“Keprihatinan bahasa Benedict Anderson” oleh Joss Wibisono

Versi awal tulisan ini terbit sebagai kolom pada mingguan Tempo edisi 27 desember 2015 (halaman 131), versi berikutnja nongol sebagai lampiran dalam atjara mengenang Ben Anderson jang diselenggarakan di TIM, Djakarta, tanggal 22 djanuari 2016. Keduanja dalam djudul jang ber-beda2. Karena masih ada sadja gagasan lain, sementara dua kesempatan di atas membatasi pandjangnja tulisan, maka inilah versi ketiga. Paling sedikit beginilah aku memahami bagaimana  Oom Ben memprihatini bahasa Indonesia.

Salah satu tjiri chas mendiang Benedict Anderson jang mungkin mendjadikannja terkenal di kalangan generasi muda adalah penolakannja setjara konsisten untuk menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan, EYD. Mingguan Tempo edisi achir tahun 2001 memuat kolomnja jang ditulis dalam edjaan Suwandi, berdjudul “Beberapa usul demi pembebasan Bahasa Indonesia”, halaman 82-83. Bahkan bisa dikatakan baginja EYD itu tidak ada, sampai saat2 terachirnja ia tetap menggunakan edjaan Suwandi.

Kolom Ben Anderson di Tempo edisi 31 desember 2001
Kolom Ben Anderson di Tempo edisi 31 desember 2001

Perlu ditegasken di Indonesia sudah berlaku tiga edjaan. Pada zaman Belanda dulu berlaku edjaan Van Ophuysen dengan tjiri chas oe. Pada 1947 berlaku edjaan Suwandi jang mengganti oe mendjadi u. Pada tahun 1972, orde bau memberlakukan EYD, sampai sekarang.

Benarkah Ben Anderson tidak pernah menggunakan EYD? Apakah dari awal dia sudah berpendapat bahwa EYD itu tjuma akal bulusnja orde bau dalam rangka membutakan generasi muda dari sedjarah mereka sendiri? Pertanjaan2 seperti ini lajak diadjukan, karena dalam mentjari djawabannja kita bisa melihat bagaimana telah terdjadi perubahan pada pemikiran Ben Anderson, djuga dalam masalah bahasa dan edjaan.

Djawaban jang ingin saja adjukan adalah sikap Ben Anderson terhadap edjaan ini sebanding dengan djaraknja dengan Indonesia. Ketika ia terpaksa mendjauh dari Indonesia maka sikapnja terhadap edjaan melunak. Tetapi ketika dekat, ia memilih sikap keras, karena melihat dengan mata kepala sendiri dampak perubahan edjaan bagi masjarakat, terutama generasi muda. Begini uraiannja.

Sampul depan "Language and Power"
Sampul depan “Language and Power”

Dalam buku Language and Power (terbit 1990) tertera bahwa Ben Anderson pertama kali tiba di Djakarta pada bulan Desember 1961 untuk melakukan penelitian bagi disertasi doktornja. Lantaran inflasi jang melangit ia bisa tinggal di Indonesia sampai april 1964. Ini artinja Ben beladjar bahasa Indonesia dalam edjaan Suwandi jang waktu itu berlaku. Djadi ia masih menulis “tjukup” (bukan “tjoekoep” karena itu edjaan Van Ophuysen jang kolonial, tapi djuga belum “cukup” jang EYD) dan “radjin” (belum rajin).

Apakah Ben berpegang teguh pada edjaan Suwandi ini? Benarkah dia menolak perubahan edjaan? Kalau kita simak buku Language and Power lebih landjut maka akan terbatja bahwa sebenarnja Ben Anderson pernah menulis bahasa Indonesia dalam EYD.

Pada halaman 139 tertera “rakyat”; halaman 140 tertera “perjuangan”; “jatuh ke kasur” bisa ditemui pada halaman 144; serta “rakyat itu bodoh” tertera pada halaman 145. Lebih dari itu, dan ini mungkin jang paling gawat, Ben Anderson mengaku telah mengubah edjaan pidato presiden Sukarno. Pada tjatatan kaki halaman 83 dia berterus terang telah melakukan perubahan edjaan untuk “conform to current offical usage” artinja “menjesuaikan dengan edjaan resmi sekarang”. Ini terasa aneh. Bagaimana mungkin Ben berani mengubah edjaan pidato presiden Sukarno jang selama hidupnja tidak pernah mengenal EYD? Melihat keteguhan Ben dalam menggunakan edjaan Suwandi, langkahnja ini seperti sebuah inkonsistensi jang tidak lebih dari mendurhakai pendirian sendiri.

