“Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem EYDnja orde bau telah nongol di harian Suara Merdeka, edisi 10 djanuari 2016, halaman 18 bawah.

Novel Sang Djuragan Teh karja Hella Haasse hanja menampilkan bumiputra Hindia Belanda sebagai figuran.

Hella Haasse [1918-2011]
Hella Haasse [1918-2011]
DI BUMI KELAHIRANNJA, INDONESIA, NAMA HELLA Haasse hanja dikenal oleh kalangan terbatas, misalnja mereka jang beladjar dan mendalami sastra Belanda, seperti mahasiswa dan staf pengadjar AKABA 17 Semarang. Dan memang Ibu Dr. Inge Widjajanti Dharmowijono, salah seorang pengadjar AKABA 17, adalah penerdjemah Sleuteloog (mendjadi Mata Kuntji), novel terachir Hella Haasse dengan latar belakang Hindia Belanda, Indonesia pada zaman kolonial. Tapi di Belanda, negeri bekas pendjadjah itu, Hella Haasse adalah nama terkenal, hampir setiap rumah tangga Belanda memiliki salah satu dari sekitar 30an bukunja, fiksi maupun non-fiksi. Sudah tutup usia lima tahun silam, chalajak pembatja Belanda masih ber-debar2 menanti biografinja jang didjadwalkan terbit dua tahun mendatang, pada 2018, tatkala berlangsung peringatan 100 tahun kelahiran mevrouw (ibu) Haasse.

Achir tahun lalu tebit Sang Djuragan Teh, terdjemahan bahasa Indonesia De heren van de thee, novel kedua Hella Haasse dengan thema Indonesia zaman kolonial. Selama hidupnja Hella Haasse menulis tiga novel jang disebut De Indische romans alias roman Hindia. Pertama adalah Oeroeg jang terbit pada 1948, kemudian De heren van de thee jang terbit pada 1992 dan terachir Sleuteloog, terbit 2002. Oeroeg sudah diterdjemahkan pada 2009, maka dengan terbitnja Sang Djuragan Teh, ketiga novel Hindia Haasse sekarang sudah terbit versi Indonesianja.

Roman Hindia dalam bahasa Indonesia
Roman Hindia dalam bahasa Indonesia

Selain tiga fiksi Hindia tadi, Haasse djuga masih menulis paling sedikit dua buku non-fiksi tentang negeri kelahirannja. Buku2 itu adalah Krassen op een rots: Notities bij een reis op Java (Goresan di atas batu, tjatatan perlawatan ke Djawa) terbit 1970 dan Een handvol achtergrond, Parang Sawat, autobiografische teksten (Segenggam latar belakang, Parang Sawat, teks otobiografis) terbit 1993. Siapa sebenarnja Hella Haasse?

Dua buku non-fiksi tentang Hindia Belanda
Dua buku non-fiksi tentang Hindia Belanda

Dia dilahirkan sebagai Hélène Serafia Haasse di Batavia (sekarang Djakarta) tanggal 2 februari 1918 dan meninggal dunia di Amsterdam tanggal 29 september 2011, pada umur 93 tahun. Ajahnja, Willem Hendrik Haasse, adalah pedjabat kolonial, dengan djabatan terachir inspektur keuangan. Ibunja, Käthe Diehm Winzenhöler, adalah seorang pianis. Komponis Paul Seelig (1876-1945) mentjiptakan sebuah konser piano dengan tema gamelan Sunda chusus untuknja. Ketika dipentaskan untuk pertama kalinja, Käthe Diehm tampil sebagai solis.

