tak lama setelah Nazi masuk, ibu bergegas ke Friesland di Belanda utara, menumpang —tepatnja bersembunji— pada salah satu keluarga petani di pedesaan. Ajah masih berani tampil, sampai didjemput malapetaka Kunstkamer. Itupun tak membuatnja gentar, menjusul Lohengrin dia masih bertahan beberapa bulan dengan tampil sebagai tenor solo di beberapa konser rumah. Ini bukan untuk umum, dan diselenggarakan oleh kaum berada Amsterdam. Sampai achirnja datang surat teguran sekaligus panggilan Arbeiteinsatz, kerdjapaksa di Djerman. Itulah saat baginja untuk menjingkir dari kehidupan umum. Ketika pamit di achir September itu, ajah berkata akan menjusul ibu ke Friesland. Bahkan dia sempat menundjukkan surat ibu jang dititipkan orang. Di situ terbatja ibu sudah tak sabar menanti, tak lupa peluk tjium untukku.

Konser Rumah: Biola dan Piano
Konser Rumah: Biola dan Piano

Sambil menikmati kopi jang dihidangkan Dieuwertje, kutjeritakan sadja kisah hidup orang tuaku tadi pada Irwan dan Setiadji, karena begitu sulit hanja berbitjara dengan ajah dan mengabaikan keduanja. Ruang bawah tanah itu begitu sempit dan tidak terlalu tinggi. Tapi hangat dan tidak lembab. Perabotnja tjuma satu medja satu kursi dan tempat tidur susun. Bagaimana mungkin ajah jang begitu djangkung bisa bertahan dalam ruang seketjil ini, bersama Setiadji dan sudah dua bulan lagi lamanja? Ajah hanja tersenjum, pilihannja kerdjapaksa di Djerman, katanja. Moga2 di Friesland lebih baik, kataku singkat, karena ingin memberi kesempatan kepada Setiadji atau Irwan, setelah begitu lama bitjara.

Setiadji mengulurkan dua lembar kertas pada Irwan, “Ini sudah lama kutulis, tolong dibitjarakan dengan teman2”. Irwan langsung membatjanja, tapi Setiadji tidak memberinja kesempatan. “Gagasannja gampang sekali,” landjutnja, “Dengan menjingkir ke Inggris, pemerintah Belanda sudah melanggar konstitusinja sendiri. Sekarang Belanda tak punja pemerintahan, itu artinja Indonesia punja status baru, kemerdekaan djelas makin dekat!” Mendengar itu Irwan berhenti membatja, “Teman2 djuga sudah bitjara begitu, tapi belum lagi soal melanggar UUD sendiri itu. Ini baru.” Tampak benar betapa dirinja terbakar oleh semangat setelah njaris beku disekap dingin, tidak sampai setengah djam lalu. Dan itu berkat pendapat seorang meester in de rechten atau sardjana hukum jang begitu lulus dari Leiden terpaksa bersembunji karena di-tjari2 para moffen, sebagai salah seorang pengurus Perhimpunan Hindia. Ajah meng-angguk2, “Sjukurlah kau sudah bersama kalangan Hindia,” ia tampak merestui pilihanku berteman dengan Irwan serta orang2 Indonesia lain. Mudah2an ia djuga melihat bahwa pilihanku ini wadjar sadja, sebagai seorang mahasiswa Indologie di Leiden. Tapi kuisjaratkan supaja kita mendengarkan pembitjaraan mereka lebih landjut.

Ratu Wilhemina dan menantunja, Pangeran Bernhard (memberi hormat) di London 1940
Ratu Wilhemina dan menantunja, Pangeran Bernhard (memberi hormat) di London 1940

“Pasal 21 ajat 2 UUD menegaskan kedudukan pemerintahan tidak boleh dipindah keluar keradjaan,” Setiadji berlandjut. “Sekarang mereka enak sadja bikin pemerintahan pengasingan di London. Itu djelas sudah melanggar UUD selain tentunja mereka biarkan sadja rakjat menanggung perilaku para moffen. Tapi ini sudah sering kita dengar, jang djauh lebih penting bagi kita adalah status Indonesia. Masihkah Indonesia merupakan koloni Belanda, ketika sekarang Belanda diduduki Djerman? Itu!” Setiadji makin terdengar sebagai seorang orator. Untung dia masih tahu diri dan tetap duduk, sementara dari atas Dieuwertje memperingatkan supaja dia tidak bitjara keras2. Aku sadar, dia tidak ikut dalam pembitjaraan ini karena ber-djaga2 menghadapi hal2 jang tidak diinginkan.

