“Kura2 sungai Kamo” fiksi oleh Joss Wibisono

Kalow pingin batja versi EYD silahken klik ini. Tapi di situ ada satu salah tjetak fatal jang membuwat isi tjerita gak djelas. Dan, di situ ikke ada paké nama pena.

Ilustrasi Kura2 Sungai Kamo ketika nongol di Suara Merdeka edisi 18 November 2012
Ilustrasi Kura2 Sungai Kamo ketika nongol di Suara Merdeka edisi 18 November 2012 (halaman 24)

Pernahkah terselip keinginan pada diri kita, betapapun ketjilnja, untuk kembali ke masa lampau, menghidupinja lagi seperti masa kini? Tanpa kita sadari itulah jang sebenarnja terdjadi ketika kita melangkah masuk dunia maya. Itulah salah satu esensi Facebook jang sekarang njaris dimiliki siapa sadja asal dia tidak buta internet. Bukankah djedjaring sosial ini mempertemukan kembali para pelaku masa lampau? Selain teman masa kini dan teman jang belum pernah ditemui, seorang pemilik profil Facebook pasti djuga kembali bersua dengan teman masa lalunja. Tidak djarang pula perdjumpaan di alam maya Facebook berlandjut dengan pertemuan jang sebenarnja: para pelaku masa lampau achirnja kembali bergaul di masa kini.

Lajak kutegaskan, pertemuan jang berikut kututurkan bukanlah gagasanku. Itu ide Wati tak lama setelah kuberitahu tentang kedatanganku. Dalam salah satu pesannja, dia sudah kirim ratusan pesan sedjak satu setengah tahun bergaul lewat Facebook denganku, adik kelas bekas asistenku ini men-desak2 untuk bertemu setjepatnja, karena 10 hari kemudian dia akan pulang kampung dan itu berlangsung selama sebulan lebih.

“Aku datang sama2 Yumi ja, masih kenal kan?” Wati achirnja menghubungiku lewat telpon antarbenua. “Masih dong, bagaimana bisa melupakan Yumi?” Aku pura2 tetap tenang, walau darah tersirap dan djantung riuh berdegup mendengar nama itu disebut.

Baru belakangan kutahu, walau tak seangkatan, Wati ternjata kenal, bahkan bersohib kental dengan Yumi. Setelah menikah dengan Sawamura Yoshio, tapi tetap memilih bernama Dyah Sekarwati, ia tinggal mengajuh sepeda kalau ingin bertemu Yumi. Mereka tidak hanja sekota tapi djuga selingkungan di wilajah Kansai, Djepang barat.

Lebih dari itu, ini mungkin jang mendekatkan mereka, keduanja (pernah) punja hubungan dengan pria asing, Wati dengan Sawamura dan Yumi dengan aku, walaupun achirnja djalan hidup masing2 berbeda. Betapa tidak? Mereka naik ke pelaminan. Sedangkan aku? Yumi jang begitu tjantik dan tjerdas itu kutinggal sadja, karena ketika pindah ke Amsterdam sebagai akademikus pemula, kupilih orang lain. Baiklah akan kututurkan kisahnja. Dalam perkara Yumi, pena ini selalu ingin menggoreskan banjak tjerita.

Setelah pembitjaraan telpon dengan Wati, aku tak pernah lagi setjara chusus berupaja bertanja soal rentjananja ke Kyoto untuk mendjengukku. Dia berharap bisa tjepat2 ketemu Yumi jang baru sadja kembali ke Djepang setelah satu setengah tahun bekerdja di luar negeri. Kontak dengan Wati, seperti jang sudah2, hanja melalui Facebook.

Aku sendiri tenggelam dalam pelbagai kesibukan kerdja dan mengurus keberangkatanku. Mulai dari soal visa, tiket pesawat, sampai masalah izin tinggal di Belanda jang ternjata akan harus diperbaharui supaja aku bisa kembali ke Amsterdam. Belum lagi urusan flat di Kyoto jang butuh penanganan chusus, karena flat di perumahan internasional Oubaku sudah penuh.

