“Amsterdam: tjatetan musim semi 1941” tjerpen Joss Wibisono

kepada Martin Aleida: pemeluk teguh

 

 

SEMULA TJATETAN INI KUPERSIAPKAN UNTUK I DAN W, SEBAGAI sematjem pegangan setiap kali, kepada mereka, aku melapor apa sadja jang telah kulakukan. Pada zaman sulit dan gelap itu mereka berdua telah berperan sebagai penundjuk djalan, bukan sadja bagi diriku pribadi, tetapi djuga bagi banjak orang di sekitar kami. Itu mereka lakukan walaupun kebebasan semua orang begitu dibatasi, apalagi kebebasan mereka berdua. Kini, walaupun I dan W sudah tiada, tjatatan ini tetap kulandjutkan sebagai penghormatanku kepada mereka berdua. Mungkin djuga tanda kasihku. Jang djelas aku selalu ingin mengenang djasa2 mereka. Hanja inilah jang bisa kulakukan. Harapanku mereka tidak mati pertjuma.

***

Krokus bermekaran
Krokus bermekaran

Achirnja musim semi tiba djua! Itu terdjadi, begitu kata Irwan, tatkala musim dingin kehilangan genggamannja. Maksudnja, mungkin, ketika dingin sudah tak begitu lagi mentjekam, tatkala hawa beku sudah terusir dan djuga bilamana es serta saldju mulai meleleh. Pada saat itu tjurah mentari tak terbendung lagi. Kegelapan musim dingin lenjap tak berbekas. Bunga2 bermekaran, dalam kata2 Irwan, terelus sentuhan hangat Batara Surja. Pertama adalah krokus: sedjenis bunga rumput jang dekat dengan tanah. Tapi pepohonan jang masih gundul ternjata tak mau ketinggalan. Bunga2nja djuga bertimbulan mendahului daun2 jang seolah masih malas, atau seperti kata Irwan, masih ngulèt, menggeliat bangun dalam bentuk tunas. Gerak gerik tetumbuhan ini disambut oleh riuh rendah kitjauan burung, terutama merel. Burung hitam berparuh oranje ini hanja berkitjau untuk menjambut musim semi, dan itu dilakukannja pada djam empat pagi serta djam empat sore, mulai pertengahan Maret. Dalam kebebasan, alam raja bangkit dari lelap, tanpa hambatan, tanpa hindaran.

Lomba selantjar "elfsteden tocht" di Friesland
Lomba selantjar “elfsteden tocht” 7 februari 1941 di Friesland

Akankah Amsterdam ikut serta bangun menjambut musim semi? Itu sempat kutanjakan pada Irwan dan Setiadji, ketika mereka kudjumpai di persembunjian masing2. Kami terpaksa main kutjing2an dengan para moffen djahanam jang sekarang malang melintang menduduki bukan sadja ibukota ini tetapi djuga seantero Belanda. Moffen adalah makin kasar pendjadjah Belanda terhadap Nazi Djerman jang kini berkuasa di negeri mereka.

Burung merel
Burung merel

Harus kuakui pertanjaan itu sebenarnja tidaklah terlalu djudjur, apalagi adil. Bagi Amsterdam, musim dingin jang kini tengah berlalu ini sebenarnja djuga tidaklah terlalu dingin. Walaupun seantero Belanda sempat beku dan saldju memang tebal —sehingga provinsi utara Friesland bisa merajakan elfsteden tocht pesta selantjar es di sepandjang kanal2 beku 11 kotanja— suasana ibu kota malah terasa panas. Apalagi achir Februari itu, tatkala para pengemudi tram memutuskan tidak bekerdja.

Itu mereka lakukan bukan karena rel tram tertutup limpahan saldju seperti achir Djanuari lalu. Achir Februari itu saldju djuga sudah mulai berkurang, walaupun belum sepenuhnja lenjap. Djelas alam tidak mendatangkan hambatan untuk tidak bekerdja. Tapi kenapa mereka tetap mogok?

Betapa pada Februari itu telah kuhabiskan ber-lembar2 halaman untuk mentjatat hampir semua peristiwa jang meramaikan kota kelahiranku ini. Djemariku tak henti2nja menghitung: 20 halaman lebih. Semula aku hanja ingin menjangga ingatan, supaja di hadapan Irwan dan Setiadji tak satu peristiwa pun terlewatkan. Mereka harus tahu selengkapnja, begitu niatku. Tapi ah, ternjata aku terlalu sibuk dengan pelbagai remeh-temeh, sehingga Irwan tak djarang mendorongku berandjak ke peristiwa lain. Setiadji lebih sabar, walau tidak berarti dia tidak pernah menegurku karena terlalu asjik masjuk menuturkan satu peristiwa tertentu.