“Ini pasti akan kita muat dalam Madjallah,” Irwan menjebut penerbitan bawah tanah kelompoknja. “Sudah seminggu ini kita punja mesin stensil sendiri,” landjutnja. “Di Euterpestraat?” Setiadji bertanja dengan nada tak pertjaja. Irwan mengangguk, “Kita semua disibukkan dengan itu. Beberapa penerbitan jang dilarang achirnja bisa terbit lagi. Berkat upaja Ibu Soewarni dan ini dia, Menco!” Irwan me-nempuk2 punggungku. Setiadji tetap berlandjut dengan ketidakpertjajaannja, “Djadi tidak hanja Madjallah?” Irwan segera menimpali, “Ija, kita sekarang punja kesempatan untuk itu mentjetak Het Parool, De Waarheid dan De Vrije Katheder!” Ia sebut tiga koran Belanda jang terbit kembali dalam bentuk stensilan, setelah kena larangan para moffen. “Hebat kalian, terus bagaimana mengedarkan semua itu?” Setiadji seolah tidak pertjaja pada pendjelasan Irwan. “Siapa sadja jang pernah mampir ke Euterpestraat dapat tugas menjebarkan stensilan, ketjuali dia seorang mof,” Irwan mentjoba bertjanda.

Mentjetak koran ilegal menggunakan mesin stensilMentjetak koran ilegal menggunakan mesin stensil
Mentjetak koran ilegal menggunakan mesin stensil

Sedjenak aku tertjenung. Sungguh: mereka ini bukan orang Belanda. Bahkan mereka tengah berupaja membebaskan diri dari pendjadjahan Belanda, berdjuang mendirikan negara sendiri. Tapi sekarang ketika Belanda, negeri si pendjadjah itu diduduki Nazi, mereka ternjata berdjuang djuga bagi Belanda. Mengapa ini mereka lakukan? Bukankah ini bukan perang mereka? Bukankah mereka tidak diduduki Nazi dan bukankah Nazi tidak berperang melawan negeri mereka? Sekarang pasti perdjuangan kemerdekaan Indonesia mereka hentikan. Untung sadja ada peringatan Setiadji! Ini perlu supaja mereka tidak terlalu hanjut dalam perdjuangan melawan Nazi. Perdjuangan kemerdekaan Indonesia harus tetap merupakan tudjuan utama mereka. Achirnja aku sampai djuga pada pendirian seperti ini. Bagaimanapun: aku butuh pembenaran bagi kedekatanku pada mereka.

“Ini mevrouw Soewarni di Euterpestraat 167?” Giliran ajah jang keheranan. “Klopt,” Irwan membenarkan, “Sekali lagi ini djuga djasa ananda, karena Menco bisa mendapatkan mesin itu dari Fakultas Indologie, ketika Universitas Leiden tutup”. Pudjiannja membuatku ter-sipu2. Sebenarnja jang disebut Irwan djasa itu hanjalah upaja membudjuk profesor Cohen supaja mengizinkanku membawa mesin stensil kantornja. Dan tidaklah sulit mejakinkan profesor Cohen. Gurubesar ini langsung setudju begitu kutegaskan mesin itu akan dipakai mentjetak penerbitan gelap. Ia termasuk alasan kenapa para moffen keparat itu menutup alma materku. Para gurubesar jang bukan Arja harus dipetjati, kalau tidak universitas akan ditutup, begitu sjarat djahanam mereka. Betapa bangga diriku begitu tahu alma mater menolak memetjat para profesor non-Arja, seperti Cohen. Djadi bukan kedjutanlah kalau profesor Cohen mendukung setiap upaja melawan para moffen.