Dalam keadaan seperti ini, aku hanja mendjawab beberapa pertanjaan Wati, soal ini itu. Tak pernah kuadjukan satupun pertanjaan padanja. Padahal betapa banjak jang ingin kutahu soal Yumi: siapa pasangan hidupnja, berapa anaknja, bekerdjakah dia, seperti jang selalu diinginkannja dan masih banjak lagi. Wati pasti bisa memuaskan dahaga jang satu ini.

Menjusul pembitjaraan telpon itu, kuduga Wati tjuma ber-olok2 ketika bertanja adakah diriku masih kenal Yumi. Tapi beberapa hari kemudian pikiranku berubah. Sama sekali tak terdengar nada sindiran pada tjara Wati bertanja, tak pula kudengar isjarat nakal bahwa ia tahu aku pernah begitu dekat dengan Yumi.

Kalau ku-pikir2, Wati sendiri djuga baru pindah ke Kobe tahun 1992, beberapa tahun setelah hubunganku dengan Yumi kandas. Lajaklah untuk disimpulkan: Wati memang tak tahu aku dan Yumi njaris menikah. Jang lebih penting lagi, ini berarti Yumi, walaupun begitu dekat dengannja, tidak pernah memberi tahu Wati betapa dulu dia sempat begitu dekat denganku.

Maukah Yumi menerima adjakan Wati menemuiku di Kyoto? Soal ini aku sering tertjenung. Kalau memang tak ingin memberitahu hubungan jang pernah ada antaranja dengan aku, Yumi pasti akan menerima adjakan itu, ketjuali kalau dia ada urusan lain. Itu pertimbangan optimisku. Bukan tanpa alasan, satu setengah tahun bersanding dengannja, aku jakin Yumi selalu optimis dan pragmatis.

Jang djelas pada suatu malam, ketika sedang menjusuri profil dan foto2 baru Wati pada Facebook, mataku tertantjap pada nama Kitada Yumi, salah satu teman Facebook Wati. Kembali djantungku ribut berdegupan. Kubuka profil itu, tapi tentu sadja tak bisa, karena aku tak berteman dengannja.

Yumi djelas tidak menggunakan Facebook untuk undjuk diri, apalagi nampang. Ia tak akan mengizinkan orang lain —jang bukan sahabat— untuk mendjenguk profilnja. Lain sekali dengan orang Medan kenalanku jang sekarang tinggal di Groningen itu. Dia bentangkan profilnja untuk umum, teman atau bukan, termasuk semua fotonja. Pada profil Yumi hanja tampak satu fotonja. Itupun tak bisa dibesarkan. Walau begitu bisa terlihat Yumi sudah berubah dari jang pernah kukenal, njaris 25 tahun silam. Sekarang raut muka dan sorot matanja lebih memantjarkan wibawa dan rasa pertjaja diri.

Haruskah kukirim permintaan mendjadi teman? Atau mungkin kirim pesan dulu? Dalam bahasa apa? Bahasa Inggris atau bahasa Indonesia? Pernah kudengar, ketika hubungan kami berachir, Yumi pergi ke Indonesia, mendjadi guru bahasa Djepang pada sebuah SMA. Entahlah, tak bisa langsung kuputuskan. Malam sudah larut dan kantukku sudah terlalu berat untuk bisa mengambil keputusan pelik ini. Dengan me-raba2, karena mata sulit dibuka lagi, kumatikan komputer untuk melangkah ter-hujung2 ke tempat tidur, tanpa kurasa perlu gosok gigi dulu. Aku langsung terlelap, tak ditegur lagi karena dia jang terbaring di sisiku djuga sudah di alam mimpi.

Yumi me-manggil2, sementara aku telungkup dalam selokan dengan tangan terikat ke belakang dan mulut tersumbat. Bagaimana bisa mendjawab panggilan itu? Aku hanja bisa ber-gerak2 dan berupaja mengeluarkan suara dari mulut jang tersumbat. Tentu sadja Yumi tak bisa mendengarku.

