“Lamat2 gamelan Bali dalam musik klasik barat” Oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain dan dalem edjaan orde bau nongolnja di Bali Post edisi 20 desember 2015, di sekudjur halaman 4.

BULAN NOVEMBER 2015, het Muziektheater jaitu gedung opera Amsterdam, ibukota Belanda, mementaskan dua opera karja komponis Prantjis Francis Poulenc (1899-1963). Opera pertama berdjudul Dialogues des Carmélites (Tjeloteh biarawati Karmelites) sedangkan opera kedua, lebih pendek dan surealistis, berdjudul Les mamelles de Tirésias artinja pajudara Tirésias.

Salah satu adegan »Dialogues des Carmélites«
Salah satu adegan »Dialogues des Carmélites«

Sepintas bagi kita orang Indonesia tak ada jang istimewa pada kedua pertundjukan. Apa sich istimewanja sebuah pertundjukan opera di ibukota negeri bekas pendjadjah? Bukankah itu kegiatan rutin belaka? Keistimewaan baru terdengar kalau kita mengamati kedua opera dengan seksama. Terutama bagi masjarakat Bali musik Poulenc punja arti sendiri.

Le Marquis de la Force (duduk) akan bertjerita tentang pemberontakan rakjat
Le Marquis de la Force (duduk) akan bertjerita tentang pemberontakan rakjat

Dua setengah menit setelah dimulai, orkestra jang mengiringi Dialogues des Carmélites memperdengarkan musik gamelan Bali. Pada bagian awal opera jang berlatar belakang Revolusi Prantjis ini, bangsawan Le Marquis de la Force, salah satu tokohnja, bertjerita tentang pemberontakan rakjat jang sempat dialaminja. Massa mengamuk dan wadjah2 berkerut menahan takut, begitu tuturnja dalam bentuk njanjian. Francis Poulenc menggubah musik jang djelas sekali bernafaskan gamelan Bali untuk menggambarkan kerunjaman revolusi.

Thema Bali djuga muntjul pada bagian achir prolog, musik pembuka Les mamelles de Tirésias, opera kedua Poulenc. Berbeda dengan opera pertama, musik pembuka Les mamelles lebih tenang dan warna gamelan Bali jang terdengar pada menit keenam dimainkan oleh beberapa instrumen tiup dan piano.

Bagaimana seorang komponis Prantjis seperti Francis Poulenc bisa terpengaruh gamelan Bali?

Lenggak2 Bali untuk Mozart

Pada tahun 1931 Poulenc hadir pada l’Exposition coloniale internationale (pameran kolonial internasional) jang selama enam bulan (mei sampai november 1931) digelar di Paris. Di sini sang komponis berkenalan dengan gamelan Gong Gebyar jang didatangkan dari desa Peliatan di Bali selatan. Inilah untuk pertama kalinja gamelan Bali tampil di pentas internasional. Waktu itu salah seorang tokoh masjarakat Peliatan adalah Tjokorda Gde Raka Soekawati jang djuga anggota Volksraad (DPR zaman kolonial jang anggotanja tidak dipilih, tapi ditundjuk). Dia dibantu oleh seniman Djerman Walter Spies jang sudah menetap di pulau dewata dalam memilih penabuh gamelan dan penari jang dikirim ke Paris.

Pintu gerbang paviljun Belanda
Pintu gerbang paviljun Belanda

Tahun 1931 itu Indonesia masih belum lahir, maka di Paris rombongan Bali menginduk pada paviljun Belanda jang dalam bahasa Prantjis disebut Pavillon de Pays-Bas (foto 68 sampai 74) dan pada peta tertera Indes Néerlandaises (Hindia Belanda). Mengkombinasikan unsur2 bangunan Kalimantan dan Minangkabau, gapura masuk paviljun ini bergaja Bali. Ini merupakan karja arsitek Surabaja W. J. G. Zweedijk, bekerdjasama dengan arsitek P.A.J. Moojen, penanggung djawab kehadiran Belanda di Paris. Sedjarawati Belanda Marieke Bloembergen (dalam bukunja De koloniale vertoning alias pameran kolonial) mentjatat bahwa paviljun Belanda termasuk disukai oleh 33 djuta pengundjung jang membandjiri pameran selama enam bulan ini. Tentu sadja ini djuga berkat gamelan Gong Gebyar dan penari Legong sebanjak 50 orang jang didatangkan langsung dari Bali. Sebelum itu, penampilan Hindia Belanda dalam pameran lain di Paris djuga sudah dibandjiri pengundjung.