Ongelooflijk,” ajah keheranan tapi penuh kekaguman. Betapa besar resiko jang ditempuh oleh Ibu Soewarni sekeluarga. Mereka lakukan itu semua persis di depan hidung para tjetjunguk SD jang berkantor paling djauh 200 meter dari rumah mereka, Euterpestraat 167. Masih diliputi rasa tak pertjaja, ajah kemudian berkisah bahwa ia pernah bertetangga dengan Ibu Soewarni. Sebagai pengantin baru ajah dan ibu ternjata sempat tinggal selama hampir setahun di Euterpestraat 165, tentunja sebelum aku lahir. Djadi orang tuaku kenal Ibu Soewarni dan keluarganja! Suaminja seorang dokter Belanda jang waktu berkenalan dengan orangtuaku baru selesai pendidikan spesialis anak2. Pada titik ini Irwan memotong pembitjaraan ajah. Katanja dokter Lennart, suami Ibu Soewarni, tewas di tempat kerdjanja Rumah Sakit Coolsingel Rotterdam, ketika para moffen membom Rotterdam tanggal 14 Mei 1940. Wilajah pusat Rotterdam hantjur, termasuk rumah sakitnja. Mendengar itu ajah menarik wadjah ketjut. Ia berharap mudah2an Ibu Soewarni dan dua anak kembarnja, Sonnie dan Ronnie, tabah menghadapi kehilangan ini. Sebagai tetangga, ajah dan terutama ibu sering mengawasi keduanja, mungkin untuk pelampiasan karena ibu begitu ingin punja anak. Katanja rumah Ibu Soewarni tepat berhadapan dengan pertigaan Euterpestraat Leonardostraat, di pertigaan itulah anak2 sering bermain. Ada satu hal jang masih diingat ajah. Ibu Soewarni, kata ajah, selalu menjebut rumahnja tusuk sate, karena berhadapan langsung dengan Leonardostraat. Di Djawa rumah tusuk sate dianggap tidak membawa keberuntungan. “Moga2 dia tidak menghadapi masalah lagi, dia sudah kehilangan suami,” ajah mengachiri pendjelasannja. Mendengar kisah ini aku iri djuga padanja. Betapa aku ingin sekali bertemu Ibu Soewarni dan putra kembarnja!

Kelder (ruang bawah tanah) untuk bersembunji
Kelder (ruang bawah tanah) untuk bersembunji

Aku memang belum pernah bertemu mereka, tugasku dulu hanja membawa mesin stensil ke pemondokan Irwan. Kemudian teman lain mengangkutnja ke Amsterdam. Itupun bertahap, tidak langsung ke Amsterdam, tapi setjara estafet dari satu tangan ke tangan berikut. Karena itu butuh waktu lama, sebulan lebih. Dan ketika sampai di Amsterdam ada orang lain lagi jang bertugas membawanja ke Euterpestraat 167. Teman2 tidak ingin membebankan tugas berat ini hanja pada satu orang. Kalau sampai tertangkap membawa mesin stensil, seseorang bisa ditembak di tempat oleh moffen keparat.

Dari atas Dieuwertje minta tolong supaja dibantu menghidangkan makanan. Rupanja dia selesai memasak, itulah bau sedap jang sempat membuat perutku me-ronta2. Aku bergegas ke atas dan mendapati Dieuwertje sudah siap dengan hidangan Belanda: stamppot. Kesulitan menjembunjikan kaget, aku pura2 senang karena kelaparan segera berachir. Tapi tak berani kudjawab pertanjaan Dieuwertje apakah Irwan suka. Aku ingat betul, tahun lalu Irwan mengadjak tjari makan di tempat lain begitu mendapati kantin universitas menghidangkan stamppot. Seorang temannja menjebut stamppot sebagai semur sosis ditjampur bubur kentang dan sajur rebus. Irwan lebih tegas lagi: “makanan baji”. Tentu sadja Dieuwertje tak kuberi tahu. Begitu sampai di bawah kudapati ajah tengah berbitjara serius dengan Irwan dan Setiadji. Tapi terhenti ketika Dieuwertje melongok untuk berkata, “Apa adanja sadja, moga2 bisa dinikmati!” Kami berterima kasih serempak. Segera aku sibuk melahap, walaupun itu tjuma dalih supaja tidak perlu melirik Irwan.