Mimpi seperti itu membulatkan tekatku: begitu bangun segera kukirim permintaan pertemanan pada Yumi. Diterima sjukur, tidak djuga tak apa. Begitu pikirku, seraja bergegas mengajuh sepeda ke tempat kerdja. Mimpi membuatku kesiangan. Hari itu aku sibuk seharian di laboratorium, sehingga tak ada waktu lagi bagi internet apalagi Facebook. Ketika malamnja sampai di rumah, itulah jang per-tama2 kulakukan, melihat Facebook. Bisa djadi senjuman lebar menjungging di bibirku mendapati permintaanku diterima oleh Yumi.

Belum lagi lepas sepatu atau ganti pakaian, langsung kubenamkan perhatianku mem-buka2 profil Yumi. Sendirian setiap Rabu malam, aku bisa terus asjik tanpa ada desakan berbuat lain. Dari foto2nja tampak ia banjak bergaul dengan orang Indonesia, jang perempuan sebagian berdjilbab, jang pria biasa2 sadja, tidak berbadju koko atau berdjanggut. Siapakah mereka? Djumlah temannja tidak banjak, tidak sampai seratus orang. Satu2nja teman berbarengen kita adalah Wati. Pada bagian info djuga tidak banjak keterangan, ketjuali alamat emailnja. Dugaanku terbukti: Yumi bukan orang jang menggunakan Facebook untuk nampang dan undjuk diri. Kesanku, djedjaring sosial ini hanja digunakannja untuk berhubungan dengan kenalannja, terutama orang Indonesia.

Apalah mesti kuperbuat? Haruskah kugoreskan pesan pada dindingnja, haruskah kukirim pesan pada kotak suratnja? Bagaimana sebaiknja menjapa Yumi? Untung kulihat dua hari sebelumnja dia ulang tahun, beberapa pesan jang ada di dindingnja berisi utjapan selamat. Betapa bodoh diriku tak ingat lagi hari ulang tahunnja! Segera kutulis utjapan serupa, ditambah terima kasih karena sudah mau berteman, dalam bahasa Inggris. Kami memang bertegur sapa dalam bahasa itu. Aku tak bisa bahasa Djepang, dia, waktu itu, tak bisa bahasa Indonesia, kami tergantung pada bahasa ketiga. Inggrislah djadinja.

Dua hari kunanti, tak ada djawaban. Aku mulai resah: djangan2 ini balas dendamnja karena dulu, ketika belum ada surat elektronik atau fax, dia sering lama menanti suratku. Memang sering ku-tunda2 membalas suratnja. Kalau ku-lihat2 profilnja —dan ini sudah ber-kali2 kulakukan— sebenarnja Yumi memang tidak membalas pelbagai utjapan selamat jang terpampang pada tembok Facebooknja. Djadi sulit dikatakan itu merupakan balas dendamnja terhadapku.

Kebetulan hari itu kuterima alamat flat jang akan kuhuni kalau, dalam beberapa hari, aku tiba di Kyoto. Flat itu terletak di Jyodoji, bilangan Sakyo, dekat kuil perak Ginkaku-ji, Kyoto barat. Ini memang masih di sekitar kampus pusat, artinja djauh dari Kampus Uji, tempat kerdjaku. Terbiasa dengan keramaian Leidseplein di djantung Amsterdam, aku ogah menyepi ke pinggiran Kyoto. Ke kampus Uji tidak terlalu sulit, sedjam sekali ada bis bolak balik ke sana dari kampus pusat. Bagaimana kalau kukirim pesan berisi alamat itu kepada mereka berdua, Yumi dan Wati? Bahkan alamat asli dalam aksara Kanji? Tanpa pikir pandjang lagi itu kulakukan.