Taris Legong di Paris, 1931
Taris Legong di Paris, 1931

Francis Poulenc Francis Poulenc [1899-1963]
Francis Poulenc [1899-1963]
Pada 1889, ketika digelar L’Exposition universelle (pameran semesta) dalam rangka seabad revolusi Prantjis, pengundjung sangat menjukai Village javanais (Desa Djawa), nama paviljun Belanda. Salah satunja adalah komponis Claude Debussy (1862-1918); dia sangat terpesona pada gamelan Sunda Sari Onéng jang pentas di situ. 42 tahun kemudian, pada 1931 itu, giliran Poulenc jang ter-mehek2 oleh gamelan Bali. Dalam rekaman piringan hitam jang dibuat pada waktu itu, tertera tiga nomor gamelan Bali, nomor kedua adalah ketjak. Karena ketiganja, paling sedikit terdapat empat karja Poulenc jang terpengaruh Bali. Selain dua opera di atas, masih ada karja orkestra berdjudul l’Histoire de Babar (pada 17:25) dan jang paling utama adalah konser untuk dua piano dalam d-minor, tjiptaan tahun 1932.

Konser tiga bagian ini diawali dengan dua hentakan pembuka jang langsung diikuti hembusan nafas Bali, dan berlandjut dengan kelintjahan à la Mozart (komponis abad 18 asal Austria) jang djenaka. Terkadang muntjul musik Afrika. Melankolis Mozart djuga kentara pada bagian kedua jang lambat, Larghetto. Tapi warna Afrika, jazz dan Bali kembali terdengar di bagian ketiga. Tentu sadja nafas utamanja tetap Mozart, karena memang pada konser dua piano ini Poulenc mendadani Mozart dengan lenggak lenggok Bali.

Colin McPhee [1900-1964]
Colin McPhee [1900-1964]
Exposition coloniale internationale djuga dihadiri oleh Colin McPhee (1900-1964), komponis Kanada jang sebelumnja, di Amerika, sudah mendengar rekaman gamelan Bali. Djatuh tjinta pada gamelan Gong Gebyar jang ditemuinja di Paris, McPhee bergegas ke Bali. Ia ingin mendengar gamelan Bali di tempat asalnja, dan mempeladjari serta merekam sebanjak mungkin. Dua kali pulang kampung, McPhee praktis menghabiskan dekade 1930an di pulau dewata.

Pada 1936, ketika kembali sebentar ke Amerika dan Meksiko, McPhee mentjipta karjanja jang paling terkenal Tabuh-Tabuhan, toccata untuk orkestra dan dua piano. Gubahan ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama Ostinato – Animato, bagian kedua Nocturne – Tranquilo dan bagian ketiga, Finale – Quieto e misterioso.

Djelas ini struktur komposisi barat, bukan gamelan Bali. Dan memang walaupun terdengar sebagai gubahan Bali, Tabuh-tabuhan tidak dimainkan oleh satupun instrumen Bali, hanja instrumen barat jang berperan, sepenuhnja. Struktur gamelan Bali hampir tidak ada pada karja ini, jang terdengar adalah warna suara atau tangga nada, larasnja. Beberapa karja McPhee jang ditulis sesudah itu, seperti Nocturne (musik malam) atau Simfoni Nomer Duwa dan Gabor Gong, tetap sadja bernafaskan Bali. Ini berbeda sekali dengan karja2 McPhee sebelum ia mengenal Bali. Dua karja berikut, masing2 konser untuk dua piano dan oktet tiup terbit tahun 1928 serta Shilhouette untuk piano tunggal jang terbit tahun 1916, sangat bernafaskan Barat, jang satu romantis dan jang lain modern.

Benjamin Britten [1913-1976]
Benjamin Britten [1913-1976]
Menetap di New York selama Perang Dunia II, McPhee berkenalan dengan Benjamin Britten (1913-1976), komponis Inggris jang mengungsi ke Amerika. Sebagai penganut pasifisme jang anti perang, Britten menolak mobilisasi dan wadjib militer, karena itu dia terpaksa hengkang ke negara Paman Sam.