Tapi sebelum bitjara sedjauh itu, dari tjontoh2 penggunaan EYD di atas bisa disimpulkan bahwa Ben Anderson sebenarnja pernah menggunakan EYD. Itu terdjadi pada 1980an dan 1990an, pada saat ia, akibat pentjekalan orde bau, tidak bisa datang ke Indonesia sampai lebih dari seperempat abad. Agak berpisah dengan Indonesia, tampaknja ia menganggap perubahan edjaan sebagai sesuatu jang normal. Bukankah ini djuga terdjadi pada bahasa2 lain di dunia ini?

Pendirian seperti ini mengalami perubahan lagi ketika orde bau tersingkir dan Ben Anderson bisa kembali berkundjung ke negeri jang ditjintainja. Itu terdjadi pada tanggal 4 Maret 1999 ketika ia hadir pada ulang tahun Tempo jang ke 28 dan berpidato tentang nasionalisme. Maka terlihat Ben Anderson kembali mendjalin hubungan erat dengan Indonesia, kembali dekat pada negeri tertjintanja.

Di sinilah ia mendapati dampak buruk EYD; betapa efektif perubahan edjaan itu bagi ingatan publik dan kreativitas generasi muda. Baginja peralihan dari edjaan Suwandi ke EYD telah merupakan batas tegas antara apa jang ditulis pada zaman orde bau dan zaman sebelumnja. Tidak ada kelandjutan antara kedua zaman itu. Generasi muda jang tidak kreatif dan hanja bisa meng-ulang2 bahasa orde bau disebutnja telah kena penghapusan sedjarah.

Pada titik itu dia tinggalkan EYD dan kembali menulis dalam edjaan Suwandi. Sebagai orang jang beladjar bahasa Indonesia dalam edjaan tersebut, ini djelas perkara gampang, seperti balik asal. Tapi dengan menghidupkan apa yang oleh orde bau ditjibir sebagai edjaan lama djelas Ben Anderson ingin berpaling pada zaman ketika orang Indonesia lebih mandiri dan kreatif dalam berbahasa. Bahasa Indonesia waktu itu djuga lebih madjemuk, beragam, tidak seragam seperti bahasa orde bau.

Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa bagi Ben Anderson bahasa itu bukan hanja alat bertutur atau prasarana untuk menjampaikan gagasan. Sebagai pengguna atau konsumen bahasa kita mungkin selalu berpendapat seperti itu, “Ah bahasa kan tjuman alat untuk menjampaiken pendapat,” begitu sering kita dengar. Tapi wawasan Ben djauh melewati pendapat naif seperti itu. Baginja pengguna bahasa bukan tjuma rakjat djelata. Bahasa djuga digunakan oleh kalangan jang berkuasa. Dan ketika kekuasaan itu didjalankan setjara se-wenang2, pasti penguasa matjam ini djuga sibuk kobok2 bahasa. Tidaklah mengherankan kalau Ben menolak rekajasa bahasa jang dilantjarkan oleh orde bau, karena baginja EYD dan politik bahasa jang baik dan benar, dua tjontoh politik bahasa orde bau, tidak lebih dari tjara rezim otoriter ini menguasai bahasa (dan dengan begitu pikiran) rakjat Indonesia. Di balik politik bahasa ini, demikian Ben dalam kolom di mingguan Tempo edisi achir tahun 2001, “ada maksud politiek jang djahat”.

Sampai di mana upaja Ben Anderson akan berhasil tidak lagi bergantung padanja, tapi sepenuhnja pada kita sendiri, orang Indonesia, sebagai pemilik bahasa. Akankah kita landjutkan gagasannja dengan terus membebaskan bahasa kita dari kekakuan dan kemunafikan orde bau, atau djustru bahasa Indonesia kita telantarkan sadja, karena misalnja kita lebih tertarik pada bahasa Inggris, sebagai tanda kemadjuan zaman?

Pada salah satu tulisan lain Ben Anderson datang dengen istilah “imperial provincialism”. Esai ini sebenernja tidak berkisar pada bahasa Indonesia, tetapi menarik untuk diangkat di sini, karena erat berkaitan dengan ketjenderungan keminggris alias ke-inggris2an jang sekarang begitu membandjir dan njaris menenggelamkan bahasa kita.