Sepiring
Sepiring “Stamppot”, hidangan chas Londo

Stamppot belum benar2 habis, ajah sudah mendesak bitjara. “Ada hal penting jang ingin kukatakan padamu, tadi sempat aku singgung sebentar pada Irwan dan Setiadji, ketika kau di atas,” katanja. Mulutku masih penuh, djadi aku hanja mengangguk sadja, sekaligus menggerakkan tangan mempersilakannja.

“Aku tak ingin kau dengar dari orang lain, selain aku atau ibumu. Dan ibumu sudah setudju kalau hal ini kubitjarakan denganmu,” ajah menarik wadjah serius. Agaknja ini berkaitan dengan warisan atau sedjenisnja, kalau2 ajah atau ibu tidak kembali.

“Kami sebenarnja bukan orang tuamu jang asli,” kata ajah ter-putus2. Mendengar itu bukan sadja detak djantung, tapi nafasku djuga terasa berhenti. Lalu aku kesulitan mengunjah apalagi menelan makanan jang tiba2 terasa begitu menjesaki mulut. Mungkin djuga mulutku sekarang menganga, berupaja menggapai nafas, karena hidung terasa tersumbat. Jang djelas omongan ajah ini membuatku lebih dari sekedar kaget. Dengan isjarat tangan ajah kuminta melandjutkan omongannja.

“Ajah biologismu adalah seorang pangeran Djawa. Dia sudah kembali ke Djawa, tapi waktu itu dia studi hukum di Leiden. Ibu aslimu seorang Belanda, dari Amsterdam sini, teman dekat ibu. Kalau tidak salah dia achirnja djuga ke Hindia”. Kedua orang tua biologisku, demikian ajah berlandjut, meminta dia dan ibu supaja membesarkanku. “Mereka sendiri kesulitan, belum bekerdja, tidak punja penghasilan tetap,” ajah seolah mengiba untuk mereka. Mungkin lantaran wadjahku tetap sadja dipenuhi tanda tanja.

Sulit membajangkan ajah asliku miskin, lagi pula bukankah hanja kalangan darah biru jang bisa mengirim anaknja studi landjut di Belanda? Dua di antaranja sekarang duduk di hadapanku: Irwan dan Setiadji sama2 punja gelar Raden Mas, walaupun sudah djarang mereka gunakan. Pasti mereka jang disebut orang tua asliku tidak siap menjambut kehadiranku. Tiba2 diriku merasa betapa mereka tidak bertanggung djawab sebagai orang tua! Lalu kudapati dekapan ajah, dekapannja kedua malam ini, sementara kesulitan bernapas membuatku sesenggukan. Dan ajah makin mempererat dekapannja.

Terus terang aku kesulitan, bukan hanja kesulitan bernapas dan lebih dari itu kesulitan menentukan sikap, tapi djuga kesulitan mengerti ajah. Rasanja seperti harus memetjahkah kalkulus jang begitu rumit. Haruskah aku bergirang ria, karena ternjata separuh darah dagingku punja asal usul di Indonesia, sama seperti teman2 dekatku? Atau djustru haruskah aku berduka nestapa karena dua orang jang begitu kusajangi dan begitu berperan dalam kehidupanku ternjata bukan ajah ibuku jang sedjati?

Jang djelas kini aku paham mengapa tampangku lebih terlihat Indo, tjampuran Indonesia-Belanda. Beda benar dari kedua orang tuaku. Ajah selalu menjebut rambut kelamku berasal dari ibu jang djuga berambut kelam. Tapi tak pernah disebutnja kenapa satu mataku tjoklat sedang jang lainnja kehidjauan, sementara matanja dan mata ibu tidak berwarna itu. Aku djadi ingin tahu tampang mereka, kedua orang tua asliku. Mirip siapakah aku? Akankah kelak aku bisa bertemu mereka?

