“Mitos kekuatan rakjat” oleh Joss Wibisono

Aslinja tulisan ini adalah tugas achir mata kuliah Sosiologi Pembangunan, dosennja Arief Budiman.  Tapi, berhubung masalah kekuwatan rakjat jang itu wektu terkenal dalem istilah Inggrisnja People’s Power kembali aktual dengen kembalinja Benazir Bhutto dari pengasingan, maka tugas achir itu aku tulis lagi djadi sebuwah opini jang nongol di harian Wawasan (Semarang) edisi 17 Mei 1986, halaman II. Tamtu azha penulisan kembali itu djuga didesek lantaran aku, sebagai mahasiswa tanpa penghasilan, butuh honornja supaja bisa makan.

 

KETIKA BENAZIR BHUTTO pulang dari pengasingan soal kekuatan rakjat (people’s power) kembali diperbintjangkan orang. Terilhami oleh tindakan Cory Aquino di Filipina, Benazir Bhutto ingin menggalang satu kekuatan rakjat jang akan menandingi kekuasaan presiden Zia Ul Haq untuk kemudian mendjatuhkannja sama sekali.

Namun demikiran, dalam kondisi sedjarah jang berbeda, banjak orang meragukan keberhasilan tekad Benazir. Salah satu sebab keberhasilan Cory adalah dukungan geredja. Geredja berhasil memobilisasi massa untuk kemudian berpihak pada oposisi jaitu Cory Aquino. Benazir, di lain pihak, tidak sepenuhnja mendapat dukungan chalajak ramai Pakistan. Masih banjak, terlalu banjak bahkan, masjarakat Pakistan jang mendukung Djenderal Zia.

Dalam uraian berikut akan kita lihat bahwa di Filipina pun sebenernja kekuatan rakjat itu tidak ada, tidak bener2 berperan dalam penggulingan Ferdinand Marcos. Bukan massa rakjat jang berhasil mendongkel Marcos, tapi faktor lain. Dan faktor itu djelas merupakan penghalang bagi tampilnja massa rakjat untuk bisa menentukan masa depan Filipina.

Selain diperlukan seorang pemimpin jang bener2 merakjat, massa rakjat djuga membutuhkan ideologi alternatif. Ideologi jang memang menomorsatukan kepentingan mereka. Ketika tampil, Cory Aquino tampaknja memang tidak berbekal ideologi matjam ini. Oleh karena itu dengan mudah menjusuplah banjak penghalang bagi tampilnja kekuatan rakjat jang sebenernja.

Massa rakjat versus aparatur negara

Sampul depan disertasi Arief Budiman
Sampul depan disertasi Arief Budiman

Dalam disertasi doktornja jang berdjudul Chile Under Allende (Harvard University, 1980), Arief Budiman menundjuk bahwa pada setiap perdjuangan politik terdapat dua sumber kekuatan: massa rakjat dan aparatur negara. Massa rakjat biasanja memihak oposisi, sedangkan aparatur negara berada di tangan pemerintah jang berkuasa.

Hal ini kita saksikan di Filipina. Di satu pihak berdiri Marcos dengan KBL jang mendominasi Batasang Pambansa (parlemen) dan lembaga2 tertinggi negara lain jang bertugas memperlantjar penjelenggaraan pemerintahan. Di lain pihak, Cory Aquino mendjadi oposisi atas dukungan rakjat. Benar: Marcos jang menguasai (kekuatan) aparatur negara dan Cory jang mengendalikan kekuatan rakjat.

Seterusnja, jang pertama berperan adalah kekuatan massa rakjat. Massa rakjat jang telah teradikalisasikan dan termobilisasikan dalam kekuatan oposisi (Cory Aquino) terus merongrong kekuatan aparatur negara (di bawah Marcos). Perongrongan ini, saja kira, bisa dilakukan dalam dua tjara: kekerasan dan damai.

Seperti kita lihat, Cory Aquino memilih tjara damai. Ia melantjarkan aksi pembangkangan massal, termasuk di dalamnja penundaan pelunasan padjak; pemboikotan bank2 negara; tidak minum San Miguel — bir milik Marcos; pemboikotan koran jang menjuarakan pemerintah, dan sebagainja. Ini semua dilakukan supaja kekuatan aparatur negara jang penjelenggaraannja butuh banjak dana mendjadi lemah dan tidak berfungsi. Pada saat itu Marcos akan tidak lagi mampu mengendalikan kekuatan aparatur negara. Ia tidak akan mendapat dukungan dari manapun, kekuasaannja akan berachir.

