“Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono

Kalow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini.

Tudjuh puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda si bekas pendjadjah masih sadja dihantui oleh masa lampau kolonial itu. Lalu apa jang harus dilakukan Indonesia? Diam dan mengamati sadja setiap ada ribut2 di bekas negeri induk? Jakinkah orang Indonesia bahwa dia tidak membebek Belanda: melakukan pelanggaran hak2 asasi manusia besar2an di negeri lain?

Beberapa hari mendjelang peringatan 70 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, persisnja pada hari Djumat 14 Agustus lalu, NRC Handelsblad —harian sore Belanda terbitan Amsterdam— datang dengan berita kedjutan. Gebrakan ini berdampak ribut2 dalam pers Belanda dan terus terbawa sampai pekan ini, saat tulisan ini dibuat.

Berita utama NRC Handelsblad edisi 14 Agustus 2015
Berita utama NRC Handelsblad edisi 14 Agustus 2015

Kedjutan jang lumajan besar itu terpusat pada hasil penelitian sedjarawan Rémy Limpach jang menegaskan bahwa kekerasan tentara Belanda pada zaman perang kemerdekaan dulu bersifat struktural, bukan ekses semata. Begini kira2 terdjemahan dua alinea pertama berita utama NRC Handelsblad itu:

“Tentara Belanda telah setjara struktural dan dalam skala besar2an menerapkan kekerasan ekstrim terhadap orang Indonesia pada periode 1945-1950 setelah proklamasi kemerdekaan, 70 tahun silam Senin mendatang. Sesudah itu para pelakunja bebas berlenggang kangkung, karena pihak otoritas me-nutup2i pelanggaran hukum itu.”

Sedjak 1969, ketika terbit apa jang disebut Excessennota (Nota Ekses), pemerintah Belanda —waktu itu di bawah Perdana Menteri Piet de Jong— selalu berpendirian bahwa kekerasan jang terdjadi selama perang kemerdekaan Indonesia merupakan ekses, bukan kebidjakan resmi Den Haag. Tapi dengan penelitian untuk disertasi doktornja pada Universitas Bern di Suisse, sedjarawan Rémy Limpach jang berdarah tjampuran Belanda Suisse itu berhasil membuktikan bahwa istilah dan kebidjakan ekses itu tidak bisa dipertahankan lagi.

Objek penelitian Limpach bukan melulu dokumen2 resmi pemerintah, tetapi djuga surat2 jang dikirim oleh para pradjurit Belanda dari Indonesia, termasuk buku harian mereka. Dari semua ini dia mendapati bahwa bukanlah para pradjurit jang bertanggung djawab atas tindak kekerasan ekstrim itu, seperti selama ini dianut pemerintah. Kekerasan jang berlebihan ini, demikian Limpach, muntjul akibat struktur militer Belanda waktu itu. Selain djuga para opsir alias perwira2 Belanda memang sengadja membiarkan sadja anak buah mereka berbuat begitu.

Tak pelak lagi, kedjutan Rémy Limpach, staf peneliti NIMH (singkatan bahasa Belanda untuk Institut Sedjarah Militer Belanda) ini terkandung pada istilah “struktural” jang baginja merupakan watak operasi militer Belanda selama perang kemerdekaan dulu. Inilah pertama kali seorang peneliti menggunakan istilah jang begitu tegas.

Lalu mengapa pemerintah Perdana Menteri Piet de Jong menggunakan istilah “ekses”? Kepada harian NRC Handelsblad Rémy Limpach menjebut dua alasan. Pertama dalam rangka menimbulkan kesan bahwa kekerasan tidak terdjadi dalam skala besar. Kedua, untuk menghindari satu masalah jang sangat peka di Belanda jaitu perbandingan antara kekerasan di Indonesia dengan kedjahatan perang jang dilakukan Djerman tatkala menduduki Belanda selama Perang Dunia Kedua. Sebagai korban pendudukan Nazi selama Perang Dunia Kedua, djelas tidak mungkin Belanda harus dan bisa tampil sebagai pelaku jang menerapkan kekedjaman Djerman di Indonesia, apalagi di wilajah jang waktu itu masih dianggap wilajah Belanda sendiri.