Pelbagai perasaan silih berganti, bergeseran dengan tjepat seperti wajang kulit di kelir pada adegan goro2, begitu kalau Irwan bertutur. Sesaat kuanggap kedua orang tua asliku tak bertanggung djawab. Itu segera digeser oleh keinginanku bertemu mereka, pada kedjapan mata berikut. Walaupun itu tjuma karena ingin tahu aku ini mirip siapa. Tapi untuk itu aku akan harus ke Hindia, ah bukan, ke Indonesia seperti tjara Irwan dan teman2nja jang temanku djuga menjebut negeri kelahiran mereka. Mungkinkah aku ke sana? Bagaimana bisa menerobos pendudukan Nazi dan dengan apa bertolak ke Batavia? Masih adakah kapal jang berlajar ke Batavia, tatkala Eropa ter-tjabik2 perang seperti ini? Adakah mereka jang mendjadikanku anak pungut ini tinggal di sana? Di manakah sebenarnja kedua orang tua asliku, itu jang ingin kuketahui dari ajah seraja ingin menghirup napas jang lebih bebas.

“Entah,” kata ajah begitu melepas dekapannja. “Kami tidak pernah ada kontak dengan mereka. Tapi pasti ada tjara untuk tjari tahu di mana mereka berada.”

Kembali perasaan lain mentjekamku, bagaimana kalau mereka tidak mau bertemu denganku? Tahukah ajah apakah mereka hidup bersama, sebagai suami istri? Kulihat ajah menggeleng disertai wadjah penuh penjesalan, djuga penuh tanda tanja.

“Bukan maksudku bikin kau sedih nak,” katanja ter-bata2. Sedjenak aku mengangguk, ingin sekali kukatakan langkahnja ini bisa kupahami.

“Mumpung kita sekarang bertemu, aku tak tahu kapan lagi kita akan bertemu,” landjutnja seolah meng-ais2 alasan untuk membenarkan penuturannja. Kembali aku hanja bisa mengangguk, ber-kata2 masih mengchawatirkanku, lidah tetap terasa kelu. Menggunakannja djangan2 bisa kembali menggugah sesenggukan.

Sekelibat bajangan maut menghundjamkan dirinja padaku. Bagaimana kalau ajah tidak kembali? Dia bahkan tak akan pernah sampai di Friesland? Bagaimana? Belum lagi sempat kurenungi hal ini, pikiran maut berikut sudah menampakkan dirinja, bagaimana kalau ibu jang tak bakal kembali? Serasa panik mulai menggeram, dan diriku tak kuasa menghalangi bajangan seram berikutnja lagi. Bagaimana kalau kedua orang tua jang membesarkanku tak akan pernah kutemui lagi? Semua itu bukan mustahil di zaman pendudukan dan Perang Dunia ini! Bajangan maut itu tak djua enjah, kini seolah terlihat diriku sendiri jang djadi korban, tertindih bangunan runtuh akibat bom Nazi. Bajangan maut silih berganti ini membuatku paham pada keputusan ajah untuk memberitahukan hal penting ini padaku sekarang. Dia benar, kesempatan ini memang harus dimanfaatkan! Di lain pihak, harus kuakui: sebaiknja ajah memberitahuku hanja bersama ibu, ini djelas masalah paling pribadi bagi kami bertiga. Tapi sebenarnja kehadiran Irwan dan Setiadji djuga tidak terlalu memberatkanku, apalagi karena isinja lajak mereka ketahui, supaja djangan sampai ada keraguan untuk menerimaku dalam kelompok mereka. Pasti ketika aku tadi di atas membantu mempersiapkan makan malam, ajah sudah memberitahu mereka. Pembitjaraan serius mereka terputus ketika aku turun membawa makanan. Mungkin raut mukaku sekarang terlihat sedikit lega, tapi ajah tak djua berhenti.

“Ibumu dan aku tjuma tidak ingin kau tahu dari orang lain. Itu sadja.” Ia meng-elus2 pundakku. Dipegangnja pula kedua belah tanganku.

Bukankah ini berarti ada orang lain jang tahu bahwa aku ini anak pungut? Siapakah dia? Aku makin kesulitan menenangkan diri. Pelbagai bajangan kembali berdatangan, tak henti2nja menghembuskan gundah jang terus meresahkanku. Pada intinja itu semua berisi pertanjaan siapakah diriku ini sebenarnja. Aku djelas bukan anak dua orang seniman pemusik seperti jang selama ini selalu kubanggakan. Aku ternjata djuga bukan anak seorang perempuan keturunan Jahudi jang menikah dengan seorang Belanda asli, Belanda Arja, kalau menurut kategori rasis Nazi dan begundalnja. Sekarang harus kuterima kenjataan baru bahwa ajahku adalah seorang pangeran Djawa sementara ibuku seorang Belanda, djadi siapa diriku ini sebenarnja?

