“Pers Eropa: tiada berita positip buwat tjapres nomer 1” oleh Joss Wibisono

Hari2 tenang ini enaknja digunaken untuk tjari2 berita pers asing tentang pilpres jang bakalan digelar Rebo 9 Djuli mendateng di seantero tanah air. Setelah lihat2 di internet, betapa kagetnja diriku begitu mendapatin bahwa ternjata bener2 engga ada berita positif tentang tjapres nomer 1. Lebih dari itu pers Eropa djuga selalu nulis tentang masa lamponja. Padahal para pendukungnja (dan tamtunja jang bersangkutan sendiri) kan mau melupaken azha masa lampo itu. Pigimanah nech? Masak timses tjapres nomer 1 tida bisa berkampanje supaja pers asing djuga bikin berita positif tentang tjalon mereka?

Berikut tjontoh tiga media Eropa jang bikin berita tentang tjapres satu. Bukan tjuman berita dalem bahasa Inggris hlo jach (seperti jang selama ini dibikin orang), tapi djuga berita dalem bahasa Djerman. Bahkan ada duwa media berbahasa Djerman jang aku tampilken di sini.

Pertama koran Austria Tiroler Tageszeitung terbit di Innsbruck jang mendasarken beritanja pada kantor berita Djerman DPA (Deutsche Presse Agentur). Klow mau tahu tautannja silahken klik di sini. Ini kutipan negatif tentang tjapres nomer 1:

“Prabowo, bekannt für seine Wutausbrüche, befehligte unter Suharto eine berüchtigte Sondereinsatztruppe. Er wehrt sich seit Jahren gegen Vorwürfe schwerer Menschenrechtsverletzungen. Er ging nach dem Suharto-Ende ins Exil nach Jordanien, startete nach der Rückkehr aber im Windschatten seines schwerreichen Bruders eine erfolgreiche Geschäftskarriere. Er gründete 2008 seine eigene „Partei der Bewegung großes Indonesien“ (Gerinda) mit einem Ziel: Präsident zu werden.”

“Wie viele ausländische Beobachter fürchtet Bourchier unter einem Präsidenten Prabowo eine Abkehr von der Demokratie: „Wenn er gewinnt müssen wir mit einer autoritäreren Regierung rechnen, politische Freiheiten dürften eingeschränkt werden und die Toleranz gegenüber religiösen und anderen Minderheiten sinken“, schreibt er.”

Berita harian Tiroler Tageszeitung terbitan Innsbruck
Berita harian Tiroler Tageszeitung terbitan Innsbruck

Kira2 artinja begini:

“Prabowo jang dikenal sering naik pitam itu, semasa Suharto mempimpin Kopassus jang punja tjitra buruk. Sudah ber-tahun2 dia dituduh melakukan pelanggaran hak2 asasi manusia jang berat. Pada achir kekuwasaan Suharto dia mengasingken diri ke Jordania, tapi begitu balik dia mendjadi pengusaha, di balik bajang2 adiknja jang kaja raja. Tahun 2008 dia mendiriken Gerindra dengan satu tudjuwan: djadi presiden.”

“Seperti pengamat asing lain, David Bourchier djuga chawatir di bawah Presiden Prabowo akan terdjadi penolakan terhadap demokrasi. ‘Kalau dia menang maka harus diperhitungkan muntjulnja pemerintahan otoriter, kebebasan politik akan dibatasi dan toleransi terhadap kalangan minoritas agama atau minoritas lainnja akan berkurang’. Demikian tulis David Bourchier.”

Keduwa, misih koran Austria, berikut harian Die Presse jang terbit di ibukota Wina. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini.

Berita jang terbit hari Sabtu tanggal 5 Djuli itu menampilken djudul jang sengak alias tidak enak terhadap tjapres nomer satu: »Indonesien: Wie die alte Elite der Diktatur nach der Macht greift« artinja kira2 »Indonesia: bagaimana elite lama zaman diktator menggapai kekuwasaan« Dengen djudul berita kajak gitu maka bisa dipastiken berita tentang tjapres nomer 1 djuga tidaklah positip. Berikut tjonto2nja:

Im Kern von Prabowos Wahlkampf steht seine Vision von einem starken Indonesien. In seinen Reden schäumt er häufig, das Land werde von ausländischen Konzernen seiner Ressourcen beraubt. Ob Indonesien, das sich seit dem Ende der Suharto-Diktatur zu einer lebhaften Demokratie entwickelt hat, auch unter Prabowo völlig demokratisch bleiben würde, ist die Frage. Prabowo hat mehrfach erklärt, er würde gerne die Originalfassung der Verfassung von 1945 in Kraft setzen, was dem Präsidenten eine wesentlich größere Machtfülle einräumen würde. In der älteren Version ist im Übrigen auch festgeschrieben, dass der Präsident vom Parlament gewählt wird und nicht vom Volk.

