“Rijsttafel versus entrecôte” fiksi oleh Joss Wibisono

Versi lain jang lebih pendek dan dalem EYD telah nongol di Koran Tempo edisi achir pekan 20-21 februari 2016, halaman 22 dan 23.  Untuk bisa memperoleh gambaran jang lebih lengkap tentang isi kisah fiksi ini, silahken mengklik djuga pelbagai tautan (klow bisa semua) jang ada.

dengan tangan terkepal untuk Hartoyo

 

TJUATJA BATAVIA TAK ubahnja seperti suasana kalbuku. Kemarin seharian hudjan lebat, hari ini panas — sangat panas; karena itu diriku serasa hidup dan berada dalam dunia air raksasa jang tak terlihat lagi batasnja. Apalah jang mesti kuperbuat? Kalau menoleh ke belakang, tampak seperti diriku hidup dalam air bersuhu 33 deradjat jang tidak begitu menarik tetapi ini pilihanku sendiri, bukan? Betapa hidup di negeri tropis ini menjebabkan aku tak punja waktu lagi untuk berpikir tentang musik, tentang Johann Sebastian Bach, misalnja.

Kalaupun hari2 ini aku tampil sebagai solo alto dalam Weihnachtsoratorium [1] tjiptaan Bach, maka penampilanku terasa begitu hampa. Aku hanja mengikuti kehendak Paul Seelig, sang pemimpin jang mengaba tiga kali penampilan kami. Pementasan di Istana Gubernur Djenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer jang baru sadja usai merupakan jang terachir kalinja, tapi bagiku jang paling tidak memuaskan. Aku sempat heran djuga ketika Zijne Excellentie [2] mendjabat tanganku dan memudji penampilanku. Ketika kudjawab “Tanke wol[3] —terima kasih dalam bahasa Fries— mata orang paling berkuasa di Hindia ini ber-binar2. Baru kali ini aku terlibat dalam pembitjaraan koetjes en kalfjes[4] dengan seorang bangsawan Friesland, Belanda utara, tempat aku dibesarkan. Sajang disajang: têtê-à-têtê [5] itu tidak berlangsung lama karena residen Henri Fievez de Malines van Ginkel —orang jang paling berkuasa di Batavia— datang bergabung. Pembicaraan segera beralih ke bahasa Belanda.

Ruang audiensi istana gubernur djenderal di Batavia
Ruang audiensi istana gubernur djenderal di Batavia

Sedjak tiba di Batavia tiga tahun silam —lebih dahulu beberapa bulan dari Gubernur Djenderal Tjarda— sudah ber-kali2 mijnheer [6] Seelig mengontrakku sebagai solis alto dalam pelbagai penampilan pimpinannja, bahkan ini sudah kali kedua aku tampil dalam Oratorium Natal di bawah abaannja. Aku tak pernah kesulitan memenuhi permintaan Seelig jang bagiku sebenarnja djuga tidak terlalu berat. Tapi untuk kali ini djangan tanja soal penafsiranku! Djudjur sadja, tak ada ilham jang menuntunku untuk melahirkan sebuah prestasi seni gilang pada konser di achir tahun ini. Aku hanja menjumbangkan suaraku, tanpa interpretasi dan tanpa pendjiwaan.

A.W.L. Tjarda van Starkenborg Stachouwer, Gubernur Djenderal Hindia Belanda 1936-1942
A.W.L. Tjarda van Starkenborg Stachouwer, Gubernur Djenderal Hindia Belanda 1936-1942

“Mungkinkah suaramu lebih tjotjok untuk opera?” Ratri mentjoba mendjadi penjelamat, aku tahu ke mana arah pembitjaraannja. “Bulan lalu sebagai Carmen [7] kau benar2 tjemerlang. Sampai2 pelbagai koran bersepakat memudjimu dalam resensi mereka”.

Ratri benar, dan seandainja sadja dia tahu betapa sebenarnja dia berperan pada kehampaan jang kurasakan pada penampilanku sekarang. Bagaimana harus mengungkapkan ini padanja?