Tram kembali ke remise (garasinja)
Tram kembali ke remise (garasinja)

Hanja soal pemogokan tram mereka berdua minta sematjam laporan pandangan mata jang rintji. Hadir di tengah keramaian massa Selasa itu, aku merasa beruntung karena berkesempatan mengungkap banjak hal. Dimulai dengan aktivis CPN (Partai Komunis Nederland) jang sebenarnja sudah dilarang: pagi buta mereka sudah membagi2kan seruan mogok di depan pelbagai remises, garasi tram; berlandjut dengan siapa sadja jang ber-bondong2 ke alun2 Dam di tengah kota; sampai pesta dansa-dansi dan achirnja, mendjelang djam malam pukul setengah delapan, Amsterdam kembali sepi, laksana kota mati.

Sulit dibantah: Selasa 25 Februari itu telah berlangsung pesta umum jang terbuka bagi siapa sadja. Amsterdam tanpa tram tak pernah terasa begitu bergelora, orang2 berdatangan ke pusat kota se-olah2 untuk merajakan sesuatu. Bukan hanja alun2 Dam, tapi lautan manusia djuga mengombak di Rokin, Damrak, Kalverstraat, Nieuwendijk, dan djalan2 sekitarnja. Sungguh, tak pernah kulihat betapa gelombang warga ini merasa satu dalam nasib. Sembilan bulan hidup dalam ketakutan, hari itu mereka seperti lahir dalam kehausan, haus kebebasan. Tak perduli apakah kebebasan itu sudah benar2 ada, mereka tiba2 berperilaku selajak orang bebas, bahkan lebih bebas dari kawanan merpati jang mengepakkan sajap beterbangan mengelilingi alun2 Dam.

Tepatkah aksi massa ini disebut pemogokan? Walaupun pagi2 kalangan Komunis sudah membagikan selebaran jang memprotes perlakuan Nazi terhadap kalangan Jahudi —mereka dikurung di wilajah chusus— siang hari pamflet ini tak terlihat lagi. Tak seorangpun meneriakkan jel2; tak terpampang satu spandukpun jang bertuliskan tuntutan; tak satu pihakpun mengaku memimpin aksi. Orang2 ini seperti mentjari penjaluran untuk mentjampakkan rasa takut jang sudah hampir setahun mentjekam. Mereka ingin bebas bergerak dan bertegur sapa setjara terbuka. Lebih dari itu mereka tampak bangga dengan aksi spontan jang muntjul dari kehampaan dan mengedjutkan siapa sadja ini.

stakingsoproep alias selebaran jang berisi seruan mogok
stakingsoproep alias seruan mogok, siang hari tak kelihatan lagi

“Bisa sadja warga butuh penjaluran, tapi para moffen pasti tak akan tinggal diam,” utjapan Irwan ini menghentikan niatku untuk menjebut bahwa baik polisi Amsterdam maupun polisi Nazi tak tampak pada aksi massal itu. Begitu pula preman2 WA berbadju hitam jang dalam sembilan bulan pendudukan telah memperoleh kebebasan untuk bikin katjau, merusak restoran atau kafe milik Jahudi serta pemilik Arja jang tidak memasang larangan masuk untuk orang Jahudi. Ulah preman itulah jang merupakan alasan aparat turun, bukan untuk menindak mereka tapi untuk menangani korban preman. Urung pula niatku menjebut baru keesokan harinja polisi turun tangan, menembaki dan menangkapi mereka jang ingin kembali mogok.

“Sudah kubikin daftar sederetan aksi pengetatan,” kataku seolah menantangnja untuk mendengarku menjebutnja satu-per-satu.

“Jang paling penting bagi kita apa?”

“Kehidupan makin ketat,” kataku singkat. Perintjian seperti berapa orang jang ditembak di tempat, jang ditangkap kemudian ditembak mati serta Walikota Willem de Vlugt ditjopot dari djabatannja urung kusebut.

Razzia tram
Razzia tram

“Semua tram sekarang didjaga dua polisi, hidjau dan biru,” kataku menjebut polisi Nazi Grüne Polizei dan polisi Belanda jang selalu ada pada semua djalur tram.