Haasse menempuh pendidikan rendah dan menengah di Batavia, Buitenzorg (nama kolonial Bogor), Bandoeng, dan Soerabaia; kemudian pendidikan tinggi (sastra Skandinavia tak selesai, tapi selesai sekolah tonil) di Belanda. Dengan pelbagai anugerah sastra dalam negeri dan jang tertinggi adalah Prijs der Nederlandse Letteren (hadiah sastra Belanda jang diterimanja langsung dari tangan Ratu Beatrix pada tanggal 17 november 2004) Haasse dikenal sebagai grande dame (sematjam njonja besar) sastra Belanda. Sekitar 30 bukunja sudah diterdjemahken ke dalam 20an bahasa, termasuk bahasa2 Asia; seperti Vietnam, Djepang dan bahasa Indonesia.

Setjara umum, dalam soal fiksi kolonial karja para penulis Belanda, bisa kita tegaskan bahwa sedjak Eduard Douwes Dekker menulis riwajat Saïdjah dan Adinda dalam Max Havelaar pada 1860, 155 tahun silam, makin sulit menemukan penulis Belanda jang menampilkan kalangan inlanders sebagai karakter utuh dalam karja2 mereka. Paling banter bumiputra Hindia hanja tampil sebagai figuran jang tidak penting. Padahal sebaliknja penulis2 Indonesia selalu berhasil menampilkan karakter Belanda jang utuh dan terus berkembang sepandjang djalan tjerita karja penulis Indonesia itu.

Grande dame sastra Belanda Hella Haasse memang sudah menulis Oeroeg, tapi anak mandur perkebunan teh di Djawa Barat ini melulu ditampilkan sebagai bajangan anak madjikannja jang Belanda tulen. Oeroeg jang berteman akrab dengan anak madjikan ajahnja tidak tampil sebagai karakter utuh jang berkembang sepandjang alur tjerita roman itu.

Ketika Sleuteloog, roman Hindia terachir Haasse, terbit pada 2002, orang mengira ia akan mendjawab pelbagai kritik soal masa lampau kolonial Belanda. Tapi ternjata Haasse tidak (berhasil?) menampilkan seorang inlander sebagai karakter utuh. Kalaupun dalam novel ini ada seorang jang bernama Ibu Sjarifa, maka dia sebenarnja adalah seorang Indo berdarah tjampuran jang suka mistik dan memilih djadi pribumi. Ibu Sjarifa, dengan kata lain, bukanlah seorang inlander asli.

Indische Romans (Roman Hindia) karja Hella Haasse
Indische Romans (Roman Hindia) karja Hella Haasse

Sesuai djudulnja, Sang Djuragan Teh berkisah tentang para djuragan, tanpa satupun tokoh inlander (batja: buruh teh) jang penting dan berarti. Memang kalangan pribumi tjuma ditampilkan sebagai figuran, bukan karakter utuh jang ikut berkembang sepandjang djalan tjerita. Beda sekali dengan Pramoedya jang punja Robert Mellema, Robert Suurhof, Jean Marais atau Magda Peters. Tokoh2 Eropa itu adalah karakter2 utuh dalam Tetralogi Pramoedya, bukan deretan figuran semata. Kalau Pram berhasil mentjiptakan karakter2 Eropa kulit putih, mengapa Hella Haasse tidak (berhasil) mentjiptakan karakter2 bumiputra jang utuh? Kenapa karakter inlandersnja tjuma figuran jang tidak berarti, jang tidak menentukan alur tjerita novel2nja? Inilah kritik jang tak terelakkan terhadap tiga novel Hindia karja Hella Haasse.

Untung Pramoedya tidak sendirian. Penulis Indonesia lain, jaitu Iksaka Banu (generasi lain jang djauh lebih muda dari Pramoedya) djuga berhasil mentjiptakan karakter Belanda utuh dalam kumpulan tjerpennja Semua untuk Hindia. Bahkan dalam pelbagai tjerita pendeknja Banu menampilkan protagonis Belanda dengan peran chusus mereka bagi kemerdekaan Indonesia. Beda benar dengen Hella Haasse jang hanja bisa memperlakukan inlanders sebagai figuran, persis seperti djongos dan babu pada zaman kolonial dulu jang pasti djuga tidak sedikit dalam rumah keluarga Haasse, apakah itu di Batavia, Buitenzorg, Bandoeng maupun Soerabaia.

