“50 tahun G30S dalam sorotan pers Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain tindjauan pers ini telah nongol di madjalah Historia No 25, halaman 17-19.

Lima puluh tahun G30S ternjata djuga mendjadi pemberitaan media massa Belanda, negeri bekas pendjadjah. Bukan tjuma koran, mingguan atau media tjetak lain jang memberitakannja, tapi djuga radio dan televisi serta tak ketinggalan situs web. Menariknja, ketika mingsih adaaa sadja media massa Indonesia jang gak bosen2nja meng-ulang2 sudut pemberitaan seperti 50 tahun silam (keminggrisnja gak bisa move on) jaitu G30S terus2an dipandang sebagai bentrokan ideologis antara PKI dan mungsuh2nja (seperti maunja orde bau), maka media massa Londo si bekas pendjadjah sudah sama sekali meninggalkan sudut pandang kuno ini. Sekarang mereka menekuni G30S melulu dari sudut pelanggaran berat hak2 asasi manusia, bahkan bagi mereka G30S merupaken kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pertentangan sudut pandang lama dengan sudut pandang baru terhadap G30S ini merupakan inti pemberitaan harian NRC Handelsblad. Pada edisi 1 Oktober 2015, dengan djelas koran sore terbitan Amsterdam ini menguraikan perbedaan pandangan antara chalajak umum (jang dibesarkan tiap tahun menonton film Pengchianatan G30S/PKI) dengan kalangan jang disebutnja “jonge intellectuelen” alias tjendekiawan muda. Dalam berita itu, tjendekiawan muda diwakili orang tiga orang, masing2 dua novelis jaitu Laksmi Pamuntjak dan Eka Kurniawan, serta peneliti Andreas Harsono.

Berita NRC Handelsblad tentang Laksmi Pamuntjak, Eka Kurniawan dan Andreas Harsono
Berita NRC Handelsblad tentang Laksmi Pamuntjak, Eka Kurniawan dan Andreas Harsono

Bagi Laksmi Pamuntjak film indoktrinasi orde bau itu mengadjarkan bahwa PKI adalah kalangan batil sedjati jang atheis dan karena itu harus dibasmi. Inilah jang menjebalkan dan mendjengkelkannja. Karena itu Laksmi melakukan sesuatu jang tidak pernah diterima di Indonesia: menulis novel —berdjudul Amba— tentang pembunuhan massal 50 tahun silam. Diterdjemahkan sebagai Amba of de kleur van rood, novel ini sekarang djuga hadir untuk publik pembatja Belanda.

Laksmi tidak sendirian. Novelis Eka Kurniawan —dengan roman Tjantik itu luka jang terbit dalam bahasa Inggris— djuga tidak segan2 menulis tentang pembantaian 1965. Dalam bukunja, demikian NRC Handelsbald, Eka menggambarkan majat2 jang berserakan di mana2, di djalan, di sungai, di atas djembatan, bahkan di semak2. Mereka dibunuh tatkala berupaja melarikan diri, tulis Eka — sesuatu jang, demikian NRC Handelsblad, berlawanan dengan pesan film propaganda orde bau.

Di balik minat besar intelektual muda itu, masalah 1965 tetap sadja tidak dibitjarakan setjara terbuka oleh chalajak ramai Indonesia. Kenapa? Untuk ini NRC Handelsblad menghubungi Andreas Harsono, peneliti pada organisasi hak2 asasi manusia Human Rights Watch. Menurut Andreas banjak orang terlibat. “Politisi pada tingkat tertinggi, gubernur, bupati, kepala desa. Masih banjak orang2 berkuasa karena terlibat setjara pribadi, sehingga mereka tidak berminat berbitjara tentang hal ini.”

Bukan hanja tentara dan preman jang terlibat dalam pembunuhan, demikian NRC Handelsblad berlandjut. Nahdlatul Ulama dan Muhammadijah, dua organisasi muslim terbesar Indonesia, djuga ikut serta. Para pemimpin agama melihat perburuan kalangan komunis ini sebagai sematjam perang sahid.

NU dan Muhammadijah merupakan fundamen masjarakat. Keduanja mengendalikan sekolah, rumah sakit dan pelbagai upaja pengentasan kemiskinan. Bahwa dua organisasi, dengan 70 djuta anggota dari 245 djuta penduduk Indonesia, terlibat dalem pembunuhan massal itu merupakan kenjataan jang oleh banjak orang Indonesia ingin dilupakan sadja.

Koran pagi de Volkskrant, pada edisi 30 September 2015, menampilkan wawantjara dengan dokter Ribka Tjiptaning Proletarijati, anggota DPR jang selalu membanggakan diri sebagai anak PKI. Sebagai anak djudul berita ini tertera “50 tahun silam tentara Indonesia membunuhi sedjuta orang komunis. Sedjak itu mereka merupakan pariah, demikian satu2nja anak komunis jang bisa mendjadi anggota DPR”.