Fasseur dan Nota Ekses, karjanja
Fasseur dan karjanja: Nota Ekses

Pada tahun 1969, sedjarawan Cees Fasseur sebagai amtenar kementerian kehakiman ditugasi menjusun Excessennota, menjusul ribut2 pertama di Belanda soal masa lampau kolonialnja di Indonesia. Belanda heboh ketika Joop Hueting, jang pernah dikirim ke Indonesia sebagai pradjurit, dalam sebuah wawantjara televisi menjatakan telah terlibat dalam kedjahatan perang. Hueting djuga mengaku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rekan2 sesama pradjurit melakukan kedjahatan perang. Kontan Belanda heboh, kelompok veteran jang merasa terpodjok tidak bisa menerima perngakuan Hueting ini.

Untuk menenangkan suasana, pemerintah menugasi Cees Fasseur meneliti 110 kasus kekerasan ekstrim jang muntjul dalam arsip pemerintah. Dia memperoleh waktu empat bulan untuk menjelesaikan laporannja: Excessennota, jang menegaskan bahwa kekerasan itu tjuma ekses belaka. Sekarang, sebagai pensiunan guru besar sedjarah Universitas Leiden, Fasseur, djuga kepada harian NRC Handelsblad, menjatakan bahwa pada tahun 1969 itu, istilah “kekerasan struktural” tidak bisa digunakan lantaran tidak mungkin setjara politis. Maksudnja terlalu banjak kalangan jang menentang istilah itu, walaupun, masih menurut Fasseur, “siapa sadja tahu bahwa tidak ada jang namanja perang bersih”. Dia menambahkan, ketika menjerahkan laporannja —laporan jang sudah disesuaikan dengan kehendak pemerintah— Fasseur menegaskan masih perlu dilakukan penelitian lebih landjut. Tetapi Komisi Keradjaan bagi Penulisan Sedjarah Tanah Air, didukung oleh pemerintah Perdana Menteri Piet de Jong, demikian Fasseur, telah bertindak tidak tepat karena tidak menganggap ini masalah serius.

Dengan latar belakang seperti ini bisalah dimaklumi kalau harian NRC Handelsblad menjimpulkan bahwa istilah “ekses” sudah tidak bisa dipergunakan lagi terhadap kekerasan kedji dan meluas jang dilakukan Belanda semasa perang kemerdekaan dulu. Runtuhlah butir pertama jang ditudju pemerintah Belanda dengan menggunakan istilah “ekses”. Ekses itu tidak pernah ada, jang ada djustru kekerasan sturktural. Bagaimana dengan butir kedua, supaja tidak dilakukan perbandingan antara kekerasan Belanda di Indonesia dengan kedjahatan Djerman di Belanda?

Mengenai butir ini koran NRC Handelsblad datang dengan tjontoh menarik, dimuat dalam laporan chusus tentang kemerdekaan Indonesia, pada edisi achir pekan 15 dan 16 Agustus 2015.

Halaman depan laporan chusus NRC Handelsblad tentang kemerdekaan Indonesia
Halaman depan laporan chusus NRC Handelsblad tentang kemerdekaan Indonesia

Pada suatu hari Ahad di sebuah kota di Djawa pada tahun 1948, kendaraan militer Belanda jang membawa pradjurit ke geredja untuk menghadiri kebaktian ditembaki. Seorang pradjurit Belanda tertembak di kepalanja, dia tewas seketika. Apa jang kemudian terdjadi dituturkan oleh Louis Sinner dalam sebuah kesaksian jang sekarang disimpan di Nationaal Archief, Den Haag. Berikut kira2 terdjemahannja:

Komandan satuan itu, Major Van de Leede, meraih peta dan djangka. Menusukkan djangka pada peta, ia lalu menarik lingkaran pada koordinat insiden penembakan. Dalam sekedjap tiga satuan jang berada di bawah komandonja menjulap semua jang ada dalam lingkaran itu mendjadi Sodom dan Gomorah. Apa jang terdjadi di sana melulu balas dendam, dan lebih mengerikan dari jang terdjadi di Putten. Demikian kesaksian pradjurit Louis Sinner.

