“Pahlawankanlah Munir” oleh Joss Wibisono

Ini mingsih rantjangan, klow ada wektu akan tak garap lebih landjut

Pada tanggal 30 November 2004, de Tweede Kamer jaitu parlemen Belanda mengadakan debat tetang kematian aktivis hak2 asasi manusia Indonesia Munir. Dua bulan sebelumnja, pada 7 September 2004 (hari ini tepat 11 tahun lalu), Munir ditemukan tewas dalam pesawat Garuda jang menerbangkannja dari Djakarta. Dalam debat parlemen itu dibahas pelbagai hal, misalnja laporan NFI (Institut Forensik Nederland) jang menegaskan bahwa Munir tentang telah kena ratjun arsenikum (warangan bahasa Djawanja); tentang mengapa laporan NFI itu tidak ditundjukken kepada Suciwati; tentang perlunja perlindungan untuk Suciwati dan pegiat hak2 asasi manusia Indonesia lain jang itu wektu merasa terantjem. Pendek kata, parlemen Londo djuga resah oleh kematian jang sangat mengedjutken ini. Klow berminat dan bisa batja bahasa Londo, notulen debat itu bisa disimak dengen mengklik ini. Menariknnja, baik Ben Bot jaitu menteri luwar negeri Belanda itu wektu, maupun Bert Koenders jang anggota parlemen fraksi partai buruh PvdA, sama2 menjebut Indonesia sudah bukan lagi koloni Londo.

Soewardi dan sampul depan artikelnja serta Munir jang masih tak djelas siapa dalang pembunuhannja
Soewardi dan sampul depan artikelnja serta Munir jang masih tak djelas siapa dalang pembunuhannja

Sembilan puluh satu tahun sebelum debat itu, persisnja pada tanggal 11 November 1913, de Tweede Kamer sudah menggelar perdebatan tentang Indonesia. Tentu azha itu wektu Indonesia mingsih merupaken djadjahan Londo, dan perdebatan itu sedianja membahas Indische begrooting alias anggaran belandja Hindia. Itu agendanja, tapi njatanja debat didominasi oleh masalah pengasingan Soewardi Soeryaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ernest Douwes Dekker ke Londo. Para pendiri Indische Partij itu, jaitu partai pulitik pertama Nusantara, kena sasaran amarah Gubernur Djendral Alexander Idenburg jang menggunakan exorbitante rechten alias hak luwar biasanja untuk mengasingken penduduk Hindia. Walow Gubdjen Idenburg menetapken tempat2 pengasingan terpentjil di pelosok Hindia, ketiganja memilih pengasingan ke negeri pendjadjah, Den Haag persisnja. Pada bulan Oktober 1913, mereka tiba di pusat pemerintahan apa jang itu wektu disebut sebagai “negeri induk”.

Penjebab langsung amarah Idenburg adalah artikel edjekan Soewardi jang berdjudul Als ik eens Nederlander was alias “Seandainja azha aku ini orang Londo”. Di dalemnja Soewardi dengen sinis memprotes rentjana perajaan 100 tahun kemerdekaan Londo dari pendjadjahan Napoléon persis di depan rakjat Hindia jang mereka djadjah. Itu wektu Soewardi mingsih berumur 24 tahun, dan Willem Vliegen, anggota parlemen fraksi partai sosial demokrat SDAP jang beroposisi, memprotes menteri koloni Thomas Pleyte karena keputusan pengasingan ini. “Setarakah itu dengan budaja Belanda. Itukah norma jang ingin kita tjapai?”

Kita tahu Soewardi Suryaningrat jang kemudian mengubah namanja mendjadi Ki Hadjar Dewantara achirnja mendjadi pahlawan nasional. Munir memang belum sedjauh itu, tapi di Belanda namanja sudah djadi nama djalan. Dan jang lebih penting lagi, keduanja pernah setjara chusus diperdebatkan oleh de Tweede Kamer, parlemen Belanda. Masak si bekas pendjadjah sudah memperlakukannja sebagai pahlawan, sementara kita tidak? Tidakkah kita malu kepada Belanda, si bekas pendjadjah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s