Berita ini bernada suram. Walaupun Tjiptaning sudah bisa sampai pada kursi DPR, nasib orang komunis dan korban peristiwa 65 lain tidaklah membaik. Mereka tetap dianggap antjaman. Tjiptaning djelas perketjualian, seperti bisa dibatja pada alinea berikut.

Ribka Tjiptaning diwawantjarai de Volkskrant
Ribka Tjiptaning diwawantjarai de Volkskrant

Sepeninggal Gus Dur situasi Indonesia kembali mundur. Pada 2004, buku2 sedjarah jang memberi gambaran lebih bernuansa tentang peristiwa 1965 dilarangi dan dibakari. Tjiptaning: “Tidak ada jang protes. Siapa sadja berkata, ‘sudahlah biarkan sadja’. Tapi aku tak mau tutup mulut. Siapa sadja harus tahu bahwa anggota PKI bukan pembunuh, bukan pemerkosa dan bukan perampok, tapi orang jang menganut ideologi dengan tudjuan2 luhur. Orang tuaku itu baik2. Mereka tidak pernah bertengkar dan keluarga kami selalu diliputi harmoni. Kalian tidak boleh menganggap mereka tidak pernah ada”.

Pada edisi achir pekan 26-27 September 2015, rubrik ilmu pengetahuan harian NRC Handelsblad menurunkan laporan pandjang tentang pelbagai teori G30S jang selama ini sudah berkembang. Djudulnja “Bloedbad dat de wereld niet kon schelen” artinja “Bandjir darah jang tak dipedulikan dunia”. Menariknja teori2 ini berkembang di luar negeri, tidak di Indonesia sendiri. Maklum ilmuwan dan sedjarawan Indonesia belum djuga bisa benar2 membebaskan diri dari kungkungan orde bau, seperti bisa dibatja pada dua alinea berikut.

Pembunuhan massal kalangan sajap kiri Indonesia tidak pernah diakui dunia internasional sebagai genosida. Sedjarawan Australia Robert Cribb, sedjarawan Belanda Gerry van Klinken dan ilmuwan lain djustru mengakuinja, mereka berseru bahwa ada upaja2 sengadja untuk membasmi kelompok politik tertentu. PBB hanja mengakui genosida djika terdjadi kekerasan sistematis terhadap “kelompok2 nasional, etnis, rasial dan penganu agama tertentu”.

Bandjir darah jang tak dipedulikan dunia
Bandjir darah jang tak dipedulikan dunia

Sedjarawan2 John Roosa, Robert Cribb dan Gerry van Klinken, adalah ilmuwan luar negeri jang melakukan penelitian kritis terhadap episode berdarah ini. Sebagian besar ilmuwan Indonesia tetap berpegang teguh pada pentjirian jang pernah dikemukakan oleh sedjarawan senior Taufik Abdullah. Bandjir darah itu adalah “konflik horisontal”, amukan spontan massa terhadap kalangan komunis jang memang dibentji. Walaupun pemerintahan Indonesia jang muntjul setelah djatuhnja harto sudah tidak lagi menerapkan pembatasan2 ketat terhadap keluarga PKI, tapi setjara luas orang masih berpendapat bahwa PKI itu adalah pihak djahat jang sebenarnja. Demikian harian sore NRC Handelsblad.

Lembaga penjiaran KRO-NRCV djuga tak mau ketinggalan. Melalui kanal dua (NPO2) gabungan organisasi penjiaran katolik dan kristen-protestan ini menurunkan laporan chusus tentang G30S, pada hari Djumat 1 Oktober 2015. Sebagai organisasi penjiaran agama mereka tertarik pada Joop Beek, rohaniwan katolik jang pegang peran besar pada zaman awal orde bau.

Dokumenter sepandjang 50 menit ini berisi tajangan dari masa lampau maupun masa kini. Maklum, waktu itu wartawan KRO, Aad van den Heuvel, datang ke Djakarta untuk melaporkan situasi Indonesia menjusul G30S. Ketika berangkat, dia mengantongi nama Joop Beek dan melalui rohaniwan Ordo Jesuit ini Van den Heuvel bisa mewawantjarai banjak orang, termasuk harto jang mulai naik daun dan Bung Karno jang waktu itu mulai memudar kekuasaannja.

Suatu sore kepada Beek, Van den Heuvel bertanja benerkah harto akan berpidato pada malam harinja. Itu dibenarkan, dan ketika ditanja apa isi pidato harto, Beek mendjawab belum tahu, karena pidato itu masih harus ditulisnja. Semula djawaban ini dikira gurauan belaka, tapi ketika Van den Heuvel mendapati bahwa harto bener2 membatjakan pidato jang ditulis Joop Beek, dia segera sadar betapa besar pengaruh rohaniwan Belanda ini. Daftar pertanjaan untuk mewawantjarai harto diserahkan kepada Beek, dan dalam wawantjara harto membatjakan djawaban jang ditulis sang pastur Jesuit.

harto batja djawaban Joop Beek ketika diwawantjarai Aad van den Heuvel
harto batja djawaban Joop Beek ketika diwawantjarai Aad van den Heuvel