Putten adalah sebuah kota di provinsi Gelderland, Belanda timur, jang pada Oktober 1944 mendjadi pentas aksi pasukan pendudukan Djerman. Mereka melantjarkannja sebagai balas dendam terhadap ulah kalangan perlawanan jang menewaskan seorang pasukan Djerman, sementara seorang anggota perlawanan Belanda djuga tewas. Akibatnja 700 orang pria dan pemuda warga kota ketjil Putten ditangkap dan dideportasi ke pelbagai kamp konsentrasi. Di achir perang 500 orang tidak kembali, mereka tewas di kamp2 itu.

NRC Handelsblad mentjatat, bukan kebetulan kalau Louis Sinner mengambil tjontoh Putten. Memang, selain menundjukkan aksi balas dendam jang mirip, dengan menjebut Putten Louis Sinner sudah mengkaitkan kekedjaman Djerman di negerinja dengan kekedjaman pradjurit Belanda di Indonesia. Pada edisi achir pekannja koran sore terbitan Amsterdam ini masih mengungkap satu tjontoh lagi.

Sewaktu melakukan penelitian, Rémy Limpach menemukan seputjuk surat jang dikirim oleh seorang pradjurit Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) jang bertugas di Indonesia kepada istrinja di Belanda. Pada surat itu tertera kalimat2 berikut: “Di sini ada dinas telik sandi jang menangkapi orang2 jang ditjurigai melakukan mata2 atau perlawanan. Memang ini biasa, tapi ketika ditangkap mereka dipaksa menjebut siapa teman2 mereka, djadi harus mengchianati teman sendiri. Itu persis seperti jang pernah terdjadi di kampung halaman pada zaman moffen (makian kasar orang Belanda terhadap Djerman) dan SD (Sicherheidsdienst, dinas rahasia Nazi)”.

Lagi2 satu tjontoh jang mengkaitkan ulah Nazi Djerman di Belanda dengan ulah pradjurit Belanda di Indonesia. Padahal selama ini keduanja selalu dianggap terpisah. Para pedjabat, veteran, maupun Indiëgangers jaitu orang Belanda jang pernah dikirim ke Indonesia semasa perang kemerdekaan, selalu berbitjara terpisah tentang pendudukan Djerman dan perang kemerdekaan Indonesia jang mereka sebut sebagai Politionele Actie, aksi polisi. Dengan lantang orang Belanda menjebut Djerman telah melakukan bezetting (pendudukan) atas negerinja selama Perang Dunia Kedua, tapi kata bezetting itu tidak pernah mereka gunakan untuk menjebut ulah mereka di Indonesia. Tak pelak lagi, itu memang dampak keputusan Perdana Menteri Piet de Jong tahun 1969 jang tahu dan mau memisahkan Belanda sebagai korban pendudukan Nazi-Djerman dengan Belanda sebagai pelaku pelbagai kekedjaman di Indonesia, semasa perang kemerdekaan.

Sekarang terbukti bahwa pembedaan serta pemisahan itu tidak perlu dan tidak benar, karena dulu pradjurit Belanda sendiri sudah menjatukannja, seperti tertera pada surat2 jang mereka kirim dari Indonesia. Mungkin semula itu tjuma langkah tjepat dan mudah sadja supaja dengan gampang bisa menjebut sesuatu jang tengah dialami sehingga mudah dipahami oleh handai taulan di kampung halaman jang djuga baru bebas dari pendudukan Djerman. Tapi mungkin djuga ada jang punja maksud lebih dari itu. Barangkali ada jang ingin mendesahkan suara hatinja bahwa setelah mendjadi korban selama lima tahun pendudukan Djerman, dengan tjepat Belanda telah beralih mendjadi pelaku kekedjaman jang tidak kalah kedjinja di Indonesia. Bisa djadi itu keluhan orang jang merasa terusik dan tidak njaman atas pergeseran diri dari korban mendjadi pelaku, apalagi dalam tempo jang begitu singkat, karena Belanda bebas dari pendudukan Djerman pada musim semi 1945, setahun kemudian, Maret 1946 sudah datang pasukannja di Indonesia.

Tema pergeseran korban mendjadi pelaku ini tampaknja memang universal, berlaku di mana2, walaupun terkandung dalam konteks dan zaman jang berbeda. Bisakah tema ini diterapkan pada Indonesia, pada diri kita sendiri? Bukankah Indonesia punja kasus Timor Timur jang banjak miripnja?

