“Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

Karena diwawantjarai Indonesiënu.nl aku tulis azha deh resensi ini.

Di atas pentas, keberhasilan seorang soprano lebih tergantung pada kerdjasamanja dengan pianis pengiring ketimbang hanja pada kualitas vokalnja sendiri. Ini dibuktikan oleh dua orang pemusik Asia jang menuntut ilmu di Belanda dan kini djuga mentjoba membangun karier di negeri kintjir angin. Pada penampilan di Tong Tong Fair, Den Haag, Sabtu malam 7 Djuni 2014 itu, soprano Indonesia Bernadeta Astari dan pianis Djepang Inoue Kanako membutikan diri berhasil meningkatkan mutu kebersamaan seni mereka. Keduanja tampil harmonis; tidak sadja dalam irama, tapi dalam gojangan dan lebih penting lagi dalam pendjiwaan. Semuanja laras dan merupakan perpaduan jang memukau. Kerdjasama jang berhasil, apalagi dalam bidang seni, djelas butuh waktu, tidak bisa instan atau langsung djadi.

Bernadeta Astari dan Inoue Kanako di Tong Tong Theater
Bernadeta Astari dan Inoue Kanako di Tong Tong Theater

Dan memang dalam lima tahun sebagai pasangan penjanji-pengiring, pada malam minggu itu terlihat Deta (panggilan Bernadeta Astari) dan Kanako telah sampai pada djendjang baru. Mereka tidak berhenti pada prestasi tahun 2012, ketika —bersama Kanako— Deta meraih anugerah Dutch Classical Talent: penghargaan tertinggi seorang pemusik jang mengawali karier di Belanda. Sabtu itu mereka berdua saling mengisi, saling mendukung dan saling memperkuat. Karena kerdjasama mereka teranjam rapi, maka tidak ada lagi pembagian kerdja ketinggalan zaman antara pengiring dengan penjanji, misalnja penjanji di depan dan pengiring di belakangnja. Berada persis pada satu garis, Deta dan Kanako menampilkan rangkaian nada dan kata jang elok terdjalin dan indah terdengar serta, lebih penting lagi, mempesona ditonton.

Paul Seelig
Paul Seelig

Keduanja membuka penampilan dengan Tembang Sunda, karja Paul Seelig (1876-1945), seorang komponis jang berkarja serta tutup usia di Bandoeng, Hindia Belanda, tjikal bakal Indonesia. Barang siapa sudah mengikuti Deta dan Kanako sedjak penampilan perdana tahun 2009, pasti tahu karja siklus ini sudah termasuk dalam chazanah repertoir awal mereka. Tapi begitu Deta mengalunkan suara soprannja, segera terasa ada sesuatu jang baru. Suara itu terdengar lebih matang, karena sekarang memiliki kedalaman. Register rendah, bagian suara jang memberi warna meruang dan lebih dalam, kini terdengar djelas. Alhasil, di Tong Tong Festival Deta telah memperbaharui diri dengan suara jang lebih berbobot.

Pada pelbagai penampilan terdahulu Deta memang sudah setia pada partitur Paul Seelig dengan fasihnja. Rangkaian appogiatura (nada2 hiasan singkat dan tjepat) jang mempertjantik tiga nomer Tembang Sunda, dibawakannja dengan santai dan mulus. Malam itu Deta masih menambahkan satu keindahan lagi: suaranja lebih dalam, maka baik Sinom, Kinanti maupun Dandang gula miring (tiga nomer Tembang Sunda) terdengar lebih njaring dan kokoh, karena didukung oleh register rendah jang mantap. Deta menjanji dengan segenap raganja, tidak hanja mulut atau kerongkongan atau dada belaka.

Inoue Kanako
Inoue Kanako

Pianis Inoue Kanako djuga tidak mau ketinggalan. Dia menundjukkan kepiawaian membawakan tiga nomer Tembang Sunda itu seperti lajaknja menabuh gamelan. Apalagi pada nomer Dandang gula miring, bilah2 tuts piano dimainkannja seperti memetik katjapi, instrumen chas Sunda. Inoue–san bisa sampai pada penafsiran seperti ini djelas karena dia achirnja paham gamelan Sunda.

Harmoni dan kelarasan jang paling njata terlibat pada dua nomer tjiptaan komponis Prantjis Francis Poulenc (1899-1963). Les chemins de l’amour (tapak2 asmara) adalah sebuah nomer sedih tentang upaja mentjari tjinta lama jang tidak kundjung ketemu. Menariknja lagu jang sjairnja ditulis oleh Jean Anouilh (1910–1987) ini djuga berisi walsa lambat, untuk melukiskan kenangan tjinta jang masih sadja berbekas. Di sinilah Deta maupun Kanako tampil optimal, walsa jang biasanja mengiringi tarian berpasangan mereka bawakan dengan tjukup lambat, tapi tanpa pretensi tjengeng. Bukan tjuman Deta jang bergojang meningkahi walsa, Kanakopun “menggojangkan” permainannja. Itu semua mereka lakukan pada takaran jang tepat, sesuai dengan sebuah walsa murung.

