“Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono

Untuk tahun 2013 (tatkala artikel ini ditulis) hadiah Nobel Kesusastraan diraih oleh tjerpenis Kanada Alice Munro. Lagi2 bukan penulis Asia Tenggara, seperti telah tak tulis di Tempo edisi 7-13 Oktober 2013 (halaman 74). Ini hlo versi usil kolomku itu.

Sebagai pembuka, berikut dua dalil.

Pertama, hadiah Nobel Kesusastraan sesungguhnja djuga erat berkaitan dengan bahasa, djadi bukan melulu sastra, seperti dugaan orang selama ini. Mustahil bahasa bisa kita tanggalkan dari karja sastra, keindahannja tak akan pernah bisa terungkap lewat medium lain ketjuali bahasa.

Kedua, zaman sekarang djuga mustahil menjebut satu bahasa lebih indah ketimbang bahasa lain. Karena itu hadiah Nobel Kesusastraan djuga harus terbagi rata, paling sedikit setiap benua harus pernah memperolehnja. Dan kalau lima benua sudah dapat giliran, maka kita bisa menindjau anak benuanja. Di sini langsung terlihat Asia Tenggara selalu luput. Dimulai pada 1901, dalam 112 tahun sedjarahnja, tak seorang penulis Asia Tenggarapun pernah memperoleh kehormatan Nobel Kesusastraan.

Itulah pengamatan djeli Benedict Anderson, pensiunan gurubesar Universitas Cornell di New York, Amerika Serikat. Dalam artikel berdjudul “The Unrewarded” (Jang tak teranugerahi), diumumkan oleh berkala New Left Review 80 edisi Maret-April 2013, Indonesianis senior ini dengan djitu menundjuk kelemahan panitia Nobel Kesusastraan di Stockholm, Swedia. (Klow ingin batja terdjemahan artikel Oom Ben, silahken klik di sini). Setelah pelbagai wilajah boleh membanggakan sastrawannja, hanja satu wilajah jang terus2an ketinggalan. Anderson benar, terabaikannja Asia Tenggara djelas merupakan kelemahan sekaligus titik buta panita Nobel.

Sajang dalam esai itu Anderson langsung menukik ke Asia Tenggara. Ia tidak terlebih dahulu datang dengan dua dalil di atas. Akibatnja pembatja tak habisnja ber-tanja2 siapa sebenarnja jang memperoleh anugerah sastra paling bergengsi ini: sastrawan atau bahasa jang digunakannja? Djawabannja: hadiah Nobel Kesusastraan memang djuga menjangkut bahasa. Dengan begitu selain kepada seorang sastrawan (prosa atau puisi), hadiah ini djelas djuga mewakili bahasa sang penulis. Perlu ditegaskan tatkala pada 1997 sutradara (bukan sastrawan) Italia Dario Fo memperolehnja, makna kesusastraan djuga melebar ke dunia panggung. Sebagai kalangan jang selalu terlewatkan, kita djadi tergoda untuk berpikir usil: djangan2 langkah ini memang sengaja diambil supaja tidak perlu menganugerahi salah satu penulis Asia Tenggara.

Gitanjali karja Rabindranath Tagore
Gitanjali karja Rabindranath Tagore

Asia sebenarnja sudah termasuk awal dalam giliran hadiah Nobel Kesusastraan. Tapi, tatkala memperoleh kehormatan itu pada 1913 (tepat 100 tahun silam) Rabindranath Tagore tak lebih dari perkecualian. India waktu itu masih merupakan djadjahan. Pada dekade awalnja, Nobel Kesusastraan memang hanja pantas diterima oleh sastrawan Eropa dan Tagore sendiri mentjurahkan karjanja tidak melulu dalam bahasa Bengali, tapi djuga dalam bahasa pendjadjah Inggris.

Sesudah itu Asia harus bersabar sampai setengah abad lebih. Baru pada 1968 penulis Djepun Kawabata Yasunari meraihnja. Sampai sekarang sudah lima sastrawan Asia, tiga terachir adalah novelis Djepun Oë Kenzaburo (1994), penulis Tiongkok Gao Xingjian (2000) dan tahun lalu, novelis Tiongkok Mo Yan. Mereka dari Asia Timur, djelas Asia Tenggara terlewatkan. Menariknja, pada 1973, seolah melangkahi Asia Tenggara, penghargaan Nobel djatuh ke sastrawan Australia Patrick White.