“Mungkin aku memang butuh waktu untuk beralih dari peran utama wanita binal dalam Carmen jang begitu profan keduniawian menudju karja rohani geredjani seperti Oratorium Natal ini,” begitu sedikit kubenarkan pendapatnja. Tapi bagaimana harus mengkaitkan Ratri pada penampilanku?

Rechtshoogeschool di Weltevreden, Batavia
Rechtshoogeschool di Weltevreden, Batavia

Sore itu kami berpisah setelah bersepakat untuk bertemu lagi dua pekan kemudian, sekembalinja dari Vorstenlanden [8]. Seperti tahun lalu (dan pasti sebelumnja djuga), ia merajakan tahun baru di tengah keluarganja. Aku tahu Ratri berangkat tidak dengan sepenuh hati, karena pasti desakan untuk berumah tangga akan kembali menimpanja. Desakan itu menderas begitu ia tamat Rechtshogeschool [9] dan kini bekerdja sebagai pengatjara di salah satu advocatenkantoor [10] jang terus mendjamur di Batavia. Tapi pria inlander [11] mana jang berani mempersunting seorang meester in de rechten [12] seperti Ratri Moelatwangie? Ratri pernah berudjar teman2 pria sesama lulusan RHS lebih memilih pasangan hidup putri2 murni jang taat dan berbakti. Ketika kutanja apa artinja, dia tjuma mentjibir.

***

BEGITU MASUK BANGSAL makan jang besar itu, langsung kutabur pandang ke segenap pendjuru, tak ketinggalan ke arah plafon kaju ukir à la kraton Solo, kesukaanku. Kechawatiranku segera terbukti, lagi2 kemegahan bangsal bermuatan ratusan orang ini tidak diimbangi oleh luapan pengundjung. Turun dari trem tadi sebenarnja sudah kulihat mobil jang sedikit dan para chauffeurs [13] jang tidak meriung di salah satu sudut, kemudian teras depan djuga begitu sepi. Kalau bulan lalu masih terdengar berisik, maka sekarang lajak ditanja penjanji dan combo[14] pengiringnja menghibur siapa

Pria2 dandy [15] jang selalu duduk minum bir dingin di salah satu satu sudut bangsal djuga tak tampak lagi. Selama dua minggu ber-turut2 di awal 1939 ini Hôtel des Indes (bisa dilihat di YouTube mulai 5:30) praktis sepi merana; padahal sampai November 1938, terutama pada Ahad siang seperti sekarang, pelanggan harus antri menunggu medja kosong. Kini pelajan mengatasi pelanggan dalam djumlah. Pasti ini karena pelbagai penangkapan jang ramai dalam pemberitaan koran sedjak achir tahun lalu.

Bangsal makan Hôtel des Indes, Batavia
Bangsal makan Hôtel des Indes, Batavia: tampak kosong

Dari tebaran pandang kutahu Lieven belum datang. Pasti tak lama lagi, batinku. Pada kentjan kami sebelumnja, Lievenlah jang terlebih dulu muntjul. Di tahun baru ini kami sepakat untuk bertemu dua pekan sekali, lebih sering dari tahun lalu jang tjuma sekali sebulan atau setiap kali Lieven pentas. Seorang pelajan bergegas menghampiriku; ia menjerahkan amplop ketjil, sambil mempersilahkanku memilih tempat duduk mana sadja, karena pilihan memang tak terbatas. Kutundjuk kursi terdekat, dengan isjarat akan pindah kalau Lieven datang. Dia mengangguk dan menjuguhkan segelas air es, ternjata dia sudah hafal minuman pesananku begitu tiba.

Kukeluarkan setjarik kertas dari amplop, di situ terbatja “Saja ke apotik dulu,” di bawahnja tertera Lieven Naaktgeboren, si pengirim. Rupanja dia sudah menelpon hotel untuk memberitahu keterlambatannja padaku. Ke apotik? Ada apa? Betapa kesabaranku terudji, dua pekan berpisah dengannja, masih belum tjukupkah? Seandainja sadja hati ini berani bertegas kata padanja.

