“Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono

Penulis India Amitav Ghosh menarik novelnja The Glass Palace dari nominasi Hadiah Sastra Persemakmuran tahun 2001 karena ia menolak ikut “merajakan kebesaran Kekaisaran Britania Raya” (Tempo 24 djuli 2016, halaman 58). Novel tentang penaklukan Burma ini dengan rintji menggambarkan betapa pendjadjahan Inggris telah menelan begitu banjak korban, bukan sadja di Burma tapi djuga di India. Maklum penaklukan Burma berlangsung dari India, negara tetangganya jang pada abad 19 itu sudah terlebih dahulu didjadjah Inggris. “Saja bertemu dengan begitu banjak orang jang menolak kekuasaan Keradjaan Britania Raya,” tutur Ghosh. Ia hanja menjatakan penolakannja bertudjuan untuk menghindari ironi, tapi djelas betapa ia menolak … Lanjutkan membaca “Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono

“Public Intellectual or A Tribute to Books” by Benedict Anderson

Pengantar: Tulisan Oom Ben ini asal usulnja adalah pidatonja do’i di depan konperensi internasional di Manila menjambut 10 tahun program beasiswa Asia Tenggara jang dikeluwarin sama Nippon Foundation. Udah gitu ini tulisan nongol di Bangkok Post, edisi 28 Djuni 2010, sajangnja tjuman sebagian. Selidik punja selidik ternjata koran ibukota Thailand itu njalinja kagak tjukup gedhé. Maklum Oom Ben ada kritik pedes pulitiknja Thailand. Doi lumajan sewot wektu tahu bahwa Bangkok Post ndak punja njali untuk nongolin ini artikel setjara kumplit. Atas permintaanku dia kirim versi komplit artikel ini lantaran banjak orang pengin batja setjara lengkap. I Over the past few … Lanjutkan membaca “Public Intellectual or A Tribute to Books” by Benedict Anderson

“Digulung dan disingkirkan: bagaimana seorang pelukis keradjaan berachir di gudang istana het Loo” oleh Lizzy van Leeuwen

Klow demennja tjuman batja edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Raden Saleh, pelukis abad 19, adalah salah satu simbul penting sedjarah bersama Indonesia Belanda. Tapi ada tanda2 Belanda ingin menjingkirkannja, seperti Multatuli jang sekarang djuga mulai diabaikan. Siapakah sebenarnja Raden Saleh, perupa dengan karja jang berdjudul Boschbrand (kebakaran hutan) sempat menimbulkan keheranan karena telah didjual setjara tidak menguntungkan oleh para tjutju Ratu Juliana? Aneh djuga kalau pelukis jang terkenal dan banjak dipudji di pentas internasional dengan karja2 jang sekarang bernilai sampai djutaan dolar, djustru bukan nama jang dikenal pada setiap rumah tangga Belanda. Kembali meningkatnja penghargaan terhadap karja2 Raden Saleh … Lanjutkan membaca “Digulung dan disingkirkan: bagaimana seorang pelukis keradjaan berachir di gudang istana het Loo” oleh Lizzy van Leeuwen

“Penelitian menjeluruh terhadap kekerasan perang kemerdekaan Indonesia” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja versi edjaan orde bau, EYD, silahken ngeklik ini: Achirnja keputusan itu keluar djuga. Djum’at 2 desember 2016, dalam djumpa pers mingguan, perdana menteri Mark Rutte mengumumkan bahwa pemerintah Belanda akan membiajai penelitian menjeluruh dan mandiri terhadap kekerasan tentara Belanda selama perang kemerdekaan Indonesia, 1945-1949. Keputusan jang tidak terlalu mengedjutkan, walaupun empat tahun lalu pemerintah masih menolak seruan mengadakan penelitian matjam itu. Apa pasal? Kenapa sekarang Den Haag berubah pendirian? Mark Rutte menegaskan penjebab kabinetnja mengambil keputusan ini adalah disertasi doktor sedjarawan Rémy Limpach jang septembar lalu terbit sebagai buku berdjudul De brandende kampongs van generaal Spoor … Lanjutkan membaca “Penelitian menjeluruh terhadap kekerasan perang kemerdekaan Indonesia” oleh Joss Wibisono

“Meliput Timor Timur untuk Radio Nederland serta ‘menggilir’ uskup Belo di Oslo dan Dili” oleh Joss Wibisono

Kalau seorang penjiar radio berpapasan di djalan dengan salah seorang pendengarnja, bagaimana mereka bisa saling mengenali? Penjiar radio bukan penjiar televisi, pendengar paling banter hanja mengenali swaranja. Wadjah seorang penjiar radio tidak tersiar dan karena itu djuga tidak terkenal seperti swaranja. Menariknja, untuk kasus Timor Timur sebagai bekas penjiar Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, Negeri Belanda, saja punja pengalaman unik dalam berdjumpa dengan pendengar. Berikut dua peristiwa jang benar2 telah saja alami sendiri. Oslo, awal desember 1996. Ketika pada hari sabtu tanggal 7 desember saja tiba di ibukota Norwegia ini, tjuatja sudah agak “menghangat”. Udara beku jang membuat djalan2 litjin … Lanjutkan membaca “Meliput Timor Timur untuk Radio Nederland serta ‘menggilir’ uskup Belo di Oslo dan Dili” oleh Joss Wibisono

“‘Tjino’ di Indonesia” oleh Benedict Anderson

Pengantar: berikut ini tjuplikan ‘tjerita’ Ben Anderson seperti dikisahkannja sendiri pada tanggal 27 desember 1995 di Ithaca (kemudian tersebar melalui internet lewat surel apakabar). Itu wektu orde bau mingsih tegak berkuwasa, sehingga Oom Ben mingsih dilarang masuk ke negeri jang sanget dia tjintrongin, dalem ini tulisan disebut sebagai Tanah Air. Membandingken pulitik pendjadjah Spanjol di Filipina dan pendjadjah Londo di Indonesia maka Oom Ben dengen djelas, djitu dan tjiamiknja menundjukken pigimanah perbedaan kedudukan keturunan Tionghwa di keduwa negeri Asia Tenggara ini. Bisa dibilang ini tulisan merupakan langkah awal Oom Ben jang waktu itu mulai mempeladjarin dan mengadaken penelitian di Filipina, … Lanjutkan membaca “‘Tjino’ di Indonesia” oleh Benedict Anderson

“Bagaimana para djenderal gugur” oleh Benedict R. O’G. Anderson

Diterdjemahkan dari versi asli (bahasa Inggris), ke dalam edjaan Suwandi, edjaan jang paling disukai oleh Oom Ben, penulis analisa ini. Kedjutan sering muntjul tatkala seseorang mem-bongkar2 gudang jang penuh sesak dan berdebu. Ketika membolak-balik ribuan halaman hasil fotokopi laporan stenografi pengadilan Letnan Kolonel Penerbangan Heru Atmodjo di depan Mahkamah Militer Luar Biasa, saja menemukan beberapa dokumen jang merupakan lampiran berkas2 pengadilan. Ini adalah laporan jang disusun oleh sekelompok ahli forensik medis, beranggotakan lima orang, jang telah memeriksa djenazah enam orang djenderal (Yani, Suprapto, Parman, Sutojo, Harjono dan Pandjaitan) dan seorang letnan muda (Tendean) jang dibunuh pada dinihari 1 oktober 1965. … Lanjutkan membaca “Bagaimana para djenderal gugur” oleh Benedict R. O’G. Anderson