Ben Anderson mengenalkan konsep "imperial provincialism"
Ben Anderson mengenalkan konsep “imperial provincialism”

Ben menggunakan konsep provinsialisme imperial ini untuk menggambarkan andjloknja mutu pendidikan di universitas2 Amerika, karena mahasiswa tidak lagi dituntut untuk menguasai bahasa lain, selain bahasa (Inggris) Amerika. Ketika masuk sebagai mahasiswa universitas Cornell tahun 1958, sebagai mahasiswa pasca sardjana, Ben harus mendjalani udjian untuk membuktikan bahwa dirinja menguasai dua bahasa asing. Ini djuga berlaku di universitas2 Eropa. Tamat djurusan bahasa2 klasik (Latin dan Junani) di universitas Cambridge, Inggris, Ben langsung mentjatat bahwa udjian bahasa asing itu tidaklah sulit.

Tapi Ben berendah hati ketika menguraikan bahwa kefasihannja bertutur banjak bahasa asing sebenarnja merupakan hasil pendidikan multi bahasa jang mematangkannja. Tulisnja, “mungkin generasi kami adalah generasi terachir jang dilatih untuk berpikir setjara internasional tentang budaja internasional”. Ada baiknja kalau satu alinea berikut saja terdjemahkan sadja:

Kutipan tulisan Oom Ben
Kutipan tulisan Oom Ben

Di kota ketjilku di Irlandia tenggara jang “terbelakang” itu, hampir tak ada televisi, apalagi komputer, situs web, dan games, sedangkan film biasanja djuga masih hitam putih. Hidup muda kami dibentuk dengan kedatangan grup teater jang dengan gampang ber-ganti2 dalam mementaskan karja2 Shakespeare, Wilde, O’Casey, Chekov dan Beckett. Radio masih sangat penting: selama ber-malam2 keluarga saja akan mendengarkan pembatjaan bab2 novel2 klasik. Di sekolah kami djuga dididik untuk menghafalkan puisi —bahasa2 Inggris, Prantjis, Rusia, Junani dan Latin, Djerman dan djuga bahasa Spanjol— dan kami bersaing dalam perlombaan deklamasi. Bahkan sekarang, banjak larik2 puisi ini masih mendiami benakku jang pernah begitu ter-gila2 pada Dostoievsky.

Ben djuga mengaku generasinja harus beladjar untuk berbudaja, jang berawal dengan bahasa Latin di SD, kemudian merambah ke bahasa Junani purba, bahasa Prantjis, sedikit bahasa Djerman, sedikit bahasa Rusia. Dia masih berendah hati dengan sempat2nja memperingatkan bahwa sebagai murid dia dan teman2nja tidaklah beladjar untuk berbitjara dalam bahasa2 itu. Dia hanja beladjar membatjanja. Seorang murid dididik untuk mengagumi lukisan2 Spanjol, musik Djerman, novel2 Rusia, puisi klasik Tiongkok jang sudah diterdjemahkan, film2 Djepun jang waktu itu masih berada pada puntjaknja dst. Begitu tulisnja. Walau demikian, siapa berani menjangkal bahwa Ben Anderson adalah seorang polyglot, jang mampu bertutur kata dalam pelbagai bahasa?

Suasana multi bahasa ini tidak dikenal lagi di Inggris pada achir 1950an, sementara di Amerika pada achir 1960an sjarat penguasaan dua bahasa asing diganti dengan penguwasaan hanja satu bahasa asing dan statistik. Satu dekade kemudian, sjarat penguwasaan bahasa asing itu sebagian besar sudah hilang, ketjuwali djikalau bahasa itu dibutuhkan untuk penelitian lapangan di Dunia Ketiga. Semakin banjak buku akademis jang se-mata2 hanja menggunakan referensi buku2 jang ditulis atau diterdjemahken ke dalam bahasa Amerika dan diterbitken di negeri Paman Sam. Ini bukan lantaran patriotisme jang berlebihan, tetapi lebih merupakan pemikiran tanpa kesadaran tentang adanja hegemoni Anglo-Amerika dan kepertjajaan bahwa Amerika adalah satu2nja negara jang punja universitas terbesar dan paling tjanggih di dunia.