…..

Auch Prabowos Vergangenheit lässt nichts Gutes für ein Indonesien unter seiner Führung ahnen. Er soll Ende der 90er-Jahre, als er als General einer zweifelhaften Militär-Sondereinheit vorstand, die Entführung und Folterung – und unter Umständen sogar Ermordung – von Demokratieaktivisten angeordnet haben. In dieser Zeit soll er auch an der Anstiftung zu schweren ethnischen Unruhen beteiligt gewesen sein, mit denen das Militär einen Vorwand dafür schaffen wollte, sich weiter an der Macht zu halten. Damals sind tausende Menschen ermordet worden. Fragen zu seiner Vergangenheit geht Prabowo meist aus dem Weg. Bei einem Fernsehduell sagte er lediglich, er habe als Soldat seine Pflicht getan.

Berita harian Die Presse terbit di Wina
Berita harian Die Presse terbit di Wina

Kira2 artinja kajak gini:

“Pada intinja kampanje pemilu Prabowo berisi visi sebuah Indonesia jang kuwat. Dalam pidatonja dia selalu ber-tereak2 bahwa sumber daja alam negerinja sudah dikuras oleh perusahaan2 asing. Akankah Indonesia jang sudah mengembangkan demokrasi jang hidup sedjak berachirnja kediktatoran Suharto, tetap sepenuhnja demokratis di bawah Prabowo? Itulah pertanjaannja. Prabowo ber-kali2 menjatakan ia akan memulihkan versi asli UUD 45, karena presiden benar2 pigang kekuwasaan jang lebih besar. Dalam konstitusi versi asli itu presiden djuga dipilih oleh MPR, bukan langsung oleh rakjat.”

…..

“Masa lampau Prabowo djuga tidak mendjandjikan hal2 jang baik bagi Indonesia di bawah pimpinannja. Pada achir 1990an, sebagai komandan satuan chusus, dia djuga punja peran dalam memerintahkan pentjulikan, penjiksaan dan bisa2 djuga pembunuhan para aktivis demokrasi. Pada waktu itu dia konon djuga bertanggung djawab atas muntjulnja kerusuhan etnis jang dipakai sebagai dalih oleh kalangan militer untuk memperbesar kekuwasaan. Waktu itu ribuan orang dibunuh. Pertanjaan tentang masa lamponja ini selalu ditepis oleh Prabowo. Dalam sebuwah debat televisi dengen entengnja dia menjataken pradjurit itu hanja mendjalanken daripada perintah atasan.”

 

Itu tadi media massa berbahasa Djerman. Sekarang sebuah medium berbahasa Inggris. Itulah madjalah The Economist terbitan London. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini.

Berita mingguan The Economist terbitan London
Berita mingguan The Economist terbitan London

Kutipan jang paling mentjolok ini:

Mr Prabowo has seized his chance, making the race too close to call. His rallies are far livelier than those of the uncharismatic Jokowi. But the man who was once Suharto’s son-in-law is a throwback to a darker past. As a former commander of Indonesia’s notorious special forces, Mr Prabowo has a tainted record on human rights, first in East Timor and then during the anti-Suharto protests. He is a master of money politics and has benefited from having friends who own television stations and newspapers. He bashes foreign investors. And he appears to want to turn back the clock on Indonesia’s democratisation.

Kira2 artinja kajak gini:

“Prabowo memanfaatkan kesempatannja, membuwat persaingan ini sulit ditentuken pemenangnja. Pidato2nja djuwauh lebih hidup ketimbang pidato Jokowi jang tidak karismatis itu. Tetapi bekas menantu Suharto ini adalah langkah mundur ke masa lampau jang gelap. Sebagai bekas dandjen Kopassus, pasukan elit jang punja reputasi buruk, Prabowo punja rekam djedjak tertjela di bidang hak2 asasi manusia. Semula di Timor Timur kemudian berlandjut ke periode protes anti Suharto. Dia adalah pakar politik duwit dan diuntungken lantaran temen2nja punja pemantjar televisi dan koran. Dia meletjehken investor asing. Dan dia ingin memutar balik demokratisasi Indonesia.”