Ketika bangun esok paginja, sebelum ke kamar ketjil, komputer kunjalakan dulu. Pantjingan mengena! Yumi bereaksi, dalam bahasa Inggris ia berterima kasih atas pemberitahuan itu, dan kepada Wati, dalam bahasa Indonesia, dia menjatakan hanja bisa tanggal 3 Djuni. Sekembali dari kamar ketjil, kudapati pesan Wati, setudju dengan tanggal itu. Tentu sadja itu soal rentjana pertemuan denganku, djadi Yumi akan datang! Kali ini djantungku serasa melondjak, mungkin karena bosan harus terus berdegup. Kurasa aku harus bertindak sopan, djadi kutanjakan dulu ada apa tanggal 3 Djuni itu.

Sedjak saat itu mulai terdjalin kontak dengan Yumi, tidak setjara pribadi, tapi selalu bersama Wati. Aku tak berani menjapanja sendiri, misalnja dengan mengirim pesan langsung padanja. Apa jang mesti kugoreskan? Sesuatu tentang masa lampau? Darinja djuga tak kuterima pesan chusus. Semua pesan jang dikirimnja selalu ditudjukan pada Wati (Wati-sama, sapaan pembuka surat dalam bahasa Djepang) dan aku (Déwå-sama).

Ketika kuberi tahu alamat Kyoto itu, Wati langsung mendjawab dengan memberitahu nomer telpon genggamnja. Kemudian kudjawab pula dengan nomer ponsel Belandaku serta alamat kantorku, Kagaku Kenkyu-Jo, artinja Institut Penelitian Kimia, Universitas Kyoto. Aku berdjandji akan memberitahu nomer telpon kantor, begitu kuketahuinja.

Djudjur sadja, kepada Yumi dan Wati aku djuga ingin pamer: bukan sembarangan kalau seseorang bisa diterima sebagai peneliti tamu pada salah satu lembaga penelitian tertua (didirikan tahun 1926) dan bergengsi Djepang ini. Apalagi di masa lampau salah seorang penelitinja pernah meraih Hadiah Nobel Kimia. Memang belum ada orang sebangsa jang memperoleh kehormatan ini, tapi terus terang itu djuga bukan ambisiku. Mana mungkin aku jang meniti karier di luar negeri ini bisa meraih kehormatan setinggi itu? Aku tjuma berharap pengalaman Djepang ini akan sedikit mengobati rasa bersalah karena sepandjang karier aku terus2an membelakangi tanah air. Dengan kesempatan melandjutkan penelitian spektometri massa, aku berharap bisa memperbesar peluang pulang kampung. Di tanah air orang mulai melihat makna dan manfaat spektometri massa, paling sedikit sebagai tolok ukur dalam indentifikasi isotop atau molekul.

Yumi ternjata diam sadja. Semula aku berharap dia akan djuga memberitahu nomer ponselnja, sehingga aku bisa kirim SMS. Harapan kandas, karena Yumi tak melakukannja. Seolah mengelus dada, aku hibur diri sendiri dengan berkata, kita akan bertemu tanggal 3 Djuni, dan sekarang sudah tanggal 31 Mei. Waktu itu aku tengah melangkah masuk pesawat di Bandara Schiphol, Amsterdam, jang membawaku ke Bandara Internasional Kansai di Osaka.

Tanggal 1 Djuni, sore hari, aku datang ke kantor baruku. Beberapa urusan administrasi perlu kubereskan, mulai dari kartu identitas, kode masuk komputer sampai kontrak dengan Kyodai, Universitas Kyoto, singkatan bahasa Djepang. Sekitar djam empat aku punja waktu untuk duduk di kursiku, menjalakan komputer. Tentu sadja tudjuan utamaku adalah Facebook, kuberi tahu nomer telpon kantorku.

Djawaban mereka berdua tak perlu lama kunanti, Wati maupun Yumi mengutjapkan selamat datang beserta harapan2 lain. Jang membuatku terkedjut adalah pesan chusus Yumi untuk Wati. Isinja: kalau ingin tahu nomer telpon genggamnja, harap kirim surat elektronik, lalu ditulisnja alamat elektroniknja seperti jang tertera pada profil Facebook.