Di Belanda, beberapa penggemarnja jang tjukup kritis menilai bahwa penggambaran pribumi itu memang sesuai dengan kenjataan jang dialami oleh Hella Haasse sendiri pada zaman Belanda dulu. Mereka mungkin benar. Tapi bukankah sebagai penulis Haasse harus lebih bisa mendjaga djarak dengan masa lampau jang tidak dibenarkan oleh sedjarah itu? Bukankah lebih pantas mengharapkan novelnja berisi tokoh2 bumiputra jang mandiri dalam menentukan masa depan dan tidak se-mata2 bergantung pada para toewan bessar koewasa Belanda?

Kalau Multatuli jang berkarja pada abad 19 sadja bisa mentjiptakan Saïdjah dan Adinda mengapa Hella Haasse tidak (bisa?) mentjiptakan karakter bumiputra jang berarti? Bukankah pada abad 19 itu belum terlihat aspirasi kemerdekaan di kalangan para inlanders? Sedangkan Haasse jang terberkati dengan dua zaman (zaman Belanda dan zaman kemerdekaan), seharusnja lebih merasa terbekali untuk djuga menulis tentang aspirasi kemerdekaan orang Indonesia dengan, misalnja, menampilkan paling sedikit satu tokoh untuk mewakili aspirasi jang achirnja memperoleh pembenaran sedjarah itu. Memang pada awal abad 20 tidak banjak penulis Belanda jang mengikuti djedjak Multatuli dengan menampilkan karakter bumiputra, maklum di Hindia kebanjakan orang Belanda hidup dalam dunia mereka sendiri. Tetapi setelah djelas2 aspirasi kemerdekaan itu tak terbendung lagi dan Indonesia achirnja benar2 merdeka, maka tidak ada alasan bagi seorang penulis Belandapun (tidak djuga bagi Hella Haasse) untuk tidak menampilkan seorang karakter Indonesia jang berarti dalam karja2 mereka.

versi pendekan tulisan ini ketika nongol di Suara Merdeka
versi pendekan tulisan ini ketika nongol di Suara Merdeka

Bisa djadi ada jang berpendapat bahwa tidak mungkin mentjiptakan tokoh pribumi dalam djalinan tjerita kebun teh Gamboeng, karena memang waktu itu tidak ada tokoh pribumi jang berarti untuk bisa menandingi Rudolf Kerkhoven, protagonis (tokoh utama) Sang Juragan Teh. Di sinilah esensi karja fiksi jang benar2 membedakannja dengan tulisan non-fiksi sedjarah. Sebagai pengarang fiksi Hella Haasse djelas lebih bebas bahkan bebas sepenuhnja dalam mentjiptakan tokoh sendiri di luar jang sudah benar2 ada, kalau dia memang memperhatikan aspirasi kemerdekaan orang Indonesia. Sastrawan Djerman Friedrich Schiller (1759-1805) misalnja dalam drama Don Karlos, Infant von Spanien mentjiptakan tokoh fiktif Rodrigo Marquis Posa sebagai wakil hasrat kemerdekaan Vlaanderen di hadapan intrik2 istana Radja Felipe II jang bertahta di Spanjol antara 1556 dan 1558. Walaupun achirnja Rodrigo Posa tewas terbunuh, tapi Schiller tidak pernah ditjap telah memalsukan sedjarah. Sebagai penulis fiksi dia hanja menjesuaikan alur dramanja supaja tidak terlalu melentjeng dari kenjataan sedjarah bahwa Vlaanderen atau persisnja Belanda achirnja benar2 merdeka dari pendjadjahan Spanjol.

