“Eka Kurniawan mengikuti djedjak Rushdie dan Márquez” oleh Emilia Menkveld

Berikut terdjemahan resensi jang dimuat oleh harian Trouw (rubrik zomertijd) pada edisi sabtu 9 djuli 2016 halaman 32 dan 33.

Babi berubah djadi orang, djanin hilang dari rahim, dan hantu gentajangan di setiap rumah

SEBARIS KALIMAT PEMBUKA jang kena tidaklah gampang, tetapi penulis Indonesia Eka Kurniawan (1974) berhasil menorehkannja: ‘Sore hari di achir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Seorang botjah gembala dibuat terbangun dari tidur siang di bawah pohon kambodja, kentjing di tjelana pendeknja sebelum melolong’.

Siapa bisa mengawali novel pertamanja dengan kalimat seperti itu pasti dia seorang penutur ulung.

Halaman kedua resensi jang terbit di Trouw 9 djuli itu
Halaman kedua resensi jang terbit di Trouw 9 djuli itu

‘Tjantik itu luka’ terbit pada 2002, dan —setelah terdjemahan bahasa Inggris tahun lalu— sekarang djuga bisa dibatja dalam bahasa Belanda sebagai ‘Schoonheid is een vloek’. Terdjemahan lain sedang dalam proses. Kurniawan sementara itu terus menulis tanpa henti: awal tahun ini roman keempatnja terbit.

Dari tahun ke tahun reputasi Kurniawan terus berkembang. Dalam dunia sastra Indonesia dia dikenal sebagai ahli waris Pramoedya Ananta Toer. Karja2nja disebut dipengaruhi oleh ‘Mahabharata’ dan ‘Cantebury Tales’. Para kritisi membandingkannja dengan Gabriel García Márquez dan Salman Rushdie.

Kalau tjampur aduk nama ini bisa dimanfaatkan untuk mentjirikan karja Kurniawan, maka akan tetap sulit untuk menempatkan dia pada kotak tertentu. ‘Schoonheid is een vloek’ mengandung sedjarah dan sihir, tjerita rakjat dan satire. Buku ini bisa merupakan saga keluarga jang fantastis, bisa pula dibatja sebagai sebuah komentar kritis terhadap sedjarah Indonesia.

Roman ini berlangsung di Halimunda, sebuah kota ketjil fiktif di pesisir Djawa barat. Dengan teknik bertjerita jang djelas bersandar pada tradisi lisan, Kurniawan menghidupkan kota ketjil itu beserta penduduknja. Banjak karakter berseliweran, satu anekdot penuh warna warni berlandjut dengan anekdot serupa jang lain, dan hal2 jang supra alami (het bovennatuurlijke) berperan begitu djelas sehingga setelah beberapa saat semua ini tidaklah mengedjutkan lagi. Babi berubah mendjadi orang, djanin hilang begitu sadja di dalam rahim ibunja, di setiap rumah bergentajangan hantu.

Sebagai latar belakang berperan sedjarah berdarah negeri jang menempuh perdjuangan berat. Dalam periode setengah abad jang dilingkupi roman ini, kita mengalami ekor kekuasaan kolonial, pendudukan Djepun selama Perang Dunia Kedua, transisi menudju zaman kemerdekaan dan pembunuhan massal kalangan kuminis pada tahun 1960an. Kurniawan tidak merasa perlu untuk menjamankan pembatjanja. Perkelahian, pembunuhan, perkosaan — itu semua merupakan kedjadian se-hari2, dan ia menggambarkan semuanja dalam warna dan aroma.

Tokoh sentral adalah Dewi Ayu, pernah merupakan pelatjur paling populer daerah itu, setelah 21 tahun bangkit dari kuburnja untuk mentjari tahu apa jang terdjadi dengan putri2nja.

Sebagai gadis Indo berada dan berdarah Belanda dia sebenarnja diarahkan pada kehidupan jang sangat lain. Tetapi takdir menentukan lain. Terpaksa mendjadi pelatjur pada zaman pendudukan Djepun, setelah perang dia melandjutkan karier sebagai perempuan untuk umum. Di bordil setempat ia segera meraih kedudukan chusus: dia hanja akan tidur dengan seorang pria semalam, dan tinggal bersama tiga anaknja —masing2 dari ajah jang ber-beda2— di rumah sendiri.