Kembali djantungku riuh berdegup. Kenapa ini dilakukannja? Bukankah ini provokasi frontal terhadapku? Aku mesti berbuat apa? Haruskah kukirim surat elektronik untuk djuga minta nomer ponselnja? Di tengah rentetan pertanjaan itu, bagiku tindakan Yumi ini tjuma bermakna satu: ia tak mau aku tahu nomer telpon genggamnja. Djadi buat apa me-maksa2? Begitu dadaku kuelus, begitu diri kuhibur. Dua hari lagi dia akan datang, itu jang penting. Kalau sekarang sudah me-maksa2 bisa djadi dia malah tidak akan datang. Alhasil provokasi telandjang ini kudiamkan sadja.

Malam harinja aku sulit tidur. Entah kenapa. Sulit dipertjaja ini karena jet lag, karena biasanja jet lag baru menghantamku kalau balik Amsterdam. Pasti antisipasi bertemu Yumi telah membuat kantuk tak djua mendjelang. Aku terhentak mendengar bel, rupanja ada tamu. Maeda-san, si pemilik flat, pagi itu memang berdjandji datang untuk memberesi administrasi sewa.

Hari kedua berlalu seperti aku tidak mendjedjakkan kaki di bumi. Tidur tetap tak nyenjak, sering terbangun. Mungkin ini karena pemukiman dan kasur baru. Tak henti2nja kupandangi flat tiga ruangan itu, terutama kamar tidurnja. Semuanja mungil, aku ragu tempat tidur ini akan tjukup untuk dua orang kalau pada bulan terachirku nanti dia tiba dari Amsterdam. Achirnja, ketika fadjar merekah, kuputuskan bangun sadja. Pagi itu aku ingin tjepat hadir di kampus, tak sabar menanti Yumi dan Wati.

Di luar dugaanku ternjata Yumi dan Wati tidak datang bersamaan. Semalam Wati mendadak harus ke Nara, bezoek mertuanja jang dirawat di rumah sakit. Djadi dia datang dari Nara sedangkan Yumi dari Kobe. “Yumi duluan, aku menjusul,” Wati mengachiri pesannja pada kotak surat profil Facebookku.

Seperti disepakati, djam 12 kurang beberapa menit telpon di medjaku berdering, kuangkat, kuutjapkan moshi-moshi (tjara orang Djepang menerima telpon), maka terdengar kembali suara itu, suara jang terachir kali masuk telingaku hampir seperempat abad silam. Njaring, walau ada sedikit getaran, njaris seperti isakan. Sebenarnja dia hanja mengatakan sudah ada di resepsionis. Dalam bahasa Inggris, kukatakan aku segera mendjemputnja.

Kura-Kura Djudul

Jang tampak di hadapanku adalah seorang perempuan matang separuh baja lengkap dengan wibawanja. Itu tidak tertutup oleh pakaian musim panas santai jang dikenakannja. Djelas beda dengan Yumi jang dulu sempat kusandingi. Waktu itu dia masih malu2 dan ragu2, walaupun sudah tampak tjerdas karena sering bertanja. Aku ingat benar ketika bibir mungilnja untuk pertama kali kukulum (untung hanja lututku jang gemetaran, bukan bibirku), keesokan harinja, mungkin sebagai tanda perhatian chusus, Yumi ingin menambatkan tali sepatuku. Kaget atas tindakan seperti pembantu ini, segera dia kularang. “Bukan itu tanda kasih jang kuharapkan darimu”, pasti aku terdengar ketus mengutjapkannja. Sedjak itu kami selalu berupaja duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Walau begitu, kadang2, mungkin karena pembawaan atau adat istiadatnja, ia masih ingin melakukan hal2 jang tidak sesuai dengan prinsip bersama itu. Sekarang, tak perlu diragukan lagi, prinsip bersama itu telah mematangkannja. Yumi jang semampai, menawan, penuh pesona, dengan lekukan bibir jang membangkitkan gairah kini kembali berdiri di hadapanku.