Raglan blouse 1930an
Raglan blouse 1930an

Untung penantianku tak perlu berlangsung lama. Belum lagi air es terteguk habis Lieven sudah muntjul. Ia mengenakan Raglan blouse mode mutachir Eropa jang terbuat dari sutra hidjau, membawa tas kuning menjala, dan sepatu hak tinggi jang djuga berwana hidjau mempertjantik kerampingan kakinja. Sulit dibajangkan bagaimana tubuh jang semampai dan ramping serta tjenderung kurus ini bisa mengeluarkan contralto, suara perempuan terendah jang dalam dan gelap tapi begitu menggelegar hingga terdengar di segenap pendjuru gedung konser, tanpa pengeras suara. Wadjahnja jang tjeria penuh senjum djuga tak mentjerminkan suaranja, tapi menandakan ia tak kurang apapun, kesehatannja djuga tampak prima.

“Ratri, mijn liefje [16],” ia bergegas memelukku dan mendaratkan ketjupan lembut pada kedua pipiku. Sedjenak ia mengerutkan dahi mendapati restoran kosong ini, tapi kami terlalu sibuk dengan rasa ingin tahu pada diri masing2.

“Bagaimana kabarmu? Kenapa harus ke apotik? Tidak apa2, kan? Apa rentjana di tahun baru ini?” Kudengar diriku lebih dahulu memberondongkan rangkaian pertanjaan, sementara Lieven sibuk duduk dan mengatur kursinja. Kami memilih duduk di dekat djendela tapi djuga persis di bawah kipas angin, maklum Lieven sering kepanasan akibat makanan pesanannja.

“Aku baik sekali, kemarin baru kembali dari Buitenzorg [17], seminggu di sana berlatih Azucena, salah satu tokoh dalam Il Trovatore [18]. Minggu depan kita mulai latihan lengkap dengan orkestra untuk pementasan achir bulan. Ke apotik untuk tjari krem jang menghambat sengatan matahari. Aku tetap bergulat dengan iklim tropis. Kau bagaimana? Rasanja tak ada masalah berarti, penampilanmu tjukup segar?” Dia ganti bertanja, se-olah2 aku sudah paham pendjelasannja jang begitu tjepat. Ternjata Lieven dikontrak untuk tampil dalam opera tjiptaan Verdi jang akan segera pentas di Schouwburg [19] Batavia.

“Pengamatan djitu,” djawabku, “Dan memang orang tuaku sudah bosan men-desak2ku menikah. Sekarang terserah aku sadja. Rupanja mereka sadar djuga bahwa pria inlanders tidak terlalu suka perempuan terdidik.”

Lieven mengelus dada dan tampak lega, tapi pelajan restoran memutus pembitjaraan, bertanja pesanan kami, “Seperti biasa atau lihat menu dulu?”

Rijsttafel
Rijsttafel

“Saja seperti biasa rijsttafel [20],” katanja sambil menjerahkan kupon makanan Indonesia jang dihidangkan dengan tjara Belanda ini.

“Oh, sekarang kupon ini berlaku untuk dua orang mejuffrouw [21],” kata pelajan dengan nada suara penuh kesabaran. “Bisa lihat sendiri suasana sekarang sepi, karena itu kami mentjoba menarik pelanggan dengan reklame dan korting seperti ini.”

Aku terserang kikuk, karena ini berarti harus ikut makan rijsttafel. Menurut lidahku hidangan terlezat Hôtel des Indes adalah masakan Prantjis entrecôte [22]. Sorot mata Lieven memantjarkan harapan supaja aku ikut pesan rijsttafel, maklum ia tahu itu bukan kesukaanku. Kali ini, demi djundjungan hati, aku tak keberatan walaupun bukannja tanpa sjarat.

“Boleh aku minta nasi putih dingin, sambal jang pedas, dan sebagai hidangan penutup pisang goreng tanpa bumbu katjang?” Si pelajan jang berpakaian serba putih mengangguk. “Tentu sadja nona, itu memang tjara …… orang Indonesia,” (dia seperti hampir mengutjapkan kata inlanders, tapi urung karena melihat aku mengenakan kain dan kebaja). Dugaannja benar, aku ingin menikmati rijsttafel seasli mungkin, sesuai dengan kebiasaan kalangan bumiputra, kalanganku sendiri.