Entahlah. Tidak bisa memahami dan tak bisa menentukan sikap terhadap kenjataan jang baru kutahu ini mungkin djuga tidak terlalu penting. Betapa aku ingin kembali pada dekapan ajah, walaupun hanja untuk memperoleh tambatan bagi kekatjauan durdjana jang kini bersimaharadjalela mendjadjah benakku. Kulihat piring Irwan kosong, mungkin dia sudah kelaparan djuga. Tapi mungkin pula dia tak ingin mengetjewakan Dieuwertje jang sudah repot2 memasak. Ah, mungkin memang harus kupikirkan hal2 lain jang lebih sederhana.

Pandangan kuarahkan pada ruang sempit ini. Ah ja! Ini jang penting: di balik Amsterdam jang tampak sunji serta tertjekam ketakutan ini, ternjata riuh djuga kobaran semangat perlawanan. Pada titik ini aku tersenjum pada Irwan dan Setiadji jang dari tadi tjuma diam dan sering menunduk. Mereka djelas termasuk wudjud njata perlawanan itu. Dari sini orang Belanda harus tahu dan bertjermin, kalau sekarang mereka melawan penindasan Nazi, bukankah itu persis sama dengan orang Indonesia jang melawan kolonialisme Belanda? Di manapun serta kapanpun kese-wenang2an dan penindasan akan selalu membangkitkan perlawanan. Aku sendiri makin jakin bahwa keterlibatanku dalam perlawananan jang dilantjarkan oleh kelompok Irwan dan Setiadji merupakan sesuatu jang alamiah, tuntutan darah dagingku sendiri.

Per-lahan2 dan dengan hati2 kubiarkan perasaan ini mekar di dadaku, bahwa aku sudah diterima dalam kelompok Irwan. Aku sudah diperkenalkannja pada Setiadji, sudah diberitahu aktivitas mereka di Euterpestraat. Lebih dari itu mereka djuga tahu latar belakangku, bahwa aku ternjata berdarah Indonesia djuga, walaupun Dieuwertje sempat mempertanjakan asal usulku. Sekarang aku ber-siap2 untuk diperkenalkan kepada Ibu Soewarni dan dua putra kembarnja Sonnie serta Ronnie. Kemudian Irwan djuga akan mengadjakku ke Willemsparkweg, tempat berkumpul lain mahasiswa Indonesia di Amsterdam. Ini semua menimbulkan kegirangan padaku, tapi aku tetap ber-hati2 untuk tidak meluapkannja.

Dieuwertje kembali memanggil. Anggurnja kelupaan, katanja di ambang tangga sambil membawa sebotol anggur merah. Ketika aku ke atas, dia djuga menjelipkan lipatan kertas pada tanganku jang sudah menggenggam botol. “Ini untuk Quirijn,” katanja, “baru sadja dimasukkan dalam kotak pos di pintu depan”.

Eindelijk,” ajah ternanar membatjanja. Matanja djuga ber-binar2 tatkala dia menghelakan kelegaan karena penantian pandjangnja segera berachir. “Besok pagi, begitu djam malam kelar, aku akan didjemput dengan prahoto.” Luapan ini segera dilandjutkannja dengan dekapan ketiga.

Voor Mama, ter herinnering aan onze fietstocht door Amsterdam

Amsterdam, musim dingin achir 2012

Rudjukan

1. Marco Entrop (1993): Onbekwaam in het compromis, Willem Arondéus kunstenaar en verzetsstrijder, Amsterdam: Bas Lubberhuizen uitgever.

2. Loe de Jong (1970): Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog Deel 3 Mei ’40, ‘s-Gravenhage: Staatsuitgeverij.

3. Harry Poeze (1986): In het land van de overheerser I, Indonesiërs in Nederland 1600-1950, Dordrecht: Floris Publications. (terutama Bab “1940-1945: Isolement en solidariteit” halaman 297-330).

4. Friso Roest en Jos Scheren (1998): Oorlog in de stad, Amsterdam 1939-1941, Amsterdam: Van Gennep.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s