Pada titik ini Ben Anderson mengadjukan konsep “provinsialisme imperial” jang berarti pendangkalan total, terutama karena bahasa asing tidak dikenal lagi dalam pendidikan tinggi Amerika. Bahasa Amerika jang semakin miskin dan tidak berbudaja itu kita sembah2, seperti lajaknja makanan dan minuman tjepet sadji asal negeri Paman Sam jang kini tersebar di mana2 (Sampai2, pasti lantaran tidak mau ketinggalan zaman, kota ketjil Salatiga ditongkrongin oleh paling sedikit empat restoran tjepet sadji Amrik, untung tahun 2016 ini duwa sudah gulung tikar). Di Indonesia bahasa Amerika tjetek itu dengan sengadja dan serakah kita masukkan dalam tutur kata dan tulisan kita. Semakin banjak kata2 Amerika terselip dalam bertutur kata, semakin seseorang merasa bergengsi dan mentereng (tapi kelimpungan kalau harus sepenuhnja bitjara bahasa Inggris). Maka djadilah kita ke-inggris2an, jang sering saja sebut keminggris, karena tidak lagi digunaken bahasa sendiri sepenuhnja, melainkan ditjampur2i dengan bahasa Amerika dangkal tadi.

Bahasa Amerika serta tutur kata dan tulis keminggris ini ada dalam latar belakang membandjirnja modal asing begitu orde bau berkuwasa. Tadi sudah saja sebut makanan dan minuman tjepet sadji jang restoran pendjuwalnja sekarang merupakan tempat nongkrong kalangan kelas menengah. Djangan dilupakan pula film2 Holywood jang kini merupakan penghuni tetap (hampir) semua gedung bioskop tanah air. Jang djelas, pengaruh Amerika pada bidang film, makanan dan bahasa itu lebih berada pada aspek budaja, bukan aspek ekonomi atau militer seperti di Irak dan Afghanistan. Artinja, aspek budaja ini membuat kehadiran bahkan dominasi Amerika itu tidak terasa, sehingga kita njaman2 sadja dalam terus berkeminggris ria (sambil makan2 dan minum2 di restoran tjepet sadji Amerika, padahal di negeri Paman Sam sendiri restoran dan kafe matjem ini tergolong murahan karena tidak memungut tip dari pelanggannja)

Begitulah raut muka kebahasaan kita jang diprihatini oleh Benedict Anderson. Sudah di-kobok2 oleh harto orde bau masih pula kita tjampuri sendiri dengen kata2 Amerika. Dan memang ketika tampil berkuwasa dulu harto bukan sadja membuka pintu bagi modal asing. Sebagai keladjutan buka2 itu dia djuga melunakkan pendirian Indonesia dalam perundingan soal edjaan dengan Malaysia. Pertimbangan kebahasaan jang sebelumnja dianut Bung Karno ditanggalkan oleh harto orde bau. Pertimbangannja lebih ekonomis praktis ketimbang linguistik kebahasaan [Joss, 2012: 87]. Nasionalisme bahasa memang sesuatu jang asing dan tak pernah kita kenal, walaupun konon dulu sekali sudah pernah ada apa jang disebut Soempah Pemoeda.

Rudjukan:

1. Benedict Anderson 1990 Language and Power , Ithaca: Cornell University Press, ISBN 0-8014-9758-2 (chususnja bab 4 “The Language of Indonesian Politics”, halaman 123-151).

2. Ben Anderson 2001 “Beberapa usul demi pembebasan bahasa Indonesia” dalam Tempo edisi 31 desember 2001 – 6 djanuari 2002 (halaman 82-83).

3. Benedict Anderson 2012 “Hirschman Lecture: Era, Culture, Absence, and Comparison,” Delhi: 40th World Congress of the International Institute of Sociology.

4. Joss Wibisono 2016 “Ben Anderson emoh munafik berbahasa”, dalam Tulisan kenangan untuk Ben Anderson, Djakarta 22 djanuari 2016.

5. Joss Wibisono 2015 “Ben Anderson dan perkara edjaan” dalam Tempo edisi 28 desember (halaman 131).

6. Joss Wibisono 2012 Saling Silang Indonesia-Eropa, Djakarta: Marjin Kiri ISBN 9789791260169 (chususnja bab 10 “EYD versus edjaän djadoel”, halaman 80-98).

Satu pemikiran pada ““Keprihatinan bahasa Benedict Anderson” oleh Joss Wibisono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s