Ia berhasil membedakan diri dengan kolega lain berkat ketjerdasan, humor, dan wawasannja jang biasa2 sadja. Dewi Ayu mendjalani hidup sebagaimana adanja, mengupajakan jang terbaik — walaupun mengalami semua penderitaan dalam perdjalanannja. Dengan legowo ia berudjar, “setiap perempuan adalah pelatjur, karena bahkan seorang istri jang berbakti pun telah mendjual organ kelaminnja untuk emas kawin dan uang belandja, atau tjinta, kalau memang itu ada.”

***

HIDUP BAGI PEREMPUAN2 Halimunda memang tidaklah begitu menjenangkan. Tanpa perketjualian, Dewi Ayu, putri2nja, dan tjutju2nja harus menghadapi intimidasi sexuil, inses atau perkosaan. Tatkala Alamanda, putri djelita Dewi Ayu, harus menikah dengan seorang Shodancho jang pernah meletjehkannja, sebagai langkah putus asa dibelinja tjelana dalam logam dengan gembok jang tak memiliki lubang anak kuntji supaja Alamanda bisa menolak suami itu, dan tjelana dalam seperti ini hanja bisa dibuka dengan matra sakti (Tapi pada saat dia terlena Sodancho berhasil pula membuka tjelana dalam itu).

Halaman pertama resensi novel Eka jang terbit di Trouw edisi 9 djuli 2016
Halaman pertama resensi novel Eka jang terbit di Trouw edisi 9 djuli 2016

Dalam dunia jang disarati pria jang “sama tidak bermoralnja dengan andjing2 jang menguntiti betina2 sedang birahi”, ketjantikan perempuan bukanlah berkat melainkan kutukan.

Tidaklah mengherankan kalau Dewi Ayu ingin memperoleh anak seburuk monster kutukan neraka, ketika ia hamil keempat kalinja pada usia 52 tahun.

Dan ja ampun, keinginannja terkabul: baji perempuan itu ‘begitu buruk rupanja sehingga dukun baji jang membantunja merasa tak jakin itu seorang baji dan berpikir itu seonggok tai’. Namanja? Tjantik.

Ironi sematjam inilah jang menjebabkan batjaan berat tetap bisa ditjerna. Dengan ringan dan tanpa susah pajah Kurniawan bisa beralih ke garis tjerita, kepada tokoh atau ke dalam dekade lain. Dia tahu dengan persis bagaimana harus mengendalikan djalan tjerita, melentjeng sedikit, tetapi tidak pernah kehilangan perhatian, dan tetap mengedjutkan (dan membuat sjok) pembatja. Tidak djarang tokoh2nja ambigu. Pemerkosa paling buruk ternjata adalah seorang suami jang baik, pendjahat paling kedji sekota ternjata seorang ajah penuh tjinta. Penderitaan dan humor selalu berdampingan. Ketika Kliwon jang komunis dibezuk oleh ajahnja jang sudah mati —darah mengalir deras dari luka tembak di dadanja— dan bertanja apa kabarnja, hantu ajah itu mendjawab, “Kabar djelek, kamerad. Saja mati”. Sesudah itu mereka sama2 minum kopi.

Eka Kurniawan berdampingan dengan Hedda Vormeland (penerdjemah bahasa Norwegia), di belakang tampak Sven Aalten dan Maya Sutedja (penerdjemah bahasa Belanda)
Eka Kurniawan berdampingan dengan Hedda Vormeland (penerdjemah bahasa Norwegia), di belakang tampak Sven Aalten dan Maya Sutedja (penerdjemah bahasa Belanda)

Eka Kurniawan (1974) merupakan penulis Indonesia paling berpengaruh saat ini. Dia dilahirkan di Tasikmalaja, Djawa barat, beladjar filsafat di Djocja dan menulis skripsi tentang karja2 Pramoedya Ananta Toer — salah satu sumber inspirasi bagi karja2 sastranja. Sebagai penulis roman dia berdebut pada 2002 dengan ‘Schoonheid is een vloek’ jang diterdjemahkan di seluruh dunia. Dengan roman keduanja ‘Manusia Harimau’ tahun ini dia merupakan penulis Indonesia jang masuk dalam daftar pandjang hadiah internasional Man Booker. Selain roman, Kurniawan djuga menghasilkan tjerita pendek, esai, skenario dan novel grafis. (Alih bahasa Joss Wibisono)

2 pemikiran pada ““Eka Kurniawan mengikuti djedjak Rushdie dan Márquez” oleh Emilia Menkveld

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s