“Betapa Kartini telah terdjinakkan” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja edjaan orde bau EYD, silahken ngeklik ini. Menerdjemahkan sebuah karja tulis adalah mentjari padanan kata, kalimat atau ungkapan bahasa jang digunakan untuk menuangkan karja itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensjaratkan persamaan jang setaraf, jang berimbang atau jang berbobot sama. Lebih dari itu, penerdjemahan djuga mensjaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terdjemahan jang berhasil akan berhasil pula menerdjemahkan nuansa sebuah karja, apalagi kalau karja itu berbobot sastra. Nuansa inilah jang sulit ditemukan pada terdjemahan Sulastin Sutrisno atas surat2 Kartini. Kartini menulis surat2nja dalam bahasa Belanda, dan mendiang Sulatin Sutrisno, gurubesar filologi Universitas Gadjah Mada, menerdjemahkan … Lanjutkan membaca “Betapa Kartini telah terdjinakkan” oleh Joss Wibisono

“Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono

Penulis India Amitav Ghosh menarik novelnja The Glass Palace dari nominasi Hadiah Sastra Persemakmuran tahun 2001 karena ia menolak ikut “merajakan kebesaran Kekaisaran Britania Raya” (Tempo 24 djuli 2016, halaman 58). Novel tentang penaklukan Burma ini dengan rintji menggambarkan betapa pendjadjahan Inggris telah menelan begitu banjak korban, bukan sadja di Burma tapi djuga di India. Maklum penaklukan Burma berlangsung dari India, negara tetangganya jang pada abad 19 itu sudah terlebih dahulu didjadjah Inggris. “Saja bertemu dengan begitu banjak orang jang menolak kekuasaan Keradjaan Britania Raya,” tutur Ghosh. Ia hanja menjatakan penolakannja bertudjuan untuk menghindari ironi, tapi djelas betapa ia menolak … Lanjutkan membaca “Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono

“Public Intellectual or A Tribute to Books” by Benedict Anderson

Pengantar: Tulisan Oom Ben ini asal usulnja adalah pidatonja do’i di depan konperensi internasional di Manila menjambut 10 tahun program beasiswa Asia Tenggara jang dikeluwarin sama Nippon Foundation. Udah gitu ini tulisan nongol di Bangkok Post, edisi 28 Djuni 2010, sajangnja tjuman sebagian. Selidik punja selidik ternjata koran ibukota Thailand itu njalinja kagak tjukup gedhé. Maklum Oom Ben ada kritik pedes pulitiknja Thailand. Doi lumajan sewot wektu tahu bahwa Bangkok Post ndak punja njali untuk nongolin ini artikel setjara kumplit. Atas permintaanku dia kirim versi komplit artikel ini lantaran banjak orang pengin batja setjara lengkap. I Over the past few … Lanjutkan membaca “Public Intellectual or A Tribute to Books” by Benedict Anderson

“Kura2 Sungai Kamo” fiksi oleh Joss Wibisono

Kalow pingin batja versi EYD silahken klik ini. Tapi di situ ada satu salah tjetak fatal jang membuwat isi tjerita gak djelas. Dan, di situ ikke ada paké nama pena. Pernahkah terselip keinginan pada diri kita, betapapun ketjilnja, untuk kembali ke masa lampau, menghidupinja lagi seperti masa kini? Tanpa kita sadari itulah jang sebenarnja terdjadi ketika kita melangkah masuk dunia maya. Itulah salah satu esensi Facebook jang sekarang njaris dimiliki siapa sadja asal dia tidak buta internet. Bukankah djedjaring sosial ini mempertemukan kembali para pelaku masa lampau? Selain teman masa kini dan teman jang belum pernah ditemui, seorang pemilik profil … Lanjutkan membaca “Kura2 Sungai Kamo” fiksi oleh Joss Wibisono

“‘Tjino’ di Indonesia” oleh Benedict Anderson

Pengantar: berikut ini tjuplikan ‘tjerita’ Ben Anderson seperti dikisahkannja sendiri pada tanggal 27 desember 1995 di Ithaca (kemudian tersebar melalui internet lewat surel apakabar). Itu wektu orde bau mingsih tegak berkuwasa, sehingga Oom Ben mingsih dilarang masuk ke negeri jang sanget dia tjintrongin, dalem ini tulisan disebut sebagai Tanah Air. Membandingken pulitik pendjadjah Spanjol di Filipina dan pendjadjah Londo di Indonesia maka Oom Ben dengen djelas, djitu dan tjiamiknja menundjukken pigimanah perbedaan kedudukan keturunan Tionghwa di keduwa negeri Asia Tenggara ini. Bisa dibilang ini tulisan merupakan langkah awal Oom Ben jang waktu itu mulai mempeladjarin dan mengadaken penelitian di Filipina, … Lanjutkan membaca “‘Tjino’ di Indonesia” oleh Benedict Anderson

“Irawan Soejono: roh pembebasan” oleh Joss Wibisono

• Versi EYD alias edjaannja orde bau bisa dibatja dengen mengklik ini: • Djangan lupa untuk djuga membatja artikel terdahulu jang merupakan bagian pertama. Pingin batja? Silahken ngeklik ini. Di pemakaman bersaldju jang lengang berdiri sekelompok orang mengelilingi salah satu liang lahatnja. Sebagian besar perempuan dan pria di atas 40 tahun, hanja beberapa orang jang belum mentjapai usia itu berani menantang amarah nazi. Sebenarnja masih banjak sahabat almarhum jang ingin memberi penghormatan terachir, tapi mereka harus tinggal di rumah menahan duka. Hari jang sedih, pemakaman jang sedih. Begitulah alinea pertama berita duka berdjudul “Irawan Soejono” buah pena R. M. Soeripno … Lanjutkan membaca “Irawan Soejono: roh pembebasan” oleh Joss Wibisono

“Irawan Soejono dan pengakuan setelah 71 tahun” oleh Joss Wibisono

Versi lain, dalem EYD alias edjaannja orde bau, bisa dibatja dengen mengklik ini. Djedjak2 Belanda di Indonesia sudah banjak diketahui orang, jang sedikit diketahui adalah djedjak2 orang Indonesia di Belanda. Lebih dari 70 tahun silam, semasa Perang Dunia Kedua, para pemuda Indonesia ikut berperan dalam verzet, perlawanan terhadap nazi jang saat itu menduduki negeri pendjadjah. Peran jang tidak ketjil, tapi tak banjak diketahui orang. Salah seorang mahasiswa Indonesia itu adalah Irawan Soejono. Dengan heroik, dia melawan pendudukan nazi lewat tulisan dan gerilja bawah tanah, hingga kematian menghentikan langkahnja. Pada tanggal 4 mei lalu, atas kegigihan perdjuangan dan pengorbanannja, Leiden setjara … Lanjutkan membaca “Irawan Soejono dan pengakuan setelah 71 tahun” oleh Joss Wibisono