Entrecôte dengan saus lada hitam
Entrecôte dengan saus lada hitam

Dank je wel [23] liefje,” Lieven tersenjum lebar sambil mendjamahku. Walau tak fasih bahasa Melajoe, ia bisa menduga sjarat2 jang kukemukakan itu. Ia masih ingat benar kentjan pertama kami di sini, lebih dari setahun silam. Waktu itu memang langsung kupilih entrecôte, karena dalam perkara makanan aku ogah berkompromi. Dari ketjil aku sudah dididik setjara Eropa djuga dalam bahasa Belanda; tapi soal makanan, begitu kutegaskan padanja, tak sudi diriku berperilaku seperti orang Eropa.

“Kala itu kau langsung pesan entrecôte, aku ingat itu. Tapi aku lupa lagi, kenapa ja? Bukankah rijsttafel ini makanan lokal?” Mendadak Lieven tampak serius.

“Memang ini makanan Indonesia lieverd [24], tapi bukan seperti ini kami menjantapnja. Makanan kaum bumiputra kebanjakan satu lauk sadja, seperti nasi gudeg, nasi soto atau nasi petjel. Memang ada nasi tjampur, tapi itu tidak lebih dari tiga matjam lauk,” djawabku.

“Sepi benar hari ini,” Lieven achirnja menjinggung soal sedikitnja tamu sambil memandang sekeliling ketika pelajan meninggalkan kami. “Apa benar karena rangkaian penangkapan jang disebut zedenschandaal [25] itu? Aku dengar salah satunja tertangkap di hotel ini?” Suaranja melirih, njaris tak tertangkap telingaku. Semula aku hanja berniat mengangguk, tapi debat jang terlontar di kantor lajak kuteruskan pada Lieven.

“Kenapa baru sekarang pasal 292 wetboek van strafrecht [26] diterapkan? Padahal pasal ini sudah ada sedjak 1918. Itu jang banjak dipertanjakan teman2 sekantor,” aku ingin memantjing reaksi Lieven.

Indische Courant mengutip Java Bode tentang zedenschandaal
Harian »de Indische Courant« mengutip harian »de Java Bode« tentang “zedenschandaal”, edisi 30 djanuari 1939

“Negara Hindia Belanda ingin tampil tegas supaja dapat bangkit dari malaise sepandjang dekade 1930an ini, bagaimana?” Lieven selalu datang dengan pendapat mandiri, walau dia Eropa kulit putih jang diuntungkan oleh kolonialisme. Tak pernah kupergoki dia hanja mengulang pendapat umum, seperti pendapat harian Java Bode jang, dalam mewartakan skandal susila, terus2an menulis tentang maatschappelijk gevaar [27] atau sedjenisnja. Betapa menjesatkan koran kolot ini, betapa djeli Lieven, tak kalah djitu dari teman2 kantor. Liwat skandal susila negara kolonial djelas ingin undjuk gigi, bahkan mungkin ini titah Zijne Excellentie sendiri!

Tapi ach, tetap sulit mengusir nakal jang menggatal. Aku masih ingin mendebat Lieven, karena bukankah sistem ini tetap tegak walau digontjang krisis ekonomi hampir 10 tahun? Sajang Paul Seelig, pengaba Orkes Simfoni Batavia, masuk didampingi perempuan kulit putih bukan istrinja. Mereka mendekat melihat lambaian Lieven.

“Selamat sore Lieven Naaktgeboren, izinkan aku memperkenalkan Miss Eva Gauthier,” kata mijnheer Seelig dalam bahasa Inggris mengenai perempuan jang datang bersamanja. Kami berdjabatan tangan, dan Lieven memperkenalkanku sebagai introducee [28]. Dari tjaranja memandangku, Paul Seelig sepertinja lebih ber-tanja2 mengapa Lieven berkentjan dengan seorang perempuan bumiputra, dan bukan kenapa solis altonja ini tidak didampingi seorang pria. Lieven memperoleh tjiuman pada tangannja, tjiri chas Paul Seelig jang selalu terpana pada pesona perempuan rupawan. Menurutnja Eva Gauthier adalah soprano liris asal Kanada jang akan mengadakan perlawatan konser keliling Hindia. Seelig akan mendampinginja sebagai pianis, begitu pementasan Il Trovatore berachir.