Demikian The Economist. Tiga kutipan berita di atas djelas berita jang buruk tentang tjapres 1. Bagaimana mereka bisa menulis berita begini buruk? Mungkinkah lantaran timnja tidak bekerdja dengen baik dengen pers Eropa? Kenapa mereka masih sadja memberitaken hal2 jang buruk2 itu? Harian Austria Die Presse misalnja sudah menulis tentang hal2 jang di-tjita2ken sama tjapres nomer 1, termasuk mendirikan partai segala. Tapi tenjata, demikian kesimpulan Die Presse, partai itu tjuman dipakai untuk mewudjudken tjita2nja: djadi presiden. Dan sesudah itu di-ungkit2nja masa lampau sang tjapres, seperti mengeluwarken majit2 jang oleh tjapres 1 sebenernja ingin disimpan dalem2 supaja tak terlihat di luwar, apalagi dunia luwar.

Dengan berita jang begitu negatip tentang tjapres 1 ini bisa dipastiken kalow terpilih dia akan menghadapin masalah internasional jang tida ketjil. Dia tetep ditjekal oleh Amerika (walaupun sang adik sudah ber-iba2 supaja sang abang diperbolehkan dateng ke Amrik). Dan ternjata pers Eropa djuga tidak terlalu menjambutnja. Atau mungkinkah ini andjuran terselubung buwat elektorat tanah aer supaja tidak memilih tjapres nomer 1?

Sebagai susulan, berikut dipasang sebuwah berita lutju sekaligus mentjengangken tentang tjapres nomer satu jang dipasang oleh koran Londo de Volkskrant. Klow mau lihat tautannja silahken klik di sini. Berikut potongan jang paling menarik:

Driftkikker
‘Dat verleden kleeft aan hem, hoe hard hij ook probeert het van zich af te schudden’, schrijft correspondent Michel Maas vandaag in de Volkskrant. ‘Prabowo wil het er niet meer over hebben.’ Hij heeft daarom gedurende de hele campagne de internationale media gemeden, uit angst lastig gevallen te worden over zijn verleden. Als dat dan toch ter sprake wordt gebracht, kan Prabowo weleens exploderen. Hij staat bekend als driftkikker.

‘Premier Mark Rutte heeft die passie ook mogen ervaren’, schrijft Maas. ‘Tijdens zijn bezoek aan Jakarta, eind vorig jaar, stormde Prabowo de eetzaal binnen waar de Nederlandse premier aanzat met vertegenwoordigers van het zakenleven. Niet zeker is of Prabowo met de vuist op tafel sloeg en weinigen herinneren zich precies wat hij zei, ‘maar het was duidelijk dat hij zeer ontstemd was’, aldus een van de aanwezigen.’

Prabowo vond kennelijk dat hij uitgenodigd had moeten zijn en dat hij naast Rutte had moeten zitten. Nadat hij wat gekalmeerd was vertrok hij ‘zonder mee te eten’.

Berita harian de Volkskrant terbitan Amsterdam
Berita harian de Volkskrant terbitan Amsterdam

Kira2 artinja kajak gini:

Masa lampownja selalu merepotkannja, walowpun dia mati2an berupaja melupakannja. Prabowo tidak pernah mau bitjara tentang itu. Karena itu selama kampanje dia terus2an menghindarin pers internasional: takut dirongrong tentang masa lampow itu. Klow toch itu tetep disinggung djuga Prabowo bisa meledak. Dia memang terkenal tjepet marah.

Perdana Menteri Mark Rutte pernah mengalamin gedjolak amarahnja ini. Wektu berkundjung ke Djakarta achir tahun lalu, tiba2 Prabowo menghambur masuk ruwang perdjamuan makan tempat Perdana Menteri Londo sedang didjamu makan malam oleh kalangan dunia usaha. Tida djelas apakah Prabowo sampé menggebrak medja, dan tida banjak pula orang tahu apa omongannja. “Tapi djelas dia tida seneng,” kata salah seorang jang hadir.

Tampaknja Prabowo menganggep dirinja perlu diundang dan dia harus duduk di sampingnja Rutte. Setelah tenang, dia kluwar, “tanpa ikut makan”.

Selamet ketawa atow merasa malu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s