Gamelan Bali melajat kematian di Venezia

McPhee segera memperkenalkan gamelan Bali kepada Britten. Maka berdjangkitlah “virus” Bali pada komponis Inggris ini jang sebenarnja sudah men-tjari2 alam suara dan tangga nada jang lain, seolah djenuh dengan tangga nada musik barat. Mereka berdua djuga sempat merekam transkripsi piano gamelan Bali, hasil garapan McPhee (Ini rekaman baru oleh duwa pianis lain).

Britten (di atas rumput) dan McPhee di Amerika
Britten (di atas rumput) dan McPhee di Amerika
Britten berbintjang dengan Poulenc 1956
Britten berbintjang dengan Poulenc 1956

Seusai perang Britten bertemu Poulenc di Paris dan pada 16 Djanuari 1955, keduanja tampil sebagai solis pada pementasan konser untuk dua piano dalam d-minor karja Poulenc di London. Setahun kemudian, pada Djanuari 1956, Benjamin Britten dan Peter Pears, penjanji tenor pasangan hidupnja, melawat ke Bali selama beberapa minggu. Rupanja, seperti McPhee, Britten djuga ingin melihat, merasakan dan mendengar sendiri Bali.

Paling sedikit ada tiga karja Britten jang terpengaruh gamelan Bali. Pertama musik balet Prince of the Pagodas, kemudian opera Owen Wingrave dan opera terahir Britten Death in Venice atau “Kematian di Venezia”.

Benjami Britten (kanan) dan Peter Pears (kiri) di Bali Djanuari 1956
Benjami Britten (kanan) dan Peter Pears (kiri) di Bali Djanuari 1956

Belakangan pelbagai gedung opera Eropa makin sering mementaskan Death in Venice, apalagi pada tahun 2013, untuk mengenang 100 tahun Britten. Opera ini didasarkan pada novella Thomas Mann Der Tod in Venedig, terbitan 1911. Britten bekerdja sama dengan Myfanwy Piper sebagai penulis libretto atau sjair opera.

Opera jang dipentaskan untuk pertama kali tahun 1973 ini sebenarnja bersifat perenungan perdjalanan hidup Gustav von Aschenbach, tokoh utamanja. Dia adalah seorang pengarang terkenal, beberapa novelnja sukses besar, tapi ternjata tidak bisa lagi menggoreskan satu katapun pada tjatatannja. Ia mengalami writer’s block, sematjam sindrom tak bisa menulis. Baru ketika bertemu pemuda Polandia jang bernama Tadzio (peran tari, bukan njanji) di Venezia, Von Aschenbach sadar akan keindahan maka inspirasi kembali mengalir ke dalam kalbunja.

Pada saat itu Von Aschenbach merasa kaget. Ia (pernah) punja istri (sudah meninggal) bahkan punja anak perempuan. Kenapa ia kemudian tertarik pada seorang (anak) laki2? Djati diri atau tepatnja sexualitas jang berubah ini digambarkan dengan bagus oleh Britten. Musiknja tiba2 berubah mendjadi gamelan Bali.

Death in Venice tak pelak lagi merupakan pengakuan Britten dan Pears kepada dunia luar bahwa selama 30 tahun mereka telah hidup bersama sebagai pasangan. Lebih persis lagi, melalui opera terachirnja ini Britten membuka diri bahwa dia adalah seorang komponis pria jang tertarik pada sesama djenis. Dan memang penjanji tenor pertama jang tampil sebagai Gustav von Aschenbach ketika opera ini dipentaskan untuk pertama kalinja adalah pasangan Britten sendiri, Peter Pears.

Gamelan Bali masih terdengar pada satu adegan lagi, ketika berlangsung apa jang disebut The Games of Apollo (mulai 7:00). Di sini tampil Apollo, dewa musik Junani purba, menjanji di sekeliling pemuda2 teman Tadzio jang sibuk bermain bola di pantai Venezia. Njanjian Apollo (bersuara countertenor jaitu suara pria falsetto) sangat mempesona, terutama karena melodinja pentatonis Bali. Gamelan Bali, berbeda dengan gamelan Djawa, tidak terlalu mengenal njanjian. Tapi dalam Death in Venice, gamelan Bali malah digunakan bukan sadja dalam njanjian tunggal, tapi djuga sebagai njanjian paduan suara.