Dalam hal ini mendiang Onghokham sudah memperingatkan: Indonesia adalah negara AA (Asia Afrika, bekas djadjahan) pertama jang harus melakukan dekolonisasi, jaitu ketika Timor Leste achirnja merdeka pada tanggal 20 Mei 2002. Di sini terlihat betapa sedjarawan Onghokham dengan djeli menjatakan Indonesia telah meniru Belanda, bekas induk semang kolonialnja. Di atas semuanja ini djuga berarti bahwa Indonesia telah memperlakukan Timor Leste sama seperti Belanda dulu memperlakukannja. Dari korban kekedjaman, Indonesia telah beralih mendjadi pelaku kekedjaman itu sendiri.

Betapa tidak? Sepintas sadja sudah terlihat sedjumlah paralel antara Indonesia dengan Belanda. Belanda memiliki beberapa erebegraafplaats (sematjam makam pahlawan) di Indonesia, misalnja di Menteng Pulo Djakarta dan di Kembang Kuning Surabaja. Indonesia punja makam pahlawan Serodja di Dili. Jang lebih penting lagi, di Timor Leste upatjara kemerdekaan berlangsung setiap tanggal 28 November, karena pada tanggal 28 November 1975, Francisco Xavier do Amaral atas nama Comite Central FRETILIN memproklamasikan kemerdekaan Republik Demokratik Timor Leste. Tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Restauração da Independencia alias Pemulihan Kemerdekaan dari pendudukan Indonesia (terima kasih kepada Nugroho Katjasungkana untuk butir ini, JW). Bukankah ini persis sama dengan Belanda jang menganggap Indonesia baru merdeka tanggal 27 Desember 1949, ketika berlangsung penjerahan kedaulatan di Amsterdam? Padahal kita memperingati proklamasi kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus.

PM Rutte njekar di Menteng Pulo, SBY njekar di Serodja
PM Rutte njekar di Menteng Pulo, SBY njekar di Serodja

Seorang kenalan jang radjin menekuni sedjarah kotanja, Surabaja pada zaman perang kemerdekaan (djadi pengetahuan sedjarahnja di atas rata2 chalajak umum) tidak setudju dengan persamaan ini. Tema pergeseran korban mendjadi pelaku ini menurutnja sangatlah tidak relevan untuk kita. Ia menjebut satu aspek sadja: peta geografis antara kedua perang ini sudah sangat djauh beda. Entah apa jang dimaksudnja dengan peta geografis. Jang djelas berdasarkan posisi geografis itu tidak ada satu negarapun jang persis sama dengan negara lain. Walau begitu dia mengaku “tidak bisa bitjara banjak mengenai perang Timor bukan karena tidak mau membuka kesalahan bangsa saja, tapi semata karena saja tidak melakukan penelitian mendalam mengenai perang Timor dan saja tidak ingin tjeroboh”.

Djelas kenalan ini produk orde bau jang tidak pernah mengakui pemprovinsian Timor Timur sebagai pendjadjahan. Dan dia tidak sendirian, masih banjak orang Indonesia, terlalu banjak bahkan, jang berpendirian sama, bahkan lebih fanatik lagi. Misalnja kalangan jang berpendapat bahwa Timor Timur itu sudah berintegrasi dengan Indonesia, persis seperti dichotbahkan orde bau. Tanpa bertanja apakah jang disebutnja integrasi Timor Portugis (nama awal Timor Timur) sudah sesuai dengan konstitusi, mereka malah menuduh keputusan B.J. Habibie mengadakan referendum di sana tidak konstitusional.

Maka terlihat djelas persamaannja dengan publik Belanda jang selalu membedakan pendudukan Djerman atas negeri mereka dengan ulah pradjurit Belanda di Indonesia. Tema pergeseran korban mendjadi pelaku, tak pelak lagi, djelas djuga berlaku bagi kita. Dari korban pendjadjahan dan kekedjaman kolonial Belanda, di Timor Timur kita telah berubah mendjadi pelaku perbuatan jang tidak berbeda, bahkan sama kedjinja.

Satu pemikiran pada ““Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s