“Mengangkut babi” oleh Hedi Hinzler

Versi EYD nongolnja di Bali Post edisi 21 Desember 2014, halaman 19 kiri atas.

Sjahdan, pada suatu ketika ada sematjam sangkar pandjang tanpa alas atau tutup, dibuat dari anjaman bambu kasar sadja dan dipergunakan untuk mengangkut babi hidup-hidup, ke pasar atau tempat pemotongan. Dulu itu djuga dibutuhkan tongkat jang dimasukkan ke dalam sangkar supaja dua pria bisa memikulnja dari tempat pembiakan ke rumah si pemesan binatang. Kadang2 sampai butuh waktu sedjam untuk menggotong babi ke tempat tudjuan, begitu tjerita orang padaku. Ketika sampai di depan rumah pembeli, babi itu lalu disembelih, dengan kelihaian seorang djagal: potongan dilakukan persis pada urat nadi leher. Darah jang tertjurah ditampung dalam ember untuk digunakan membuat lawar (daging tjintjang dengan bumbu2nja) dan untuk komoh, sematjam sup. Bulu2 binatang itu dibakar dengan penjulut. Ini harus dilakukan dengan hati2 karena kulit babi tidak boleh rusak.

Banjak orang menganggap kulit sebagai bagian babi jang paling enak. Dari luar kulit itu harus tipis dan renjah, sedangkan lemak pada bagian dalam harus lunak tapi matang. Hasil jang paling baik akan diperoleh kalau kulit babi jang sudah disembelih itu dilumurin abu dapur — djadi sebaiknja punja pembakaran tradisional sadja, bukan kompor minjak atau gas. Api dinjalakan dengan korek atau penjulut. Bulu2 itu dibersihkan dengan benda tadjam jang dipasang pada sebatang galah, karena djelas kita tidak bisa dekat2 babi jang tengah dipanasi api itu. Minjak tanah sekarang mahal, sampai Rp. 15 ribu per liter. Tjara jang lebih modern lagi, tapi membuatnja tidak terlalu enak, adalah membakar kulit dengan obor gas jang ketjil. Kita bisa menjewanja seharga Rp. 10 ribu. Obor seperti ini ada tiga ukuran: jang ketjil untuk membakar bulu2 babi, jang menengah dan jang besar untuk pembakaran djenazah. Dan ini bisa disewa pada perusahaan jang sama.

Mengangkut babi pada zaman dulu, sekitar 1920an atau 1930anMengangkut babi pada zaman dulu, sekitar 1920an atau 1930an
Mengangkut babi pada zaman dulu, sekitar 1920an atau 1930an

Dulu itu, lantaran orang masih membiakkan babi2 ketjil jang hitam dan dekil, bobot binatang ini tidak sampai 50 kilogram. Setelah tiga kali digunakan, sangkar bambu itu tamatlah riwajatnja, tak bisa dipakai lagi, sehingga harus dibuat jang baru. Sekarang dibiakkan babi besar berwarna merah muda dengan bobot mentjapai 125 sampai 150 kilogram. Karena itu sangkar bambu sudah tidak bisa lagi dipakai mengangkut babi. Kini harus digunakan sangkar badja, badja jang sama djuga dipakai dalam beton tjor2an. Dengan membajar Rp. 60 ribu kita bisa menjewa sangkar badja ini untuk mengangkut babi ke tempat pemotongan. Terlalu berat dipikul, orang sekarang harus menggunakan pickup. Menjembelih sendiri djuga sulit sekali.

Binatang ternak atau binatang liar jang besar, seperti rusa dan tentu sadja babi hutan, diangkut dengan tjara membalik dan mengingat kaki2nja pada tongkat bambu. Seorang pelukis Bali utara jang bernama I Ketoet Gede, pada sekitar tahun 1880, menghasilkan sebuah karja jang nakal untuk dipergunakan oleh ahli bahasa, orang Belanda Herman Neubronner van der Tuuk dalam karjanja: Kamus Bahasa Kawi-Bahasa Bali-Bahasa Belanda.

Mengangkut babi hutan, karja I Ketoet Gedé, Singaradja, sekitar 1880, Cod.Or. 3390-144, Perpustakaan Universitas Leiden (perhatikan apa jang dilakuken babi hutan terhadap salah satu pria jang mengangkutnja).
Mengangkut babi hutan, karja I Ketoet Gedé, Singaradja, sekitar 1880, Cod.Or. 3390-144, Perpustakaan Universitas Leiden (perhatikan apa jang dilakuken babi hutan terhadap salah satu pria jang mengangkutnja).

Menurut Nyoman, seorang kenalan baikku, di Tabanan sangkar itu, djuga termasuk jang terbuat dari badja, disebut bangsung, tapi di Badung namanja bubu. Djustru di Tabanan bubu adalah perangkap ikan. Djadi kita harus menggunakan istilah jang tepat, kalau tidak, bisa2 kita akan memperoleh barang jang tak kita maui dalam ukuran jang lain djuga.

Dalam kamusnja jang disusun antara 1870 sampai 1894, Herman Neubronner van der Tuuk melaporkan bahwa kerandjang tinggi jang terbuat dari bambu bernama bongsang. Bangsung tak kudjumpai dalam buku Van der Tuuk. Kata ini tertera pada kamus2 modern Bali, antara lain jang disusun oleh Wayan Warna, terbitan 1991. Ke dalam bahasa Indonesia, bangsung diterdjemahkan sebagai “kerandjang babi”. Penjusun kamus ini sebagian besar berasal dari Badung dan Tabanan, sedangkan Van der Tuuk waktu itu menetap di Buleleng.