Kutemui di tempat persembunjiannja, Setiadji masih bertanja soal pemberitaan media massa.

“Pasti koran dan radio dilarang memberitakan peristiwa besar ini.” Nadanja terdengar sinis, dan aku hanja bisa membenarkan dugaan djitunja. Tapi ia tetap berhasrat meremehkan pelarangan itu.

“Tak apalah, semua orang djuga sudah tahu,” Setiadji djelas tak mau tunduk.

“Benar, sekarang niat mogok djuga sudah mendjalar ke kota2 lain,” lalu kusebut Haarlem, Hilversum, Den Haag dan Utrecht. Dia mengandjurkan supaja Madjallah, terbitan bawah tanah mahasiswa Indonesia, memuat tulisan tentang pemogokan ini. “Kalau bisa djuga ada sematjam ulasan,” pintanja.

Joodsche Wijk (wilajah Jahudi)
Joodsche Wijk (wilajah Jahudi)

Kepada Irwan dan Setiadji djuga kusampaikan masalah lain jang meresahkan banjak mahasiswa Indonesia jang, menjusul penutupan Universitas Leiden, sekarang kuliah di UvA, Universiteit van Amsterdam. Setelah sebagian wilajah centrum (pusat) dimaklumkan sebagai Joodsche Wijk (wilajah Jahudi) dan penghuninja tidak bebas keluar masuk, preman2 WA sekarang bergerak ke selatan. Merasa sudah berhasil di centrum, mereka makin bernafsu lagi untuk menemukan sasaran baru. Pasti restoran dan kafe milik orang Jahudi akan dirusak, dan jang bukan Jahudi akan dipaksa memasang plakat larangan masuk untuk orang2 Jahudi. Hanja itukah?

Teman2 jakin, sebagai kaki tangan Nazi, preman2 WA akan djuga melakukan penggeledahan. Kepandjangan Weerbaarheid Afdeeling, siapa sadja tahu WA adalah seksi pertahanan partai fasis NSB (Nationaal Socialistiche Beweging: Gerakan Nasional Sosialis). Bagaimana bisa melupakan satu2nja partai jang menjambut tank2 Nazi ketika masuk Amsterdam pada tanggal 15 Mei 1940 itu? Di selatan dichawatirkan WA djuga akan menjasar rumah2 jang mereka tjurigai sebagai tempat persembunjian. Bagaimana kalau mereka sampai bisa menemukan Irwan dan Setiadji? Akankah kedua pemimpin Perhimpoenan Mahasiswa Indonesia (PMI) ini bernasib sama dengan para pemimpin terdahulu jaitu Parlindoengan Marboen dan Hartawan Mochamad jang sekarang tak ketahuan lagi rimba mereka? Sebagai non-Arja jang berkulit sawo matang (bukan putih), bermata tjoklat (bukan biru) dan berambut hitam (bukan pirang), teman2 merasa sangat tidak menentu. Djangan2 mereka akan kena tjiduk pula. Djadi harus apa?

WA merapetkan barisan
WA merapetkan barisan

Soal antjaman persembunjian terbongkar bisa diatasi dengan sering pindah. Baik Irwan maupun Setiadji berdjandji tidak akan lama menetap di satu alamat tertentu. Seperti bersepakat, padahal keduanja bersembunji pada dua alamat berbeda —dan sedjauh pengetahuanku tak ada kontak— Irwan dan Setiadji mengandjurkan teman2 untuk bergabung dalam verzet, pihak perlawanan Belanda. Itu memang satu2nja pilihan jang masih ada. Paling sedikit mereka akan terlindungi dari preman2 WA. Seruan ini mereka tulis dan aku bertugas menjampaikan pada Evy Soumokil. Dia membatjakan surat2 itu di hadapan hadirin jang berkumpul pada dua alamat di Amsterdam selatan jang sering didatangi mahasiswa2 Indonesia.

Memang agak rumit, tapi itulah tjara kami melindungi Irwan dan Setiadji. Hanja aku jang tahu tempat mereka bersembunji, dan hanja Evy jang tahu bahwa aku tahu tempat ketua dan sekretaris PMI ini berlindung. Semua pesan dan surat mereka kusampaikan kepada Evy, dialah jang meneruskan kepada tudjuan. Liku2 ini tidak lagi terasa rumit, tapi paling aman untuk menghindari para moffen dan kaki tangan Belandanja.