“Oh ja, ada satu hal penting jang harus saja katakan mejuffrouw Naaktgeboren,” mijnheer Seelig tampak serius. “Saja harap mejuffrouw bersedia mendjadi solo alto pada pementasan Matthäus Passion [29] Maret mendatang, mendjelang Paskah. Sampai sekarang kontrak belum ditandatangani.” Lieven menarik raut sedikit murung, tapi tak mau mentjemarkan suasana, “Het komt goed, maakt u zich geen zorgen [30].” Ini berarti kepastian: seusai opera Verdi, pekerdjaan lain akan sudah menanti.

Mereka berdua seperti terdesak untuk segera mentjari tempat duduk sendiri tatkala melihat iring2an pelajan datang membawa pesanan kami. Kulihat Lieven menarik wadjah riang melihat iring2an dalam djumlah jang begitu besar. “Seperti ini tak ada di Eropa,” bisiknja. Menurutnja pada kundjungan sebelumnja djumlah pelajan tidak sebanjak sekarang. “Maklum tamu djauh lebih sedikit ketimbang pelajan,” kataku.

Pelajan Hôtel des Indes menjuguhkan rijsttafel
Para pelajan Hôtel des Indes menjuguhkan rijsttafel

Barisan pelajan itu terdiri dari dua kelompok, kelompok pertama membawa pesanan Lieven dan kelompok kedua menjuguhkan pesananku. Tiap2 kelompok terdiri dari 12 orang, diselang-seling pria wanita. Pria mengangkat baki perunggu pada tangan kanan, wanita baki perak pada tangan kiri. Tidak semua membawa makanan, bagian depan membawa piring, sendok, garpu, pisau serta gelas. Tentu sadja piring dan peralatan makan lain di atur setjara Eropa; dua tumpuk piring, tjekung di atas piring datar. Kemudian dua sendok, satu garpu dan satu pisau. Tak kuduga mereka tahu Lieven kidal, maka sendok untuknja ditaruh pada sisi kiri. Ini masih dilengkapi dengan tempat tjutji tangan serta serbet.

Seperti kupesan, aku memperoleh nasi dingin; sementara Lieven nasi panas ber-kepul2. Kemudian pelbagai daging, seperti semur, rendang dan sate kambing, tak ketinggalan ajam opor dan ajam panggang. Setelah itu pelbagai sajur, ada sajur lodeh, urap2 maupun tjah taoge tjampur ikan asin. Lalu krupuk, serundeng dan atjar. Sebagai lauk terachir, pelajan masih meletakkan telur tjeplok di atas tumpukan makanan kami. Sebelum mempersilahkan kami makan, seorang pelajan bertanja minuman apa jang kami kehendaki. Lieven memilih bir biasa dan aku witbier alias bir putih jang tidak terlalu pahit, keduanja tanpa es tapi dingin.

Pelajan Hôtel des Indes dengan seragam berinisial HdI
Pelajan Hôtel des Indes dengan kerah berinisial HdI

Kami melahap rijsttafel dan diam tatkala sibuk mengunjah, tapi kadang2 kurasakan sorot mata Lieven mentjuri pandang, ketika aku sibuk mengunjah atau mengatur makanan dengan sendok dan garpu.

“Kenapa tak kau gunakan pisau?” Tanjanja begitu ingin tahu. Pada saat itu kakinja jang sudah tak bersepatu lagi menjentuh kakiku, meng-elus2nja. Aku sempat tergoda untuk bertanja apakah dia ingin membeo para pelajan jang, walau sudah berseragam mentereng, ternjata tetap tidak beralas kaki.

