“Betapa Kartini telah terdjinakkan” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja edjaan orde bau EYD, silahken ngeklik ini. Menerdjemahkan sebuah karja tulis adalah mentjari padanan kata, kalimat atau ungkapan bahasa jang digunakan untuk menuangkan karja itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensjaratkan persamaan jang setaraf, jang berimbang atau jang berbobot sama. Lebih dari itu, penerdjemahan djuga mensjaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terdjemahan jang berhasil akan berhasil pula menerdjemahkan nuansa sebuah karja, apalagi kalau karja itu berbobot sastra. Nuansa inilah jang sulit ditemukan pada terdjemahan Sulastin Sutrisno atas surat2 Kartini. Kartini menulis surat2nja dalam bahasa Belanda, dan mendiang Sulatin Sutrisno, gurubesar filologi Universitas Gadjah Mada, menerdjemahkan … Lanjutkan membaca “Betapa Kartini telah terdjinakkan” oleh Joss Wibisono

“De schaduw van Soeharto” door Joss Wibisono

Geschreven op 20 mei 2008, voor de site van de Wereldomroep n.a.v. het ten val brengen van Soeharto 10 jaar eerder. Tien jaar na zijn val, op 21 mei 1998, kampt Indonesië nog steeds met de erfenis van Soeharto’s regime. Iedereen mag ongehinderd de straat op, zelfs om het aftreden van de huidige president te eisen. Maar de economie wil maar niet op gang komen. Daardoor heeft politieke vrijheid weinig betekenis voor gewone Indonesiërs. Men verlangt zelfs naar de tijd van vóór de crisis van 1997, toen ‘alles nog betaalbaar was.’ Als Soeharto nog leefde, zou hij de staatsinrichting van … Lanjutkan membaca “De schaduw van Soeharto” door Joss Wibisono

“Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono

Penulis India Amitav Ghosh menarik novelnja The Glass Palace dari nominasi Hadiah Sastra Persemakmuran tahun 2001 karena ia menolak ikut “merajakan kebesaran Kekaisaran Britania Raya” (Tempo 24 djuli 2016, halaman 58). Novel tentang penaklukan Burma ini dengan rintji menggambarkan betapa pendjadjahan Inggris telah menelan begitu banjak korban, bukan sadja di Burma tapi djuga di India. Maklum penaklukan Burma berlangsung dari India, negara tetangganya jang pada abad 19 itu sudah terlebih dahulu didjadjah Inggris. “Saja bertemu dengan begitu banjak orang jang menolak kekuasaan Keradjaan Britania Raya,” tutur Ghosh. Ia hanja menjatakan penolakannja bertudjuan untuk menghindari ironi, tapi djelas betapa ia menolak … Lanjutkan membaca “Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono

“Public Intellectual or A Tribute to Books” by Benedict Anderson

Pengantar: Tulisan Oom Ben ini asal usulnja adalah pidatonja do’i di depan konperensi internasional di Manila menjambut 10 tahun program beasiswa Asia Tenggara jang dikeluwarin sama Nippon Foundation. Udah gitu ini tulisan nongol di Bangkok Post, edisi 28 Djuni 2010, sajangnja tjuman sebagian. Selidik punja selidik ternjata koran ibukota Thailand itu njalinja kagak tjukup gedhé. Maklum Oom Ben ada kritik pedes pulitiknja Thailand. Doi lumajan sewot wektu tahu bahwa Bangkok Post ndak punja njali untuk nongolin ini artikel setjara kumplit. Atas permintaanku dia kirim versi komplit artikel ini lantaran banjak orang pengin batja setjara lengkap. I Over the past few … Lanjutkan membaca “Public Intellectual or A Tribute to Books” by Benedict Anderson

“Digulung dan disingkirkan: bagaimana seorang pelukis keradjaan berachir di gudang istana het Loo” oleh Lizzy van Leeuwen

Klow demennja tjuman batja edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Raden Saleh, pelukis abad 19, adalah salah satu simbul penting sedjarah bersama Indonesia Belanda. Tapi ada tanda2 Belanda ingin menjingkirkannja, seperti Multatuli jang sekarang djuga mulai diabaikan. Siapakah sebenarnja Raden Saleh, perupa dengan karja jang berdjudul Boschbrand (kebakaran hutan) sempat menimbulkan keheranan karena telah didjual setjara tidak menguntungkan oleh para tjutju Ratu Juliana? Aneh djuga kalau pelukis jang terkenal dan banjak dipudji di pentas internasional dengan karja2 jang sekarang bernilai sampai djutaan dolar, djustru bukan nama jang dikenal pada setiap rumah tangga Belanda. Kembali meningkatnja penghargaan terhadap karja2 Raden Saleh … Lanjutkan membaca “Digulung dan disingkirkan: bagaimana seorang pelukis keradjaan berachir di gudang istana het Loo” oleh Lizzy van Leeuwen

“Penelitian menjeluruh terhadap kekerasan perang kemerdekaan Indonesia” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja versi edjaan orde bau, EYD, silahken ngeklik ini: Achirnja keputusan itu keluar djuga. Djum’at 2 desember 2016, dalam djumpa pers mingguan, perdana menteri Mark Rutte mengumumkan bahwa pemerintah Belanda akan membiajai penelitian menjeluruh dan mandiri terhadap kekerasan tentara Belanda selama perang kemerdekaan Indonesia, 1945-1949. Keputusan jang tidak terlalu mengedjutkan, walaupun empat tahun lalu pemerintah masih menolak seruan mengadakan penelitian matjam itu. Apa pasal? Kenapa sekarang Den Haag berubah pendirian? Mark Rutte menegaskan penjebab kabinetnja mengambil keputusan ini adalah disertasi doktor sedjarawan Rémy Limpach jang septembar lalu terbit sebagai buku berdjudul De brandende kampongs van generaal Spoor … Lanjutkan membaca “Penelitian menjeluruh terhadap kekerasan perang kemerdekaan Indonesia” oleh Joss Wibisono

“Meliput Timor Timur untuk Radio Nederland serta ‘menggilir’ uskup Belo di Oslo dan Dili” oleh Joss Wibisono

Kalau seorang penjiar radio berpapasan di djalan dengan salah seorang pendengarnja, bagaimana mereka bisa saling mengenali? Penjiar radio bukan penjiar televisi, pendengar paling banter hanja mengenali swaranja. Wadjah seorang penjiar radio tidak tersiar dan karena itu djuga tidak terkenal seperti swaranja. Menariknja, untuk kasus Timor Timur sebagai bekas penjiar Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, Negeri Belanda, saja punja pengalaman unik dalam berdjumpa dengan pendengar. Berikut dua peristiwa jang benar2 telah saja alami sendiri. Oslo, awal desember 1996. Ketika pada hari sabtu tanggal 7 desember saja tiba di ibukota Norwegia ini, tjuatja sudah agak “menghangat”. Udara beku jang membuat djalan2 litjin … Lanjutkan membaca “Meliput Timor Timur untuk Radio Nederland serta ‘menggilir’ uskup Belo di Oslo dan Dili” oleh Joss Wibisono