Ada orang jang sampai gemetaran kalau melihat sangkar babi atau mendengar kata bangsung. Itu berkenaan dengan “pembersihan” jang terdjadi pada tahun 1965 di seantero Indonesia, tapi kabarnja jang paling gawat terdjadi di Bali. Banjak orang dibunuh dan djenazah mereka dimasukkan ke dalam bangsung, lalu dibuang ke sungai atau selokan atau digeletakkan begitu sadja di pinggir djalan. Ini adalah dunia terbalik. Babi itu dibeli hidup2 dan diangkut ketika masih hidup menudju tempat penjembelihan, bisa di halaman rumah atau di djalan depan rumah pemesan. Sesudah itu orang ramai2 membakar bulu2nja dan memasaknja mendjadi pelbagai lauk pauk untuk merajakan Galungan atau hari raja lain. Bangsung tidak digunakan untuk mengangkut mahluk mati. Belakangan hampir tiap hari diberitakan, djuga oleh koran ini, orang mati jang dimasukkan dalam karung plastik atau bahkan koper.

Jang tidak menguntungkan pada seekor babi besar —biasanja mendapat makanan chusus buatan pabrik berharga mahal supaja tjepat gemuk— adalah bahwa dagingnja tidak tahan lama. Kalau berlangsung upatjara besar jang mengundang banjak tamu, butuh waktu sampai dua hari untuk mempersiapkan makanan, paling sedikit sehari sebelumnja. Daging babi zaman sekarang akan sudah bau kalau dihidangkan, bahkan sudah berulat. Kalau babi itu diberi makanan tradisional, jaitu batang anak pisang jang dipotong ketjil2, maka dagingnja akan lebih kokoh, lebih enak dan bisa disimpan lama. Daging itu djuga tidak tjepat bau. Lebih dari itu ulat djuga tidak akan datang, walaupun daging itu lama dibiarkan di luar kulkas.

Orang tidak akan punja tjukup banjak kulkas bagi makanan dalam djumlah jang begitu besar, daging jang berasal dari tiga ekor babi besar untuk dihidangkan pada 900 orang tamu misalnja. Setjara tradisional makanan jang terdiri dari daging dan sajur jang dibuat dengan banjak bumbu serta tjabé, paling baik disimpan sehari semalam di lemari makan biasa. Di Krambitan hanja botol jang berisi air matang dan semangka jang disimpan dalam kulkas, selebihnja kulkas itu kosong. Selama ber-tahun2 aku selalu disuguhi hidangan daging babi jang berbumbu banjak (bisa djuga daging ajam kampung jang tidak diberi makanan pabrik) dan sudah sehari disimpan di luar kulkas, karena memasak hanja dilakukan pagi hari untuk makanan pada hari itu. Dulu tak pernah kulihat ulat dan aku sendiri djuga tidak pernah sakit karena memakannja.

Mengangkut babi zaman sekarang, Denpasar Desember 2014

Mengangkut babi zaman sekarang, Denpasar Desember 2014

Bagaimana orang bisa memperoleh babi sebesar itu? Kita bisa pesan pada kenalan, jang membiakkan satu atau dua ekor di rumah sendiri, untuk memperoleh tambahan penghasilan. Binatang sebesar itu bisa mentjapai Rp. 9 djuta. Dalam banjak kasus, kalau tidak kaja, teman akan memberi binatang itu makan gedebong jaitu batang pisang. Kalau begini kita untung: kita memperoleh binatang enak tanpa bau djuga tak akan keluar ulat kalau kita biarkan sehari di luar. Kalau kita pesan babi itu pada peternak besar atau beli di pasar Beringkit, biasanja babi itu diberi makanan buatan pabrik jang mengandung hormon pertumbuhan. Akan terlihat babi itu gemuk dan gendjur, tapi sebenarnja tidak enak. Dagingnja djuga berbau padahal masih segar. Kalau kita rebus atau goreng akan sangat mengkeret.

Zaman sekarang sulit untuk menjembelih sendiri seekor babi. Karena itu mesti dibawa ke Potong Babi. Ini bisa dibilang profesi baru. Di Bali sudah ada upatjara Potong Gigi jang dilakukan oleh seorang pedanda berkasta Brahmana. Pada salah satu upatjara akil balik ini setjuil ketjil gigi depan dipotong dan sesudah itu giginja diratakan (bagi kasta jang lebih rendah) atau sedikit sadja diratakan (bagi mereka jang berasal dari kasta tinggi). Selain itu masih ada tempat Potong Ajam, di sini kita bisa menjembelihkan ajam djantan atau betina. Tentu sadja djuga ada Potong Rambut, alias tukang tjukur jang menggunakan alat tjukur listrik supaja bisa memotong rambut sampai hanja tinggal beberapa milimeter atau mentjukur habis sama sekali.

Kaki_BabiSeptember tahun lalu bersama seorang teman, mobil kami meluntjur di belakang pickup jang mengangkut babi besar merah muda dengan sangkar berdiri tegak. Jang terlihat hanja paha dan kaki jang berdarah. Setiap kali ada lubang di djalan atau pickupnja belok, kaki itu bergojang me-lambai2, seolah ingin memberi peringatan. Begitu mendekat bisa dibatja peringatan jang sebenarnja: di bak mobil itu tertempel sticker jang tertera: WARNING dan di bawahnja lagi NABRAK. Rupanja orang diperingatkan supaja tidak menabrak. Pada suatu saat pickup itu belok kiri. Waktu itu segera terlihat papan jang bertuliskan Potong Babi. Ini sebenarnja djuga peringatan supaja tidak menabrak, karena tabrakan bisa menjebabkan kaki putus, dan selandjutnja tubuh kita akan di-potong2, sesuai ketrampilan seorang djagal.

November – Desember 2014 (alih bahasa Joss Wibisono).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s