Tergulat gugup, aku njaris gagap, salah tingkah tak karuan, tak tahu mesti berbuat apa. Membungkuk seperti orang Djepang, atau mendjabat tangannja, tangan jang dulu sering kuketjupi itu. Achirnja dua2nja kulakukan. Dia djuga begitu, tanganku didjabatnja seraja membungkukkan punggungnja. Matanja terlihat ber-katja2, dan sedjenak ia seperti tak bisa ber-kata2. Tenggorokanku sendiri serasa tersumbat oleh sebongkah gumpalan dan mati2an kutahan supaja mataku tidak berontak. Kalau di Belanda pasti sudah terdjadi persentuhan tubuh, paling sedikit tjium pipi, kalau tidak peluk. Tapi di sini kurasa lebih pantas untuk mendjaga djarak, dia segera kuadjak ke kamar kerdjaku.

Beberapa langkah menudju lift berlalu tanpa terutjap sepatah katapun. Di dalam lift djuga begitu, kata2 rahib entah ke mana. Untunglah tak berlangsung lama, ketika pintu lift terbuka, segera kuisjaratkan ke mana mesti melangkah, dan teringat pada asal usul semua ini, segera kulontarkan Facebook. Ia mengulanginja dan berterima kasih karena aku masih ingat padanja. Aku tidak setudju, (apalagi kalau ingat kasus nomer ponselnja) akulah jang harus berterima kasih karena dia sudi menerimaku sebagai sahabat.

Di depan pintu kamar kerdjaku dia menundjuk papan namaku, di situ tertera Sadéwå Saputrå, baik dalam aksara Katakana maupun huruf Latin, kemudian peneliti tamu, dalam aksara Kanji. Yumi tersenjum lebar, senjuman jang selalu meluluhkan hatiku. Sedjak saat itu tjairlah ketegangan, apalagi ketika kepadanja kuulurkan hadiah paket Nijntje, jang di Djepang dikenal sebagai Miffy-chan. Orang Djepang ter-gila2 pada karja Dick Bruna, penulis tjerita anak2 Belanda. Darinja kuterima sepasang pena dan pensil, hadiah untuk seorang ilmuwan, katanja.

Pembitjaraan berkisar pada kedatanganku ke Kyoto, ke Kagaku Kenkyu-Jo, institut bergengsi itu, sampai ke masa lampau, ketika berlangsung pertukaran mahasiswa antara universitasku dengan universitasnja. Itulah awal perdjumpaan kami, saat perhatian chususku tertjurah hanja pada Yumi. Wati ini tak datang2 djuga, pikirku, mungkin untuk mengalihkan pikiran, karena begitu pembitjaraan menyentuh masa lampau suasana kembali kaku.

Telpon Yumi berdering, “Wati”, katanja. Segera berlangsung pembitjaraan dalam bahasa Djepang. Raut Yumi menarik wadjah tegang, memantjarkan kekagetan. Telpon jang tak kuketahui nomernja itu lalu diulurkannja padaku. Wati mengabarkan mertuanja gawat, koma, sehingga dengan menyesal ia tak bisa ke Kyoto. Kuutjapkan kata2 pelipur lara, harapan mertuanja segera terbangun dari koma, sehingga kita bisa ketemu setjepatnja, sebelum dia ke Indonesia.

Maka kami tetap berdua, tidak berdampingan, tapi berhadapan, berseberangan tepatnja. Djadi bagaimana? Tetap makan siang seperti jang direntjanakan? Yumi setudju, sudah lama dia ingin ke Norihisa, restoran langganannja kalau datang ke Kyoto. Letaknja di Kawaramachi Dori (Djalan Kawaramachi), di Kyoto pusat. Diusulkannja naik metro ke sana. Baru tiga hari di Kyoto, apalah pilihanku ketjuali menurutinja?