Penggerak massa rakjat

Kekuatan massa rakjat jang oleh Cory Aquino disebut sebagai people’s power pada intinja didalangi oleh para elit penguasa (borjuasi) jang tersingkir oleh Marcos. Mereka membentuk kelompok2 sosial di kota2 jang meskipun ketjil tapi banjak djumlahnja. Upaja ini dipergampang dengan penguasaan mereka atas beberapa media massa. Seperti diketahui, di Filipina ada koran dan TV swasta jang sepenuhnja bebas dari pengaruh negara, bahkan anti penguasa.

Saja kira ini pula jang membedakan golongan pengusaha Filipina dengan Indonesia. Golongan pengusaha Filipina (terutama jang anti Marcos) lebih pantas untuk disebut sebagai bordjuasi dalam arti sebenarnja. Kemandirian mereka bukan hanja dalam wudjud ekonomis (mereka tidak tergantung pada projek pemerintah dan mampu berefisiensi), tapi djuga kemandirian politis. Mereka punja akses politik untuk menjalurkan tuntutan demi kepentingan mereka.

Cory Aquino dengan L artinja Laban
Cory Aquino dengan L artinja Laban

Golongan pengusaha kita tidaklah demikian. Pengusaha Indonesia amat tergantung pada projek, peridjinan dan lisensi pemerintah. Ketergantungan ekonomis ini pada gilirannja djuga membuahkan ketergantungan politis. Hampir tidak ada penguasaha kita jang mandiri setjara politis; jang berdjuang di luar bajangan pemerintah; jang mampu menjuarakan kepentingan dan tuntutan mereka lewat djalur politik mereka sendiri. Pada hemat saja, golongan pengusaha Indonesia belumlah pantas untuk disebut sebagai entrepreneur atau wiraswastawan sedjati.

Kembali kepada kasus Filipina, dengan akses politik mereka, golongan pengusaha ini bisa memperoleh dukungan rakjat. Prasarana jang ada pada mereka, baik itu televisi maupun koran, bisa dipakai untuk meradikalkan massa: membuat mereka melek terhadap keburukan2 Marcos. Memang, seperti jang kita simak bersama, massa rakjat lalu bergolak. Mereka sadar bahwa di balik gembar-gembor mensedjahterakan rakjat, kerdja Marcos jang sebenarnja tjuma memperkaja diri, dan ini berarti pemiskinan orang banjak.

Massa jang teradikalkan adalah massa jang terbuka matanja bahwa mereka tjuma mendjadi objek penguasa jang terus menerus memperkaja diri. Oleh karena itu, perdjuangan para Filipino dan Filipina ini adalah perdjuangan tanpa pamrih. Mereka, melalui pergolakan jang ada, menjuarakan tuntutan perut sendiri, menjuarakan kepentingan mereka jang selama ini teringkari.

Kekuatan aparatur negara, di lain pihak, tidak lain adalah kekuatan rezim jang berkuasa. Demi tegaknja kekuasaan, Marcos butuh biaja kekuasaan. Biaja ini laksana minjak pelumas jang melantjarkan penjelenggaraan negara. Negara jang terselenggara dengan baik akan merupakan bukti bahwa Marcos masih betjus berkuasa.

Biaja kekuasaan untuk penjelenggaraan negara umumnja diperoleh dari padjak expor, keuntungan perusahaan negara, padjak (baik itu padjak pendapatan partikelir maupun padjak keuntungan dunia usaha) dan bantuan luar negeri. Semua ini merupakan tumpuhan bagi Marcos untuk menjelenggarakan pemerintahannja, menjelenggarakan negara.

Di sinilah kita melihat perbedaan jang besar antara kekuatan aparatur negara dengan kekuatan massa rakjat. Massa rakjat tak tergantung pada negara. Mereka adalah orang2 miskin jang menuntut keadilan. Penggerak kekuatan raksasa ini adalah perut2 lapar dan rasa keadilan jang ditindas.

Aparatur negara tidaklah demikian. Aparatur ini amat tergantung pada rezim jang berkuasa. Kalau rezimnja tidak memperoleh dana bagi kekuasaannja maka itu berarti bahwa kekuasaannja tidak mempunyai legitimasi. Maka tamatlah penguasa.

Bisalah dimengerti mengapa Cory melantjarken aksi pembangkangan massal. Aksi jang antara lain berupa penundaan perlunasan padjak ini berusaha merongrong kekuasaan aparatur negara, menghambat sumber pemasukan jaitu padjak. Melalui aksi ini besar harapan bahwa minjak pelumas jang melantjarkan penjelenggaraan negara akan kering/habis.

Melemahnja aparatur negara

Adakah massa rakjat benar2 faktor penentu tumbangnja Marcos? Adakah pembangkangan massal itu demikian berhasilnja sehingga aparatur negara tidak berfungsi dan Marcos terdongkel? Djawaban saja: tidak!