Aku sendiri tak begitu pasti kenapa Irwan dan Setiadji memilihku sebagai perantara. Irwan adalah kakak kelasku di Fakultas Indologi (untuk mendidik tjalon amtenar tanah djadjahan), Universitas Leiden. Kami akrab lantaran sering hadir pada pertemuan kalangan sosialis jang begitu radjin membitjarakan perkembangan politik Eropa. Sebelum Nazi menjerbu Polandia tahun 1939, kami sudah sibuk bertukar pendapat soal ulah rezim fasis ini. Ketika Belanda mereka duduki dan Universitas Leiden ditutup lantaran menolak memPHK profesor2 Jahudi, kami pindah ke Amsterdam. Waktu itu aku berhasil menjelamatkan mesin stensil fakultas, jang sekarang digunakan untuk mentjetak Madjallah.

Boleh dikata, mesin stensil telah menjebabkanku diterima sepenuhnja dalam kelompok mahasiswa Indonesia. Irwan makin pertjaja sadja padaku. Ia memperkenalkanku pada teman2 Indonesia lain, termasuk Setiadji jang mendjabat sekretaris PMI.

“Pasti djuga karena kau tak terlalu kelihatan seperti orang Indonesia,” begitu Evy pernah membisikkan kemungkinan alasan lain. Aku sempat kikuk, djustru inilah jang mati2an kuhindari. Achirnja aku mengaku djuga, tak lama setelah Irwan dan Setiadji bersembunji. Beberapa kali intel2 Nazi mendatangi mereka, ber-tanja2 soal organisasi dan peran para pemimpin terdahulu. Segera kawan2 mendesak supaja mereka bersembunji dan tidak memberi tahu siapapun ketjuali aku. Kami langsung ingat pengalaman Parlidoengan dan Hartawan jang, setelah didatangi intel ber-kali2, terus dipanggil ke markas mereka di Euterpestraat. Tanpa tjuriga mereka memenuhi panggilan itu; datang ke sana, untuk achirnja tidak kembali lagi.

Untuk mengusir ketjurigaan Evy, aku berterus terang sadja bahwa memang aku berdarah tjampuran Belanda Indonesia. Ajahku orang Solo jang dulu perah kuliah di Leiden. Aku lahir dari hubungannja dengan seorang perempuan Amsterdam, aktivis CPN. Keduanja tak sempat menikah, belum lagi aku lahir ajah sudah harus kembali untuk memikul tugas penting. Ibu sendirian membesarkanku, ia bekerdja di kantor serikat buruh.

Merasa tahu asal usulku, Evy siap menerima tugas untuk meneruskan surat dan pesan Irwan serta Setiadji dari persembunjian. Ia hanja berkata ini jang diterimanja dari kurir pembawa pesan, tanpa menjebut siapa orangnja. Begitu pula sore itu, ketika dia membatjakan surat2 Irwan dan Setiadji di hadapan mahasiswa Indonesia di Willemsparkweg 107. Berbeda dari pertemuan sebelumnja di Euterpestraat 167 jang berdjalan lantjar, Evy sudah memperingatkan pertemuan hari itu bisa bermasalah, karena ada beberapa orang jang opstandig, suka memberontak.

“Oleh karena itu saja mengusulkan untuk bergabung dengan kalangan verzet,” Evy hampir selesai dengan pesan Irwan, surat terachir jang sore itu dibatjakannja. “Itu berarti kita memang harus menghentikan dulu perdjuangan kemerdekaan Indonesia. Kelak pasti akan tiba saatnja kita kembali berdjuang lagi. Saja harap kita bisa bersepakat soal ini, demi keselamatan kita semua,” Evy mengachiri pembatjaannja. Dia benar, sia2 berharap hadirin menjetudjui usul ini, seperti sehari sebelumnja.

“Tidak setudju, kita harus tetap memperdjuangkan Indonesia merdeka!” Djojo berdiri setengah berteriak, seolah marah, entah kepada siapa. “Itu alasan keberadaan perkumpulan kita. Lagi pula Nazi tidak memusuhi kita orang Indonesia, mereka hanja memusuhi Belanda!” Nada marah mahasiswa NEH, Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam ini tak djuga lenjap.

Evy jang sudah kembali duduk, mendjawabnja dengan tenang. “Kau dengar kata2mu sendiri Djojo? Kalau memang Nazi bukan musuh kita mengapa Irwan dan Setiadji harus bersembunji? Mengapa dua pendahulu mereka tak kembali?”