Meninggalkan suasana murung, Deta memilih karja Poulenc lain, Voyage à Paris (perdjalanan ke Paris), ditjuplik dari kumpulan chanson (lagu seriosa Prantjis) jang berdjudul Banalités, sjairnja merupakan buah pena Guillaume Apollinaire (1880-1918). Di sini dia tampil dengan coquette alias kenès, baik dalam perilaku maupun tjaranja membawakan nomer ini. Kanako memainkan piano dengan djenaka. Jang menarik, supaja tetap kenès, Deta memilih nada fals ketika mengachiri nomer ini. Ini djelas langkah berani jang rada riskan (karena nada achir jang dipilihnja tidak tertera di partitur), tapi dampaknja menarik dan memang disambut tepukan tangan meriah penonton.

Sampul depan "Banalités"
Sampul depan “Banalités”

Tantangan mereka berdua adalah membawakan Banalités selengkapnja, tidak hanja Voyage à Paris jang sebenarnja sudah terlalu sering dibawakan oleh musisi lain. Lima nomer dalam Banalités sangat bervariasi membutuhkan daja vokal serta pendjiwaan tersendiri. Bisakah Deta dan Kanako tampil sebagai orang bosan ketika membawakan Hôtel, nomer kedua Banalités, karena memang demikian tuntutannja?

Selain Seelig dan Poulenc, malam minggu itu kedua pemusik djuga menampilkan karja2 Claude Debussy (1862-1918) dan Xavier Montsalvatge (1912-2002). Djelas bukan tjuman dari zaman jang berbeda, karja2 itu djuga dalam pelbagai bahasa. Lengkapnja, Deta memperdengarkan nomer2 dalam bahasa2 Sunda, Prantjis dan Spanjol. Selain bahasa Italia sebagai imbuhan, menariknja, Deta ternjata tidak melupakan Indonesia.

Maka mengalunlah Bumi Hidjau, tjiptaan Mochtar Embut (1934-1973) atas puisi2 awal Rendra (1935-2009) jang pendek dan molek. Kembali Deta mengambil langkah riskan karena membawakan karja seorang komponis jang tidak terkenal, apalagi di Belanda. Tapi djelas bukan tanpa pertimbangan, karena Deta tahu persis dia berhadapan dengan publik TongTong Fair jang terbuka bagi karja2 jang tidak termasuk arus utama musik vokal.

Mochtar Embut (1934-1973)
Mochtar Embut (1934-1973)

Bumi Hidjau adalah sebuah karja djelita; sembilan nomer jang dimulai dengan sentuhan pentatonis singkat dan diachiri dengan pentatonis sepenuhnja. Antara awal dan achir tersebar pelbagai nomer pendek-pendek bak untaian mutiara jang bertangga nada chromatis.

Dalam chazanah Lieder (lagu seriosa berbahasa Djerman), orang mengenal Erlkönig tjiptaan Franz Schubert (1797-1828) atas sjair karja pudjangga Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832). Sadjak ini berkisah tentang upaja mati2an seorang ajah untuk menjelamatkan anaknja jang sakit, dan untuk itu harus menempuh badai. Badailah jang terdengar begitu karja ini dimainkan.

Gelora serupa djuga terdengar pada Angin Djahat, nomor terachir Bumi Hidjau. Tjuma Mochtar Embut menggubah sebuah karja jang benar2 Indonesia. Maklum semua melodi nomer jang berdjudul Angin Djahat itu dimainkan pada tuts hitam, sehingga bisa dikatakan bertangga nada sléndro. Tak pelak lagi, inilah djawaban seorang Indonesia terhadap karja Schubert itu.

Deta dan Kanako pasti tidak tahu bahwa Angin Djahat adalah djawaban Mochtar Embut (jang sebenarnja kelahiran Makassar) terhadap sebuah karja Barat. Terus terang, ini djuga tjuma rekaan saja belaka. Jang djelas mereka berdua membawakannja dengan prima dan penuh pesona. Nada2 rendah misalnja muntjul menggema dari raga Deta. Penonton jang memadati TongTong Theater menjambut nomer terachir ini dengan aplaus meriah serta siutan meriuh.

 

Bernadeta Astari di pentas TongTong Theater
Bernadeta Astari di pentas TongTong Theater

Alhasil langkah riskan mereka ternjata tidak meleset, bahkan tidaklah berlebihan kalau kita katakan di baliknja tersembunji kebanggaan pada tanah air. Nasionalisme djelas djuga bisa disampaikan lewat musik.

2 pemikiran pada ““Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

  1. Mas Joss, saja djadi bergidik membaca (nggak kuat aku nulis ejaan lama he he he) tulisan ini. Baru kali ini ada yang nulis deta begitu lengkap dan detil, matur nuwun. Kami pesuka musik klasik di indonesia, sering merindukan tulisan2 ttg kiprah penyanyi atau pemusik klasik sebagai tanda bahwa mereka itu ada. Di koran almamater saya, kelasnya cuman nama dan peristiwa – sedih! Matur nuwun mas Joss, mohon izin share.

    1. Terima kasih atas komentar pandjenengan Pak Mamak. Seharusnja memang resensi seperti ini mendapat tempat dalem pers Indonesia. Tapi sajang sampai sekarang tidak djuga. Entah mengapa. Silahkan kalau pandjenengan ingin menjebarkannja. Soal edjaan lama, itu karena saja gak mau kemakan djebakannja orde bau. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s