Dengan konsep “nasionalisasi bahasa” Ben Anderson mendjelaskan nasib Asia Tenggara. Dulu, sebagai djadjahan, Asia Tenggara masih terkait dengan bahasa2 besar Eropa. Vietnam, Kambodja, Laos (disebut Indochine) dengan bahasa Prantjis; Filipina dengan bahasa Spanjol; Birma, Malaysia, Singapura dan Brunei dengan bahasa Inggris dan kita dengan bahasa Belanda; tak lupa Timor Leste dengan bahasa Portugis.

Kemerdekaan berdampak nasionalisasi bahasa. Artinja terputuslah kaitan dengan bahasa2 Eropa, sehingga makin djauh sadja sastra Asia Tenggara dari djangkauan Nobel. Negara2 Asia Tenggara punja bahasa nasional sendiri, walaupun tak semua penulisnja berkarja dalam bahasa itu. Masih ada sadja sastrawan Malaysia atau Singapura jang menulis dalam bahasa Inggris. Begitu pula penulis Filipina, karena lepas Perang Dunia Pertama, Amerika menggantikan Spanjol di sana dan mengkikis habis bahasa itu. Ben Anderson paling membanggakan Indonesia. Baginja, kita adalah satu2nja negara Asia Tenggara jang paling berhasil mentjapai bahasa nasional dengan penulis2 bermutu jang dari dulu sudah menulis dalam bahasa Indonesia. Tapi Anderson djuga menundjukkan masalahnja. Nasionalisasi bahasa memang menurunkan gengsi bahasa2 Eropa, tetapi di lain pihak, Komite Nobel sendiri tidak pernah berandjak dari pendirian kolot konservatif bahkan kolonialnja. Mereka tetap berpegang pada bahasa2 lama tadi.

Djelas penerdjemahan karja sastra kita ke dalam bahasa lain (batja: Inggris) tak dapat di-tawar2 lagi. Jang paling mudjur adalah Amerika Latin. Banjaknja penerdjemah profesional Spanjol-Inggris menjebabkan paling sedikit sebelas penulisnja berhasil menjabet Nobel. Asia Tenggara tidak punja penerdjemah sehebat itu. Demikian Benedict Anderson jang djuga menjebut paling sedikit tiga penulis Asia Tenggara pantas menerima anugerah ini.

Pertama José Rizal. Bapak bangsa Filipina ini menulis dua novel dalam bahasa Spanjol dan kalau tak dihukum mati tahun 1896 (sebelum hadiah Nobel lahir) pasti Rizal sudah menghasilkan lebih banjak novel lagi. Nasib jang sama dialami oleh Amir Hamzah, tjalon kedua. Dia terbunuh di zaman revolusi. Puisi2nja jang islami oleh Anderson disebut “menakdjubkan”. Tjalon ketiga jang diangkat Anderson adalah Pramoedya Ananta Toer. Kalau puisi2 Amir Hamzah tidak diterdjemahkan, maka menurut Oom Ben penerdjemahan karja2 Pramoedya tidak dilakukan setjara profesional. Bahasanja jang chas termasuk humor gelapnja hilang, tak terbatja lagi dalam terdjemahan itu.

Njanji sunji karja Amir Hamzah
Njanji sunji karja Amir Hamzah

Sedjauh ini hanja Jajasan Lontar jang giat melakukan penerdjemahan sastra Indonesia, selain segelintir penerdjemah lain di Eropa. Tak pelak lagi, Amerika Latin tetap merupakan suri tauladan.

Upaja lain jang djuga penting adalah melobi Komite Nobel di Stockholm. Lobi bukan hal baru. Prantjis, Inggris maupun Spanjol gentjar melakukannja untuk penulis2 di bekas djadjahan mereka. Inilah nasib kita sebagai bekas djadjahan Belanda. Sampai sekarang tak seorang sastrawan Belanda pun memperoleh kehormatan ini. Mungkin lantaran kutukan kolonialisme, Belanda tampaknja mesti sabar menanti sampai sastrawan Indonesia dapat giliran. Bisakah KBRI Stockholm menggantikan peran Belanda melobi Komite Nobel untuk karja sastra kita? Lobi sendiri memang kurang afdol kalau dibanding lobi pihak lain. Tapi ini djelas lebih baik daripada tanpa lobi sama sekali.

Untuk keduwa gambar saja menghaturken banjak terima kasih kepada Bandung Marwardi di Bilik Literasi, Solo. Dan mohon maaf, sebagian besar tautan tidak dalem bahasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s