Apollo di tengah
Apollo di tengah

Britten tidak luput dari kritik. Langkah beraninja menggunakan melodi gamelan Bali disebut sebagai eksotisme. Ia dituding menggunakan gamelan sebagai sesuatu jang djatuh dari langit. Gamelan jang tidak ada pada kosanadanja, tiba2 terdengar. Lebih parah lagi dia ditjap tidak berupaja terlebih dahulu memahami gamelan Bali.

Sebenarnja kalau kita dengar dengan seksama, maka dalam Peter Grimes, opera pertama Britten, sudah bisa didengar gamelan Bali, walaupun memang lamat2 belaka. Di bagian achir opera, ketika Peter Grimes diburu warga desa karena anak asuhnja ditemukan tewas, djuga lamat2 terdengar gamelan Bali. Djadi gamelan Bali sudah lama ada dalam karja2 Britten. Baru pada Death in Venice, opera terachirnja, gamelan Bali terdengar dengan djelasnja.

Maka Francis Poulenc, Colin McPhee dan Benjamin Britten adalah komponis2 barat utama jang terpengaruh gamelan Bali. Mereka menggunakan kosanada Bali dalam pelbagai karja mereka. Lebih penting lagi, Bali mereka pakai untuk menerobos tradisi romantisme jang sepandjang abad 19 begitu dominan di barat. Jang mungkin lebih menarik lagi, sebenarnja ketiga komponis itu adalah pria2 jang setjara erotis tertarik djuga pada sesama pria. Tapi djelas dibutuhkan kesempatan lain untuk membahasnja.

Njaris seabad pengaruh gamelan Bali

Selain ketiganja, masih ada beberapa nama jang tidak terlalu dikenal, seperti Theo Smit Sibinga (1899-1958) Paul Seelig (1876-1945), Walter Niemann (1876-1953) serta Alexandre Tansman (1897-1986). Belakangan orang djuga menjebut nama Walter Spies (1895-1942). Gamelan Bali ternjata djuga mengilhami mereka dalam berkarja. Tapi berlainan dengan tiga perintis di atas, pelbagai komponis ini masih berkutat pada tradisi romantik. Gamelan Bali tidak mereka gunakan untuk mendobrak aliran itu. Mungkin karena itulah, berbeda dengan tiga komponis di atas, karja mereka tidak banjak dimainkan lagi.

Di abad 21 ini Bali tetap menarik banjak komponis, bukan sadja komponis internasional tapi djuga komponis Indonesia sendiri. Jaya Suprana, Ananda Sukarlan (Rapsodi Nusantara nomer 10, dengan disonan jang memukau) dan Krisantini Markam adalah tjontoh para komponis jang terilhami oleh gamelan Bali. Gitaris I Wayan Balawan bisa disebut sebagai wakil blantika musik pop jang bahkan menggunakan instrumen gamelan Bali dalam lagu2 tjiptaannja.

artikel ini wektu nongol di Bali Post
artikel ini wektu nongol di Bali Post

Di luar negeri ada Sinta Wullur, seorang komponis Belanda keturunan Indonesia jang antara menggubah Bali in blue. Lalu komponis Amerika Wayne Vitale jang menggubah Jagul transkripsi untuk dua piano. Kemudian Gareth Farr, komponis Selandia Baru jang menggubah Jangan lupa untuk piano solo dalam rangka mengenang pemboman Bali 2002. Dan masih ada komponis Hongaria jang terkenal György Ligeti. Dia menggubah Galamb Borong, sebuah karja komplex walaupun hanja untuk piano tunggal.

Selama sekitar 85 tahun gamelan Bali terus menginspirasi komponis manapun. Esai ini hanja melatjak asal usul pengaruh gamelan Bali pada musik klasik barat. Zaman sekarang pasti lebih banjak lagi komponis jang terilhami gamelan Bali, di manapun dia berada. Apa lagi memperhatikan betapa gamelan Bali sekarang sudah mendunia, tersebar di mana2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s