Suasanan Hôtel des Indes tatkala menghidangken rijsttafel
Suasana Hôtel des Indes tatkala menghidangken daripada rijsttafel

“Pisau itu hanja untuk makanan Eropa,” djawabku. Dan kami tergelak, tapi suara kami hilang terserap combo jang terdengar semakin keras. Beberapa orang turun melantai di dekat combo, termasuk mijnheer Seelig jang terlihat makin akrab dengan Miss Gauthier. Di luar dugaanku, Lieven mengelus punggung tanganku, dia mengadjak berdansa, ketika combo memainkan nomer tenang Love for sale, mengobral tjinta, karja Cole Porter ini belakangan kembali disukai orang. “Old love, new love, every love but true love [31]”, begitu salah satu lariknja. Siapa tahu diriku sekarang berhadapan dengan tjinta sedjati jang tak terbeli? Kusambut adjakannja dan kami adalah satu2nja pasangan dansa sedjenis sore itu. Lieven terlihat kaget dan senang, maklum selama ini selalu kutolak adjakan tampil intim di tempat umum. Tapi ah, sepi pengundjung telah mengusir malu jang selama ini membelenggu. Apalagi sore sudah berlalu, malam telah luruh meliputi Batavia.

***

PAGI JANG BERISIK, begitu Ratri Moelatwangie membatin. Ia terbangun dalam pelukan Lieven Naaktgeboren jang masih terlelap. Berisik di luar bukan karena panggilan berdoa jang dilontarkan oleh rumah ibadah tertentu atau sirene brandweer [32] jang di pagi buta ini sudah harus memetjah kesunjian sepandjang Molenvliet-West [33]. Di sepandjang Molenvliet-Oost [34] djuga tak ada ambulans jang meluntjur.

Hôtel des Indes jang terletak di Molenvliet-West; djalan di seberangnja bernama Molenvliet-Oost
Hôtel des Indes jang terletak di Molenvliet-West; djalan seberangnja bernama Molenvliet-Oost

Berisik itu datang dari lorong kamar, semula hanja langkah serombongan orang. Salah satunja bertanja di mana kamar nomer 256, tidak terdengar djelas djawabannja, segera terdengar langkah bersama melewati kamar Ratri dan Lieven jang berdjarak beberapa pintu dari kamar itu. Kemudian pintu diketok tjukup keras. Pada saat itu Lieven terbangun dan ber-tanja2 apa jang terdjadi. Ratri hanja bisa mengangkat bahu, tapi ia berdiri, mengenakan kimono dan menudju pintu kamar, mentjari tahu apa jang tengah terdjadi. Ketika kembali terdengar ketukan pintu, Lievenpun bangun, disambarnja kimono serta bergegas ke pintu masuk.

Mijnheer Van Ginkel, ini polisi, kami minta pintu segera dibuka,” ketokan itu makin keras dan disertai seruan jang lebih keras lagi.

Mijn God, de Resident van Batavia [35]!” Lieven terbelalak memandang Ratri. “Bulan lalu kudjabat tangannja sesudah konser di Istana.” Sebagai pedjabat tertinggi ibu kota Henri Fievez de Malines van Ginkel memang selalu hadir di mana2, termasuk atjara resmi kenegaraan di Istana.

Gubernur Djenderal Tjarda (tengah) dan Resident Van Ginkel (kanan)
Gubernur djenderal Tjarda (tengah) dan residen Van Ginkel (kanan)

“Pasti ini zedenschandaal,” Ratri sudah jakin soal peristiwa jang kini tengah mereka hadapi.

Lieven mengusulkan untuk membuka pintu dan Ratri segera melakukannja. Begitu pintu terbuka —seperti beberapa pintu lain di lorong itu— mereka lihat Resident Van Ginkel dalam pakaian atjak2an sedang melangkah didampingi beberapa orang polisi, tangannja terborgol. Polisi lain masih mendampingi seorang pria muda bumiputra jang berdjalan di belakang toewan Resident. Rupanja si pemuda jang tidak diborgol ini sekamar dengan orang nomor satu Batavia. Salah seorang polisi mengangguk sambil mengutjapkan selamat pagi kepada Lieven dan Ratri. Dalam sekedjap iring2an berlalu.

Lieven dan Ratri masih ternganga ketika kembali masuk kamar. Di balik pintu mereka berpelukan***.