Di Indonesia penggemar Hella Haasse djuga ada. Di antara mereka terdapat beberapa orang Sunda jang merasa senang karena seorang penulis Belanda telah mengangkat bumi Pasundan ke dalam novelnja. Bahkan mereka bangga membatja Sang Djuragan Teh jang dengan tjukup rintji telah menguraikan keindahan alam Pasundan. Demikian pula beberapa kata Sunda sempat terselip masuk ke dalamnja. Tapi bukankah kebanggaan seperti ini sulit dimengerti, terutama karena orang Sunda tidak ditampilkan sebagai tokoh jang menentukan djalan tjerita?

De heren van de thee dan Sang Juragan Teh
De heren van de thee dan Sang Juragan Teh

Alam Pasundan nan permai itu sudah berpenghuni, begitu pula bahasa Sunda jang merupakan sumber bertutur kata orang Sunda. Pantaskah menganggap orang Sunda tidak ada, tidak berperan dalam menentukan alam dan bahasa mereka? Sulit dibantah Haasse hanja mentjari keuntungan dari bumi Pasundan dan bahasa Sunda, ia djelas tak begitu perduli dengan orang Sunda. Kalau ia benar2 tjinta Pasundan maka bukan sadja keindahan alam dan bahasanja jang digambarkan setjara sastrawi, tapi djuga orang Sunda harus diangkat sebagai protagonis novelnja, paling sedikit tokoh jang ikut menentukan djalan tjerita dan bukan tjuma figuran belaka.

Sebagai penutup berikut sekelumit pengalaman pribadiku dengan Hella Haasse, karena terus terang awak ini pernah sedikit berurusan dengannja. Pada sebuah atjara penandatanganan buku di sekitar pentas Uitmarkt, di Museumplein, Amsterdam, tanggal 29 agustus 1993, aku bertemu Hella Haasse. Dia bertanja, apakah diriku mau jang ini (dia menundjuk De heren van de thee) atau jang ini (dia menundjuk Parang Sawat kumpulan esai terbarunja, waktu itu).

Parang Sawat dan tanda tangan Hella Hasse
Parang Sawat dan tanda tangan Hella Hasse

Kutegaskan ingin Parang Sawat. Sang grande dame bertanja kenapa bukan ini (dia menundjuk De heren van de thee). Kudjawab, “Ah itu bukan buku untukku mevrouw. Aku ini tjuma keturunan het volk van de thee (rakjat atau buruh teh), bukan djuragan teh”. “Ah ja sudah,” kata mevrouw Haasse sedikit keras (sepertinja disertai rasa kesal). Maka Hella Haasse langsung menandatangani Parang Sawat, tanpa bertanja untuk siapa. Padahal kepada orang lain jang sore itu antri tanda tangannja, dia selalu bertanja, “Ini untuk siapa?” Lalu jang bersangkutan menjebut atau menulis namanja.

Mungkin karena aku njeletuk bukan keturunan djuragan teh, mevrouw Haasse tidak ingin tahu lagi siapa namaku. Alhasil pada bukunja jang kubeli itu tak tertera namaku, hanja ada tandatangannja. Ja sudahlah, tak apa2. Jang penting pesanku sudah didengarnja.

2 pemikiran pada ““Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

  1. Pak Joss, ya sempat menyesali saat membaca si juragan teh ini karena inlander hanyalah angin lalu yang berhembus untuk memberikan sedikit warna dalam cerita. Sungguh dalam hati sebagai orang yang tinggal dan lahir di tanah Priangan saya menginginkan dan tertarik saat ingin mengetahui nasib dari Engkoh si pengasuh anak juragan teh yang sangat setia dan baik hati, saat membaca sebenarnya saya ingin tokoh Engkoh ambil bagian karena dia memang sebagai “bagian dari keluarga” Kerkhof apalagi telah mengasuh beberapa orang anak. Saya senang pak Joss kasih saya link di facebook untuk resensi bukunya.

  2. Saya senang membaca tulisan Pak Joss di sini, yang di-link-kan oleh blog EKa Kurniawan. Tq. Tq. Tq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s