Marcos bukan terdongkel oleh apa jang sering di-sebut2 sebagai the people’s power. Saja berpendapat bahwa Marcos meletakkan djabatan karena dua hal di luar kekuatan massa rakjat. Jang pertama adalah pembelotan Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile dan Wakil Panglima Angkatan Bersendjata Fidel Ramos jang berarti melemahnja kekuatan aparatur negara dalam dirinja sendiri. Kedua, desakan Amerika supaja Marcos mundur jang sedikit banjak berarti (antjaman bagi) lenjapnja bantuan luar negeri.

Saja rasa kita tidak menjaksikan mendjadi runjamnja Filipina lantaran aparatur negara jang melemah akibat berhasilnja pembangkangan massal. Jang terdjadi di sana, ketika Enrile-Ramos membelot adalah melemahnja aparatur negara. Bisa pula disebut kwalitas seorang Enrile jang dikenal sebagai politikus tangguh, bersih dan djudjur. Pembelotan ini, seperti kita lihat, semakin memperlemah kekuatan aparatur negara. Semakin banjak orang Marcos jang berpindah kubu mendjadi pendukung Cory.

Kenjataan ini bisa pula berarti bahwa kekuatan massa rakjat bertambah. Tapi saja tidak terlalu suka dengan penafsiran seperti ini. Terutama karena kekuatan rakjat semakin beragam, tidak murni lagi berisikan mereka jang berdjuang karena perut lapar.

Djelas bahwa pembelot dari kubu Marcos ini bukanlah orang jang dirugikan dan diperlakukan tidak adil. Di samping bersikap djudjur, para pembelot ini tahu bahwa Marcos semakin tjulas. Ditambah kechawatiran mereka djika Marcos djatuh. Pada saat itu mereka akan dikerojok oleh rakjat banjak. Untuk menghindari itu semua mereka lalu membelot.

Di lain pihak, kedjudjuran dan sifat baik sadja, saja kira belum tjukup bagi sebuah praktek politik jang bersih. Jang kemudian harus diteliti adalah kepentingan2 para pengkikut Marcos jang membelot itu. Inilah jang akan memberi tjorak pada warna politik Filipina sesudah Marcos.

Enrile-Ramos membelot
Enrile-Ramos membelot

Sebagai orang2 jang tidak dirugikan Marcos, dalam arti bahwa orang2 ini malah memperoleh keuntungan selama Marcos berkuasa, kepentingan mereka sesudah Marcos djatuh, sedikit banjak djuga akan mengedjawantahkan keuntungan jang diperoleh semasa Marcos. Saja chawatir kepentingan ini djustru akan berlawanan dengan kepentingan rakjat banjak jang memperdjuangkan perut lapar dan hak2 mereka jang tidak diakui.

Dengan kata lain saja tetap jakin bahwa bukan massa rakjat jang semakin kuat (karena massa jang amat kuat ini setjara potensial sarat dengan konflik kepentingan) jang berhasil mentjopot Marcos, tapi aparatur negara jang makin lemah karena pembelotan Enrile-Ramos.

Dengan begitu, saja djuga tidak lagi sependapat kalau perdjuangan Cory Aquino disebut sebagai berlangsung dalam tjara damai. Saja lebih suka menamainja sebagai “setengah kekerasan” terutama ketika Enrile-Ramos terlbat dalam “duel urat sjaraf” melawan Marcos. Ada unsur pemaksaan, dan itu bukan lagi tjara damai seperti jang dikerdjakan Mahatma Gandhi di India dulu. Memang, di lain pihak, pemaksaan itu djuga disebabkan oleh sikap Marcos jang memantjing emosi rakjat lewat siaran2nja.

Pada bagian lain, pembelotan Enrile-Ramos jang kemudian diterima dengan tangan terbuka oleh Cory dengan djelas menundjukkan tidak berbedanja ideologi Cory dan Marcos. Atau, pembelotan ini di lain pihak mendjadi amat mudah karena Cory tidak mempunjai ideologi sebagai pendjaga kemurnian perdjuangannja.

Ia bisa menerima siapa sadja jang berpihak kepadanja, tanpa perduli siapa, dari mana asal dan apa kepentingan mereka. Dan dengan begitu Cory telah membiarkan membiaknja potensi2 konflik kepentingan di dalam tubuh kekuatannja sendiri.

Amerika: faktor penentu external

Bagaimana dengan dukungan Amerika jang achirnja mengendor itu? Seperti jang pernah dikatakan oleh Arief Budiman, kalau Amerika terus mendukung Marcos jang korup dan otoriter maka Amerika akan dirugikan sendiri. Pengalaman2 pahit di Vietnam, Kuba dan Nikaragua telah memberikan peladjaran tjukup. Di tiga negara jang dulu pernah memperoleh bantuan Amerika ini sekarang memerintah rezim2 kiri jang menolak (bantuan) Amerika.