[Teriring utjapan terima kasih kepada Betty Chandra serta Iksaka Banu atas komentar dan usul mereka terhadap versi awal fiksi ini]

Ilustrasi Munzir Fadly ketika fiksi ini dimuat oleh Koran Tempo
Ilustrasi Munzir Fadly ketika fiksi ini dimuat oleh Koran Tempo

Daftar kata2 dan istilah2 asing

[1] Weihnachtsoratorium adalah oratorium natal karja Johann Sebastian Bach (1685-1750), komponis Djerman zaman Barok.

[2] Zijne Excellentie sebutan untuk pedjabat (zaman dahulu) artinja “jang mulia”.

[3] Tanke Wol (bahasa Fries) artinja terima kasih.

[4] Koetjes en kalfjes harafiahnja sapi dan anak sapi, tapi artinja basa basi.

[5] têtê-à-têtê (bahasa Prantjis) artinja pembitjaraan empat mata.

[6] Mijnheer atau zaman sekarang meneer artinja bapak atau pak.

[7] Carmen adalah opera karja komponis Prantjis Georges Bizet (1838-1875).

[8] Vorstenlanden jaitu wilajah2 di Djawa jang diperintah oleh para radja, persisnja Surakarta dan Jogjakarta.

[9] Rechtshogeschool jaitu sekolah tinggi hukum.

[10] Advocatenkantoor berarti kantor advokat.

[11] Inlander artinja bumiputra.

[12] Meester in de rechten artinja sardjana hukum.

[13] Chauffeur (bahasa Prantjis) artinja pengemudi.

[14] Combo (bahasa Inggris) sekelompok pemusik jang mengiringi penjanji, biasanja terdiri dari gitar, kontra bas dan piano.

[15] Dandy (bahasa Inggris) adalah seseorang (biasanja pria) jang mementingkan penampilan melalui pakaian jang bagus dan bahasa jang halus tapi selalu santai dan tidak kaku.

[16] Mijn liefje artinja buah hatiku.

[17] Buitenzorg sebutan zaman kolonial untuk Bogor.

[18] Il Trovatore adalah opera karja komponis Italia Giuseppe Verdi (1813-1901).

[19] Schouwburg adalah tempat pertundjukan, sekarang disebut Gedung Kesenian.

[20] Rijsttafel harafiahnja nasi (atau beras, bahasa Belanda tidak membedakan nasi dari beras) di atas medja adalah makanan Indonesia, terutama Djawa, jang dihidangkan setjara Belanda.

[21] Mejuffrouw atau juffrouw artinja nona (sekarang sudah sangat djarang dipergunakan).

[22] Entrecôte adalah nama masakan Prantjis, dibuat dari sekerat daging sapi berlemak ukuran sedang, setelah digarami dan diberi meritja setjukupnja kemudian dimasak dengan mentega dan diberi saus djamur serta lada hitam.

[23] Dank je wel artinja terima kasih diutjapkan untuk kalangan jang akrab.

[24] Lieverd artinja sajang.

[25] Zedenschandaal artinja skandal susila.

[26] Wetboek van strafrecht van Nederlandsch-Indië artinja kitab undang2 hukum pidana Hindia Belanda.

[27] Maatschappelijk gevaar artinja bahaja bagi masjarakat.

[28] Introducee (bahasa Prantjis) artinja pendamping jang adalah seorang perempuan.

[29] Matthäus Passion adalah gubahan musik untuk vokal dan orkestra jang biasanja dipentaskan pada minggu2 mendjelang Paskah, berkisah tentang penderitaan Jesus sampai tewas disalib. Ini merupakan karja terbesar Johann Sebastian Bach (1685-1750), komponis Djerman zaman Barok.

[30] Het komt goed, maakt u zich geen zorgen artinja nanti pasti beres, djangan chawatir.

[31] Old love, new love, every love but true love artinja tjinta lama, tjinta baru, segala matjam tjinta ketjuali tjinta sedjati.

[32] Brandweer artinja pemadam kebakaran.

[33] Molenvliet-West nama djalan di Batavia, sekarang Djalan Gadjah Mada.