“Itu gampang Evy,” Djojo memperdengarkan nada mengedjek dan merendahkan. “Mereka terlalu dekat dengan kalangan Komunis, aku tak akan heran kalau mereka sendiri pengikut kiri,” sekaligus terlihat wadjah aslinja.

Sebagian besar terkesiap mendengar djawaban Djojo. Mereka tahu benar peran kalangan Komunis yang kini sudah terlarang. Oey Hok Liong mengutjapkan kekagetan kami dalam kata2 jang kena.

“Aku tahu kau anti Komunis Djojo, tapi di zaman gelap ini tak perlulah kau ikut menggelapkan peran mereka sebagai pihak pertama jang setjara terbuka melawan Nazi dan fasisme. Djadi kau setudju larangan Nazi itu?”

Djojo tampak tertjenung kena duri2 tadjam Oey Hok Liong jang djuga enggan memberi kesempatan lawan bitjaranja, “Menurutku ini lebih soal keselamatan kita sebagai individu, bukan soal organisasi. Bisa sadja kita tidak dimusuhi Nazi, tapi bagaimana dengan preman2 WA? Kau jakin mereka membiarkan kita jang non-Arja ini?”

“Kita memang bukan Arja, tapi kita djuga bukan Jahudi,” Djojo seolah memperoleh kekuatan untuk bangkit dan bersikukuh. “Orang Asia tidak bermusuhan dengan Nazi, lihat sadja Djepang, mereka malah sekutu Djerman!” Djojo menggebrakkan kakinja di lantai kaju, langsung disambut “sstt” oleh hadirin, kegaduhan bisa berarti petaka.

“Dengan Belanda jang sekarang diduduki Nazi, maka sebenarnja kemerdekaan Indonesia sudah semakin dekat. Nazi tak perduli dengan djadjahan Belanda. Djangan biarkan kesempatan emas ini berlalu begitu sadja!” Djojo makin bersemangat, seolah pendapatnja tak terbantahkan lagi.

Pembitjaraan jang alot, karena tidak kurang djuga pendukung Irwan dan Setiadji jang tidak setudju dengan Djojo. Selain terlalu muluk dan tidak realistis, mereka beranggapan Djojo telah melupakan perang jang kini tengah berketjamuk di Eropa. Djojo jang didukung segelintir orang tetap menolak usul kedua pemimpin untuk bergabung dengan verzet Belanda melawan Nazi dan fasisme.

Indonesia lepas dari Belanda, sekarang djuga
Indonesia lepas dari Belanda, sekarang djuga

Dengan perangai jang tak begitu simpatik, bagaimana sebenarnja Djojo bisa memperoleh dukungan? Di sini kita harus berkenalan dengan kelihaian Djojo memelintir pengetahuannja jang luas. Lebih dari itu dia lumajan ahli dalam melepas pengetahuan luas itu dari segenap konteks latar belakangnja, hanja untuk keperluan sesaat. Ini djelas terlihat pada sematjam kritiknja terhadap para pemimpin PMI jang disebutnja “terlalu dekat dengan kalangan Komunis”. Kritik itu tidak sepenuhnja keliru, tapi dia manfaatkan untuk keperluan sesaat dan demi keuntungan saat itu semata.

Aku ingat pada dua foto jang dipasang dalam satu pigura dan diletakkan di atas perapian rumah ibuku. Di sebelah kiri foto ajah jang tampak gagah di atas kuda. Ia ikut wadjib militer karena Eropa terdjerembab dalam perang jang kemudian terkenal sebagai Perang Dunia Pertama. Untung ajah tak ikut bertempur. Belanda netral, maka pasukan negeri pendjadjah tidak perlu turun ke medan laga. Di sampingnja tampak foto ibu membawa plakat jang menutupi dada sampai perutnja, “Indonesië los van Holland” (Indonesia lepas dari Belanda) tertera dalam huruf besar2. Sebagai aktivis CPN (Partai Komunis Nederland tadi) dalam usia belasan tahun, ibu ikut kampanje pemilu 1918. Musim panas tahun itu mereka berkenalan, tahun2 berikutnja akrab dan berpatjaran. Mahasiswa Indonesia jang mendirikan PMI untuk memperdjuangkan kemerdekaan mendapat dukungan kalangan Komunis Belanda, satu2nja partai jang berani berseru Indonesia merdeka. Partai2 lain jang kebanjakan mengabdi modal, mana berani seradikal itu?