Dari pengalaman itu, terlihat bahwa dukungan kepada sebuah rezim diktator kanan akan semakin memperkuat komunisme untuk melahirkan pemerintah kiri. Tak pelak lagi, dukungan kepada Marcos akan berakibat semakin kuatnja barisan komunis, NPA. Begitulah kesadaran jang mulai berkembang di Washington.

Menjimak latar belakang Cory jang bukan komunis, Amerika djelas tidak akan segan2 memberikan dukungan kepadanja. Cory jang bukan komunis adalah Cory jang akan mendjalankan perekonomian Filipina dalam rel kapitalisme. Itu berarti modal (jang biasanja diperhalus mendjadi “bantuan”) Amerika dan seterusnja keuntungan atas modal itu akan punja djaminan untuk beroperasi di Filipina. Dukungan atas Cory djelas tidak akan merugikan Amerika.

Reagan dengan Pasutri Marcos, ketika masih mesra
Reagan dengan Pasutri Marcos, ketika masih mesra

Selain itu, jang pantas diperhatikan adalah sikap Cory terhadap dua pangkalan militer Amerika di teluk2 Subic dan Clark. Djelas Cory masih membuka tangan bagi kehadiran Amerika di sana. Bahkan wakil presiden Salvador Laurel pernah menjebut bahwa kehadiran Amerika di Filipina penting, sebagai pengimbang kehadiran Soviet di Vietnam.

Apa jang akan terdjadi djika Cory menolak kehadiran Amerika di Filipina? Ini memang bukan masalah besar bagi Amerika, karena Cory bukan komunis. Namun demikian, kalau toch ini jang terdjadi, saja kira keputusan Amerika untuk mentjabut dukungannja kepada Marcos tidak akan setjepat jang telah terdjadi. Amerika akan pikir2 dulu dengan tjukup lama.

Kalau seandainja Marcos sampai djatuh, sementara Amerika belum mentjabut dukungannja kepada pemerintahan selama 20 tahun itu, pasti negara adi kuasa inipun tidak akan setjepat itu dalam memberikan pengakuan kepada Cory. Amerika memang bisa berbuwat apa azha!

Mitos kekuatan rakjat

Dari uraian di atas tidaklah terlalu naif untuk menjimpulkan bahwa pembelotan Enrile-Ramos serta kendornja dukungan Amerika kepada Marcos adalah penghalang bangkitnja kekuatan rakjat untuk bisa menentukan masa depan Filipina.

Walaupun agak spekulatif, tampaknja kita bisa mengkaitkan dua penghalang itu mendjadi satu. Pembelotan Enrile-Ramos tidak bisa dilepaskan dari mengendornja dukungan Amerika; dan mengendornja dukungan Amerika ini djuga erat berkaitan dengan pembelotan Enrile-Ramos. Mungkinkah Washington mendorong mereka untuk membelot? Atau mungkinkah mereka minta djaminan Amerika supaja tidak lagi mendukung Marcos begitu Enrile-Ramos membelot ke kubu Cory?

Tak terpungkiri lagi, keduanja adalah upaja terpadu untuk, dalam diri kekuatan aparatur negara, melumpuhkan Marcos. Djadi, saja kira bukan sadja people’s power itu tidak hebat, kekuatan rakjat itu djelas2 tidak ada. Persisnja: tidak berperan dalam pengggulingan Marcos!

Dengan kata lain, revolusi jang baru terdjadi di Filipina itu bukanlah revolusi damai jang dilantjarkan oleh kekuatan rakjat. Revolusi itu tidak lebih dari kudeta setengah kekerasan jang dilantjarkan oleh para bordjuasi jang dirugikan oleh Marcos dan bekas kaki tangan Marcos jang (“hanja”) terpanggil untuk berbuat bersih dan djudjur.Kutipan

Massa rakjat, saja kira, tidak lebih dari penggembira dan pemanas keadaan supaja Marcos semakin bingung dan tentunja membombong Cory supaja makin jakin akan kekuatan sendiri. Di hari2 mendatang mereka akan kembali sebagai massa pinggiran jang tersisih dalam perekonomian periferal bersistem pasar bebas. Dalam situasi begini sedjarah Marcos akan kembali dialami oleh Cory.

Djadi, kalau Benazir Bhutto ingin menampilkan massa rakjat sebagai basis kekuatannja, maka dia butuh ideologi alternatif. Ideologi jang bisa menggalang rakjat jang sebelumnja selalu tersisih dalam perekonomian kapitalis pinggiran.

Selain itu, pada detik2 kemenangannja, ideologi ini akan pula menghalangi kekuatan lain di luar massa rakjat untuk bergabung. Benar, Benazir membutuhkan ideologi alternatif jang djuga akan mendjaga kemurnian kekuatan massa rakjatnja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s