Dalam dokumenter itu diperintji apa sadja pengaruh besar Joop Beek di Indonesia pada hari2 achir Presiden Sukarno. Beek menggalang demonstrasi besar2an para mahasiswa menuntut pengunduran diri sang Pemimpin Besar Revolusi. Sebelum berdemonrasi para pemimpin mahasiswa menemui Beek, untuk mendengar instruksinja. Ketika achirnja Sukarno mundur dan orde bau tegak, Joop Beeklah jang memikirkan pembentukan Golongan Karja. Setelah menjusun struktur partai, ditemuinja Harry Tjan Silalahi supaja mendekati harto. Sang orang kuwat setudju, maka lahirlah Golkar jang djelas merupakan anak rohani Joop Beek, rohaniwan katolik asal Belanda jang begitu berpengaruh.

Pengaruh itu baru berkurang ketika pembesar Ordo Jesuit di Roma turun tangan. Maklum tidak semua rohaniwan Jesuit setudju dengan pastor berpengaruh politik begitu besar. Salah satunja bernama Adolf Heuken, seorang pastur asal Djerman jang djuga bertugas di Djakarta. Baginja Beek sudah terlalu dekat dengen kekuasaan, kekuasaan orde bau jang ber-darah2 lagi! Menurut peraturan geredja katolik seorang pastur tidak boleh berpolitik praktis. Karena itu Adolf Heuken per-tama2 menghubungi Uskup Agung Djakarta untuk melaporkan peran Beek. Ketika Beek tidak memperdulikan atasan, Heuken menulis surat kepada pembesar Jesuit di Roma, minta supaja Beek diperingatkan. Pembesar Jesuit turun tangan, maka Joop Beek pindah rumah dan mendjauhkan diri dari orang kuwat orde bau.

Selain dokumenter ini, organisasi penjiaran VPRO menajangkan dua dokumenter karja Joshua Oppenheimer tentang peran para algodjo pada pembantaian 1965. Dua malam ber-turut2, tanggal 30 September dan 1 Oktober 2015, chalajak Belanda berkesempatan menonton The Act of Killing (Djagal) dan The Look of Silence (Senjap). Mendjelang siaran, berkala panduan atjara jang dikeluarkan VPRO mewawantjarai Saskia Wieringa, gurubesar antropologi Universiteit van Amsterdam jang meneliti pemusnahan Gerwani, organisasi perempuan onderbouw PKI. Pasalnja, Wieringa memimpin apa jang disebut IPT65, singkatan International People’s Tribunal jang, November mendatang di Den Haag, akan mengadili kedjahatan terhadap kemanusiaan Indonesia itu.

Buku panduan atjara VPRO
Buku panduan atjara VPRO

Radio 1, pada pembukaan siaran pagi 1 Oktober, mewawantjarai Martijn Eickhoff, peneliti Belanda tentang 50 tahun G30S. Eickhoff per-tama2 mendjelaskan kenapa Indonesia tidak djuga berandjak dari versi orde bau terhadap G30S. Kemudian, sebagai penjelenggara, Eickhoff djuga membeberkan seminar jang pada hari itu diselenggarakan di Amsterdam. Seminar ini antara lain bertudjuan untuk menempatkan pembunuhan massal di Indonesia dalam kerangka genosida jang selama ini sudah dikenal orang. Bagaimanakah bandjir darah di Indonesia bisa tjotjok dalam kerangka penelitian genosida internasional?

Tak pelak lagi, pers Belanda (dan djuga pers internasional lain) punja sudut pandang lain mengenai bandjir darah 50 tahun lalu. Sudut pandang itu berpangkal dari pendirian bahwa pembunuhan anggota PKI dan orang2 jang diduga simpatisannja merupakan pelanggaran hak2 asasi manusia besar2an. Ketika Tembok Berlin sudah runtuh dan di Eropa Timur serta Uni Soviet komunisme sudah gulung tikar djelas akan djadi bahan ketawaan kalau sudut pandang perang dingin, jaitu perbenturkan ideologi, diulang2 lagi.

Dapatkah chalajak ramai Indonesia berandjak dari adjaran orde bau jang sudah begitu lama mereka anut? Kapan Indonesia menjeruak tempurung jang mengungkunginja untuk setjara djudjur dan terbuka mengakui bahwa peristiwa 50 tahun silam itu adalah pelanggaran hak2 asasi fantastis besar2an jang tidak pernah dikenal dalam sedjarahnja sendiri?

Satu pemikiran pada ““50 tahun G30S dalam sorotan pers Belanda” oleh Joss Wibisono

  1. Peristiwa G30S terjadi karena beberapa sebab….seharusnya kita terbuka saja dalam menulis penyebab-penyebab itu, apa saja latar belakang politiknya seperti peran parpol, sejarah perang kemerdekaan seperti peran tentara, masa demokrasi parlementer, masa demokrasi terpimpin,….. dengan demikian itu semua bisa menggambarkan secara utuh pembunuhan massal pada tahun 1965 itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s