Maka jang disebut Djojo sebagai kedekatan PMI dengan Komunis itu bukanlah tanpa alasan. Masalahnja latar belakang ini djustru tidak diungkapnja. Bagi kalangan jang tidak kritis, utjapan tanpa konteks Djojo itu merupakan kebenaran jang patut diikuti. Betapa tudingan Djojo bahwa mahasiswa Indonesia dekat kalangan Komunis terasa sebagai tuduhan, apalagi karena mereka sekarang sudah ilegal.

Selain tentang kelitjikan ini, sebenarnja aku djuga ingin bertanja pada Djojo langkah kongkrit apa jang akan diambilnja kalau memang dia bersikukuh memperdjuangkan kemerdekaan Indonesia, sementara kalangan Komunis sudah dilarang dan preman2 WA makin tak terhentikan? Tapi sebagai kurir pembawa pesan tak lajak aku tampil menondjol. Itu djuga demi keselamatan Irwan dan Setiadji. Maka, pada tjatatanku tentang pembitjaraan sore itu kububuhkan bahwa benar2 sulit untuk bisa membedakan Djojo sebagai pedjuang Indonesia merdeka dengan Djojo sebagai pendukung Nazi. Itulah inti laporanku pada Irwan dan Setiadji. Alhasil kata putus tak tertjapai pada pertemuan itu, hadirin sepakat kembali bertemu seminggu kemudian.

Seleberan WA tjari pengikut
Seleberan WA tjari pengikut

Badju tebal baru sadja kutanggalkan dan aku berniat memanaskan makan malam ketika terdengar ketokan tjukup keras pada pintu kamarku. Ketokan itu djuga tak teratur, sehingga djelas bukan merupakan kode tertentu. Tak kudengar pula kata sandi jang selalu kami gunakan bilamana saling berkundjung. Lalu kudengar namaku dipanggil. Memang si pemanggil tidak ber-teriak2 seperti kelakuan WA, tapi suaranja tjukup keras dan ketukan berikutnja makin mendesak, sepertinja ada sesuatu jang gawat. Tunggu: rasanja kukenal suara itu. Astaga! Benarkah itu dia? Djangan2 ini Nazi atau, lebih gawat lagi, Sicherheit Dienst, djaringan intel tjetjunguk Nazi jang bertudjuan tidak baik.

Wie is daar?” Begitu kusampaikan keinginanku kepada si pengetuk, sambil kuupajakan nada suara setenang mungkin.

Mendengar djawaban dalam suara jang melirih, pintu segera kubuka. Maka tampaklah dia jang bagiku tak djelas pedjuang kemerdekaan atau pembela fasisme dalam keadaan jang hampir tak kukenal lagi. Wadjah bengap, mata bengkak, hidung dan mulut botjor, tubuh ter-hujung2 njaris roboh. Dalam kaget hampir sadja kuteriakkan namanja. Untung aku segera sadar pentingnja ber-hati2.

Djojo kupapah masuk. Anehnja dia masih ber-kali2 bertanja mengapa gerombolan WA menjerangnja. Bukankah dia tidak pernah memusuhi mereka, seperti dia djuga tidak memusuhi Nazi? Kenapa dirinja djadi sasaran? Aku hanja berani membatin, “Itulah salam perkenalan fasisme, spesial untukmu”.

***

Demikianlah penggalan tjatatan jang bisa kuungkap kali ini. Moga2 I dan W tenang di alam sana. Lain kali, demi hormat dan kasihku pada mereka, akan kuungkap tjatatan2 lain jang di zaman bebas ini kuharap dapat membawa manfaat, setjuil sekalipun.

 

Amsterdam, kampung de Jordaan, musim rontok 2015

 

Referensi:

1. Barbara Beuys (2013), Leven met de vijand, Amsterdam onder Duitse bezetting, Amsterdam: Cossee. ISBN 789059363977

2. Parlindoengan Loebis (2006), Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi, Djakarta: Komunitas Bambu & KITLV Djakarta. ISBN 979-3731-08-7

3. Harry Poeze (1986), In het land van de overheerser, Indonesiërs in Nederland 1600-1950, Dordrecht: Floris Publications (terutama Bab VI: “1940-1945 Isolement en solidariteit”). ISBN 9067652016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s