Yumi mendjelaskan dari stasiun Oubata dengan kereta Keihan, kita akan turun di stasiun Marutamachi. Djarak itu ternjata tjukup djauh, tapi pembitjaraan tidak kundjung mendalam. Paling banter tentang orang tua jang sakit, tidak berandjak dari keadaan mertua Wati; dan dia tengah mentjari pekerdjaan setelah sekian lama di luar negeri, bekerdja untuk JICA, organisasi bantuan pembangunan Djepang. Djelas dibutuhkan keberanian untuk menerobos rangkaian topik jang tjuma setebal kulit ari ini, tapi itu tak ada padaku dan tampaknja djuga tak ada pada Yumi.

Turun di stasiun Marutamachi, kami menyeberangi Sungai Kamo, menjusuri Kojinguchi Dori, djalan jang djuga berfungsi sebagai djembatan. Mendadak Yumi menundjuk kura2 batu jang terbentang di sepandjang Sungai Kamo. Katanja kura2 itu untuk orang jang ingin menyeberang sungai dengan me-lompat2, djumlahnja 11. Semasa kanak2, kalau diadjak orang tua ke Kyoto mendjenguk kakek-nenek, ia sering melontjati kura2 itu.

Kura2 Sungai Kamo Kyoto
Kura2 Sungai Kamo Kyoto

Pada titik ini kurasa seperti ada keberanian jang menjeruak dari dalam, tanpa pikir pandjang terlontar pertanjaan siapa pendampingnja. Yumi hanja menggeleng, matanja kembali terlihat ber-katja2. Roman mukanja djuga dipenuhi tanda tanja. Adakah dia ingin tahu siapa pendampingku? Tiba2 aku sadar, betapa diriku sendiri sebenarnja pengetjut belaka, tidak berterus terang padanja soal siapa pilihanku, djuga orang jang menggantikannja di sisiku. Kepalanja terlihat terus bergeleng.

“Bukan itu Déwå-san,” katanja, tetap dalam bahasa Inggris. “Aku mengenalmu sebagai seorang kekasih sedjati, kekasih idaman setiap perempuan. Masih ingatkah saat2 intim kita? Betapa kau Déwå-san, selalu tekun menuntunku mendaki puntjak kenikmatan. Kau bukan egois, tak pernah hanja kaukedjar kenikmatanmu sendiri. Sadarkah kau Déwå-san, betapa aku tak bisa mengerti kenapa achirnja kau pilih sesama pria”.

Bukan hanja djantungku, tapi seluruh isi rongga tubuh dan kepalaku serasa berontak mendengar utjapan Yumi. Tak kuasa lagi kutahan pergolakan dalam mataku. Bongkahan dalam tenggorokanku djuga makin membesar sadja. Tak bisa lagi aku berudjar, tak hendak pula aku ber-kata2. Pandangan kulempar pada 11 ekor kura2 jang ber-deret2 membelah Sungai Kamo. Entah mana jang harus kusesali: meninggalkannja dulu atau bertemunja lagi sekarang.

(For Ben, my first reader and critic who makes it all possible)***

Kyoto 10 Djuni 2011

Tjatatan: Bahasa Djepang mengenal tiga aksara: Hiragana, Katakana dan Kandji. Hiragana dan Katakana asli Djepang sedangkan Kandji diimpor dari Tiongkok, tidak lain adalah karakter Tjina/tulisan Mandarin. Hiragana dan Kandji dipergunakan untuk menulis kata2 asli Djepang sedangkan Katakana digunakan untuk menulis kata2 asing, termasuk nama orang asing, seperti Sadéwå Saputrå atau Dyah Sekarwati. Di lain pihak, nama orang Djepang, misalnja Kitada Yumi, ditulis dalam Kandji, demikian pula nama lembaga Djepang misalnya Kyoto Daigaku (Universitas Kyoto) atau Kagaku Kenkyu-Jo (Institut Penelitian Kimia) serta nama kota2 negeri itu (Kyoto, Kobe, Nara) atau nama bilangan/wilajah (Oubata/Kansai).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s