[34] Molenvliet-Oost nama djalan di Batavia, sekarang Djalan Hajam Wuruk.

[35] Mijn God, de Resident van Batavia artinja Ja Tuhan, dia Residen Batavia.
 

Referensi

1. Marieke Bloembergen (2011), “Rein zijn is sterk zijn: de massale vervolging van homoseksuelen in Nederlands-Indië in 1938-1939” dalam Gert Hekma dan Theo van der Meer (redaksi) Bewaar me voor de waanzin van het recht: homoseksualiteit en strafrecht in Nederland, Diemen: Uitgeverij AMB. (Bab 9, halaman 109-122), ISBN 97890 79700 39 4

2. Matthew Isaac Cohen (2010), “Eva Gauthier, Java to Jazz” dalam Performing Otherness: Java and Bali on International Stages, 1905-1952, Basingstoke: Palgrave Macmillan. (Bab 3, halaman 48-72), ISBN 978-0-230-22462-9

3. Gosse Kerkhof (1992), “Het Indische Zedenschadaal: een koloniaal incident” dalam Raymond Feddema (redaktur) Wat beweegt de bamboe? Geschiedenissen in Zuitoost-Azië, Amsterdam: Het Spinhuis. (Bab 6, halaman 93-117), ISBN: 90-73052-45-9

4. Onghokham (2003), “The Rijsttafel and the Colonial Dutch” dalam The Thugs, The Curtain Thief and The Sugar Lord: Power, Politics and Culture in Colonial Java, Jakarta: Metafor Publishing. (Bab 9, halaman 311-322) ISBN 979-3010-11-5

2 pemikiran pada ““Rijsttafel versus entrecôte” fiksi oleh Joss Wibisono

  1. Saya sempat terkecoh dengan tehnik narator dalam fiksi ini. Pada awalnya Lieven yang menjadi narator, setelah itu ternyata Ratri yang ganti sebagai narator. Tehnik yang menarik.
    Gambaran Batavia tahun 1930-an khususnya kelas atas hadir secara visual dengan deskripsi restoran Hotel des Indes beserta restorannya yang mewah. Profesi sang tokoh sebagai pennyanyi opera dan pengacara menegaskan posisinya sebagai elite di Hindia Belanda saat itu.Acara makan ala “rijsttafel” digambarkan cukup rinci.

    Namun kalau boleh membandingkan, saya lebih suka dan pas dengan edisi Gatholotjo. Pertama, gaya penulisan mas Joss yang orisinil lebih tampak, dan lebih memikat. Beberapa contohnya antara lain:
    “Sulit dibajangkan bagaimana tubuh jang semampai dan ramping serta tjenderung kurus ini bisa mengeluarkan contralto, suara perempuan terendah jang dalam dan gelap tapi begitu menggelegar hingga terdengar di segenap pendjuru gedung konser, tanpa pengeras suara. ” Gambaran yang bagus sosok Lieven. Juga kalimat ini: “Tapi ach, tetap sulit mengusir nakal jang menggatal.” Sayang sekali kalimat personifikasi yang orisinil ini dihilangkan dalam versi cetak.

    Kedua, kalau fiksi ini bisa jadi metafora untuk masalah susila yang diributkan jaman sekarang dan bagaimana publik membicarakannya, terutama sikap (petinggi) negara, maka kalimat-kalimat ini: “seperti pendapat harian Java Bode jang, dalam mewartakan skandal susila, terus2an menulis tentang maatschappelijk gevaar atau sedjenisnja. Betapa menjesatkan koran kolot ini,” dan juga kalimat: “Liwat skandal susila negara kolonial djelas ingin undjuk gigi, bahkan mungkin ini titah Zijne Excellentie sendiri!” sungguh sayang sekali tidak ada dalam versi cetak.

    Maaf ini komentar pembaca amatir.

  2. Mas Joss,

    Aku sukaaaa bacanyaaaaa. Latar sejarahnya terasa, tapi tidak mendominasi. Rinci tapi tidak membosankan. Lika-likunya bikin penasaran. Masih belum terpuaskan nih, Mas. Dibikin novel dong ini, Mas Joss.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s